Salam,
  Tabloid X-file edisi 49/tahun I, 21 Desember 2000 – 3 Januari 2001

  
Melacak Jejak Soeharto Keturunan Tionghoa (1/3)

Di balik kabar Soeharto menulis surat wasiat, diam-diam muncul 
pergunjingan mutakhir. Apa itu? Asal-usul Soeharto! Konon, ia lahir 
dari rahim seorang gundik pedagang Tionghoa. Wanita malang itu, 
Soekirah, sudah lama lenyap. Benarkah keluarga Cendana berusaha 
mengaburkan jejak kakek buyutnya. Kenapa?

Soeharto sekarang terbaring lemah di kamar tidurnya yang mirip ICU 
itu. Seolah tinggal menunggu waktu yang tiba-tiba berhenti. Tapi di 
luar, orang-orang justru kasak-kusuk menggunjing asal-usulnya.

Ngapain mesti digunjingkan? Itu, karena asal-usul Soeharto yang 
sampai sejauh ini masih "tergolong X". Soeharto ditengarai sengaja 
mengaburkan sepotong silsilah hidupnya. Bagian mana yang dikaburkan? 
Kecinaannya!

Suharto masih keturunan Tionghoa. Begitu kabar yang berhasil dihimpun 
X-file. Dan menariknya, klarifikasi ini justru datang dari Mashuri 
SH, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1969-1974) dan Menteri 
Penerangan RI (1974-1979). Mashuri, yang notabene mantan `orangnya' 
Soeharto ini, blak-blakan mengatakan silsilah Soeharto 
sebagai "campur baur antara orang Cina dan Jawa". Oh ya?

Tak cukup itu. Bahkan Mashuri bilang, "Dia (Soeharto, Red) bisa 
disebut lembu peteng (istilah untuk anak-anak yang dilahirkan tanpa 
ayah yang jelas, Red)", tandasnya ketika ditemui X-file di rumahnya 
di Banjarsari, Solo.

Lho, bukankah dalam buku otobiografi Soeharto jelas-jelas mengaku 
kalau dirinya lahir di tengah keluarga Jawa tulen?

Bukankah ayah Soeharto, Kartoredjo, seorang jagatirtha (penjaga 
saluran, Red) dari Kemusuk, sebuah desa di pinggiran kota Yogyakarta? 
Dan ibunya bernama Soekirah?

"Ahhh…. (otobiografi) itu tak seratus persen benar, bohong itu", 
tandas Mashuri sengit. Silsilah Soeharto yang selama ini benar hanya 
dari sisi ibunya. Tentang bapaknya, tambahnya, hampir semuanya salah. 
Jadi buku itu tidak otentik dan diragukan kebenarannya.

Lalu siapa sebenarnya Kartoredjo itu? Mashuri menjawab, "Kartoredjo 
itu hanya bapak sambung, bukan kandung". Kabarnya, pernikahan antara 
Soekirah dengan Kartoredjo atas petunjuk Pura Pakualaman. Tapi, 
ketika Soeharto masih kurang selapanan (35 hari), Soekirah dan 
Kartoredjo bercerai.

Ayah Soeharto, tambah Mashuri, yang benar masih keturunan Cina. Oh, 
ya?

Blasteran Tionghoa-Jawa

Sinyalemen Mashuri pun segera menuai tanggapan dari kalangan 
masyarakat Tionghoa di Solo. Umumnya tanggapan itu, anehnya justru 
mengamini. Sumber X-file, seorang tokoh di Perkumpulan Masyarakat 
Surakarta – lembaga kemasyarakatan yang beranggotakan warga Tionghoa, 
yang getol menyerukan pembauran di Surakarta – justru membenarkan 
pergunjingan ini.

Menurut tokoh Tionghoa yang pernah tinggal di Semarang dan Surakarta 
ini, kalangan Tionghoa yang tinggal di Surakarta pada 1950-an 
mengetahui bahwa Soeharto adalah peranakan Tionghoa.

Sumber ini bilang, "Kita orang sama tahu bapaknya dia (Soeharto) 
memang orang Tionghoa. Nenek moyangnya dari Hokkian (salah satu 
provinsi di distrik Hokkjian, Cina Red)".

Sumber yang minta namanya dirahasiakan ini menuturkan, ayah kandung 
Soeharto adalah seorang saudagar Tionghoa. Orang-orang pada masa itu 
memanggil bokap Soeharto sebagai Tuan Liem, tak jelas benar siapa 
nama lengkapnya.

"Kita jadi sama-sama tahu itu orang karena kaya-raya. Dia turunan 
pedagang besar Hokkian yang mengungsi di sini (Solo, Red) ketika ada 
gegeran di Kartasuro", katanya. Ayah Soeharto betul-betul orang 
Tionghoa terpandang di Jawa Tengah.

