Blog Entry Sanghyang Sirah : Sirahnya Pulau Jawa
<http://multiply.com/gi/cechgentong:journal:296>
Sanghyang Sirah ? Ya Sanghyang Sirah, letaknya persis di ujung pulau
Jawa atau kepalanyanya pulau Jawa dan posisinya termasuk dalam kawasan
Taman Nasional Ujung Kulon Propinsi Banten (lebih jelasnya dapat dilihat
di WIKIMAPIA <http://wikimapia.org/101604/Sang-Hyang-Sirah>. Sirah dalam
bahasa Jawa/Sunda berarti kepala.
Sudah sejak lama saya ingin sekali mengunjungi daerah Sanghyang Sirah
ini. Beberapa kali tertunda dengan berbagai kendala. Baru tahun 2009
ini, keinginan saya tercapai. Dan ini tidak lepas dari adanya amanah
karuhun (leluhur) untuk berziarah ke Sanghyang Sirah. Mungkin belum
banyak yang mengetahui bahwa di Sanghyang Sirah terdapat maqam atau
petilasan Prabu Siliwangi. Ada yang mengatakan petilasannya Prabu Kian
Santang, Prabu Tajimalela, Prabu Sungging Perbangkala dan lain-lain.
Tetapi intinya berkaitan dengan para karuhun Sunda khususnya dan karuhun
pulau Jawa pada umumnya.
Perjalanan Sanghyang Sirah dimulai dengan bertemunya saya dan rombongan
Uyut di Padepokan Banyu Biru, Kampung Sulang, Sepatan, Mauk Tangerang
pada hari Jumat (25/12/2009) jam 14.45 WIB. Setelah berkumpul, kami
mengadakan rapat untuk merencanakan segala kemungkinan yang terjadi
sepanjang perjalanan ke Sanghyang Sirah. Setelah dihitung seluruhnya
ternyata rombongan yang pergi berjumlah 14 orang dan diputuskan memakai
2 buah mobil,
Tepat jam 20.00 WIB dengan diiringi oleh hujan gerimis, kami memulai
perjalanan ke Sanghyang Sirah. Alhamdulillah sepanjang perjalanan hujan
selalu menyertai kami. Dari Tangerang ke Sanghyang Sirah, kami
menggunakan rute via jalan tol Jakarta-Merak dan keluar di Serang Timur.
Dari Serang, kendaraan menuju Kabupaten Pandeglang dimana Sang Hyang
Sirah merupakan bagian dari Kabupaten Pandeglang.
Tetapi untuk menuju ke Sanghyang Sirah hanya bisa dengan 2 jalur yaitu
jalur darat dengan jalan kaki melewati Pos Pertama Taman Nasional
Ujung Kulon di Taman Jaya yang membutuhkan waktu 3 hari 3 malam dan
jalur laut menggunakan kapal nelayan jenis trawl yang singgah di pantai
Bidur kemudian perjalanan dilajutkan dengan jalan kaki ke Sanghyang
Sirah yang jaraknya tinggal 1 km lagi.
Kami memutuskan untuk mengambil jalur laut. Tetapi sebelumnya harus
lapor dulu ke Juru Kunci Abah Syargani di Cipining dan kemudian baru
lapor ke Petugas Taman Nasional Ujung Kulon di Pulau Peucang sebelum
memasuki kawasan Taman Nasional Ujung Kulon.
Kami tiba di desa Cipining, Sumur sekitar jam 04.00 pagi WIB (Sabtu
26/12/2009). Karena kondisi hujan deras maka kami sempat beberapa kali
kesasar untuk menemukan rumah Abah Syargani, juru kunci Sanghyang Sirah.
Setelah istirahat sejenak sambil menunggu hujan reda, pada pukul 07.00
WIB, kami berhasil menemukan rumahnya Abah Syargani.
