memang percuma saja mencoba "ngelingno" Si HS/MM ini, 
karena hati nuraninya sudah tertutup! orang yang hati 
nuraninya masih terbuka, dirinya pasti akan menyadari 
bahwa tidak mungkin tidak ada Allah. Mengapa? jawabannya 
sebenarnya sangat-sangat ilmiah.

Bahwa setiap orang memiliki sentimen primordial, yaitu 
kecenderungan untuk kembali atau menuju dari mana dirinya 
berasal. Lihat saja, setiap lebaran setiap orang selalu 
ingin kembali ke kampung halamannya. Atau kalau tidak, 
bila dirinya tinggal jauh dari orang tua atau ibunya, 
selalu berusaha untuk berkunjung ke orang tuanya paling 
tidak setahun sekali (saat lebaran). Di agama selain Islam 
pun, juga demikian, ada hari-hari besar agama itu yang 
selalu dimanfaatkan sebagai momen untuk silaturahmi 
bersama keluarga, khususnya orang tua, darimana kita 
berasal dan dilahirkan. ini adalah fakta yang tidak 
terbantahkan, oleh teori-teori paling canggih sekalipun. 
fenomena ini berlaku di seluruh dunia, tidak hanya di 
Indonesia saja. teori apakah yang dipakai untuk mematahkan 
sebuah fakta massal seperti itu? apakah mereka atau 
kita-kita yang berkecenderungan seperti itu sebagai 
manusia-manusia yang bodoh dan mengingkari kebenaran ini? 
wah, gak tahu deh kalau ada orang seperti itu.....

Sebagai makhluk ciptaan Allah, dengan contoh fakta 
sederhana di atas, maka sudah wajar dan lumrah dan lazim 
kalau kita suka atau tidak suka, memiliki kecenderungan 
mencari Allah. Ini dibuktikan, setiap kali kita melihat 
kebenaran, kejujuran, kasih sayang, dengan sendirinya kita 
akan mendukung dan membenarkan pula. Kebenaran sendiri 
adalah Allah itu, karena Allah adalah sumber segala sumber 
kebenaran.

Manusia akan selalu mencari Sumber itu dari masa ke masa, 
dari manusia pertama di bumi. Ketika manusia "jauh" dari 
Allah, saat itu pula manusia sebenarnya gelisah hatinya, 
kegelisahan mencari sumber dari mana dirinya berasal. 
Mengapa? Karena dia ingin tahu mengapa dirinya dilahirkan 
dan hadir di dunia. Manusia gelisah, karena nuraninya 
tidak dapat menerima ketidak-adilan, kekacau-balauan 
hubungan antar manusia, kesewenang-wenangan, dan 
sebagainya. Ketika dirinya dengan kekuatan yang ada pada 
dirinya tidak mampu untuk mengatasi keadaan itu, pasti dia 
akan mencari kekuatan yang dapat menguatkan dirinya lahir 
dan bathin, sehingga dirinya berani untuk menyeru 
masyarakatnya untuk kembali pada ajaran yang benar, yakni 
ajaran Allah. Saat itulah muncul Nabi-nabi, Ulama-ulama, 
Pendeta-pendeta, Filosof-filosof, yang mengkaji kehidupan 
dan memberikan pencerahan kepada masyarakat yang tidak 
sadar dirinya telah tersesat.

Dan kita hari ini adalah para pewaris para Nabi-nabi itu, 
yang ajaran-ajaran Allah yang dibawanya terkompilasi, 
teformalisasi, terinstitusionalisasi menjadi sesuatu yang 
kemudian disebut AGAMA. Ajaran Allah kepada manusia 
intinya berisi dua hal. Pertama, petunjuk atau penjelasan 
tentang Siapa Allah, dan bagaimana "berhubungan" 
dengan-Nya (berbentuk ritual ibadah seperti sholat, puasa, 
dll). Kedua, petunjuk-petunjuk Allah bagaimana manusia 
mengelola hidupnya yang mencakup hubungan dirinya dengan 
alam (dimana dia tinggal) dan bagaimana memanfaatkan untuk 
kepentingan hidupnya, serta hubungan antara dirinya dan 
sesamanya. Tujuannya agar harmoni kehidupan dapat 
tercapai. Ini adalah inti ajaran dari semua agama tanpa 
terkecuali.

