BST terima kasih mengingatkan keindahan kampung halaman....

--- In [email protected], "Bambang Setiawan" <b...@...> wrote:
>
> 
> 
> WISATA GUNUNG KIDUL
> Ada "Caddy" Memancing di Tebing Karang 
> Kompas, Senin, 12 Oktober 2009 | 03:34 WIB
> 
> Oleh Mawar Kusuma Wulan 
> 
> Menjelang dini hari, ketegangan Jumidi (41) mulai berkurang. Ia sudah bisa 
> tersenyum karena beban tugasnya berkurang. Sebagian tamunya-pengusaha yang 
> ditemaninya memancing sejak Sabtu (10/10) sore-kelelahan dan tidur di tenda 
> di tepi Pantai Bekah.
> 
> Sebagai caddy, begitu pemandu ini dipanggil, Jumidi tak boleh tidur. Ia harus 
> siap-siaga sepanjang waktu saat tamunya memancing di Pantai Bekah, Dusun 
> Temon, Kecamatan Purwosari, Gunung Kidul, DI Yogyakarta. Tiga dari 15 tamunya 
> dari kota itu tertidur pulas dengan 20-an kilogram ikan hasil memancing.
> 
> Sejenak Jumidi meregangkan tubuhnya sambil tetap menjaga beberapa joran yang 
> masih dipasang di antara tonjolan batu karang. Pospor yang menyala di ujung 
> joran sesekali bergerak di kegelapan malam dan menandakan umpan sedang 
> dimakan ikan. Dengan sekuat tenaga, Jumidi menarik joran sambil meneriakkan, 
> "Dewa Baruna, kulo nyuwun iwak (Dewa Baruna, saya minta ikan)."
> 
> Angin yang bertiup kencang dari arah Laut Selatan Gunung Kidul sedang kurang 
> bersahabat dengan para pemancing malam itu. Sebanyak 15 pemancing mulai 
> terlelap, tetapi Jumidi tetap setia menjaga alat pancing. Jika salah seorang 
> dari pengusaha yang ditemaninya memancing hari itu mulai terbangun, joran 
> harus sudah siap dipegang.
> 
> Marno (40), rekan Jumidi sesama pemandu di tebing karang, juga terjaga 
> sepanjang malam. Baru ketika para pemancing yang ditemaninya beristirahat, 
> Jumidi dan Marno bisa berkisah banyak tentang hidup sebagai pemandu. Menjadi 
> pemandu tak sekadar pekerjaan, tetapi hobi.
> 
> Sebelum menjalaninya, Jumidi dan Marno cuma bisa memancing dengan menggunakan 
> bambu dan senar seharga Rp 17.000. Sejak menjadi pemandu sekitar 1982, setiap 
> akhir pekan mereka pun bisa turut menikmati memancing dengan alat pancing 
> seharga Rp 35 juta lebih setiap joran. Seorang pemancing yang baik hati 
> bahkan meninggalkan sebuah joran lengkap untuk Jumidi.
> 
> Dari uang yang dikumpulkannya sebagai pemandu, Jumidi kini memiliki 50 ekor 
> kambing dan 4 ekor lembu. Dia biasanya memperoleh Rp 200.000 per malam, belum 
> lagi jika para pemancing memberi tambahan. Jumidi memang terkenal sebagai 
> orang yang tak bisa diam di desanya. Dia petani tadah hujan, sekaligus 
> pencari lobster karang.
> 
> Bergaul dengan banyak pejabat, pengusaha, dan dosen, lulusan sekolah dasar 
> itu bermimpi bisa menyekolahkan empat anaknya hingga perguruan tinggi. Sulung 
> Junaidi kini telah duduk di bangku sekolah menengah kejuruan. "Semua anak 
> saya masuk ranking di kelas," bisiknya bernada bangga.
> 
> Belum selesai bercerita, Jumidi bergegas menyiapkan wedang teh dan kopi bagi 
> beberapa pengusaha yang malam itu didominasi dari Kelompok Tani Nelayan 
> Andalan (KTNA). Tim KTNA ini sedang menggelar turnamen memancing di tebing 
> dan baru pertama kali digelar di Indonesia. Turnamen diikuti 300 pemancing 
> dengan hadiah utama kambing.
> 
> Sebagai pemandu, tugas Jumidi tak sekadar berkutat masalah pancing. Dia pun 
> menjadi pengangkut barang pemancing yang beratnya bisa 1 kuintal. Dia 
> biasanya menyunggi beban itu di kepala dengan keranjang bambu rata-rata 2 
> kilometer.
> 
> Resep Jumidi untuk menjaga ketahanan tubuh adalah mengonsumsi jamu rebusan 
> daun pepaya. Sebelum para pemancing tiba di Pantai Bekah, Jumidi turut 
> membantu pemuda karang taruna dari Dusun Temon memasang tenda dan 
> membersihkan bangunan permanen yang sengaja dibangun untuk istirahat 
> pemancing tebing.
> 
> Jumidi dan Marno tak pernah bisa duduk diam. Mereka harus terus bergerak: 
> meracik umpan, melempar pancing, menarik mata pancing yang menyangkut di 
> karang, memperbaiki pancing, membuatkan minuman, membuat Jumidi tak pernah 
> jauh dari pemancing. Setiap pemandu bisa menangani dua hingga tiga sekaligus 
> pemancing tebing.
> 
> Ketua KTNA Nasional Winarno Tohir, misalnya, hanya tinggal duduk diam dan 
> menjaga mata pancing hingga dimakan ikan. Jika ikan yang dipancing terlalu 
> berat atau di atas 40 kilogram, Jumidi pun segera dipanggil untuk membantu 
> menarik pancing. "Jika mampu, ya ditarik sendiri. Puncak kenikmatan memancing 
> ya ketika menarik tangkapan ikan," ucap Winarno.
> 
> Winarno mengatakan, keindahan tebing pantai di Gunung Kidul tiada padanannya
> 
> di Indonesia. Dari tebing karang Pantai Bekah, pemancing bisa menyaksikan 
> kemunculan ikan lumba-lumba, hiu, dan paus hitam tanpa harus menggunakan 
> kapal. Tak heran Winarno rela tidur beralas tikar di pantai sambil memancing 
> sebulan sekali.
> 
> Di kalangan pencinta memancing, tebing-tebing karang di wilayah Gunung Kidul 
> adalah surga. Tebing-tebing curam itu tak hanya menawarkan keindahan panorama 
> alam yang terisolasi.
> 
> Meskipun nama dan tugasnya sama dengan caddy yang biasa ditemui di lapangan 
> golf, caddy di tebing karang terdiri dari penduduk lokal bertubuh kekar.    
> 
> Wilayah Gunung Kidul menyajikan lokasi pancing menarik di 100 titik pantai 
> bertebing. Setiap akhir pekan, kesunyian pantai yang terisolasi itu berubah 
> menjadi hangat oleh kehadiran pencinta memancing....
> 
> http://www.kompas.com/data/photo/2009/10/12/3523054p.jpg
>


Kirim email ke