Pujiastuti Handayani Dewi Sindhu Menjadi Guru Sekaligus Murid Yoga BANYAK orang ikut yoga dengan tujuan olah raga dan membentuk tubuh. Pujiastuti Sindhu (31) memilih yoga justru untuk mendapatkan unsur spiritualnya. Postur tubuh indah hanya sebagai bonus. Yoga bukan saja membuatnya mampu mengendalikan masalah pribadinya, juga membuatnya semakin berempati kepada orang lain. Bonus lain, ia bisa lebih khusyuk berhubungan dengan Sang Pencipta saat menjalankan ibadah salat lima waktu.
Sebelum mengenal yoga, kisah hidup Ujie--demikian ia dipanggil-- bak sinetron namun bukan untuk dipertontonkan. "Aku emosional, gampang marah, dan mudah tertekan. Penyebabnya mungkin karena ada masalah keluarga. Mungkin juga karena bawaanku yang begitu. Ditambah lagi tugas kuliah bikin stres," kata Ujie, bercerita tentang masa-masa penuh gejolak saat menjadi mahasiwa Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB). Tak sengaja ia menemukan sebuah buku bekas tentang yoga di bursa buku Palasari Bandung. Buku tersebut menjadi magnet luar biasa, menarik kuat ke dunia yang tadinya begitu asing baginya. Dengan tekun ia mempelajari yoga dari buku impor tersebut. Walaupun petunjuk jelas, tetap ada keterbatasan. Ujie memutuskan memperdalam ilmunya dengan berguru langsung ke perguruan yoga di Bandung dan Jakarta, yaitu Murnianda Brotherhood, Yayasan Ananda Marga Indonesia, dan Jawaharlal Nehru India Cultural Centre. Ibarat candu, yoga membuatnya ketagihan. Negara India, Malaysia, Singapura, Thailand, Hong Kong, dan Amerika adalah rute yang dilaluinya untuk memenuhi hasratnya. Dari perguruan-perguruan internasional tersebut, Ujie mendapat sertifikat profesional sebagai seorang guru yoga. "Kini aku lebih santai, pasrah, dan menikmati hidup apa adanya. Aku juga merasa lebih bisa ikhlas, berhati lembut, dan mudah berempati pada orang lain. Aku merasa bahagia menemukan yoga di hidupku," kata Ujie tentang yoga yang mengubah hidupnya. Dari segi fisik, Ujie mendapati yoga mampu melakukan terapi kesembuhan. Tahun 1994, ia mengalami kecelakaan mobil di jalan tol Padaleunyi Bandung. Tulang bahu kanannya patah dan posisi tulang panggul agak terpuntir karena terbentur aspal. Kecelakaan itu menyebabkan pertumbuhan bahunya terhambat, lebih pendek, kecil dan lemah. Berkat latihan yoga teratur, kekuatan kedua bahunya kini kembali seimbang. ** Menguasai yoga, menurut Ujie, membuat kita mampu menikmati setiap detik dan setiap peristiwa yang dilalui. Dalam bahasa populer selalu enjoy. Lewat kebiasan-kebiasaan yoga itu juga Ujie mampu lebih khusyuk saat menjalankan kewajibannya selaku Muslim, salat lima waktu. "Kuncinya sederhana. Nikmati semua yang kita lakukan. Mulai dari wudu hingga melakukan gerakan-gerakan salat. Lakukan perlahan-lahan, jangan membaca bacaan salat dengan tergesa-gesa. Rasanya akan nikmat sekali," katanya. Mendapati yoga begitu berkhasiat, Ujie tidak ingin menikmatinya sendiri. "Ilmu bagaikan pohon, tak akan berguna bagi orang lain jika buahnya tidak kita bagikan. Pohon akan semakin bermanfaat jika semakin banyak orang menikmati buahnya," kata Ujie dengan kearifan seorang guru yoga. Selain itu Ujie meyakini sebuah kata mutiara "to teach is to become a true learner". Dengan mengajar, Ujie mendapat manfaat timbal balik. Dengan mengajar ia justru belajar lagi menjadi siswa yoga sejati. "Aku tidak hanya sebagai pusat ilmu (guru), tetapi juga menerima banyak pelajaran dari murid-murid. Tentang cara mengajar dengan lebih baik, bagaimana menciptakan hubungan baik antara manusia, dan tentu saja berusaha menjadi contoh baik," kata Ujie. Bagaimana yoga bisa mengubah hidup dan menjaga kesehatan seseorang secara bersamaan? Menurut Ujie sederhana sekali. Perempuan menarik ini menganologikan tubuh sebagai kendaraan, sedangkan pikiran adalah pengemudinya. Saat "mengemudikan" tubuh, pikiran terpengaruh oleh tiga hal, yaitu emosi, akal, dan aksi. Agar tubuh tetap dapat beroperasi dengan baik, ketiga hal tersebut harus dijaga seimbang. Dengan berlatih yoga, seseorang bagaikan pemilik kendaraan yang mampu merawat dan memperbaiki sendiri kendaraannya apabila terjadi kerusakan. Dengan begitu kendaraan selalu berada dalam keadaan prima. Sementara gerakan-gerakan teratur dan elastis yoga membuat tubuh otomatis langsung memetik hasilnya, bugar dan proporsional Umumnya murid Ujie yang berjumlah 200 orang datang kepadanya dengan tujuan fisik. Ketika mendalaminya, bonus keseimbangan jiwa mereka peroleh. Kalau dua hal ini sudah