Trims. Menurut saya, setiap istilah seperti keingintahuan, transparansi, dsb, bagaikan pisau bermata dua, dapat menghasilkan hal positif mau pun negatif. Menurut saya, setelah terheran melihat bahwa isi dunia ini tiada yang ideal, lebih konstruktif kalau kita masing-masing menumbuhkan tekad untuk memperbaiki apa yang dapat kita perbaiki (jadi paling mudah mulai dari diri sendiri, yang dapat lebih mudah kita atur), sambil menimba ilmu dan keterampilan agar siap memperbaiki hal lain kalau suatu saat kita berkesempatan untuk itu. Jadi sambil berkomentar dan memberi saran perbaikan, kita percaya akan itikad baik pihak yang sedang diberi wewenang, percaya bahwa mereka sedang berusaha berbuat yang baik (walau kita tak paham), dan kita bersiap untuk memberi bantuan dan jalan yang lebih baik ketika kesempatan tiba. Ketika kesempatan tiba, semoga janganlah menolak dengan alasan 'bayaran kurang', 'saya tidak siap', dsb. Salam, A Rusli 19 Des 99 At 09:09 PM 12/17/1999 -0800, niskala nirmala wrote: > >yth. pak Rusli, > >Menarik sekali kalau melihat perbandingan 'keinginan >tahu' dari segi science dengan keinginan tahu secara >sosial.>'Transparansi' kadang dipakai sebagai alat kontrol >sosial, kadang sebagai pemuasan keinginan tahu. Adakah >perguruan tingi didunia ini yg dikelola secara >sepenuhnya demokratis dan transparan? Rasanya tidak... Salam, A Rusli.-