Rupanya Uyut sudah sangat mengenal Pak Syargani dan terjadilah obrolan
ringan sesama kami. Kami disediakan berbagai macam hidangan oleh tuan
rumah. Tanpa terasa sudah 4 jam kami berbicara panjang lebar tentang
segala hal mengenai Sanghyang Sirah. Rupanya kami disuruh menunggu
kedatangan kapal nelayan yang dipesan oleh anak buahnya Abah. Dan tepat
pukul 11.00, kami diajak Abah menuju pantai Cipining sebagai tempat
merapatnya kapal nelayan yang kami pesan. Memang kapal nelayan tidak
bisa langsung merapat ke pinggir pantai yang berpasir. Untuk membawa
kami ke kapal trawl tersebut maka digunakan perahu kecil yang
kapasitasnya untuk 2 orang dan sanagt terbatas beban muatannya. Sambil
menunggu barang-barang kami diangkut maka ajang potret memotret menjadi
aktivitas kami saat itu. Akhirnya satu persatu dari kami dapat diangkut
dan dinaikkan ke kapal nelayan yang berkapasitas untuk 40 orang
tersebut. Perlu diketahui selain kami yang berjumlah 14 orang, Abah
Syargani menyertakan seorang anaknya dan Kang Ajut, anak buahnya yang
berfungsi sebagai tukang masak, pengangkut barang dan lain-lain.
<http://cechgentong.multiply.com/photos/hi-res/1M/2521>
/*Obrolan Santai Dengan Juru Kunci Sanghyang Sirah Abah Syargani*/
<http://cechgentong.multiply.com/photos/hi-res/1M/2522>
/*Menuju Pantai Harus Menyeberangi Sungai*/
<http://cechgentong.multiply.com/photos/hi-res/1M/2523>
/*Gaya Dulu Ahhhhh*/
<http://cechgentong.multiply.com/photos/hi-res/1M/2524>
/*Foto Bersama Sebelum Berangkat*/
<http://cechgentong.multiply.com/photos/hi-res/1M/2525>
/*Perahu Pengantar ke Kapal*/
Sepanjang perjalanan di laut, banyak pemandangan indah yang dapat
dinikmati dan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan alam
Indoneia yang cantik. Ada salah satu pengalaman menarik yang saya dapat
dari para nelayan disana yaitu mengetahui kedalaman air laut dengan
melihat dari warna airnya. Kata mereka, air laut berwarna hijau
menandakan kedalamam sampai 75 meter, air laut berwarna biru langit
menandakan kedalaman sampai 200 meter dan air laut berwarna biru
kehitam-hitaman menandakan kedalaman lebih dari 500 meter.
Setelah beberapa jam perjalanan kami yang diringi dengan hujan deras dan
gerimis, akhirnya kami sampai juga di Pulau Peucang untuk melaporkan
dan minta ijin kepada petugas Taman Nasional Ujung Kulon tentang maksud
dan tujuan kami ke Sanghyang Sirah yang merupakan daerah yang masuk
dalam wilayah Taman Nasional. Kurang lebih 45 menit kami menunggu di
Pulau Peucang.
<http://cechgentong.multiply.com/photos/hi-res/1M/2526>
/*Aktivitas di Kapal*/
<http://cechgentong.multiply.com/photos/hi-res/1M/2527>
*/Foto Atas: Kang Ajut (seb.kiri) dan Abah Syargani (seb.kanan) Foto
Bawah: ada yang mabuk euy/*
Tepat pukul 15.50, perjalanan dilanjutkan ke Sanghyang Sirah. Pada
awalnya gelombang ombak masih normal dan cuaca sungguh cerah. Tetapi
ketika memasuki wilayah Tanjung Layar tiba-tiba, cuaca berubah menjadi
pasang dan cuaca menjadi hujan gerimis. Beberapa kali lambung kapal
dihantam ombak. Memang tidak salah kami membawa Abah Syargani yang
sangat menguasai medan, dengan sigapnya beliau memerintahkan nahkoda
untuk balik dan tidak memaksakan untuk melawan alam. Kapal kami
dibelokkan kembali dan mencari tempat di pinggir kawasan Taman Nasional.
