Hiu Tutul ke Probolinggo Tiap Tahun
Rabu, 10 Februari 2010 | 08:58 WIB
  RADITYA HELABUMI
Warga menonton hiu tutul (Rhincodon typus) dengan panjang hampir tujuh meter
dan berat sekitar dua ton di kampung nelayan Tambak Wedi, Surabaya, Jawa
Timur, Sabtu (3/10). Saat ditemukan oleh nelayan di perairan Selat Madura
hiu tersebut sudah mati. Oleh para nelayan hiu tersebut dipertontonkan
dengan menarik ongkos Rp 2.000 per orang. KOMPAS/RADITYA HELABUMI
 *TERKAIT:*

   - Ikan Hiu Tutul Terdampar di Tuban
   
<http://sains.kompas.com/read/2009/10/19/19121025/Ikan.Hiu.Tutul.Terdampar.di.Tuban.>
   - Berita Foto: Seekor Hiu Tutul Terdampar di
Surabaya<http://sains.kompas.com/read/2009/10/04/16102530/Berita.Foto:.Seekor.Hiu.Tutul.Terdampar.di.Surabaya>
   - Bangkai Hiu Tutul Jadi
Tontonan<http://sains.kompas.com/read/2009/10/03/22142451/Bangkai.Hiu.Tutul.Jadi.Tontonan>

 *PROBOLINGGO, KOMPAS.com* - Setiap tahun, sejumlah hiu tutul atau *Rhincodon
typus* tampak di perairan Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Fenomena ini
menarik karena kemunculan satwa laut yang langka itu selalu terjadi selama
Januari-Maret.
 *Indonesia, dalam hal ini perairan Probolinggo, termasuk satu dari sekitar
10 negara di dunia yang setiap tahun dijadikan persinggahan. *

Tahun ini, sejumlah hiu tutul tampak berenang sampai ke permukaan air di
perairan laut Kabupaten Probolinggo. Para nelayan acap kali melihatnya.

Ecocean, organisasi nirlaba yang fokus pada penelitian dan kampanye
penyelamatan hiu tutul (*whale shark*), tertarik mendokumentasikan fenomena
ini. Organisasi yang berkantor pusat di Perth, Australia, tersebut mengirim
seorang peneliti guna mendokumentasikan dan meneliti hiu tutul sejak Rabu
(9/2).

”Indonesia, dalam hal ini perairan Probolinggo, termasuk satu dari sekitar
10 negara di dunia yang setiap tahun dijadikan persinggahan. Yang menarik,
di sini periodenya setiap tahun tetap. Di tempat lain, periodenya tidak
tentu,” kata Darcy Bradley, peneliti Ecocean saat ditemui seusai mengambil
gambar hiu tutul.

Di perairan milik sekitar 100 negara, hiu tutul pernah menampakkan diri.
Sebagian besar kemunculan ikan yang panjangnya bisa sampai 12 meter serta
berat 21 ton itu sifatnya acak. Selain di Probolinggo, hiu tutul mampir, di
antaranya, di Ningaloo (Australia), Donsol (Filipina), Isla Mujeres
(Meksiko), Mozambik, dan Kepulauan Maladewa.

Menurut Darcy, hiu itu datang untuk mencari plankton. Belum diketahui dari
perairan mana asal hiu itu. Adapun habitat hidupnya diperkirakan di perairan
tropis.

Hiu tutul adalah satwa langka yang belum banyak diteliti sehingga
pengetahuan tentang satwa itu masih minim. Makanan pokok hiu tutul adalah
plankton. Keberadaan hiu tutul menjadi penting karena bisa menjadi indikator
kualitas ekosistem laut.

Dalam laporan International Union for Conservation of Nature (IUCN), hiu
tutul masuk dalam daftar merah. Satwa yang umurnya bisa mencapai 70 tahun
itu rawan punah.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo Tutug Edi Utomo
menyatakan, fenomena hiu tutul di perairan Kabupaten Probolinggo akan
dimanfaatkan sebagai ekowisata. Probolinggo memiliki Pantai Bentar yang bisa
dijadikan gerbang masuk wisatawan.

”Tentu saja, pemerintah daerah akan ikut menjaga kelestarian hiu tutul. Di
kalangan masyarakat nelayan setempat pun, hiu tutul dipercaya sebagai tanda
banyaknya ikan-ikan kecil sehingga selama ini tidak pernah ada perburuan hiu
tutul oleh warga lokal,” kata Tutug. *(LAS)*


--

Kirim email ke