Senja itu gerimis turun, padahal ini sudah bulan keempat di tahun kabisat,
seharusnya hujan sudah tidak lagi tampak disini. Aku berlari kecil untuk
mencari tempat berteduh, maklum baru saja aku sembuh dari penyakit flu. Aku
berteduh di depan kios bertuliskan Kios Buku & Kaset. Kiosnya tidak begitu
luas tapi dari luar kaset dan buku yang ditawarkan tampak tertata rapi. Aku
jadi tertarik untuk mengetahui ada apa saja didalam sana. Aku membuka pintu
kios itu, tampak beberapa orang sedang memilih CD yang akan dibeli, yang
lainnya sedang asyik mendengarkan CD yang sudah dibelinya, disisi lain ada
beberapa orang yang sedang memilih buku sambil membolak-balik halaman buku
itu. Aku menamati sekeliling, indah sekali penataan di kios itu, ada
beberapa lukisan terpampang, beberapa ukiran khas jepara  juga terpasang
sehingga menambah indah ruangan itu. "Pasti pemiliknya punya cita rasa seni
yang tinggi nih" pikirku. Aku melihat beberapa CD di suatu meja pemajang.
"Ah..pasti seru nih, aku akan membelinya jika ada yang sreg" gumamku. Tiba-tiba
tanpa kusadari lagu aku mendengar lagu yang tak asing bagiku.

*I'll give you everything I am
And everything I want to be
I'll put it in your hands
If you could open up to me oh
Can't we ever get beyond this wall*

*'Cause all I want is just once
To see you in the light
But you hide behind
The color of the night*

Tiba-tiba ingatanku ke masa itu, dua tahun yang lalu

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"mas, mbak maaf angkotnya nggak bisa jalan lagi, nggak berani, banjirnya
terlalu tinggi, turun disini aja ya" Kata sopir angkot itu. "wah..gimana
dong bang, saya naik apa?" omelku. "mas, saya nggak berani, takut nanti
angkot saya mogok" kata sopir itu lagi. "wah bang, masak saya harus turun
disini sih, ini kan sudah malem" kataku. "maaf mas, ini uang angkotnya saya
kembalikan saja" kata sopir itu. Mau tidak mau, suka tidak suka, aku
akhirnya turun dari angkot itu sambil berlari ditempat yang teduh. Aku
memilih menunggu hujan agak reda. Kalo saja tadi Erik tidak memintaku untuk
lembur pasti aku sudah berada di depan TV kesayanganku, sambil minum kopi
yang pasti. Tak henti-hentinya aku mengumpat dalam hati. Tanpa kusadari
sudah 10 menit berlalu, tetap hujan belum ada tanda-tanda reda. "Aku harus
menelpon rumah nih, meminta adikku Raja menjemputku" pikirku. Aku memang
paling males bila harus mengendarai mobil sendiri, aku paling tidak tahan
dengan kemacetan Jakarta. Aku lebih suka naik angkot dan tidur sampai
tujuan. Kuambil telpon genggamku dan kuhubungi rumah. Ibuku sendiri yang
mengangkat, aku minta menjemputku di dekat warnet "simbiosis" agar mudah
menemukanku.

Huh..kutengok kanan kiri agar tidak jenuh. Ada seorang wanita disana,
kupandangi sejenak wanita itu. "Manis juga" pikirku. Ada tanda kegelisahan
dari raut wajahnya. Mungkin karena hari sudah semakin larut. Wanita itu
memaka blazer dengan celana panjang, Aku belum pernah bertemu dengannya,
walaupun setiap hari inilah ruteku. Kudekati wanita itu, "pulang kemana
mbak?" kataku. Dia tampak kaget dengan sapaanku, sekilas dia memandangiku
dengan pandangan curiga. Aku maklumlah ini Jakarta, pasti dipikirannya aku
adalah orang jahat. "Hujannya nggak reda-reda ya mbak, saya juga sudah capek
nunggu" kataku sambil menengadahkan tangan kananku kearah hujan. Wanita itu
mengangguk. Dia memandangiku sekali lagi, akupun menoleh padanya, kuberi
senyuman termanisku, diapun ikut tersenyum. "Sultan" kataku sambil
mengayuhkan tangan kananku. "Rasti" jawabnya sambil menjabat tanganku.
"Pulang kemana mbak?" kataku sekali lagi. "Tebet mas" katanya. "Wah sejalan
dong" sahutku. "Tapi kok kita nggak pernah bareng ya" kataku sok tau. "Saya
baru pindah ke Jakarta ko mas" sahutnya. "Terus mo naik apa mbak?" kataku.
"Nunggu taksi lewat mas, tapi saya sudah nunggu dari tadi, nggak ada yang
lewat" katanya. "Ya iyalah mbak, didepankan banjir, jadi harus lewat muter,
kalo mbak nunggu taksi disini ya nggak ada yang lewat" terangku. Tampak
wajahnya semakin kebingungan, aku jadi kasihan melihatnya. "Mbak ikut mobil
saya saja daripada kemaleman disini" tawarku. Aku tidak tega melihat rona
mukanya. Dia memandangiku lagi. "Saya orang baik-baik kok mbak" kataku
meyakinkan. Dia menunduk, wajahnya semakin terlihat putus asa dan hampir
saja menangis. Aku terdiam, dia juga terdiam. Lima menit kemudian mobilku
datang. Adikku membunyikan klakson. Kubuka pintu belakang untuk
mempersilahkan Rasti masuk, dia mengikuti saja apa yang aku ucapkan. Adikku
malah bengong, dia belum tau apa yang terjadi karena tiba-tiba aku
mempersilahkan Rasti masuk ke mobilku. "Ke tebet Ndut" kataku pada adikku.
Aku memang suka memanggilnya dengan istilah gendut karena tubuhnya yang
gendut itu. Mobilku mulai memasuki jalan tebet. "Yang mana mbak rumahnya?"
kataku. Rasti yang dari tadi terdiam tampak kaget. "Lurus terus belok kiri,
rumah paling ujung mas" katanya. Mobilku berhenti dirumah itu. Sepertinya
rumah kos-kosan, Nampak dari bentuk bangunannya. "Makasih sekali ya mas"
katanya. "Sama-sama mbak" kataku. Dia turun, memandangiku sekali lagi dan
tersenyum. "Manis sekali" pikirku. Mobilku melaju, aku lihat dia masih
berdiri di depan pagar sampai mobilku menghilang dari pandangannya.
"Ah..kakak capek sekali Ndut, kakak tidur aja ya" kataku pada Raja. "Kakak
curang, masak aku ditinggal tidur sih" jawab adikku. Entah kata apa lagi
yang diucapkan adikku karena aku sudah terlelap.

Seminggu telah berlalu, aku sedang berada di gramedia, tempat favoritku kalo
sedang tidak ada kerjaan. Aku suka sekali membaca komik, sudah puluhan komik
memenuhi lemari kamarku. Kadang ibuku juga dibuat kesal olehku karena
kegemaranku ini. Kata ibuku kamarku lebih mirip dinamakan gudang karena
buku-bukuku itu. Tiba-tiba mataku tertuju pada seorang wanita. "Rasti"
gumamku. "Halo mbak" sapaku. 'Eh..mas Sultan" jawabnya. Rona mukanya kali
ini berbeda dari waktu aku bertemu dengannya seminggu yang lalu. "Tambah
indah saja dipandang" pikirku. Kali ini dia sangat ceria, tidak ada kesan
takut lagi diwajahnya. Sungguh indah.."Mas Sultan nyari buku apa?" katanya.
"nggak kok, lagi jalan-jalan aja" jawabku. "Mbak lagi cari buku apa?"
tanyaku. "jangan panggil mbak dong mas, panggil Rasti aja, ini mo beliin
temen buku software, buat kado ultahnya" jawabnya. "Sudah dapet?" tanyaku
lagi. "Sudah, ini" katanya sambil menunjukkan keranjang ditangannya. Kulihat
ada dua buku didalamnya. "mas aku mau ngucapin terima kasih lagi buat
tumpangannya kemaren ya" katanya. "sama-sama rasti, nggak masalah, kita kan
searah" jawabku. "Rasti sendirian?" tanyaku. jawabnya. "Iya" jawabnya.
"Bareng aja yuk pulangnya" tawarku. "Wah, saya jadi ngerepotin terus nih"
katanya. "Nggak kok" kataku sambil tersenyum. Kuantar Rasti pulang.

