Fyi Wassalam HMNA Republika Minggu, 08 Juni 2008
Tuhan, [di Monas] Mereka tidak Sayang Kami! Oleh : KH Hasyim Muzadi Untuk kesekian kalinya, dada kita mendadak sesak seperti dihunjam palu godam teramat berat akibat menyaksikan bentrokan yang melibatkan beberapa komponen sesama anak bangsa baru-baru ini. Insiden yang terjadi di silang Monumen Nasional [Monas] tersebut bukanlah yang pertama. Tetapi, tentu saja harus diikhtiarkan untuk menjadi yang terakhir, siapa pun penguasa negeri ini. Sebab, sudah berulang kali kejadian serupa berulang, hanya akibat ketidakmampuan kita mengambil ibrah dari setiap kejadian. Lalu, ada apa sebenarnya dengan kita, bangsa Indonesia? Begitu mudahkah kita berselisih lalu bentrok fisik? Kitakah sebagai rakyat yang tak pandai menyikapi setiap perbedaan? Apa karena para pemimpin kita yang tak kunjung cerdas membaca riak-riak di tengah masyarakat? Atau, apa karena mereka memang tidak sayang kita dan tidak takut kepada Allah SWT? Sejatinya, bagi mayoritas umat Islam, masalah Ahmadiyah--pemicu aksi kekerasan itu--dalam konteks keyakinan/akidah sudah final. Karena, beberapa unsur keyakinannya berbeda dengan jumhur ummah. Maka, ia dikategorikan telah nyata-nyata menyempal dari aslinya. Karena itu, ia menyimpang dari pokok keyakinan umat Islam mayoritas. Organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang hidup di negeri ini telah memiliki sikap yang jelas mengenai persoalan tersebut. Memang, sepertinya ini adalah persoalan lama yang muncul kembali. Keyakinan bahwa, antara lain, ada seorang nabi setelah Baginda Muhammad SAW, jelas-jelas bukan bagian dari keyakinan umat Islam. Di negeri asalnya, Pakistan, keberadaan Ahmadiyah juga dipersoalkan secara serius. Dengan alasan yang tak berbeda dengan di Indonesia: penyempalan dari pokok keyakinan umat Islam. Dalam konteks ini, sesungguhnya umat beragama, termasuk penganut agama Islam, sudah berbesar hati memberikan peluang kepada pemerintah. Sekurang-kurangnya, mereka bisa ambil bagian menyelesaikan masalah ini agar tidak memunculkan ekses negatif yang akan bereskalasi hingga ke akar rumput jika terus dibiarkan. Tragedi di Silang Monas merupakan bentuk nyata dari rentannya masyarakat kita ketika harus berhadapan dengan sebuah perbedaan sudut pandang. Mereka yang meneguhkan sikap melindungi kebebasan hak hidup terpaksa harus berhadapan dengan kelompok yang secara ketat dan berlebihan melindungi keyakinannya. Maka, kasus Ahmadiyah ini seperti sebuah modus procedendi atas terjadi bentrokan. Nah, ketika letupan berubah menjadi ledakan, pemerintah terkesan lamban memberikan jalan keluar yang bijak. Lantas siapakah gerangan yang paling diuntungkan dengan persoalan tersebut? Sebenarnya, tak ada yang menangguk keuntungan. Yang ada justru kerugian, minimal karena masalah ini lantas membuat harmoni sosial keagamaan terkoyak. Jamak terjadi bila dua kutub berbeda bertemu, sebenarnya tinggal menunggu waktu munculnya provokasi dari pihak-pihak yang mengipas suasana agar terus membara. Dan, benar saja. Tak lama setelah saling singgung antarkedua kubu, terjadilah ledakan kekerasan itu. Kalau pihak-pihak penjaga ketenteraman dan harmoni sosial tanggap, ledakan tersebut tak akan menjelma menjadi kobaran api amarah dan emosi yang berlebihan sehingga jatuh korban. Penyerang adalah anak bangsa kita sendiri dan korbannya adalah saudara sebangsa. Duh, Gusti! Bangsa kita sudah beratus-ratus tahun hidup dalam dunia adu domba, bahkan sejak republik ini belum lahir. Begitu rentannya tali harmoni sosial itu dikoyak, sampai-sampai begitu mudahnya ikatan kemasyarakatan dan kebangsaan menjadi tumbal kepentingan kelompok tertentu. Lalu, di manakah peran para pemimpin kita, khususnya di tingkat pemerintah ketika dibutuhkan kepeduliannya