Seharusnya semua orang yang berpendidikan tak perlu diracuni oleh
Nasionalisme ataupun Chauvinisme yang sama sekali tidak ada dasarnya
dalam memandang kejadian Rengasdengklok.
Memang apa yang terjadi dengan Rengasdengklok adalah penculikan namun
bentuk penculikan yang memang sengaja direkayasa.
Awalnya dimulai dengan Laksamana Maeda yang mendengar berita
menyerahnya Jepang kepada sekutu dan perintah kepadanya untuk
menyiapkan serah terima kepada tentara sekutu yang akan tiba di
Indonesia dalam beberapa waktu lagi.
Maeda tak bersedia untuk menyerahkan senjata2 milik Jepang kepada
tentara sekutu, Maeda awalnya mau menolak menyerah dan melanjutkan
perangnya, namun karena hal2 yang tidak diceritakan dia berubah
rencana, dia memanggil Sukarno, dan dalam pembicaraan rahasia yang
hanya mereka berdua yang tahu, maka Sukarno diminta oleh Maeda untuk
mengumpulkan pemuda2 Indonesia agar membongkar gudang senjata Jepang
untuk membuat se-olah2 terjadi perang kemerdekaan dimana para pemuda2
melawan serdadu Jepang sehingga seluruh gudang senjata Jepang direbut
para pemuda untuk jadi alasan kepada pihak sekutu bahwa Jepang kalah
dalam mempertahankan diri dari serangan2 gerilyawan lokal yang
menuntut kemerdekaan. Maeda tak bersedia menyerahkan Indonesia kepada
sekutu pemenang perang dunia ke II.
Demikianlah, Sukarno bukanlah gerilyawan, dia juga bukan tentara,
hingga usul Maeda itu sulit diterimanya karena menurut Bung Karno kalo
dia sampai gagal, maka dialah yang jadi korban sedangkan Maeda sebagai
Laksamana dengan mudah saja lepas tangan se-olah2 Sukarno itu sama
sekali tidak dikenalnya.
Demikianlah, Sukarno tak berani memberi keputusan kepada Maeda, dia
malah mengusulkan kepada Maeda untuk mengundang teman2nya agar bisa
ikut mendengarkan usul Maeda ini karena menurut Sukarno kalo semua
teman2nya juga mendengarkan usul Maeda, maka Sukarno punya saksi untuk
membersihkan dirinya nanti kalo gagal bahwa dia bukanlah otaknya
melainkan hanya pelaku dimana otak dan perencananya adalah Maeda.
Demikianlah, mendengar usul Bung Karno, Maeda bukan malah takut, dia
malah setuju, karena posisi Maeda ini memang seharusnya nekad tak
peduli resiko lagi, berbeda dengan posisi Sukarno yang terhormat dan
bersih dari perbuatan2 tercela.
Akhirnya setelah berunding dengan kawan2nya, Sukarno mendapatkan ide
baru dari Chaerul Saleh maupun Hatta. Agar Sukarno jangan jadi
kambing Hitam, maka Hatta yang berpendidikan Belanda bersedia
melindunginya menjadi pendamping dan saksi kalo ada hal2 yang
menyebabkan Sukarno ditangkap dan diadili oleh Belanda yang kabarnya
akan kembali mengambil alih situasi. Dirumah Laksamana Maeda inilah
yang di jalan Diponegoro yang kemudian menjadi rumah tinggal Laksamana
Martadinata ini diadakan pertemuan para pemuda dengan Laksamana Maeda,
dimana mereka merasa kewibawaan Maeda yang demikian hebat berhasil
mempengaruhi para pemuda untuk melaksanakan semua sandiwara ini.
Singkatnya, gudang senjata Jepang dibongkar, pemuda2 bergerak se-olah2
merebut dari tentara Jepang, Sukarno direkayasa se-olah2 diculik oleh
para pemuda ke Rengas dengklok untuk kemudian dipaksa membacakan
proklamasi kemerdekaan Indonesia dan menyatakan Hatta sebagai wakilnya.
Demikianlah, setelah kemerdekaan dan Sukarno jadi presiden, Bung Karno
berusaha menutupi rekayasa peristiwa penculikan itu karena perbuatan
penculikan itu adalah bukti kepengecutan jiwa Sukarno tak berani
resiko tapi ingin duduk paling atas.
Disatu pihak Sukarno bisa dianggap bahwa Sukarno tidak membacakan
proklamasi kemerdekaan itu atas kemauannya sendiri melainkan dipaksa
para penculiknya, anggapan ini tentunya tidak baik untuk reputasi Bung
Karno, namun dilain pihak pada saat kejadian, memang Sukarno tidak
berani membacakan proklamasi itu karena takut resikonya meskipun dia
mengharap menjadi bagian dari sejarah kemerdekaan itu sendiri.
Demikianlah ketakutan disatu pihak dengan keinginan dilain pihak
dipecahkan dengan sandiwara penculikan rengas dengklok.
Karena peristiwa ini kemudian terbukti tidak membawa resiko apapun
juga karena backing Laksamana Maeda memang bukan dukungan yang sia2,
akhirnya Sukarno sukses. Sebenarnya Sukarno tak perlu melakukan
sandiwara penculikan ini, namun karena dia takut, maka Laksamana Maeda
tak bisa memaksakannya. Maeda cuma menginginkan gudang senjata Jepang
dibongkar dan senjata diseluruh gudang dikosongkan, kemudian Sukarno
bertugas memproklamirkan kemerdekaan..... cukup sederhana rencana
Laksamana Maeda. Namun karena kuatir, maka Sukarno membuat masalah
sederhana menjadi komplex.
Demikianlah, peristiwa Rengas dengklok tak perlu membuat malu Bung
Karno dan juga tidak bisa dibanggakan Bung Karno karena hal itu
hanyalah proses menuju tujuan dengan memperhitungkan resiko2
kemungkinan yang tak perlu kita perdebatkan apalagi membanggakannya.
Namun berbeda dari sudut pandang para bekas penculiknya, berita ini
perlu di-besar2kan untuk memberi mereka sebagai juga pelaku2 sejarah
yang penting yang harus dihargai sebagai pahlawan2 yang tidak lebih
kecil dari peranan Sukarno sendiri maupun Hatta.
Ny. Muslim binti Muskitawati.
Quotes :
" Spirituality is essentially a journey within. You need no preparations, no
luggage to carry - nothing absolutely. What you need is just : LOVE ! And this
Love, can only come as an after effect of self-actualization, achieved though
the practice of meditative way of life."
- Anand Krishna -
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://asia.docs.yahoo.com/info/terms