*Law of Attraction: Oops! I Did It Again*

Yang di atas itu memang judul lagunya Brit. Tapi yang ini, adalah cerita
tentang terulangnya fenomena Law of
Attraction<http://milis-bicara.blogspot.com/search/label/law%2520of%2520attraction>pada
diri saya. Fenomena, yang kata orang sering membuat manusia menjadi
enggan bertindak dan lebih senang melamun. Fenomena, yang mungkin memang
tidak membahas "action" karena dianggap tak perlu lagi dibahas, sebab
dianggap sudah dilakukan dengan optimal dan maksimal. Fenomena, yang
sebenarnya bisa dipersamakan dengan fadhail alias keutamaan, karena apa yang
menjadi syariat utama dianggap tetap berjalan. Fenomena, yang sebenarnya
lebih tepat dianggap sebagai bonus dari "action".

Di alam semesta ini ada banyak sekali hukum alam. Kita bisa menemukan
setidaknya ada 18 hukum alam yang berlaku tetap dan pasti sebagai sunatullah
selama alam semesta masih ada. Tahukah Anda bahwa hukum sebab-akibat,
hanyalah salah satu dari itu semua?

Jika seluruh hukum alam itu bisa diaktivasi secara positif sesuai maksud dan
tujuannya, maka hasil akhirnya adalah sebuah fenomena daya dan kekuatan yang
dianggap paling powerful di alam semesta. Kekuatan itu disebut dengan Law of
Attraction<http://milis-bicara.blogspot.com/search/label/law%2520of%2520attraction>alias
hukum ketertarikan.

Inilah penjelasan "bonus", tentang mengapa angsa berkumpul dengan angsa,
kambing berkumpul dengan kambing, penggila olah raga dengan penggila olah
raga, hobiis catur dengan hobiis catur lainnya.

Juga, tentang lahirnya berbagai jargon yang dikenal oleh dunia modern
seperti "komunitas", "almamater", "geng", "kelompok", "band", "grup",
"hobbyist", "kelompok penggemar", "persatuan", "asosiasi", atau bahkan
"partai".

Adalah benar bahwa semuanya bisa terjelaskan secara logis, di mana semua itu
terjadi karena kesamaan sifat dan karakter, kemiripan interest dan hobi,
persamaan kepentingan, kesamaan golongan, orang yang tepat, waktu yang
tepat, dan situasi yang tepat.

Di luar apa yang menjadi syarat-syarat logis di atas, dan selain apa-apa
yang menjadi syariat dan amal yang wajib, apa yang mempersatukan semua itu
adalah Law of 
Attraction<http://milis-bicara.blogspot.com/search/label/law%2520of%2520attraction>
.

Jika kita bisa memahami dan mengaktivasi Law of
Attraction<http://milis-bicara.blogspot.com/search/label/law%2520of%2520attraction>,
maka kita bisa menciptakan fenomena yang merupakan kebalikan dari semua
gambaran tentang saling tertariknya satu sama lain sebagaimana di atas.

Dengan Law of 
Attraction<http://milis-bicara.blogspot.com/search/label/law%2520of%2520attraction>kita
bisa menarik orang yang tadinya tidak interest menjadi interest. Kita
bisa menyatukan orang-orang yang berbeda kepentingan terkumpul dalam suatu
wadah dan menjadi orang-orang yang punya kepentingan sama. Kita bisa menarik
orang lain untuk juga ikut menggemari apa yang kita gemari. Kita bisa
membuat orang-orang yang awalnya berkonflik berubah menjadi sahabat setia.

Adakah, Law of 
Attraction<http://milis-bicara.blogspot.com/search/label/law%2520of%2520attraction>juga
bisa menarik sesuatu yang kita inginkan selain itu? Misalnya mobil,
rumah, uang, atau kesuksesan duniawi lain? Tentu saja.

Dasarnya sederhana saja, yaitu bahwa tidak satupun yang terjadi di alam
semesta ini, terjadi sebagai kebetulan. Tuhan itu Maha Besar dan Maha
Mengetahui. Sehingga, tak satupun terjadi tanpa sepengetahuan dan tanpa
kehendak-Nya. Segala sesuatu, memang bagian resmi dari skenario-Nya. Tak ada
kebetulan, tak ada tidak sengaja.

Kita sebagai manusia, bisa berperan dalam sistem alam semesta yang telah
dianugerahkan-Nya kepada kita, di mana alam semesta itu telah ditaklukkan
bagi kita, untuk tujuan beribadah kepada-Nya.

