Aliran Kepercayaan Tantrayana
Ajarkan Paham Kebebasan Senggama
Di Indonesia sekitar abad ke XV, di daerah Sukuh pernah hidup aliran
kepercayaan Tantrayana. Satu paham bersifat tantris ini memiliki
ciri khas yang ganjil dan aneh. Paham yang membebaskan bersenggama
atau memuja pergaualan seks antara pria dan wanita. Kebebasan
bersenggama adalah inti dari ajaran aneh ini. Relief alat vital di
beberapa candi di Nusantara membuktikan, bahwa dulu Aliran
Tantrayana sempat berpengaruh.
Bukti adanya Aliran Tantrayana pernah menjadi paham masyarakat Sukuh
dengan adanya peninggalan bersejarah Candi Sukuh. Pada dinding candi
terdapat relief lingga-yoni. Suatu penggambaran alat kelamin pria
dan wanita Tidak hanya di bagian itu saja, di bagian candi yang lain
juga ada relief serupa.
Candi yang terletak di lereng Gunung Lawu bagian barat di Desa
Sukuh, Kabupaten Karanganyar didominasi oleh relief ini. Terutama
pada dasar gapura wujud lingga-yoni tampak besar dan jelas.
Menyaksikan relief itu terbayang pada kita penggambaran ke hal
senggama.
Walau begitu tidak hanya di Sukuh saja namun juga di daerah lainnya
di Nusantara. Misalkan di Candi Mendut ada batu megalhit berbentuk
lingga-yoni juga. Hal itu menandakan Aliran Tantrayana telah cukup
luas di yakini oleh masyarakat di Nusantara. Satu paham yang mungkin
puluhan atau ratusan tahun menjadi paham masyarakat saat itu.
Bahkan di India juga banyak kuil dan candi yang sejenis. Bahkan
banyak yang menggambarkan cara dan teknik bersenggama. Pada zaman
saat itu bersenggama adalah suatu keharusan bagi wanita untuk dapat
berdarma dan mengabdi pada suaminya. Untuk itu wanita India sejak
remaja telah diajari teknik bercinta. Kitab berisi teknik senggama
yang dipakai adalah Kamasutra.
Begitu hebat pengaruh Aliran ini hingga dalam pembangunan suatu
candi lingga-yoni pasti mendomonasi relief yang ada. Sehingga timbul
asumsi bahwa sudah demikian terbuka dan gamblang kehidupan seksual
ketika itu.
Seorang ahli dari barat Mr. Sl. Cardoso menyampaikan pikirannya
terhadap aliran itu. "Bahwa paham Tantra mempunyai ciri yang aneh,
yaitu : perhatian yang besar terhadap pergaulan jenis kelamin". Kala
itu paham Tantrayana menganggap senggama yang melahirkan kehidupan
di dunia.
Menurut teori "Cosmic Mariage" atau perkawinan alam dikemukakan,
bahwa semua yang ada itu timbul dari hubungan kelamin. Bahkan
seluruh dunia diciptakan oleh persetubuhan dewa pencipta dengan
saksinya. Jadi tanpa bersenggama tidak akan mungkin lahir dunia ini
di bumi.
Dalam hubungan senggama itu unsur jantan adalah "upaya" (alat
mencapai kebenaran yang agung). Sedangkan unsur wanita
merupakan "prajna" (kemahiran yang membebaskan). Maka timbul paham
bahwa senggama (maithuna) adalah menjadi kebebasan. Maksudnya
kebebasan untuk bersenggama antara pria dan wanita. *** R.Hendrawan.
Have constructive thoughts, consoling words, compassionate acts.
Peace & enlightenment be yours!
- from guys at Mayapada Prana
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://asia.docs.yahoo.com/info/terms