Viagra Aman Bagi Penderita Jantung! Jakarta, KCM
Dalam kehidupan nyata, masalah-masalah dalam hubungan seksual dapat menjadikan hubungan intim Anda menjadi renggang, menjatuhkan harga diri, dan mengisap kebugaran Anda. "Pria yang mengalami disfungsi seksual -entah impoten, ejakulasi dini atau rendahnya dorongan seksual- mungkin menyita hingga 80 atau 90 persen waktu mereka untuk memikirkannya," kata Roger Crenshaw MD, seorang spesialis terapi seks dan psikiter yang membuka praktik swasta di La Jolla, California. Dalam situasi demikian mereka menjadi kurang tidur, kemudian menderita depresi dan cemas. Mereka mungkin bermasalah dalam hal hubungan dengan pasangan dan sulit berkonsentrasi dalam pekerjaan. Dan akhirnya seluruh hidupnya terpengaruh, tambah Crenshaw. Tetapi, untunglah banyak cara yang dapat ditempuh agar Anda dapat mencegah timbulnya masalah-masalah seksual. Salah satunya, adalah mengkonsumsi Viagra, pil kecil berwarna biru untuk mengobati disfungsi ereksi pada pria. Sejauh ini, Viagra efektif untuk mengobati disfungsi ereksi yang disebabkan oleh masalah organik (seperti diabetes atau kanker prostat), masalah psikologi, atau campuran masalah organik dan psikologi. Bagaimana dengan efek samping? Terutama bagi penderita penyakit jantung, yang kabarnya tidak layak minum obat-obat kuat semacam ini dan bisa berakibat fatal, tewas pada saat melakukan hubungan seksual. Dalam riset yang dilakukan baru-baru ini, memaparkan fakta-fakta bahwa sildenafil ( nama klinis untuk Viagra) aman dikonsumsi laki-laki yang menderita penyakit jantung. Namun Anda harus memperhatikan satu syarat utama, Viagra tidak boleh ditelan oleh siapa pun yang juga menelan obat dengan dasar nitrat seperti nitrogliserin, sebab ini kombinasi yang sungguh mematikan. Obat dengan dasar nitrat ini acap diberikan pada penderita jantung yang juga mengalami sakit atau nyeri dada. Dalam penelitian penggunaan Viagra yang dilakukan terhadap 105 laki-laki penderita jantung dan tidak mengkonsumsi obat dengan dasar nitrat (atau telah menghentikan penggunaan nitrat 3 hari sebelum uji coba) menunjukkan tak seorang pun mengalami gangguan detak atau irama jantung yang signifikan. Atau jantung tidak bekerja lagi. Dr Patricia A. Pellika dan rekan-rekannya dari Mayo Clinic di Rochester, Minnesota, yang melakukan penelitian ini, juga tidak menemukan adanya hubungan antara penggunaan Viagra dengan terganggunya aliran darah dan oksigen menuju jantung (ischemia). "Kekhawatiran besar akan adanya akibat buruk Viagra bagi penderita jantung berkaitan dengan inschemia, tidak tampak dalam penelitian ini," ujarnya. "Penderita jantung kemungkinan besar aman mengkonsumsi sildenafil," tulis para peneliti ini yang mempublikasikan hasil studinya dalam jurnal The American Medical Association edisi 13 Februari 2002 lalu. Meski pun hasil penelitian ini secara umum menunjukkan Viagra aman dikonsumsi penderita jantung, namun penilaian terhadap kondisi masing-masing individu sangatlah menentukan, sebelum akhirnya dokter meresepkan penggunaan Viagra, saran Dr Thomas H Marwick dari University of Queensland, Brisbane, Australia. "Evaluasi seksama terhadap kemampuan fungsional perlu dilakukan. Termasuk diskusi yang cermat terhadap masing-masing pasien jantung untuk membahas risiko yang mungkin timbul secara fisik maupun terhadap aktivitas seksual mereka," tegasnya. Kehati-hatian penggunaan Viagra bagi penderita jantung agaknya perlu ditekankan jangan sampai mereka seenaknya menafsirkan sendiri dosisnya, seperti yang dilaporkan sebuah harian di Sri Lanka, Sunday Leader, Maret 2001 lalu, dimana seorang laki-laki Sri Lanka tiba-tiba kolaps dan tewas gara-gara meminum Viagra dua kali lipat dari jumlah yang dianjurkan. Seharusnya, laki-laki tersebut -yang menderita sakit jantung- cukup makan satu pil, ia tenggak dua pil sekaligus. Yang lebih mengerikan, laki-laki berusia 43 tahun ini tewas saat ia melakukan hubungan seksual di sebuah hotel di Lunawa. Di Sri Lanka, kasus laki-laki tewas gara-gara Viagra merupakan yang pertama kali terjadi. (Reuters/zrp)
