Rekan yth, 19 Sep 99 Saya teruskan saja email di bawah ini, sebagai pesan bahwa ketidakadilan besar sedang terjadi terhadap orang-orang yang lemah. Salam, A Rusli > >Pak Rusli yth. >Saya Erwin, staf jurusan arsitektur (ITB). >Menanggapi tulisan Bapak di milis dosen itb, ada satu email dari rekan saya >yg sekarang sudah kembali lagi ke Timor Timur membantu mencegah pengungsian >paksa di sana: > >== >"Tapi secara singkat yang terjadi di sana bukan perang saudara, melainkan >genocide dengan sangat sistematis oleh militer Indonesia. Kekejaman dan >kebrutalan yang luar biasa, dan ini betul-betul sejarah hitam tragedi >kemanusiaan di negeri kita. >Saya ingin menyampaikan kabar dukacita dalam kesedihan dan kehilangan yang >mendalam dan mohon maaf sebesar-besarnya kepada semua pihak atas kegagalan >kami mengevakuasi Sekum Sinode GKTT Pdt. Francisco de Vanconcelhos. >Beliau tertembak saat berjanji bertemu dengan saya dan Pdt. Saut Sirait di >desa Fatumeta pada hari Kamis 9 September pukul 09.00. Waktu kejadian >diperkirakan pukul 08.15 WITA saat saya masih dalam perjalanan dari Baukau >menuju Dili memakai mobil. Beliau bertahan sehari dan meninggal pada hari >Jumat 10 September pukul 14.00 di pangkuan Pdt. Daniel Marchal (Pendeta GKTT >Zebaoth-Dili), lalu dikuburkan di sebuah bukit antara Dili - Baukau." >== > >Terimakasih atas kiriman tulisan Homili Pater pada misa Requiem untuk Pater >Tarcisius Dewano, S.J, Martir. >Tadinya saya berencana ikut menghadirinya, tapi tdk bisa saya lakukan karena >sakit. >Saya seorang Kristen yg cukup kenal dg banyak Romo terutama di Yogya, salah >satunya karena saat ini sdg menyusun buku dokumentasi arsitektur Romo >Mangun. > >Salam, >erwin > >From: A Rusli <[EMAIL PROTECTED]> > >> Pembunuhan semena-mena perlu terus diupayakan dicegah, di masa depan. >> Dengan sikap anti-kekerasan dan tanpa kekerasan. >> A Rusli 16 Sep 99
