=========================================================================== Majalah ParaHyangan - Komunikasi Intelektualitas Mahasiswa http://student.unpar.ac.id/parahyangan-online/ =========================================================================== ParaHyangan Stop Press, 9 Maret 1999 =========================================================================== Konser Amal Teknik Industri'99, 28 Februari 1999 Tuntutan Sang "Burung Gereja" =========================================================================== =========================================================================== "Waaaaaa!!!" Eldorado Dome dihiasi teriakan histeris semenjak Nugie menanggalkan kaosnya. Suasana menjadi heboh tatkala Nugie turun ke bawah panggung, menaiki pagar pemisah antara dia dengan penonton di hadapannya. Suaranya menggaung keras dengan alunan lagu "Burung Gereja"-nya yang terkenal. Di atas pagar pembatas itu, Nugie mulai dikerubuti fans yang berusaha menariknya. Pembauran antara hentakan lagu, cucuran keringat, dan orang yang melompat-lompat menjadi hidangan utama pada acara Konser Amal Teknik Industri (TI)'99 yang digelar 28 Februari lalu. Namun, masalah timbul di balik keceriaan malam tersebut. =========================================================================== Beberapa minggu sebelum konser, tiket sudah mulai dijual. Publikasi besar-besaran dilakukan. Papan besar di BIP, spanduk di depan Aquarius Bandung, serta penyebaran pamflet di mana-mana menjadi kehebatan publikasi konser amal tersebut. Tetapi nampaknya semua ini tidaklah bisa memberi kenyataan indah. Seluruh panitia mendapat goncangan hebat 4 hari sebelum pelaksanaan, ketika mengetahui bahwa tiket yang terjual baru sekitar 150-an saja. Dari rencana semula penjualan 3000 tiket, hanya sekitar 5% saja yang laku saat itu. Rumor segera merebak bahwa bila dana untuk konser tidak didapat, seluruh panitia akan menanggung beban per orang sekitar empat ratus ribu rupiah. Untuk mempercepat lakunya tiket, para panitia yang tak mau tekor melakukan berbagai pengurangan harga dan pemberian bonus. Langkah pertama adalah dengan bonus satu tiket untuk pembelian sepuluh tiket, yang disusul dengan penurunan hingga lima tiket. Hal itu didukung dengan penurunan harga tiket yang semula Rp 20.000,- menjadi Rp 15.000,- bahkan Rp 10.000,-. Usaha ini cukup berhasil, namun jumlah pengunjung tetap tidak mencapai target yang ditentukan (hanya sekitar 1000-an pengunjung). Kemungkinan terburuk dari kerugian tersebut adalah, tiap panitia harus "nombok" sekitar dua ratus ribu rupiah. Beragam pendapat muncul mengenai tidak lakunya tiket konser ini. Penyebab utama yang paling banyak diungkapkan adalah pemilihan penyanyi/band yang salah. Nugie, Warna, Base Jam, dan Nayaga dinilai bukanlah penyanyi/band yang memiliki banyak penggemar. Lain halnya bila panitia memilih band-band seperti Slank, Dewa 19, dan GIGI. Ini sangat terlihat pada saat jumpa fans Nugie di Arby's, 27 Maret 1999 lalu. Memang, ada beberapa orang yang menjadi fans berat Nugie. Namun, secara keseluruhan Arby's hanya terisi oleh panitia dan sebagian besar mahasiswa TI. Dan ternyata kebetulan pula event konser ini berdekatan harinya dengan pagelaran musik lainnya, yaitu Slank. Ada diantara penjual tiket yang geram karena remaja-remaja yang ditawari justru menanyakan tentang konser Slank. Masalah tempat pun menjadi salah satu dari sekian pendapat mengapa konser kali ini gagalnya penjualan tiket. Eldorado Dome dinilai terlalu jauh dan mewah di mata sebagian pemberi pendapat. Banyak juga pendapat akan pelaksanaan konser dalam suasana yang tidak tepat. Istilah seperti "Nggak punya