===========================================================================
Majalah ParaHyangan - Komunikasi Intelektualitas Mahasiswa
http://student.unpar.ac.id/parahyangan-online/
===========================================================================

ParaHyangan Stop Press, 20 Maret 1999
===========================================================================
Studi Banding Lembaga Mahasiswa FISIP Unpar, 4-7 Maret 1999:
SIAP BANDING?
========================================================================
===========================================================================
Untuk pertama kalinya Senat Mahasiswa (SM) FISIP Unpar mengadakan studi
banding (SB). Tujuannya ke Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas
Atmajaya, Yogyakarta. Keduanya dinilai oleh panitia sebagai universitas
dengan akreditasi bagus yang layak dijadikan pembanding bagi Unpar. Salah
satu hal utama yang ingin dicapai dari kegiatan yang hanya diminati oleh 26
calon peserta ini adalah perbandingan lembaga mahasiswa beserta program
kegiatannya. Namun yang menarik ternyata studi banding ini hanya diikuti
oleh satu lembaga mahasiswa FISIP, yaitu senat mahasiswa. Sementara
himpunan-himpunan Jurusan dan Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) justru
mengundurkan diri. Dengan demikian SB hanya membawa 15 peserta dan 1
perwakilan SM serta 11 panitia dengan didampingi 3 kardos  (karyawan-dosen).
Kalau begitu masih efektifkah bila kegiatan ini disebut sebagai Studi
Banding Lembaga Mahasiswa? Mengingat hanya ada satu dari lima lembaga
mahasiswa yang ikut serta, itupun berasal dari lembaga penyelenggara SB.
===========================================================================


Bagi Abraham (HI'96), ketua panitia pelaksana SB, sebutan Studi banding
Lembaga mahasiswa untuk kegiatan yang telah berlangsung tersebut tetap
efektif, sebab tujuan membandingkan lemabga-lembaga mahasiswa FISIP-Unpar
dengan lembaga sejenis di UGM dan Atmajaya tetap tercapai. "Kan,
lembaga-lembaga yang tidak dapat hadir tetap mewakilkan materinya pada
peserta atau panitia yang berangkat. Lagipula belum ada komplain dari
lembaga lain," tegas Abraham.

Sementara itu Andreas H. Pareira, Pembantu Dekan (PD) III FISIP, justru
menganggap pelaksanaan SB agak melenceng dari sasaran. "Yang ingin dicapai
kan Studi Banding Lembaga Mahasiswa tapi yang berhasil dicapai tampaknya
hanya Studi Banding Senat Mahasiswa,"
ujarnya.

Mengenai pengunduran diri lembaga lainnya, alasan yang dilontarkan pada
ParaHyangan bernada sama: kurangnya koordinasi dari pihak panitia tentang
proses persiapan SB. Seperti yang dinyatakan Jacky Hendrawan, "Kelembagaan
tidak diajak bicara secara formal, tiba-tiba datang surat undangan kerja
sama kira-kira seminggu menjelang hari H," ujar cowok yang menjabat sebagai
ketua Himane (Himpunan Administrasi Negara) itu. Bentuk kerja sama yang
dimaksud berupa pengiriman satu wakil per lembaga dengan membayar sebesar
Rp.200.000,00/orang. Anehnya peserta non-lembaga mahasiswa dan juga panitia
hanya membayar Rp.50.000,00/orang. Bahkan untuk kardos tidak dipungut
bayaran sama sekali, alias gratis. Hal ini tentu saja menimbulkan protes
dari pihak lembaga mahasiswa selain SM. Akhirnya setelah pihak panitia dan
lembaga yang protes bernegosiasi, bayaran yang harus ditanggung
masing-masing lembaga sama dengan yang lain, yaitu Rp.50.000,00/orang.

Penurunan biaya yang harus dibayar oleh lembaga ternyata tidak menyelesaikan
masalah. Buktinya lembaga-lembaga selain SM  tetap mengundurkan diri.
Alasannya beragam. BPM, menurut ketuanya Ruri Arianto (HI'95), kurang siap
mengikuti SB karena kurangnya kordinasi dalam proses terselenggaranya SB.
Sementara Himane dan Himahi (Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional)
menyatakan karena adanya kurang koordinasi itu mereka tidak dapat
menyesuaikan jadwal dan mengatur sumber daya untuk diberangkatkan. Mengingat
saat itu masing-masing himpunan sibuk mengurus kegiatan internalnya.  Alasan
lain dikemukakan Albertus, Ketua Himani (Himpunan Mahasiswa Administrasi
Niaga), " UGM kan tidak memiliki jurusan Administrasi Niaga. Jadi kalau
Himani berangkat tidak akan memperoleh keuntungan timbal balik."

