ikan ini sangat bisa di pancing... pake peralatan kalo nyari beunteur... joran tegeg denang mata kail tunggal no 0.4.... umpan ikan kecil (berenyit), udang, atau cacing pohon pisang.
kedi gue di Fishing valley juga suka mancingin ikan (berot) ini. cuma ati2 kalo mancing ikan ini... sirip atasnya tajem banget kayak silet.
Saya masih punya di aquarium rumah 3 ekor sebesar kelingking. dulu saya juga miara jenis lain... asal kalimantan...(sili bangkok) sepasang. yang jantan berwarna merah... dah segede paralon jengan panjang 60cm. cuma sayang mati loncat keluar aquarium... tutupnya di buka bini waktu kasih makan lupa di tutup lagi... saya lagi keluar kota... pulang2 udah ada dua pusara di kebon belakang rumah...![]()
--- On Thu, 7/22/10, Kusuma, Hendra
<[email protected]> wrote:
From: Kusuma, Hendra <[email protected]> Subject: RE: [MANCiNGiKANMaS] Ikan Sili Nyaris Punah To: [email protected] Date: Thursday, July 22, 2010, 4:40 AM
Mangga kang Sigit….
Tapi ikan ini bisa dipancing ga ?
Kalau ga bisa, cara mendapatkannya
gimana ?
Kelihatannya bagus buat di Aquarium nie….
From:
mancing_ikan@ yahoogroups. com [mailto:mancing_ i...@yahoogroups .com] On Behalf Of Sigit Zusilo
Sent: Thursday, July 22, 2010
11:37 AM
To: mancing_ikan@ yahoogroups. com
Subject: Re: [MANCiNGiKANMaS] Ikan
Sili Nyaris Punah
|
inponya bagus kang... sili/berot dengan corak lain
(bukan yg di gbr.) masih banyak kok di ciliwung dan cisadane..!! ! padahal
sungai ini dah tercemar. Beberapa waktu yg lalu teman dari bandung juga masih
ngumpulin ikan ini untuk di masukin ke enclive... seperti kang Yoyok, Harri
B, Kang Candra Sonjaya... masih ngumpulin ikan2 endemik mo di
inventarisasikan jenis ikannya katanya
... kalo udah siap mau bikin buku nya....!!!
kang hendra.... saya kopas ya buat FF
--- On Thu, 7/22/10, Kusuma, Hendra <hendra.kusuma@ nielsen.com>
wrote:
From: Kusuma, Hendra <hendra.kusuma@ nielsen.com>
Subject: [MANCiNGiKANMaS] Ikan Sili Nyaris Punah
To: mancing_ikan@ yahoogroups. com
Date: Thursday, July 22, 2010, 1:38 AM
kan Sili
Nyaris Punah
Rabu, 21 Juli
2010 | 10:11 WIB

animalworld. com
ikan sili
Ilmuwan
biologi dari Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Jawa Tengah,
mengatakan populasi salah satu ikan sungai yang dikenal dengan nama sili
(Mastacembelidae Eel) terancam menurun.
"Oleh karena itu, diperlukan konservasi untuk penyelamatan agar tidak
punah," kata Dr rer. nat. Windiarini Lestari, peneliti dari Fakultas
Biologi Unversitas Jenderal Sudirman (Unsoed Purwokerto di arena pertemuan
tahunan Association for Tripical and Conservation (ATBC) di Sanur, Bali , Rabu (21/7/2010).
Ia mengatakan diperlukan budi daya agar populasi ikan sili ini tidak semakin
menurun. Pada pertemuan ATBC, 19-23 Juli 2010 yang diikuti sekitar 900
ilmuwan dalam negeri dan mancanegara itu, ia memaparkan tema "Ekologi
dan Konservasi Mastacembelidea Eel berduri di Sungai Klawing, Jawa
Tengah".
Ia menjelaskan ada satu spesies ikan sungai yang dikenal dengan nama lokal
sili, diketahui sudah menurun populasinya. Dalam arti jumlah ikan tersebut
sudah menurun, khususnya pada beberapa sungai di Banyumas dan Purbalingga,
termasuk Sungai Serayu di Wonosobo, Jawa Tengah.
Dalam penelitian yang dilakukan sejak 2000 di Sungai Klawing, salah satu
sungai di Kabupaten Purbalingga, diketahui bahwa tingkat keterancamannya
cukup serius.
Berdasarkan data penelitian yang dilakukannya sejak tahun 2000-an, tidak
pernah didapatkan dalam satu lokasi di sungai lebih dari 10 individu.
"Jadi memang (jumlah yang bisa ditemkan) kecil sekali," katanya.
Ia memberi contoh di Sungai Klawing, paling banyak hanya bisa
diperoleh tiga hingga empat ekor, itu pun untuk mendapatkan sudah susah
sekali, jadi ini memang harus segera mendapat perhatian khusus untuk kita
upayakan konservasi dengan budi daya," katanya menengaskan.
Menurut dia, membudidayakan ikan itu agar tidak punah, mestinya juga
dilakukan oleh otoritas berwenang, seperti dinas perikanan di daerah
setempat. "Balai penelitian perikanan memang ada, tapi belum mengarah ke
ikan sungai, masih sebatas ikan-ikan konsumsi," katanya.
Ikan sili, selain ditangkap untuk konsumsi, juga dikenal sebagai ikan hias.
Biasanya orang kalau mau pilih ikan hias itu kalau yang cantik dan bagus.
"Nah, salah satu ikan ini dijadikan ikan hias karena motifnya seperti
batik berwarna coklat, dan diambil orang karena bentuknya seperti pita, itu
diambil untuk dipelihara di aquarium," katanya.
Ketika ditanya apakan penurunan populasi ikan itu karena ditangkap untuk
konsumsi atau kepentingan ikan hias, ia menjelaskan bahwa masyarakat
menangkap ikan itu tanpa sengaja. Jika dapat, dijual ke pedagang ikan.
Dasar berlumpur
Ia menjelaskan bahwa untuk habitat khusus, ikan ini tidak punya, dan bisa
tinggal di hampir di semua sungai. Hanya saja, ikan itu lebih suka tinggal di
pinggiran sungai dengan dasar yang berlumpur.
Selain itu, sungai tempat habitat ikan itu dinaungi pohon dan tidak bisa kena
matahari langsung, dengan makanan utama udang.
Menurut dia, masyarakat menangkap di sungai untuk dijual atau dipelihara di
akuarium. "Jadi ikan ini diambil di habitat alamnya, sehingga
menimbulkan terus menurunnya populasi," kata Windiarini Lestari, doktor
lulusan Universitas Goettingen, Jerman dengan spesialisasi "Nature
Conservation".
Diakuinya bahwa ikan sili yang di Indonesia tercatat ada 11 species, termasuk
di Pulau Jawa ada tiga species itu, juga terdapat di Sumatra, Kalimantan, dan
Sulawesi.
"Di Jawa ada tiga species, dan di Unsoed kami hanya mendapatkan dua
species, dan satu lagi hingga saat ini satu species belum ditemukan,"
katanya.
Ia mengatakan budi daya ikan itu di Indonesia belum
berhasil, dan penelitian yang dilakukan pihaknya saat ini sedang mengarah ke
penemuan cara budi daya.
"Kami sedang mencoba ke arah sana, sementara ini kami sedang belajar
ekologi, yang kalau kita bilang ekologi itu adalah rumah dari ikan tersebut
agar bisa diketahui tempat tinggalnya yang khas yang dia sukai, seperti
berlumpur, di bawah naungan, dan agak gelap," katanya.
Menjawab pertanyaan apakah di Unsoed ada contoh untuk penelitian budi daya,
ia menjelaskan bahwa penelitiannya memang harus ke sungai. "Sampat saat
ini kami belum sanggup untuk budi daya," katanya.
Ia menambahkan bahwa pihaknya masih studi mengenai berapa populasi yang ada
di alam. Jika jumlahnya sedikit, maka harus dicari tempat yang disukai
sehingga diketahui persis.
Setelah itu, baru dibuatkan manipulasi untuk lokasi yang mirip di alam, dan
setelah itu baru dipindahkan. "Setelah bisa bertahan hidup, baru kita
coba untuk dikawinkan, yang mengarah ke budi daya," katanya.
Menurut dia, melalui forum ATBC 2010 itu, ia hanya ingin mengingatkan bahwa
ikan-ikan sungai sudah selayaknya mendapat perhatian karena populasinya sudah
menurun. Penurunan itu, baik pada spesies maupun jumlah keragamannya,
terutama karena kerusakan habitat sungai akibat penggalian, pencemaran--
limbah rumah tannga-- dan juga kegiatan penggalian pasir dan batu.
"Padahal tempat itu merupakan sumber utama makanan dan tempat tinggal
ikan tersebut," katanya.
Regards,
Hendra.K
|
|