Kesaksian lain dituturkan sumber X-file di Gejayan, Yogyakarta. Pria 
berusia 58 tahun ini mengatakan sekitar 1966 keberadaan Soeharto yang 
keturunan Tionghoa itu menjadi bahan pembicaraan di kalangan orang-
orang Tionghoa keturunan.

Bayangkan, keturunan Tionghoa menjadi Pangkostrad! Padahal kita tahu, 
(kala itu) keturunan Tionghoa sangat sulit, bahkan dilarang, 
berkarier di tentara. Nah, ini kok ada keturunan Tionghoa jadi 
pimpinan tentara, pasti aneh!

"Dan pek cik kung (paman, Red) saya tahu ada warga keturunan yang 
jadi pimpinan tentara. Itu masih sama-sama satu keturunan dengan 
kita. marga Mau (marga kuda), tapi ibunya wa na. Itu saya dengar 
kalau nggak salah tahun 1966", katanya.

Anak Gundik

Tapi ternyata ada kabar yang lebih seru lagi. Dan ini pasti cukup 
mengejutkan. Ternyata, ibu Soeharto yang tak mendapat jatah makam di 
Astana Giribangun itu adalah seorang gundik. Oh!

Gundik? Info ini datang dari The Kian Sing, teman dekat sumber X-file 
tadi. Nah, The Kian Sing ini pernah bekerja di tempatnya Tuan 
Liem. "Kian Sing cerita kepada saya kalau Soeharto itu adalah anak 
salah seorang gundik Tuan Liem". Kata pria berusia 86 ini.

Sekedar tahu saja, pada masa itu saudagar kaya umumnya mempunyai 
lebih dari satu istri sah. Gundiknya berjibun. Demikian juga dengan 
Tuan Liem. "Tuan Liem itu pelihara banyak gundik", lanjutnya.

Nah, salah seorang gundik Tuan Liem inilah yang disebutnya sebagai 
ibu kandung Soeharto. "Tapi dia (ibu Slamet Liem) itu asli wa na", 
katanya. Wa na adalah sebutan untuk orang pribumi Jawa.

Hampir pasti gundik tersebut adalah Soekirah. Menurut sumber X-file, 
dia ini wanita miskin dari Desa Kemusuk, Argomulyo, Bantul Yogyakarta.

Soewignyo (87), seorang tokoh Tionghoa di Semarang menuturkan, Tuan 
Liem punya anak teng lan (sebutan untuk anak blasteran ayah Cina, ibu 
Jawa, Red). Namanya Slamet Liem. "Itu anak gundiknya", kata pria yang 
sekarang tinggal di kawasan Kota Lama Semarang.

Soal Soeharto keturunan Tionghoa, juga dituturkan oleh Sidharta, 
mantan temannya waktu pendidikan tentara. Sidhartalah yang kebetulan 
satu kamar dengan Soeharto. Apa katanya tentang Soeharto? "Ya, saya 
tahu dia penuh dendam. Dia itu kan anak gundik Cina. Nah papanya itu 
ya ayahnya Om Liem Sioe Liong. Coba perhatikan, wajahnya kan mirip", 
kata Sidharta yang pernah menjabat sebagai walikota itu.

Ia pun menyarankan wartawan mengamati wajah Soeharto sangat mirip 
Cina. Jadi, ia pun mengatakan, bila sejak kecil Soeharto 
sudah `berkarib' dengan Om Liem, jangan kaget. Memang keduanya 
bersaudara. Benarkah semua itu? *tim X-file*
  Tahun  April 1999 saya sudah menulis di internet dan suatu majalah di USA 
yang isinya:
  1) Suharto tidak pernah mencari kuburan ayahnya. Hal ini sangat bertentangan 
dengan adat orang Jawa.
  2) Pada tahun 1989, majalah SELECTA yang memuat tulisan dengan nada seperti 
ini,DIBREIDEL sampai sekarang.
  3) Sampai tahun 2000, OOM LIEM SIOE TIK tinggal di Cendana kemudian karena 
alasan sudah tua (tidak tahan AC karena reumatik) minta tinggal di TAPOS,sampai 
meninggal 2 tahun  yang lalu.
  4) Ada 4 Pemimpin/Presiden Asean yang keturunan Tionghoa yaitu;
  a.Corry Kho Huan Kho ( Aquino)- pernah mengundjungi kuburan orang tuanya di 
provinsi Guanxi.
  b.Lee Kuang Yew
  c. Tahksin Sinawatra
  d. Suharto
  Malah GUS DUR juga sudah pernah berkata bahwa ia juga keturunan Tionghoa.
  Apa ada  kaitan dengan desertasi dan buku Prof.SLAMET MULJONO yang menulis 
bahwa WALI SONGO adalah orang2 Tionghwa?
   
  Wasalam,
  Wal Suparmo

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke