Hore,
Hari Baru!
Teman-teman. 

"Siapa kamu?" kata sebuah tanya. "Namaku Dadang," jawab saya. "Aku 
tahu namamu Dadang. Tapi, siapa kamu?" Lalu saya mencoba 
merenungkan; "Siapa sesungguhnya saya ini?". Agak janggal juga, 
diusia yang tidak lagi muda ini masih tidak mudah untuk menjawab 
pertanyaan itu. Sudah banyak permasalahan teknis yang bisa 
diselesaikan. Beragam teka-teki bisa dipecahkan. Namun, ketika 
sampai kepada pertanyaan tentang diri sendiri; ternyata tidak mudah 
untuk menemukan sekedar sebuah jawaban. Apakah Anda juga mengalami 
hal sedemikian?

Dalam episode Mermaidia, Elina sang peri bersayap mengadakan 
perjalanan bersama Nori sang putri duyung dan Bibble si marmut lucu. 
Mereka harus menyelam kedalam laut dimana para Fungus menahan 
pangeran Nalu atas perintah Laverna si peri jahat yang berperangai 
buruk. Mermaidia adalah tempat yang indah dimana disana terdapat 
beragam macam berry berkhasiat. Ada berry yang bisa menunjukkan isi 
hati seseorang. Ada berry yang bisa membaguskan suara. Dan ada pula 
berry yang bisa menunjukkan jati diri siapa saja yang memakannya. 
Namun, Mermaidia terletak jauh didasar laut yang sangat dalam dimana 
jalan untuk menuju kesana dipenuhi rintangan yang sangat sulit untuk 
dilewati. Ketika Nori tertangkap oleh mahluk laut yang jahat, Elina 
rela menukar sayapnya yang indah dengan sirip ikan duyung agar bisa 
menolongnya. Meski akhirnya mereka berhasil menyelamatkan pangeran 
Nalu, namun Elina sudah terlanjur kehilangan sayapnya. Dan itu 
berarti dia tidak akan bisa kembali ke Fairytopia.

"Aku ada ide," kata Nori. Teman-temannya menatap penuh 
harap. "Bagaimana kalau kita mencoba khasiat berry jati diri," 
lanjutnya. "Jika Elina memakan berry jati diri....." Nori belum 
selesai berkata ketika Elina memotongnya. 
"Maka berry ini akan mengubahku menjadi....." katanya tidak sabar.
"Dirimu yang sebenarnya......" sambung Nori.

Sesaat setelah memakan buah berry itu, dari dalam tubuh Elina 
terpancar cahaya yang terang benderang. Lalu, dari gumpalan cahaya 
indah itu muncul sesosok peri jelita dengan sayapnya sangat 
indah. "Lihatlah," katanya dengan bahagia. "Aku mendapatkan sayapku 
kembali." lanjutnya.
"Iya," sambung Nalu."Sayap yang jauh lebih indah dari sebelumnya."  

Ternyata, setiap kali Elina berbuat kebaikan, sayapnya akan 
bertambah indah. Setiap pencapaian menambah satu ukiran lagi. 
Ketulusan hatinya menyempurnakan hiasan-hiasannya. Sehingga semakin 
hari, sayapnya menjadi semakin indah saja. Sebaliknya, Laverna yang 
berhati buruk mengira bahwa berry itu memberikan kesaktian. Ketika 
dia memakannya, maka tubuhnya menjelma kepada bentuk aslinya yaitu 
seekor kodok yang buruk rupa. Tak seorangpun bisa bersembunyi dari 
jati diri yang sesunguhnya. Jika orang itu baik, maka jati dirinya 
akan menjadi baik. Seseorang yang berpura-pura baik tidak akan bisa 
membohongi dirinya sendiri. Jadi, seandainya orang itu mamakan berry 
jati diri, maka pastilah dia akan menjelma kedalam bentuk aslinya. 
Sebuah pribadi yang penuh dengan iri dan dengki. 