Hari-hari berikutnya, aku sering bersama Rasti saat aku pulang, karena
secara kebetulan sering ketemu dihalte. Dan seperti biasa akupun selalu
dijemput Raja ditempat biasa karena setiap sore akhir-akhir ini dijakarta
bisa dipastikan selalu hujan. Suatu hari aku mendapat bonus dari bos, aku
berencana untuk mentraktir Rasti dan Raja pulang kerja nanti. Mobilku sudah
menunggu ditempat biasa, memang aku sudah menelpon Rasti dan Raja untuk
menanyakan kesediaan mereka hari ini untuk aku traktir. Mobilku beranjak
menuju bilangan kemang untuk mencari tempat yang asyik buat makan. Aku inget
temanku pernah menyarankan aku makan disebuah kafe "Tamani Cafe", katanya
tempatnya enak, ada Wifinya pula. Kebetulan aku harus mencari bahan untuk
presentasi besuk. Kami sudah sampai di kafe. Kafenya ternyata benar-benar
ramai. Mungkin karena hari ini weekend. Ada live musicnya pula. Aku suka
tempat makan yang ada live musicnya. Kami telah memesan makanan. Aku makan
sambil browsing internet sembari mendengarkan live music. Nyaman sekali bisa
berlama-lama disini. Raja dan Rasti asik ngobrol sambil sesekali
membicarakan music yang sedang dinyanyikan. "Aku suka banget lagu ini"
tiba-tiba Rasti berkata agak berteriak, tetapi untungnya suaranya kalah
dengan band yang sedang tampil.

*I can't go on running from the past
Love has torn away this mask
And now like clouds like rain I'm drowning and
I blame it all on you
I'm lost - God save me...*

*I'll give you everything I am
And everything I want to be
I'll put it in your hands
If you could open up to me oh
Can't we ever get beyond this wall*

"Beberapa kali aku coba browsing di internet buat DL gratis ga pernah
berhasil" kata Rasti. "Apa judulnya?" kataku "coba aku cariin diinternet".
"The colour of the night" katanya. Aku utak-atik laptopku untuk menemukan
lagu kesukaan rasti, "ketemu" kataku. "coba di DL mas" katanya. Benar kata
Rasti nggak semudah itu, apalagi internet disini nggak begitu mulus. "Ok
deh, nanti aku coba dirumah ya" kataku.

Raja mengetuk pintu kamarku. "Kak, ini aku nemu lagu kesukaan Rasti di toko
Giring" kata Raja. "coba kakak liat" kataku sambil mengamati CD itu. Benar
ini CD itu, CD kesukaan Rasti. "Kak, aku menurut kakak, Rasti gimana?"
katanya tiba-tiba. "Aneh juga pertanyaanya" pikirku. "Gimana maksudmu ndut?"
kataku. "Ya menurut kakak, Sifat sama Fisiknya gimana?". "Rasti itu cantik,
pinter, enak diajak ngomong, lucu ma lugu" kataku. "Emangnya kenapa ndut"
tanyaku. "Nggak papa, Kak, kalo aku naksir Rasti gimana?" kata Raja.
Deg..Raja suka sama Rasti, Raja berumur 1 tahun lebih muda daripada Rasti
sedangkan aku berumur 2 tahun lebih tua daripada Rasti. "Kamu suka sama
Rasti, Ndut" kataku mengulangi. "Kayaknya iya" kata Raja. "Sepertinya besok
aku akan memintanya untuk jadi pacarku kak" sambungnya. Deg…Raja nekat juga.
"Kakak dikabari ya ndut" kataku. Entah kenapa aku berpikiran aneh setelah
mendengar perkataan Raja itu. Ternyata selama ini tanpa sepengetahuanku Raja
dan Rasti sering berkomunikasi sehingga menumbuhkan benih-benih cinta dihati
mereka.

