~= Karena Hidupku Adalah Penghianatan =~ By: Erwin Arianto Kutemukan ia dalam remah-remah pengkhianatan cinta yang kujalani. Sebenarnya sudah kupastikan untuk tidak menaburi luka ini dengan air cuka baru, namun setiap perjalanan menentukan jalannya sendiri. Maka, kini pun aku terduduk dalam dalam dekapan keyboard komputerku, merangkum seluruh aromanya yang belum lama hilang, dan mencoba melupakan segala letih. Jiwa raga.
"mas Aku hamil mas" linka berkata kepadaku tentang kehamilannya, Linka adalah kekasih gelapku, dan sebenarnya aku telah memiliki kekasih yang telah lama kami memadu kasih penuh lukisan warna, entah mengapa aku tertarik dengan wanita satu ini. "oke kita menikah sayang" sahutku dengan pikiran penuh keraguan, aku telah menghianati cinta ku dan kami pun menikah tanpa sepengetahuan keluarga ku. aku menikah untuk menutupi cabang bayi dirahim linka, dan pernikahan ini telah memupuskan hubungan ku dengan Tuti kekasih ku yang telah lama kucinta. Teringat pertemuan tanpa sengaja yang memperkenalkan ku dengan linka, dari awal yang tidak bermakna dari sebuah percakapan biasa pada pertemuan dalam acara ulang tahun tuti kekasih ku yang dulu. dan tanpa bisa kutebak arahnya kami semakin dekat. "mas, aku nginap di kosmu ya, kosan aku telah ditutup jam segini sama ibu kos" linka meminta untuk menginap di kosku. dan dibalut bau alkohol, dan nuansa hujan malam itu yang membuat suasana semakin sahdu, yang membuai kami melakukan hubungan yang melampaui batas. dan kami semakin terlena dalam permainan yang sangat menggairahkan. Setahun setelah keliharan putraku, kuajak linka menemui orang tuaku, "linka, aku ingin memperkenalkan kamu dan putra kita dengan ibuku"Ajaku kepada linka istriku. "Iya kang.." jawab linka kepadaku. Pada waktu yang ditentukan, sampailah aku di daerah ujung berung, bandung tempat orang tua ku tinggal. "BU ini linka istriku, dan ini Desta putraku" aku mencoba memperkenalkan keluarga baruku kepadaku setelah peluk kangen aku dengan kedua orang tuaku. Hal yang tidak kuduga orang tuaku begitu marah kepadaku. "Har.. apa maksudmu, kamu menikah tanpa sepengetahuan orang tuamu, kamu anggap apa ibu mu ini, dari kecil ibu asuh, dan sekarang kamu datang dengan istri dan anak mu ini...." ibu memberi nasihat panjang, dan aku hanya terdiam. "Kamu telah menghianati kelurga har" ibuku dengan tetes air mata seakan tidak terima dengan apa yang telah terjadi. setelah beberapa hari menginap disana, linka meminta ku pulang, karena merasa tidak cocok dengan ibuku. Dan semenjak aku bertandang kerumah ibuku itu, aku dan linka dirundung pertengkaran hebat, dalam pertengkaran itu linka atau pun aku sering mengucapkan untuk saling bercerai. tetapi kami berahan karena desta anakku, karena sering tidak betah dirumah, akupun sering tidak berada dirumah, aku senang untuk kembali, meneguk suasana remang-remang diskotik. ataupun aku senang berada di kantor. Dalam satu kesempatan, tanpa sengaja aku kembali bertemu dengan seorang wanita. "apakah aku mengetahui segala tentang seorang perempuan ini? Tidak juga" hati ku berdialog. Tapi kuanggap ia adalah perempuan yang tidak biasa, yang bersinar-sinar dalam aura magisnya tiap kali berkelebat dari pandanganku. Ah, sebenarnya tidak secara harafiah demikian. Sebab aku pun belum pernah melihatnya, atau aku telah melupakannya. Dia adalah wanita yang tidak pernah kuketahui keberadaanya, orang yang telah kuhianati. memang aku tidak mau mengingat kembali dia. Aku ingin, jika saja kemanisan ini akan mempertahankan dirinya, maka kenangnya akan tertulis sebagai anonim. Sebagai monumen yang orang akan mengenalnya tanpa perlu bantuan kata. Tanpa sadar pertemuan kembali dengan tuti ia kembali mencuri hatiku dan lalu memusnahkannya, aku takkan pernah punya dendam. "Mas, aku ingin jadi istrimu." Begitu saja ia menuliskannya. Tanpa ada bunga. Tanpa ada kembang api. Tapi hatiku hancur lebur karenanya, menanggungkan sukacita. Tapi aku tidak bisa menjumpainya. Tapi aku tidak bisa tuk sekedar memandang keajaiban yang merangkum jiwanya yang agung. "Mas, apa maksud semua kata-kata ini?", tanyanya suatu kali dalam kotak imelku. Di bawah pertanyaan pendeknya itu, masih tertulis imel asli yang kukirimkan padanya beberapa hari lalu. Penuh kata-kata absurd, yang menggelikan jika kubaca sekarang. Tapi semua nada itu muncul begitu saja tatkala aku menuliskannya. Semua karena aku jatuh cinta. "Mas, bisa kan kita ketemu?" pinta tuti suatu kali. Tapi aku begitu pengecut untuk sekedar memberanikan diri untuk memandang kornea yang demikian cerlang. Meski aku belum pernah melihatnya. Dan kembali kukirimkan rangkaian bunga mawar, setangkai saja. Dan kurasa ia bisa memahami apa yang diwakili oleh helai-helai merah darah itu. Aku kembali jatuh cinta dengan tuti, mantanku yang dulu, dan aku pun berbagi kisah tentang cintaku, tentang hidupku, dan dia bisa memaafkan ku, dan aku mungkin kembali jatuh cinta kepadanya Jatuh cinta? Sebenarnya aku tidak ingin mengotori kenanganku padanya dengan kata-kata yang paling sering disalah mengerti ini. Tapi kurasa aku tak punya bahasa lain untuk mewakilinya. Kurasa bahasaku pun takkan dapat dipahaminya. dalam kegamangan hidup, Linka, Desta, Tuti, Dan ibuku, semua membuatku gila... dalam keterpurukan entah setan mana yang telah membujuku, tapi tampaknya berhasil mempengaruhi ku untuk dapat meninggalkan Linka, tanpa perceraian resmi, dan meninggalkan Desta darah dagingku untuk menikah siri dengan Tuti Kekasihku. mengapa, mungkin aku dikutuk oleh semesta untuk menjadi pecundang. Mungkin aku kelelawar yang tak bisa memandang kecerahan mentari.yanng harus lari meninggalkan kehidupan yang telah terjalani. Karena hidupku adalah penhianatan. Penghinatan terhadap tuti, penghianatan terhadap linka, penghianatan terhadap orang tua, dan penghiatan terhadap desta anakku.(EA) Depok, 03 Maret 2008 -- Best Regard Erwin Arianto,SE エルイン アリアント (内部監査事務局) ------------------------------------- SINCERITY, SPEED, INOVATION & INDEPENDENCY