didapat, banyak muridnya merasa rugi jika melewatkan waktu beryoga bersama sang guru. Tengok saja Swasti, atlet menembak yang Sabtu siang lalu berlatih dengan tekun. Sebenarnya pada saat bersamaan Swasti memiliki acara lain. Tetapi gadis ini memilih tetap datang ke "Yoga Leaf Centre" untuk berlatih bersama Ujie. Ya, sebagai nama pusat latihan yoga di kawasan Jalan Terusan Jakarta, Ujie mengambil nama dari bagian pohon. Menurut pengagum pohon beserta bagian-bagiannya ini, leaf atau daun adalah bagian alami dari bumi dan merupakan bagian yang bernapas dari pohon. Praktik hatha-yoga (aliran dalam yoga yang diambil Ujie) menekankan pentingnya bernapas dengan benar. Napas adalah jembatan antara tubuh dan pikiran. Semakin dalam napas, semakin tenang pikiran, akan semakin relaks tubuh. "Napas juga akan mengantarkan energi atau prana yang akan menyehatkan sisi spiritual kita, " kata Ujie. Ujie ingin "Yoga Leaf Centre" menjadi sebuah pohon besar dengan daun rindang yang akan memberikan oksigen atau energi bagi lingkungan di sekelilingnya. ** Ketika kita sangat menikmati dan menginginkan sesuatu, selalu ada jalan untuk mendapatkannya. Ujie telah membuktikannya. Secara menakjubkan, Ujie berhasil menjelajah banyak negara karena kesenangannya ini. Jika bukan lewat undangan, ada saja rezeki yang diperolehnya untuk menuju ilmu yoga. Perempuan yang struggle karena pengalaman hidupnya ini biasa menjelajah bagian dunia ini sendirian. Ia tak pernah takut sesuatu menimpa dirinya di perjalanan. Baginya, jika melakukan sesuatu dengan niat baik, hal baik pula yang akan diperoleh. Pengalaman yang membuatnya bahagia adalah ketika ia berhasil belajar langsung ke India, negara asal yoga. Di sana ia mendapat karma atas perbuatan baiknya selama ini. "Ibu-ibu di sana baik sekali kepada saya. Menurut mereka, kebaikan itu saya peroleh karena saya baik kepada ibu saya," kata Ujie sambil tertawa. Selama ini Ujie memang tinggal bersama ibunya. Ujie, anak ke-4 dari 5 bersaudara ini tak tega melihat ibunya tinggal sendiri. Ujie rela meninggalkan rumah pribadinya dan bergabung di rumah ibunya. Suaminya sendiri tidak keberatan, terlebih karena selama beberapa tahun ini mereka hidup terpisah. Sang suami seorang insinyur berkerja di Palembang, Sumatra Selatan. Melihat nama di belakang Ujie, sekilas orang menyangka ia berasal dari India. Nama Sindhu diperolehnya dari suaminya yang orang Jawa Tengah asli, lengkapnya B. Sindhu Asmoro (32). "Kebetulan nama suami rasanya pas," ujar perempuan yang bernama asli Pujiastuti Handayani Dewi ini. Ditambah seorang anak yang lucu bernama Aryadipa Yudhistira, dipanggil Deepak (dari bahasa Sansekerta artinya cahaya) lengkap sudah kebahagiaan batin perempuan bertahi lalat di dagu ini. "Tantanganku saat ini adalah menyosialisasikan yoga yang selama ini dikenal sebagai produk eksklusif," katanya mantap. Yoga saat ini memang masih "beredar" di kalangan terbatas. Sebagian orang bahkan menganggap sebagai lifestyle atau gaya hidup. Sebagian orang lain menganggap yoga adalah agama. "Padahal tidak. Yoga merupakan sistem kesehatan menyeluruh (holistik) yang terbentuk dari kebudayaan India kuno sejak 3000 SM lalu. Intinya melalui yoga seseorang akan lebih baik mengenal tubuhnya, pikiran, dan jiwanya. Semakin mengenal seluruh aspek dirinya, semakin dekat pula ia dengan sang penciptanya," ujar Ujie. Ujie ingin semua lapisan masyarakat bisa merasakannya. Ketika ada biaya yang harus dikeluarkan, menurut Ujie apa boleh buat karena adanya cost , di antaranya berupa tempat latihan yang harus dibayar. Untuk lebih memasyarakatkan yoga, bersama komunitasnya Ujie rutin melakukan berbagai kegiatan seperti "Yoga Goes to Campus" atau terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial seperti menyantuni anak-anak jalanan saat bulan Ramadan lalu. Ia juga menulis buku Hidup Sehat dan Seimbang dengan Yoga. Bukunya ia buat sedemikian rupa agar mudah dimengerti dan dapat ditiru pembaca. Berawal dari buku bekas, Ujie meneruskannya juga melalui buku ber-cover menarik. "Yoga bukan untuk orang dewasa, juga bisa untuk anak. Yoga mampu meningkatkan konsentrasi anak, sebuah masalah yang sering dikeluhkan orang tua tentang anaknya," kata Ujie yang juga sudah mengajarkan yoga kepada Deepak, sang buah hati satu-satunya. (Uci Anwar)*** Source: http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/112007/11/geulis/binangkit.htm <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/112007/11/geulis/binangkit.htm\ >