Mungkin kita tidak memiliki berry seperti itu didalam kehidupan 
nyata. Namun, tidak jarang tabir jati diri seseorang akhirnya 
terbuka juga, meski dengan cara yang berbeda. Ada orang-orang yang 
selama ini kita sangka buruk, ternyata mereka adalah orang-orang 
terbaik yang mendukung dan menyokong kita. Kita mengira orang-orang 
itu bertindak terlampau keras kepada kita. Mengkritik. Mencambuk. 
Menuntut kita dengan tuntutan yang melebihi dari yang dilakukannya 
kepada orang lain. Namun, ternyata orang-orang itu tengah 
menggembleng kita. Mempersiapkan kita untuk sesuatu yang lebih besar 
dimasa depan. Agar kita bisa bertumbuh. Dan akhirnya menjadi pribadi-
pribadi unggul. Kita kerap tidak cukup peka untuk mengenali betapa 
berjasanya mereka. Bahkan, kita sering berburuk sangka. Hingga tak 
jarang membalas kebaikan itu dengan mencari-cari kelemahan mereka. 
Ada pula orang yang selama ini kita anggap baik. Namun, ternyata 
mereka memiliki niat buruk yang tersembunyi didalam hati. Sehingga 
ketika akhirnya mengetahui hal itu, kita begitu kecewa dibuatnya. 
Tidak sangka, orang yang selama ini begitu kita percaya ternyata 
tidak sebaik yang kita duga.

Guru mengaji saya pernah mengatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia 
untuk berbuat kebajikan. Dan Dia meniupkan sebagian dari ruhnya 
kedalam jiwa setiap insan. Jadi, sesungguhnya, setiap manusia adalah 
pembawa pesan sang pemilik kebajikan. Kemampuan kita dalam 
menjaganya akan tercermin dalam tindakan. Itu pulalah yang 
menentukan apakah seseorang berhasil kembali kepada jati dirinya. 
Atau mengganti jati diri itu dengan yang lain. Jati diri seseorang 
adalah rahasia pribadi orang itu dengan Tuhannya. Sebab, tak 
seorangpun bisa membohongi diri sendiri maupun Tuhannya. Oleh 
karenanya, kita tidak perlu terlampau risau dengan perlakukan buruk 
orang lain kepada kita. Lebih baik, kita memfokuskan diri untuk 
mempertahankan jati diri itu. Agar ketika kita kembali kepadaNya, 
kita bisa dikenali sebagai pribadi dengan jati diri yang utuh. 

Jati diri seseorang dibentuk disepanjang perjalanan hidupnya. 
Mungkin kita tidak memiliki resep mujarab untuk mencapai keutuhan 
jati diri itu. Namun, karena kita yakin bahwa ruh yang ditiupkan 
kedalam diri kita adalah ruh kebajikan; maka boleh jadi kebajikanlah 
yang bisa membawa kita kepada jati diri yang sesungguhnya. Memenuhi 
hati dengan bisikan-bisikan yang baik. Dan mendasari tindakan dengan 
niat-niat yang baik, mungkin menjadi jalan bagi kita untuk menemukan 
jati diri kita yang sesungguhnya. Jika suatu saat nanti kita 
merenungkan pertanyaan itu kembali; "Siapa kamu?", mungkin kita 
sudah memiliki sedikit petunjuk. Bahwa, kita ini adalah hamba yang 
tengah berjuang untuk merangkum serpihan-serpihan petunjuk Tuhan, 
agar bisa menemukan kembali jati diri seperti saat Tuhan meniupkan 
ruhnya kedalam diri kita. 

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/ 

Catatan Kaki:
Konon didalam tubuh manusia ada segumpal daging. Dan gumpalan itu 
disebut hati. Jika hati seseorang baik, maka baiklah segala 
amalannya. Namun, jika hatinya buruk, maka buruklah segala 
amalannya.     

Untuk Update Artikel Terbaru Dari Dadang Kadarusman Melalui Email, 
klik disini: http://www.dadangkadarusman.com/contact-us/email-alert/ 


Kirim email ke