Abah Syargani memerintahkan nahkoda untuk merapat dulu ke pantai Cibom
sambil menunggu cuaca dan gelombang laut normal. Jam menunjukkan pukul
16.50 WIB. Setelah berdiskusi sejenak, kami meminta Abah Syargani untuk
melanjutkan perjalanan lewat darat karena ada seorang teman dari TNI
asal Aceh yang tidak bisa berlama-lama dan sudah harus ada di Aceh pada
hari senin pagi (ada tugas mendadak dari Pangdam katanya). Rupanya dari
Cibom ke Sanghyang Sirah berjarak 10,2 km (itu baru kata Abah yang
sebenarnya lebih dari itu). Akhirnya kami memutuskan perjalanan dengan
jalan kaki dan kapal diperintahkan menunggu dan ditambatkan di pantai Cibom.
<http://cechgentong.multiply.com/photos/hi-res/1M/2528>
*/Persinggahan Pertama di Ujung Kulon/*
Rupanya medan yang kami hadapi tidak semudah yang dibayangkan. Dari
Cibom, kami memasuki hutan Taman Nasional yang berstruktur bukit dan
masih asri karena jarang dilewati sehingga perlu dilakukan pembabatan
tumbuhan-tumbuhan yang menutupi jalan setapak yang telah dibuat
sebelumnya. Naik turun bukit yang cukup melelahkan membaut saya agak
kelelahan (harap maklum sudah lama tidak olahraga dan tubuh juga tambun.
Jadi sudah susah bawa badan ditambah lagi barang bawaan hehehe). Sekitar
perjalanan 1 jam akhirnya kami sampai di pantai Ciramea dengan panorama
indah menjelang malam. Di Ciramea kami istirahat dulu dan Kang Ajut
mulai sibuk membuat air minum, memasak ikan, mie instan dan sebagainya.
Setelah perut kenyang, ba'da Isya kami melanjutkan perjalanan ke Sang
hyang Sirah.
Karena kondisi gelap gulita dan medan yang dilalui cukup berat dengan
tanjakan dan turunan yang membuat kaki bisa sampai ke dada. Saya dan
seorang teman, Pak Singgih merasakan keletihan yang luar biasa. Saya
merasakan kaki seperti tidak mau digerakkan dan Pak Singgih merasakan
kepala pusing seperti dunia berputar. Lagi pula ada hal aneh, beberapa
kali Abah Syargani kebingungan mencari jalan yang biasa dilalui dan
kesasar. Akhirnya oleh Uyut diperintahkan untuk berhenti dahulu karena
Beliau menganggap saya dan Pak Singgih sudah tidak bisa dipaksakan untuk
melanjutkan perjalanan. Beliau menduga ada hal-hal yang aneh yang
membuat kami seperti berputar-putar di dalam hutan Taman Nasional.
Setelah beberapa menit, Uyut memutuskan saya, Pak Singgih, Budi (anak
kandung Pak Budi), Jali (supir), Abah Syargani dkk (7 orang) untuk
tinggal di tempat. Sementara beliau dengan 10 orang lainnya melanjutkan
perjalanan). Kami diperintahkan untuk menunggu beliau sampai balik
kembali dari Sanghyang Sirah. Karena sudah keletihan tanpa terasa kami
semua tertidur di tengah hutan tanpa ada rasa takut. Tanpa terasa juga,
jam 04.00 pagi (27/12/2009) kami terbangun dan sudah tampak air kopi di
hadapan kami. Langsung saja kami menikmati kopi yang dibuat oleh Kang
Ajut. Kemudian Abah Syargani menyuruh saya dan Pak Singgih untuk
berbaring sejenak dan Abah mengurut kaki kami supaya dapat melanjutkan
perjalanan.
Kami sempat bertanya kepada Abah untuk menunggu Uyut sesuai dengan
perintahnya. Tetapi kata Abah, uyut dan rombingan belum sampa. Benar
saja baru menaiki satu bukit dengan tanjakan yang curam, tiba-tiba
terdengar suara Pak Lili (salah seorang rombongan Uyut) memanggil nama
saya dan diikuti oleh 2 orang lainnya. Pak Lili mengatakan bahwa Uyut
menyuruh kami untuk meneruskan perjalanan dan beliau tidak akan ke
Sanghyang Sirah alias balik ke Cibom bersama 6 orang lainnya.
