Saya duduk termenung, tidak tahu harus mancing dengan siapa. Goa Atu si pemilik 
perahu nelayan yang menjadi teman mancingnya Anali, sulit sekali dihubungi. 
Sementara, Atek, anaknya Aming sedang berada di Surabaya, lebih banyak 
pekerjaan di sana daripada di Alor. Iseng-iseng sore itu saya kembali ke 
Pelabuhan Kalabahi, menanyakan kepada orang-orang pelabuhan barangkali kenal 
dengan Goa Atu. Beberapa perahu nelayan yang berjejer di batere tidak tahu. 
Untung ada seorang nelayan yang yang tahu, ia menunjuk tangannya ke arah utara, 
"Di perkampungan nelayan di sana. Biasanya dia berangkat cari ikan sore ini. 
Mungkin sudah mau berangkat sekarang." 
    Saya pun kembali menghubungi Goa Atu. Berkali-kali, namun selalu gagal. Aku 
pun ambil keputusan untuk coba menanyakan sewa perahu. Apakah ada perahu yang 
bisa disewa sebentar di sini? Ternyata semuanya sedang siap-siap untuk melaut 
dan baru akan pulang paling cepat lusa pagi. Dua hari. Tidak mungkin. Besok 
sore saya harus terbang kembali ke Kupang. Dengan perlahan, saya pun melangkah 
kaki kembali ke hotel Pelangi.        
    Malamnya, saya mendapat undangan makan dari Pak Aming. Luar biasa memang 
ini orang. Hampir semua simpanan ikannya di freezer dia bongkar dan dimasak 
semua. Dia juga mengundang beberapa temannya, Maka berpestalah kami, diiringi 
bunyi dentum musik keras di loteng rumahnya. Bilyar dan karaoke menjadi 
kegemarannya setiap saat. Istri dan familinya ikut menemani makan dan 
berkaraoke. Sesekali saya mengeluarkan jurus-jurus maut "dragon spin"  dan 
"shallot slice" yang puluhan tahun terlupakan. Darah terasa kembali muda lewat 
sodokan stick biryar. Boleh juga, apalagi melawan tentara-tentara yang kekar 
badannya...hahaha (kalau di Jakarta, aku takut setengah mati kalau harus 
melawan Datuk Irwin....hiiiiyyy...jangan sampe deh). 
    Ingar bingar kehidupan di dalam ruangan itu seakan mewakili suasana Alor 
pada saat ini. Wajah-wajah yang keras, hiruk-pikuk sepeda motor, preman-preman 
pelabuhan yang bertampang angker, dan rumah-rumah bordil kalau malam, adakah 
sisa-sisa pergulatan dengan ikan di kota teluk yang tenang ini? Wilayah teluk 
yang demikian luas, kemana sajakah perahu-perahu kecil yang dulu berjajar 
berebut tempat? Mungkin kano sudah berubah menjadi motor. Tetapi dengan motor, 
kehidupan darat lebih hidup daripada gemuruh kecipak kano di laut. 
    Pasar ikan Kalabahi mungkin menjadi satu-satunya saksi hidup, bagaimana 
pertarungan, sekaligus pergaulan, manusia dengan ikan. 

   "Aku mulai mengingat kembali semua wejangan mancing ikan layar yang 
dituturkan oleh Bapak Mado, “Dengan kain atau baju, kamu harus pegang 
moncongnya dengan kuat. Lalu angkat kepalanya keluar dari air dan tinju 
pipinya. Jangan berhenti meninju sebelum ikan mati, sebab kalau dia berontak 
berarti kano kamu akan terbalik.”
    "Kini ikan sudah merapat di samping kano, dan seolah-olah sangat 
bersahabat. Goyangan-goyangan ekornya yang bergerak secara perlahan, seolah 
minta di kasihani. Aku lalu membungkus moncong ikan dengan kaos si Angseng. 
Tetapi untuk memulai proses membunuhnya, aku agak ngeri juga, karena besar dan 
panjangnya ikan. Moncong ikan yang aku pegang berada di haluan,  sedangkan 
ekornya masih tampak jauh di belakang buritan kano yang diduduki Angseng. 
Selain itu, aku melihat matanya yang besar, membuat hati menjadi ciut.....  
Maka, dengan menutup mata, aku mengangkat kepala ikan dan melepaskan pukulan 
pertama. Merasakan ikan tidak bergerak, maka aku susulkan dengan pukulan 
bertubi-tubi ke tutup insangnya. Aku tidak tahu berapa kali aku memukulnya, 
tetapi aku baru berhenti memukul setelah aku kelelahan. Aku membuka mataku 
untuk melihat hasil tinjuku. Ternyata ikan sudah mati, dan seluruh bajuku 
berlumuran darah." (Hari-hari Seorang Pemancing)




Pasar pula yang pernah menjadi tumpuan akhir ketika pemancing mendapatkan 
limpahan rezeki.

"Karena ikan sudah naik, maka kami dengan segera mendayung pulang. Menurut 
perkiraan kami, pasti hari itu akan banyak ikan layaran di pasar. Apalagi nanti 
ada ikan si Ladao, yang pasti sangat besar.

Lebih kurang jam sembilan pagi, ikan kami sudah terjual habis di pasar. Aku dan 
Angseng lalu membagi dua bagian kepalanya untuk dimakan." (Hari-hari Seorang 
Pemancing)

 

Foto: Pasar Ikan Kalabahi
    



__________ Information from ESET NOD32 Antivirus, version of virus signature 
database 4976 (20100326) __________

The message was checked by ESET NOD32 Antivirus.

http://www.eset.com

Kirim email ke