Peran itu di antaranya adalah kemampuan untuk mengaktivasi fenomena Law of
Attraction<http://milis-bicara.blogspot.com/search/label/law%2520of%2520attraction>,
sebagai sebuah demonstrasi dari sifat Maha Besar-Nya, dan dari sifat Maha
Pemurah-Nya. Lebih tepatnya, kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan
sunatullah sehingga kita bisa belajar, mengenali, dan akhirnya meyakini
segala sifat Maha-Nya.

Dengan Law of 
Attraction<http://milis-bicara.blogspot.com/search/label/law%2520of%2520attraction>(tanpa
meninggalkan syariat utama dalam bentuk amal alias action), kita bisa
menarik apapun yang kita inginkan tanpa melihat apakah yang kita inginkan
itu baik atau buruk, positif atau negatif, dan bahkan kita sukai atau tidak
kita sukai. Sepanjang kita menginginkannya, maka kita bisa mendapatkan semua
itu atas izin dari-Nya.

Mengapakah ada orang yang dianggap jahat, tapi juga dianggap sukses secara
finansial? Mengapakah ada orang baik yang ternyata juga sukses secara
finansial? Mengapa faktor "bersabar", "kerja keras", dan "tekun" tidak hanya
berlaku bagi mereka yang meyakini Tuhan? Perampok pun jika "tekun" dan
"sabar", akan menjadi perampok yang sukses bukan? Terlepas dari tempat
kembalinya setelah kematian menjemput.

Hari Sabtu yang lalu, saya menghadiri acara arisan bersama teman-teman
alumni SMA saya. Acara arisan dan silaturahim itu diselenggarakan di
Kalianda Resort, sebuah pantai yang manis di ujung propinsi Lampung.

Saya berangkat dari Jakarta, dijemput oleh teman alumni yang juga bekerja di
Jakarta. Kami bersepakat untuk berangkat bersama dengan teman lain dari
Bogor dan Tengerang. Kami menetapkan untuk berangkat pagi-pagi sekali
sebelum subuh menjelang.

Malam itu, saya sempat begadang untuk sebuah urusan. Ketika hampir subuh,
saya dibangunkan oleh dering HP dari teman yang akan menjemput saya. Dengan
terburu-buru, saya segera mandi. Belum lagi saya selesai mandi, teman saya
itu datang. Maka saya pun berkemas dengan tergesa-gesa. Rencananya, kami
shalat subuh di Karawaci.

Saya ingat di perjalanan, ternyata saya lupa membawa uang. Untunglah di saku
jeans saya masih terselip kartu ATM saya. Saya mintakan pada Mas Ridho teman
saya yang sekarang penggiat offroad itu, untuk mampir ke salah satu ATM yang
kami ditemui di sepanjang jalan. Saya perkirakan, ATM itu ada di rest area
sekitar Karawaci atau di kota Cilegon. Mungkin karena masih terlalu gelap,
saya belum berhasil juga menemukan mesin ATM di sepanjang tol Jakarta-Merak.

Sampai di Cilegon, kami mampir sarapan di sebuah restoran soto yang cukup
terkenal. Mungkin juga karena terlalu asyik bertemu teman lama, saya pun
lupa mencari ATM di sana. Alhasil, sampai di kapal pun saya tetap belum
memegang uang kas (Kapal Ferry Mufidah namanya, yang berlayar di tengah
cuaca keras dan berguncang-guncang serta membuat mual isi perut). Begitu
pula, saat kami tiba di tempat acara.

Acara berjalan dengan segala kemeriahan, dan ditimpali dengan pergeseran
perilaku setiap orang yang kembali ke masa-masa dua puluh tahun yang lalu.
Di tengah kemeriahan itu, seseorang mendekati saya, Rini namanya.

Rini adalah sahabat SMA saya, kini seorang dokter. Ia rupanya menagih iuran
arisan untuk dua bulan lamanya. Hari itu memang akan diadakan penarikan
arisan. Saya memang belum menyetor karena di pertemuan sebelumnya saya tak
bisa hadir.

Saya meminjam uang kas kepada Mas Ridho, dan saya katakan akan saya ganti
segera. Mas Ridho meminjami saya, dan kemudian saya menyerahkan uang itu
kepada Mbak Rini. Saya katakan pada Mbak Rini,

*"Ini Mbak uangnya. Entar aku yang dapet lho!"*

Rini berlalu dan mencari penunggak lain. Saya kembali tenggelam dalam
nostalgia bersama teman-teman lama.

Sore hari, pemenang arisan diumumkan. Alhamdulillah, saya adalah
pemenangnya. Saya kembalikan uang Mas Ridho dengan disertai senyum rasa
syukur. Acara itu, dihadiri oleh sekitar 70 atau 80 orang yang sebagian
besarnya ikut arisan. Lumayan juga perolehan saya. He...he...

