Jadi, bagaimana sikap serius dosen terhadap bidangnya dan pengajarannya
serta kebebasannya dari dogmatisme dijaga ? Tidak ada mekanisme kelembagaan
yang beroperasi secara langsung yang memungkinkan ketekunan, kesiapan,
kesadaran moral, dan keyakinan seorang dosen dapat dilihat dan dinilai
dalam arti yang sama sebagaimana halnya karya-karya ilmiah yang diterbitkan
dapat dinilai oleh tinjauan para rekan sejawat. Orang-orang yang berada di
luar ruang kuliah tidak dapat melihat atau melakukan penilaian atas
pemenuhan kewajiban seorang dosen terhadap para mahasiswanya. Hanya
kehadiran terus menerus di ruang kuliah dan pengetahuan yang memadai
memungkinkan penilaian macam itu dan para mahasiswa, yakni satu-satunya
pihak yang senantiasa menghadiri kuliah, tidak memiliki pengetahuan yang
memadai.
Oleh karena itu persoalannya lalu terpulang pada kepekaan setiap dosen akan
kewajiban masing-masing dan kesediaannya untuk mematuhinya secara sukarela.
Sikap seorang dosen yang peka terhadap kewajiban moralnya mempengaruhi
sikap para koleganya terhadap kegiatan pengajaran mereka sendiri. Kepekaan
seorang dosen akan kewajibannya dipertajam oleh kesadaran akan kekuatan
kepekaan moral itu dalam diri para kolega. Hal ini bukan sebuah teknologi.
Ini merupakan lingkaran saling-pengaruh yang ujung dan pangkalnya berkaitan.

Para mahasiswa tidak hanya perlu diajar. Mereka juga perlu dinilai dan
harus dinilai secara adil oleh para penguji. Penilaian ini penting karena
akan mempengaruhi kesempatan para mahasiswa dalam studi mereka selanjutnya
dan kemungkinan mereka diterima dalam karier profesional. Penilaian
mempengaruhi pula sikap para mahasiswa terhadap studi dan diri mereka
sendiri. Penilaian yang adil sangat dibutuhkan baik oleh masyarakat maupun
oleh masing-masing mahasiswa.
Ketidak-adilan atau kesewenang-wenangan dalam menilai prestasi seorang
mahasiswa barangkali merupakan akibat dari kesembronoan di pihak si
penguji. Hal itu dapat juga merupakan akibat dari sikap pribadi si penguji
terhadap mahasiswa-mahasiswa peserta--ujian yang dikenalnya. Ketidak-adilan
atau kesewenang-wenangan dalam menilai pekerjaan para mahasiswa bisa juga
bukan merupakan akibat kesembronoan atau hubungan pribadi antara
mahasiswa-mahasiswa tertentu dengan dosen-dosen mereka. Simpati politik
dapat pula menimbulkan bias serupa dalam hal penilaian, dengan akibat dosen
memberi mahasiswa-mahasiswa tertentu nilai yang lebih tinggi dari yang
sepatutnya menjadi imbalan bagi prestasi mereka, sementara para mahasiswa
lain mendapat nilai rendah dari yang seharusnya.
Juga tidak kurang penting ialah kesembronoan di pihak penguji dalam menjaga
standar penilaian yang stabil. Hal ini sukar dikontrol. "Penilaian dua
kali" merupakan salah satu cara untuk menghindari ketidak-adilan kepada
para mahasiswa. Cara ini lebih mungkin dilakukan bila ada ujian umum yang
harus ditempuh oleh para mahasiswa dari dosen-dosen yang berbeda. 
Sistem Amerika berupa "penilaian berkelanjutan" dan "ujian mata kuliah"
praktis dalam semua kasus hanya melibatkan seorang guru dan seorang penguji
yang tidak lain ialah satu orang yang sama. Dalam kondisi serupa ini,
terjaganya sebuah standar penilaian yang baku tidak begitu mudah dikontrol
oleh aturan-aturan kelembagaan.
Dalam menilai prestasi para mahasiswa di universitas-universitas massa,
sekurang-kurangnya di Amerika Serikat, juga diterapkan "penilaian
berkelanjutan" dan "ujian mata kuliah", penilaian itu sering dilakukan oleh
"asisten-asisten dosen". Sebagian asisten ini mengajar sekelompok kecil
mahasiswa dalam sebuah kuliah umum. Kondisi yang terakhir ini memungkinkan
dilakukannya "penilaian dua kali". Namun bila penilaian dilakukan dalam
hubungan dengan prestasi dikelas serta ujian akhir "penilaian dua kali"
tidak mungkin.
-----------------------------------------------------------

Kirim email ke