Nah, kalau kita semua bersedia sedikit saja meluangkan 
waktu untuk mendengarkan hati nurani kita, kalbu kita, 
istirahatkan rasio kita, kita akan mendengar "Suara Tuhan" 
di hati kita. Kita akan terbuka, mata kita akan terbuka, 
dan kenyataan-kenyataan yang selama ini kita anggap nyata 
sebenarnya adalah semu saja. Tergantikan oleh Maha 
Realitas, yakni Allah SWT.

Allah tidak perlu dibuktikan dengan akal/rasio. Akal atau 
rasio hanya sampai pada pengakuan bahwa Dia ada, dan Dia 
yang mengatur seluruh JAGAD RAYA ini. Semua filosof atau 
scientist paling jago sekalipun awalnya mereka atheist di 
akhir hidupnya akan mengakui bahwa Allah ada. Ini juga 
kenyataan yang tak terbantahkan karena terjadi pada para 
pendekar-pendekar atheist sendiri.

Bagaimana dengan anda? Jangan sampai 
terlambat...................


Salaam,


Bagus TL

On Tue, 13 Jun 2006 00:53:39 -0000
  "Hafsah Salim" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> Dalam segala hal kalo anda mau membuktikan "ada" atau 
>"tidak ada"-nya
> sebuah object, maka anda harus jelas dulu object yang 
>anda maksudkan itu.
> 
> Andaikata anda mengumpamakan bahwa Allah itu ada, maka 
>haruslah anda
> membuktikannya keberadaannya itu.  Barang apapun atau 
>object apapun
> yang ingin anda buktikan harus menggunakan cara2 yang 
>sahih atau
> metode yang valid.  Kalo object yang real, maka cara 
>yang paling
> memastikan adalah dengan metode observasi dan analysa. 
> Tetapi kalo
> object-nya abstract, tentu harus pakai alat bantu, 
>antara lain metode
> logika rasional.
> 
> Demikianlah, untuk membuktikan Allah yang oleh umatnya 
>sendiri tidak
> mampu membuktikannya, maka harus kita gunakan metode 
>yang pasti bukan
> berupa "keimanan" karena keimanan itu sama sekali bukan 
>metode dan
> bukan cara untuk membuktikan apapun selain digunakan 
>untuk menipu
> perasaan se-mata2.
> 
> Kitab suci seperti AlQuran dan Bible menyatakan:
> 
> 1.  Segala yang "ada", harus ada permulaan dan harus ada 
>akhirnya,
> 2.  Allah tiada permulaan dan tiada akhir,
> 3.  Kesimpulannya:  Allah pasti tidak pernah ada !!!
> 
> 
> Demikianlah, (1) & (2) memang merupakan pernyataan dari 
>kedua kitab
> suci itu untuk meyakinkan umatnya akan keberadaan Allah. 
> Yang salah
> itu kesimpulannya saja dari umatnya dulu yang tidak 
>memahami makna
> pernyataan (1) dan (2) ini.  Seharusnya kesimpulannya 
>seperti pada
> (3), karena dari hal (1) & (2) tidak mungkin bisa 
>menghasilkan
> kesimpulan bahwa Allah itu ada.
> 
> Hal yang sama juga dari pernyataan AlQuran dan Bible 
>akan tetap
> menghasilkan kesimpulan yang sama yaitu "Tidak Adanya 
>Allah" :
> 
> 1.  Semua yang "ada" harus ada penciptanya,
> 2.  Allah itu "tidak ada penciptanya"
> 3.  Kesimpulannya: Allah tidak mungkin ada yang 
>menciptakannya.
> 
> Dimanakah kesalahan dari kesimpulan pernyataan2 yang 
>memang berasal
> dari kitab suci itu sendiri ???  Apakah kesimpulan saya 
>harus
> disalahkan ???  Aturan Logika memang demikian, tak bisa
> dipertentangkan.  Apanya yang masih bisa dipaksa lagi 
>untuk menjadikan
> yang enggak ada itumen jadi ada ???
> 
> Kalo anda saja tidak bisa membuktikan "Ada Allah", 
>kenapa kitab suci
> yang jelas2 sudah memberi kesimpulan tidak adanya Allah 
>masih mau
> dipaksa untuk mengakuinya "ada" ????
> 
> Sebelum anda bisa mengakui hal2 ini, tak ada gunanya 
>untuk menyatakan
> AlQuran itu diturunkan Allah, padahal Allahnyapun bisa 
>dibuktikan
> "tidak ada", lalu AlQuran itu ajaran siapa ???
> 
> Masih bisa dihargai kalo AlQuran itu dianggap ajaran Abu 
>Bakar, karena
> kalo dianggap ajaran Muhammad jelas tidak mungkin karena 
>selain tidak
> bisa nulis dan baca, juga Muhammad belum pernah melihat 
>adanya AlQuran
> waktu hidupnya.  AlQuran itu sendiri jelas ditulis 
>paling sedikit 300
> tahun setelah wafatnya nabi Muhammad.
> 
> Oleh karena itu janganlah menjadikan AlQuran itu alat 
>untuk
> menimbulkan bencana kemanusiaan baik berupa teror bomb, 
>maupun berupa
> pembakaran2 gereja, mesjid, toko2, maupun menjarah harta 
>benda umat
> ahmadiah dan orang2 keturunan cina.  Wong Allahnya saja 
>tidak ada, koq
> bisa main bakar, jarah, dan memperkosa saja dalam 
>berebut sorga yang
> engga pernah ada itu ????
> 
> Sadarlah, tidak ada cara apapun yang bisa anda gunakan 
>untuk
> membuktikan adanya Allah, karena dengan cara apapun yang 
>anda miliki,
> hasilnya sama "Allah tidak pernah ada".
> 
> Saya mampu membuktikan "tidak adanya Allah" baik dengan 
>cara logika
> rasional maupun dengan cara observasi analysis langsung 
>kepada
> object-nya.  Lalu kenapa saya harus dipaksa mengakui 
>salah?  Apanya
> yang salah?  Kalo anda engga mampu membuktikan kebenaran 
>yang
> sebenarnya, bukan berarti saya yang salah, karena saya 
>mampu
> membuktikan kata2 saya, dan saya mampu mempertanggung 
>jawabkan kata2
> saya secara ilmiah.
> 
> Ny. Muslim binti Muskitawati.