Why me? Mengapakah kata-kata saya menjadi kenyataan? Kebetulankah itu? Mbak
Rini sendiri sempat nyeletuk terheran-heran, dan bahkan sempat "menuduh"
saya memiliki "sesuatu".

Saya tidak memiliki sesuatu, kecuali keyakinan bahwa memang saya-lah yang
akan memenangkan arisan kali itu. Keyakinan itu, mencapai puncaknya saat
saya menyerahkan uang iuran arisan ke tangan Mbak Rini.

Anda betul. Probabilitas ada bermain di sana. Mungkin juga, nasib baik ikut
berperan. Dan tentu saja, the right time, the right place, the right person,
the right situation. Akan tetapi, cukupkah itu saja? Tidak. Sebab, itulah
yang disebut dengan fenomena Law of
Attraction<http://milis-bicara.blogspot.com/search/label/law%2520of%2520attraction>.
Bukan kebetulan, bukan klenik, tapi kekuatan pikiran, kekuatan kemauan, dan
kekuatan keinginan.

Bagaimana itu bisa terjadi?

Gambaran berikut ini akan serta merta menyadarkan Anda.

Tuan A dan Tuan B adalah dua sahabat kental yang tukang jajan. Suatu hari,
mereka berdua pergi ke sebuah rumah makan. Tuan A memilih menyantap siomay,
dan tuan B memilih jajan bakso.

Di sela-sela santapan mereka, Tuan A tergiur oleh bulat-bulat kenyal bakso
di hadapan Tuan B. Tuan A memutuskan untuk mencicipi satu butir saja bakso
di mangkuk Tuan B. Tuan A pun kemudian mengatakan minatnya kepada Tuan B. Ia
meminta bakso itu. Gayung bersambut, Tuan A mendapatkan satu butir bakso
yang diinginkannya.

Sebenarnya, semudah itu pula fenomena Law of
Attraction<http://milis-bicara.blogspot.com/search/label/law%2520of%2520attraction>bisa
diterapkan. Terlebih lagi, jika kemampuan ini dilatih dan dilatih,
diasah dan diasah.

Tuan A, saat mengutarakan minatnya kepada Tuan B, tidak hanya sekedar
membuka mulut dan mengajukan permintaan. Suara Tuan A, disertai dengan
perangkat pikiran, perasaan, emosi, dan mood yang diramu dengan tepat dan
positif, menghasilkan kekuatan besar yang membuat keinginannya
terealisasikan. Kekuatan Law of
Attraction<http://milis-bicara.blogspot.com/search/label/law%2520of%2520attraction>
.

Pikiran, perasaan, dan emosi Tuan A, adalah kombinasi positif yang
dihasilkan dari proses pengolahan informasi yang dipahami oleh Tuan A
sendiri, tentang hubungannya dengan Tuan B.

Bahwa ia merasa dekat dengan Tuan B. Bahwa ia telah bersahabat puluhan tahun
dengan Tuan B. Bahwa ia merasa sangat mengenal karakter Tuan B. Bahwa ia
begitu yakin akan kedekatannya dengan Tuan B. Bahwa penolakan oleh Tuan B
malah justru akan menjadi sebuah kontradiksi di dalam hubungan mereka
berdua. Penolakan dari Tuan B akan membuatnya shock dan malah mempertanyakan
kembali kedekatan hubungan mereka berdua. Itu semua, berakhir pada sebuah
mood yang disertai dengan keyakinan tinggi bahwa Tuan B pastilah memberi.

Maka, dengan segala pemahaman Tuan A tentang kedekatannya dengan Tuan B,
Tuan A tetap bisa berkeyakinan bahwa apa yang diinginkannya akan terkabul.
Maka, itulah yang terjadi.

Bagaimana, bisakah kini kita memahami siapa itu pemimpin kharismatik? Siapa
itu top seller? Siapa itu presenter handal? Siapa itu orang-orang yang
sukses, kaya, dan berbahagia? Disadari atau tidak, mereka adalah praktisi
handal dalam fenomena Law of
Attraction<http://milis-bicara.blogspot.com/search/label/law%2520of%2520attraction>
.

Bapak, Ibu, dan Saudara yang budiman. Jika saja kita bisa meramu pikiran,
perasaan, emosi, mood, dan bahkan hati dengan cara yang sama dengan yang
dilakukan Tuan A, tapi kita terapkan dalam hubungan kita dengan yang Maha
Pemurah, Maha Pemberi, Maha Sesuai Dengan Prasangka Hamba-Nya, dan Maha
Mengabulkan, apakah yang bisa terjadi?

You Are A Living Magnet!

*Ikhwan Sopa*
Trainer E.D.A.N.
+62 21 70096855
QA Communication
*School of Motivational Communication*
http://milis-bicara.blogspot.com

Kirim email ke