Keesokan harinya saat aku tiba dirumah kulihat Rasti berada dirumahku. Ada
ibuku sedang berbincang dengannya. Aku yakin Raja pasti sudah menceritakan
kalo dia sedang jatuh cinta dengan Rasti pada ibuku karena itulah kebiasaan
kami, bercerita pada ibu. "Sultan, ini Rasti pacar adekmu" kata ibuku.
"Pacar?" berarti Raja sudah "nembak" Rasti dan diterima Rasti. "Iya bu, kita
sudah kenal kok" kataku. "iya bu, kami sudah kenal" Kata Rasti. "Raja dimana
bu?" kataku pada ibu. "Dikamar, lagi mandi" kata ibuku. Aku masuk kekamar
Raja "wah..selamat ya udah punya pacar baru, ngalahin kakak kamu ndut, kakak
malah nggak punya pacar" kataku. "hehehe, makanya nyari dong, kakak kan juga
ganteng" kata Raja. "la terus gimana jadwal keberangkatanmu ke Surabaya
bulan depan? Mo pacaran jarak jauh?" tanyaku. "tunggu tanggal mainnya kak"
katanya. Aku mengernyitkan dahi pertanda tidak mengerti perkataan Raja.

Dua bulan telah berlalu, Raja sudah pindah ke Surabaya. Rasti dan Raja
akhirnya pacaran jarak jauh. Aku masih sering pulang bareng dengan Rasti,
tapi kali ini aku membawa mobil sendiri karena aku takut bila hujan tidak
ada lagi yang menjemputku. Tiba-tiba HPku berbunyi "Raja memanggil". "Halo
kak, apa kabar?" sapa Raja. "Baik ndut, kamu juga baek kan?" kataku. "Iya,
kakak lagi dimana? sibuk nggak?" katanya. "lagi dirumah, nggak sibuk, napa
ndut?" tanyaku."Kak, minta tolong anter Rasti ke bandara dong" pintanya.
"Rasti mo kemana?" tanyaku. "Ke Surabaya, dia dapat pekerjaan disini"
katanya. "Hah..Rasti mau pindah" kataku. "iya, minta tolong ya kakak,
makasih ya kak" kata Raja. "Iya" jawabku. Pikiranku mulai tidak enak dan
banyak sekali perasaan yang berkecamuk didadaku. Entah apa namanya, aku juga
bingung mendeskripkanya. Aku jemput Rasti di kosnya. Dia sudah siap
berangkat. Aku lihat dia membawa tas besar. "kenapa nggak cerita kalo mau
pindah?" kataku membuka percakapan. "iya mas, Raja nggak bolehin dulu
sebelum fix, ini juga nanti pulang lagi ke Jakarta. Pamit sama ibu juga kan
mas" katanya. "Wah kalo cinta memang seperti itu ya, butuh pengorbanan"
godaku. "hahaha..soalnya dulu pernah punya cinta nggak kesampaian sih mas
gara-gara egoku" katanya. "mas pernah punya cinta nggak kesampaian mas?"
tanyanya. Kupandangi Rasti. Akupun menganggung sambil tersenyum kecut.
"Rasti, seandainya kamu tau kalo cinta itu adalah cinta kepadamu. Sebenarnya
aku mencintaimu dengan sangat" kataku dalam hati sambil menahan perih. Ingin
sekali ku ungkapkan perasaan yang mengganggu perasaanku saat ini. Tapi entah
kenapa aku tidak bisa mengucapkannya. Mungkin karena Rasti telah menjadi
milik adikku. Seandainya kamu tau Rasti,…

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Lagu
itu masih saja mengalun. Kilasan wajah Raja dan Rasti tiba-tiba muncul
"Sedang apa mereka disana?" pikirku. Pastinya mereka sedang menikmati kisah
cinta mereka. "Hmmm…" desahku. Aku harus merelakan Rasti. Aku memang sudah
merelakan Rasti, untuk Raja adikku. Dan sampai saat inipun tak ada satupun
yang tau kalo hatiku ini pernah tertambat untuk Rasti, Pacar adikku. Aku
mulai beranjak dari situ, berada diterpaan hujan. Dan aku tak peduli
lagi,...

*Hari saat aku bertemu dengannya, hujan turun rintik-rintik*

*Kemudian hari itu kembali lagi*

*Tapi ada yang tak ingin kulupa*

*Hari itu,..Waktu itu,…*

*Sampai kapanpun,…Ada yang tak ingin ku lupa,..*

'Hanya Imajinasi Penulis'
-- 
Regards,
Hapsari Wirastuti Susetianingtyas

ViSiT My BLoG www.napasbidadari.multiply.com

Kirim email ke