========================================================================================
TELKOM Group Peduli Jogja, ketik PEDULI, kirim SMS ke 5000

Dengan mengirim SMS berisi PEDULI ke nomor 5000, Anda telah menyumbang sebanyak 
Rp. 5.000,- per SMS
bagi korban bencana gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Dana 100% akan disumbangkan TELKOM dan TELKOMSEL atas nama pelanggan ke Palang 
Merah Indonesia
setiap minggu selama 1 bulan, mulai 30 Mei s/d 30 Juni 2006. 
Pengumpulan dan distribusi dana akan diaudit oleh auditor independen dan 
disaksikan oleh notaris. 
Bantuan via SMS ini dapat diikuti oleh pelanggan Flexi, kartuHalo, simPATI, dan 
Kartu As. 

Khusus untuk pelanggan Flexi, Anda juga dapat menyumbang dengan nilai sumbangan 
lebih besar 
dengan mengetik 10000 atau 25000 atau 50000 kirim ke 5000. 


Informasi lebih lanjut, klik www.telkomflexi.com.
========================================================================================
 


Quotes : 
" Spirituality is essentially a journey within. You need no preparations, no 
luggage to carry - nothing absolutely. What you need is just : LOVE ! And this 
Love, can only come as an after effect of self-actualization, achieved though 
the practice of meditative way of life."
- Anand Krishna - 

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://asia.docs.yahoo.com/info/terms
 


Kirim email ke