Patut di baca, kalo merasa udah tahu n pinter langsung aja masukin trash..
--- On Wed, 9/3/08, listmanager_2 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: listmanager_2 <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [the_ics] Kompas - Awas Modus Penipuan "Haryono" di BCA
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Wednesday, September 3, 2008, 9:32 AM
Rabu, 3 September 2008 | 07:46 WIB
KUPANG, RABU-Kepala Badan (Kaban) Perpustakaan NusaTenggara Timur
(NTT) Melkianus Lima ditipu Haryono, yang mengaku staf Dharma Wanita
Perpustakaan Nasional.
Awalnya, pelaku mengatakan, Dharma Wanita Perpustakaan NTT dapat
bantuan pemberdayaan perempuan di lingkungan itu senilai Rp 5 juta.
Haryono pun berbicara ramah dengan Kaban Perpustakaan NTT Melkianus
Lima. Lima kemudian memberi nomor telepon rumahnya agar Haryono dapat
berbicara langsung dengan istrinya Ny Lima sebagai Kepala Dharma
Wanita di lingkungan perpustakaan itu, yang saat itu sedang berada di
rumah.
Haryono minta nomor rekening Ny Lima. Tetapi Ny Lima menjawab, tidak
ada rekening pribadi atas namanya, kecuali rekening atas nama
suaminya, Melkianus Lima. Kepada Ny Lima Haryono menjelaskan dana
bantuan Rp 5 juta itu untuk kegiatan kecil-kecil saja karena
Perpustakaan Nasional pun sedang kesulitan dana. Ny Lima kemudian
memberikan nomor rekening BCA Kupang atas nama suaminya.
Haryono diminta menghubungi suaminya di kantor melalui nomor telepon
seluler yang diberikan Ny Lima. Kepada Melkianus Lima, Haryono
mengatakan 30 menit lagi akan menstranfer uang Rp 5 juta tersebut ke
rekening Lima. Karena itu setelah 30 menit, Lima diminta ke ATM BCA
Kupang untuk mengecek, apakah dana Rp 5 juta sudah masuk atau belum.
"Satu jam kemudian saya cek, tetapi tidak ada uang masuk. Lalu saya
hubungi Haryono di Jakarta. Haryono mati-matian mengatakan telah
menstransfer uang itu ke rekening saya. Ia kemudian marah melalui
telepon seluler, dan mendesak saya cek ulang,"kata Lima.
Setelah tiga kali cek di ATM pun tidak ada uang masuk. Haryono
kemudian mengatakan baru saja tiga hari lalu ia menstranfer untuk
Perpustakaan Daerah Kepulauan Riau senilai Rp 10 juta. Tidak mungkin
uang Rp 5 juta itu belum masuk rekening Lima. Haryono kemudian
berjanji membantu Lima dengan meminta bantuan staf BCA, yang juga
adalah teman baik Haryono. Karena itu Lima diminta pergi lagi ke ATM
BCA.
Tiba di ATM BCA Kupang Lima mengecek saldo di ATM, tidak ada tambahan
uang. Ia kemudian menghubungi Haryono. Saat itu pula Haryono langsung
mengalihkan pembicaraan kepada rekannya yang disebutkan bekerja di
BCA tadi. Orang bersangkutan mulai mengarahkan Lima. Pertama ia
menanyakan saldo yang ada di rekening itu berapa.
Kemudian ia memberi perintah kepada Lima memasukan kartu sim, tekan
PIN, transfer, nomor rekening Lima, nomor rekening Haryono, ok. Saat
itu Lima sempat menolak karena perintah tersebut merupakan proses
transfer. Tetapi orang bersangkutan kembali menegaskan, dirinya sudah
bekerja 25 tahun di BCA dan selalu membantu memproses transfer uang
nasabah.
"Setelah menekan sampai 10 kali lebih, kartu sim keluar dengan
sendirinya. Saya cek saldo uang sisa Rp 5.000. Saya menelepon Haryono
di Jakarta, ia tertawa terbahak-bahak sambil mencibir, itu kecil
masih ada yang sampai Rp 1 mliar lebih sambil mematikan teleponnya,"
katanya.
Menurut Lima, kejadian itu awal Juni 2008, tetapi ia masih stres dan
trauma sampai hari ini. Strokenya kambuh lagi, sementara ia baru saja
sembuh dari sakit ginjal. "Uang itu hasil jual tanah 300 m2 di Kota
Kupang Rp 27 juta, Rp 10 juta yang lain tabungan dari gaji saya.
Total Rp 37 juta ia ambil semuanya. Saya tidak punya apa apa lagi,"
tuturnya.
Sementara itu Hakim Pengadilan Negeri Kupang FX Sugiarto mengatakan,
dirinya saat masih bertugas di PN Jayapura beberapa waktu lalu hampir
tertipu Rp 100 juta. Tetapi saat ia berada di ATM BNI Abepura,
Jayapura, Papua dan sedang berbicara dengan orang yang mengaku staf
Mahkaham Agung, langsung dicegat Satpam di ATM itu.
"Satpam buka pintu ruang ATM dan bertanya, bapak bicara dengan siapa.
Bapak kenal orang itu, kalau tidak kenal jangan dilayani, itu penipu.
Saya sadar dan keluar dari uangan itu. Setelah dicek di Jakarta
ternyata tidak ada permintaan tersebut," katanya.
Peran Satpam BNI di Abepura Jayapura itu sangat cerdas. Kalau semua
Satpam yang bertugas di setiap ATM cukup teliti dan cerdas seperti
itu, cukup membantu para nasabah. (KOR)
http://www.kompas. com/read/ xml/2008/ 09/03/07463478/ awas.modus. penipuan
.haryono.di. bca