duit, euy!" atau "Sorry, mahal!" banyak didengar para penjual tiket. Situasi krisis moneter menjadi salah satu batu sandungan. Seorang mahasiswa TI mengatakan bahwa untuk beramal seharusnya bisa dengan cara lain. Pengadaan konser amal macam ini dinilainya terlalu mewah dan glamour sehingga justru mengaburkan unsur amalnya. Protes seorang nenek pun turut mewarnai konser ini. Satu hari, seorang nenek datang berminat membeli karcis. Mulanya, penjual tiket tertegun, merasa aneh melihat seorang manula hendak melihat Base Jam ataupun Nugie. Ternyata, nenek itu salah persepsi. Nenek tersebut mengira konser ini serupa dengan konser-konser klasik jaman 60-an. Akhirnya, sang nenek memprotes, bahwa seharusnya judulnya jangan konser melainkan band, terlepas dari arti konser itu sendiri yang sebenarnya adalah pertunjukan musik. Kendala-kendala tersebut menyebabkan panitia mengalami kerugian. Parahnya, acara konser amal ini memiliki terusan, yaitu Hari Amal. Kerugian konser menyebabkan panitia Hari Amal sangat kekurangan dana. Ironisnya, acara Hari Amal mau tak mau harus diadakan. Selain pertanggungjawaban kegiatan, tuntutan artis pun menjadi pertimbangan. Hal ini diakibatkan biaya artis pendukung konser yang telah berhasil ditekan sedemikian rupa dengan alasan amal. Bila Hari Amal tidak berjalan, maka ada kemungkinan artis pendukung akan memprotes serta menuntut. Oleh karenanya, panitia mencoba mencari dananya sendiri melalui kegiatan Garage Sale dan Car Wash. Walau hasilnya tak dapat terlalu diharapkan, mereka tetap mencoba mengadakan acara tersebut. Mereka tak mau penyanyi "Burung Gereja" menuntut mereka. Berhasil atau tidaknya, lihat saja tanggal 14 Maret nanti. (agas) ------------------------------------------------------------------------- Dari redaksi: 1. Kami meminta maaf atas keterlambatan berita diatas, diakibatkan kesibukan kuliah dan keterbatasan sumber daya yang ada, terutama dalam hal komputer. 2. Majalah ParaHyangan edisi XIII kini secara redaksional telah rampung. Topik-topik yang diangkat: - Goresan Utama: Pers Mahasiswa Pasca Soeharto: Mau ke Mana? - Toleh: Lika Liku Senat Mahasiswa Unpar - Peristiwa: 1. Macet... Pedulikah? 2. Electric Acoustic Angklung: Inovasi demi Kemajuan Angklung - Bincang-Bincang: 1. Rektor Unpar, Prof.Dr. Benny Suprapto Brotosiswojo 2. Dosen Fakultas Ekonomi, Wisnu Wardhono Drs., MSI - Resensi "Merdeka Square" G30S di Mata Intel Australia - Bonus Eksklusif: Nantikan Rusuhnya Kampanye... Dan topik-topik menarik lainnya... Saat ini Majalah ParaHyangan edisi XIII tengah dalam proses menunggu dicetak. Apabila tidak ada halangan, maka diharapkan pada pertengahan bulan Maret Majalah ParaHyangan edisi XIII dapat di hadir di tengah pembaca. Bagi yang hendak memesan Majalah ParaHyangan edisi XIII, dapat menghubungi [EMAIL PROTECTED] 3.Redaksi menerima dengan senang hati segala sumbangan berita dan foto mengenai segala kegiatan yang telah/akan berlangsung di Unpar. Apabila berkenan, Anda dapat mengirimkannya ke sekretariat kami, atau melalui [EMAIL PROTECTED] . Apabila ada di antara Anda yang hendak menawarkan kerja sama dengan kami, dapat menghubungi kami melalui alamat yang tertulis di bawah ini: - Sekretariat ParaHyangan Jl. Ciumbuleuit 94 Bandung (dekat Lapangan Parkir Hukum Unpar) Telepon (022)2042390. - Melalui e-mail, ke alamat: [EMAIL PROTECTED] Terima kasih -------------------------------------------------------------------------- ========================================================== ParaHyangan Stop Press diterbitkan oleh Majalah ParaHyangan - Komunikasi Intelektualitas Mahasiswa ==========================================================