Kok bisa begitu ya ? Itulah yang sempat terpikir dalam otak saya.
Rupanya ada maksud tertentu yang tidak mau diungkapkan oleh Uyut.
Akhirnya persis berjumlah 7 orang (sisa orang dari rombongan yang
tadinya berjumlah 14 orang) melanjutkan perjalanan ke Sanghyang Sirah.
Dengan perasaan pasrah dan ikhlas, akhirnya tepat pukul 11.40 WIB saya
dan Pak Lili sampai di Sanghyang Sirah sebagai rombongan terakhir dengan
kondisi yang sangat lelah dan lapar. Kemudian kami melepaskan lelah
dengan membuat minuman sesuai dengan kesukaan masing-masing. Ada
beberapa yang makan roti dan biskuit yang tersisa dari perjalanan
panjang tersebut. Kebetulan di dekat persinggahan tersebut ada sungai
yang airnya sejuk, menyegarkan dan dingin sehingga membuat kami
membersihkan dan mendingnkan tubuh kami terlebih dahulu di sungai tersebut.
<http://cechgentong.multiply.com/photos/hi-res/1M/2529>
/*Panorama Sepanjang Perjalanan ke Sanghyang Sirah*/
<http://cechgentong.multiply.com/photos/hi-res/1M/2530>
*/Pulau Karang di dekat Sanghyang Sirah/*
Tepat pukul 12.30, kami memasuki wilayah petilasan Sanghyang Sirah yang
sangat dikeramatkan oleh beberapa kalangan yang mempunyai perhatian
terhadap sejarah nenek moyang atau karuhun Sunda. Tampak sebuah tebing
tinggi dan sebuah mushola yang sekaligus sebagai tempat istirahat.
Selain itu persis di pinggir pantai tamapak berdiri tegak 2 buah pulau
karang yang sangat indah pemandangannya.
Setelah menunggu sejenak, kami disuruh Abah Syargani untuk mandi
terlebih dahulu di sumur dari mata air Saman yang letaknya di depan
pintu masuk gua Sanghyang Sirah yang dikeramatkan. Kemudian kami
melakukan ritual Rasulan sesuai dengan adat Sunda dengan berbagai macam
sajian penghirmatan kepada karuhun dan juga ungkapan rasa bersyukur kami
karena dengan perlindungan Allah maka bisa sampai dengan selamat di
Sanghyang Sirah.
<http://cechgentong.multiply.com/photos/hi-res/1M/2531>
/*Mata Air Saman*/
<http://cechgentong.multiply.com/photos/hi-res/1M/2532>
*/Rasulan: Ungkapan Rasa Syukur kepada Karuhun Karena Selamat Sampai
Sanghyang Sirah/*
<http://cechgentong.multiply.com/photos/hi-res/1M/2533>
*/Beberapa Menu Makanan Dalam Rasulan/*
Setelah itu kami diajak Abah Syargani masul ke dalam gua Sanghyang
Sirah. Di dalam gua kami dilarang melakukan aktivitas pemotretan dan
harus melepas alas kaki. Tepat di depan petilasan yang katanya petilasan
Prabu Siliwangi, kembali kami melakukan doa dipimpin oleh Abah Syargani.
Selanjutnya kami diajak masuk ke dalam lokasi yang masih dalam gua
keramat tersebut. Namanya lokasi Batu Qur'an, tampak sebuah batu yang
berada ditengah kolam air yang katanya air tersebut berasal dari 4 mata
air yang berada di 4 sudut kolam tersebut. Kemudian satu persatu kami
dimandikan oleh Abah dan disuruh melakukan tawaf (berjalan mengelilingi
layaknya mengelilingi Ka'bah pada ibadah haji) sebanyak 7 kali sambil
mengucapkan shalawat nabi Muhammad SAW. Alhamdulillah seluruh kegiatan
ritual di dalam gua keramat tersebut dapat dilaksanakan dengan baik dan
lancar. Abah mengatakan bahwa disitulah pusatnya ilmu secara spiritual
di pulau Jawa dan dengan dimandikannya kami maka diharapkan terbukalah
pikiran/wawasan berpikir yang ada di dalam otak tentang jati diri dan
mengerti tentang asal usul kita sebagai manusia ciptaan Allah SWT.