atas ini semua? Sungguh benar ajaran para tetua kita di kampung yang menganjurkan kita untuk selalu berdoa agar dikaruniai pemimpin yang sayang kepada kita dan takut kepada Allah. ''Allahumma la tusallith 'alayna bi dzunubina man laa yakhoofuka fiinaa wa laa yarhamuna. Ya Allah, janganlah kiranya karena dosa-dosa kami, Engkau anugerahkan kepada kami pemimpin yang tidak takut kepada-Mu dan tidak sayang kepada kami.'' Atau, doa ini benar-benar sudah terjadi. Sebab, di negeri ini, sikap saling curiga bersemayam, bahkan mencengkeram dengan amat kuat di benak setiap orang. Hingga, saudara sendiri pun harus dimata-matai apakah masih dapat dipercaya. Di negeri ini, pergunjingan adalah hal yang biasa. Jika sedetik saja kita tidak 'memangsa daging saudara' sendiri (istilah Alquran untuk orang-orang yang suka menggunjing), rasanya belumlah tenteram dan aman. Di negeri ini, jika muncul persoalan, bukan kepada hati nurani kita bertanya. Tetapi, langsung menjatuhkan vonis dan menuding saudara sendiri sebagai penyebab pelakunya. Di negeri ini, tak ada lagi yang bisa didengar karena yang meluncur tinggal sumpah serapah dan adu domba. Meski negeri kita terletak di atas bumi-Nya, kita selalu lupa bahwa Allah memiliki hak untuk mengusir kami dari tanah-Nya. Di hadapan pengadilan-Mu, dosa satu orang di antara kami terlalu besar jika cuma diukur dengan kesucian tuntunan-Mu. Ya Allah, ya Maaliki, apakah karena dosa-dosa kami ini, Engkau berikan kepada kami pemimpin yang sungguh tidak takut kepada-Mu dan tidak sayang kepada kami? "Allahumaa ya Rabb, jangan-jangan mereka memang tidak takut kepada-Mu. Selama ini, kami anggap mereka sebagai orang tua kami yang selalu siap memberikan rasa kasih dan sayang kepada kami. Tetapi, sejak kami angkat mereka sebagai pemimpin kami, mereka bukan membela kami menjelang tidur. Namun, justru membuat hati kami berdebar-debar karena waswas. Kapankah mereka akan memenuhi hak-hak ketenteraman hidup kami sehingga setiap saat membutuhkan rasa aman, kami harus membayar dengan apa saja. Setiap hari kondisi ini telah menebarkan rasa takut akan suramnya masa depan karena kekayaan alam kami habis dikuras, seakan-akan malaikat pencabut nyawa mengintai setiap saat. Kapankah mereka bisa menenteramkan hati kami?'' Maka, kinilah saatnya kita melapor langsung kepada Allah SWT setelah serangkaian persoalan tak mampu lagi kita tanggungkan sendiri. Setelah prahara yang mendera bangsa tanpa henti, belum berakhirnya krisis jati diri setelah 30 tahun lebih tercabik-cabik, lahirnya era baru yang tak kunjung membuahkan harapan, kompleksnya persoalan hingga sulit mencari jalan keluar, kini saatnya kita mengadu hanya kepada Allah. Sesungguhnya, hidup dan mati adalah ujian. Siapa di antara kita yang paling baik perbuatannya. Demikianlah Allah mengingatkan kita melalui firman-Nya yang Agung. Tetapi, rasanya teramat sulit bagi kita untuk dapat mencerna dengan kesadaran tinggi, kepasrahan total, dan kebeningan jiwa yang luhur untuk memaklumi isyarat Tuhan tersebut. Bangsa ini tinggal berharap pada harapan itu sendiri setelah tiada lagi institusi, lembaga, pranata sosial, dan pemimpin yang dengan ketulusan hati berkenan mendengarkan jeritan yang dengan bersuara pun tak mampu lagi membantu kita meneriakkannya. Saatnya kita melapor langsung kepada Allah, betapa sulitnya menghitung dengan jari. Siapa lagi yang mampu menjadi khalifah-Mu di Bumi Pertiwi ini? Tuhan, saksikan dan dengarlah pengaduan hamba-hamba-Mu ini. Kami sadar benar bahwa Engkau Maha Mendengar dan Saksi Abadi atas derita yang membelit segenap anggota tubuh kami. Tuhan, kami hanya ingin mengadu kepada-Mu melalui Sifat dan Asma-Mu yang Agung. Wallaahu a'lamu bishshawaab wa Allaahu wallyuttaufiq. .
nc3=3848585
Description: Binary data