Dari persoalan yang ada, tampak adanya kekurangsiapan panitia dalam
menyelenggarakan SB. Hal itu dibenarkan Andreas H. Paraera, "Saya lihat
masih banyak hal yang tidak disiapkan dengan benar. Misalnya soal materi dan
apa yang harus dibandingkan."

Kekurangsiapan ini, misalnya terlihat dari panitia yang sibuk membagikan job
description baru di  bis dalam perjalanan menuju Yogyakarta. Setelah itu
mereka sibuk menerangkan materi yang akan dipresentasikan di Yogyakarta.
Ironisnya, malah ada peserta "utusan" yang tidak mendapat penjelasan lebih
dulu dari pihak lembaga yang ia wakili materinya. Maka berlangsunglah
"diklat kilat" materi lembaga kemahasiswaan FISIP dalam bis. Saking
seriusnya kegiatan ini berlangsung, sampai-sampai panitia melarang pemutaran
musik dalam bis.

Kejadian lain yang menandakan adanya kekurangsiapan panitia adalah
ketidaksinkronan materi diskusi antara pihak panitia dengan UGM sebagai tuan
rumah. Sementara Unpar menyiapkan materi "Apatisme Mahasiswa dalam Pemilu",
UGM malah menyiapkan materi "Pemilu dan Demokratis". Untunglah perbedaan
tersebut dapat diselesaikan dan diskusi tetap berlangsung, sekalipun UGM
tampak lebih dominan dalam jalannya diskusi.

Namun, toh dengan kendala-kendala tersebut, SB tetap berjalan mulus baik di
UGM maupun di Atmajaya, dan semua peserta dapat kembali ke Bandung dengan
selamat. Selain itu Riza F. Fachri, Ketua Himahi, menganggap ide untuk
mengadakan SB pada intinya bagus dan layak untuk diselenggarakan lagi di
lain waktu, terlepas dari siapa pihak penyelenggaranya. Ia menganggap wajar
bial SB kali ini memiliki beberapa kekurangan. "Karena ini program baru,"
sambungnya. (Nabyl,ully/or)

-------------------------------------------------------------------------

Dari redaksi:

1. Kami meminta maaf atas keterlambatan berita diatas, diakibatkan kesibukan
kuliah dan keterbatasan sumber daya yang ada, terutama dalam hal komputer.

2. Majalah ParaHyangan edisi XIII kini secara redaksional telah rampung.
Topik-topik yang diangkat:

- Goresan Utama:
  Pers Mahasiswa Pasca Soeharto: Mau ke Mana?

- Toleh:
  Lika Liku Senat Mahasiswa Unpar

- Peristiwa:
  1. Macet... Pedulikah?
  2. Electric Acoustic Angklung: Inovasi demi Kemajuan Angklung

- Bincang-Bincang:
  1. Rektor Unpar, Prof.Dr. Benny Suprapto Brotosiswojo
  2. Dosen Fakultas Ekonomi, Wisnu Wardhono Drs., MSI

- Resensi
  "Merdeka Square" G30S di Mata Intel Australia

- Bonus Eksklusif:
  Nantikan Rusuhnya Kampanye...

Dan topik-topik menarik lainnya...

Saat ini Majalah ParaHyangan edisi XIII tengah dalam proses cetak. Apabila
tidak ada halangan, maka diharapkan pada pertengahan bulan Maret Majalah
ParaHyangan edisi XIII dapat di hadir di tengah pembaca. Bagi yang hendak
memesan Majalah ParaHyangan edisi XIII, dapat menghubungi
[EMAIL PROTECTED]

3.Redaksi menerima dengan senang hati segala sumbangan berita dan foto
mengenai segala kegiatan yang telah/akan berlangsung di Unpar. Apabila
berkenan, Anda dapat mengirimkannya ke sekretariat kami, atau melalui
[EMAIL PROTECTED] .

Apabila ada di antara Anda yang hendak menawarkan kerja sama dengan kami,
dapat menghubungi kami melalui alamat yang tertulis di bawah ini:

- Sekretariat ParaHyangan
   Jl. Ciumbuleuit 94 Bandung (dekat Lapangan Parkir Hukum Unpar)
   Telepon (022)2042390.

- Melalui e-mail, ke alamat:
   [EMAIL PROTECTED]

Terima kasih
--------------------------------------------------------------------------

==========================================================
ParaHyangan Stop Press diterbitkan oleh
Majalah ParaHyangan - Komunikasi Intelektualitas Mahasiswa
==========================================================

















Kirim email ke