<http://cechgentong.multiply.com/photos/hi-res/1M/2534>
/*Gua Sanghyang Sirah*/
Karena saat itu, sudah ada rombongan lain yang menunggu dimandikan Abah
maka kami disuruh untuk jalan terlebih dahulu dan menunggu Abah di
pantai Bidur. Setelah mempersiapkan segalanya, kami melanjutkan
perjalanan ke pantai Bidur untuk menunggu Abah dan sekalian melihat
kapal nelayan yang mungkin bisa membawa kami ke pantai Cibom. Satu jam
kemudian tampak rombonga Abah sudah datang ke pantai Bidur untuk menemui
kami. Setelah melihat-lihat sekeliling laut dan tidak ada kapal nelayan
yang lewat dan lagipula waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB maka Abah
menyuruh kami untuk menunggu di pantai Bidur. Sementara itu Abah dkk
melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki ke pantai Cibom dan menyuruh
kapal kami yang ditambatkan disana untuk menjemput kami walaupun malam
haripun kami akan dijemput.
Akibat cuaca yang kurang mendukung dengan hujan yang sangat deras dan
diikuti oleh gelombang laut yang pasang maka kami mengambil kesimpulan
bahwa kapal kami tidak mungkin dapat menjemput kami. Untuk itulah
sebelumnya kami sudah menyiapkan tempat dan membangun saung sederhana
dengan atap daun sejenis kelapa sebagai tempat berteduh kami malam harinya.
Tanpa terasa kami ketiduran dan tepat jam 7 pagi (28/12/2009), sebuah
kapal mendekati pantai Bidur. Dan benar dugaan kami bahwa kapal tersebut
adalah kapal kami yang akan membawa kami kembali ke pantai Cipining
dimana dari tempat itulah kami memulai perjalanan. Wao sebuah perjalanan
yang luar biasa menurut kami serta penuh dengan perjuangan yang
melelahkan. Sesampainya di kapal kami merasakan kepuasan dan rasa syukur
yang amat sangat kepada Allah SWT serta ucapan terima kasih kepada para
orang tua kami yang turut mendokan kami sepanjang perjalanan spiritual ini.
Sesampainya di Cipining, kami langsung pamit kepada orang-orang yang
telah membantu kelancaran perjalanan ini. Rupanya Uyut dan 6 orang teman
kami telah pulang dan menunggu kami doi Padepokan Banyu Biru Kampung
Sulang, Sepatan, Mauk Tangerang. Langsung saja kami meluncur ke
Tangerang, persis jam 19.00 WIB, kami tiba di Padepokan dan sudah banyak
sekali orang yang menyambut kedatangan Kami. Bak pahlawan yang disambut
dengan meriahnya. Begitu sampai langsung kami bertujuh melakukan sungkem
lepada Uyut dengan perasaan gembira dan haru.
Selanjutnya Uyut melakukan acara selamatan atas keberhasilan kami sampai
di Sanghyang Sirah dan kembali dengan selamat tiba di Padepokan Banyu
Biru. Setelah itu, kami bisa santai dan menceritakan pengalaman kami
kepada para tamu yang hadir. Sungguh sebuah kepuasan lahir dan batin.
Dan tanpa terasa obrolan santai tersebut membuat kami tidak bisa tidur
sampai pagi harinya.
Pukul 09.00 WIB (29/12/2009), saya dan rombongan lainnya pamit diri
kepada Pak Singgih, pendiri Padepokan Banyu Biru dan mengucapkan terima
kasih atas segala pelayanannya kepada kami dengan baik.
<http://cechgentong.multiply.com/photos/hi-res/1M/2535>
**
/
*Syukuran Atas Kembalinya Rombongan Dengan Selamat Sampai di Rumah*
/*/
/*
<http://cechgentong.multiply.com/photos/hi-res/1M/2536>
*/Foto-foto dan Obrolan Santai Melepas Lelah Sebelum Pulang Ke Rumah
Masing-masing/*