Ada Tiga Agama Yang Bertahan Dan Sampai Hari Ini Menguat Yang Lahir Di Timur
Tengah: Secara Kronologis, Yahudi, Kristen,Islam.
Masing-Masing Mengaku Punya Jalur Komunikasi Unik Dan Istimewa Dengan Sang
Khalik.
Masing-Masing Punya Sapaan Akrb Sendiri-Sendiri Pula Terhadap Yang Ilahi.
Di Indonesia Ada Orang Menganggap 'Allah' Milik Islam, Adapun Kristen Dan
Yahudi Punya 'Yehovah'.
Kalu Orang Kristen Bilang 'Allah', Itu Saru, Kata Mereka.
Kata 'Allah' Memang Berasal Dari Bahasa Arab, Tapi Itu Tidak Berarti Hanya
Islam Yang Mengenal Istilah Itu.
Sudah
Sejak Zaman Prasejarah Bangsa-Bangsa Dalam Rumpun Semit, Yang DI
Dalamnya Termasuk Arab Dan Israel, Mengenal Kata Itu Dalam Berbagai
Varian.
Ada 'Allah', 'Ilah', 'El', 'Eloh', 'Elohim', 'Il', Dst
Bangsa
Akad (peradaban tertua nomor dua,abad ke-24 sampai ke-22 SM, sesudah
Sumeria, yang lahir di Mesopotamia Atau Irak sekarang)
Mengenal 'Ilu', Yang Mungkin Berarti 'Yang MahaKuasa' Dan Berkaitan
Dengan Makna 'Terang'.
Kata Ini Sejak Zaman Kuno Tersebar Luas Sehingga Juga Dikenal Dalam
Bahasa-bahasa Barat.
Dari Bahasa Inggeris Dan Latin, Misalnya, Kita Ambil Kata Iluminasi.
Peradaban
Kuno Timur Tengah Itu Menganggap Kekuasaan Atas Alam Dan Hidup Manusia
Berasal Dari Atau Berada Di Langit Dan Bagi Mereka, Tidak Ada Benda
Langit Yang Tak Bercahaya.
Kepercayaan Ini Juga Melahirkan Astrologi, Yang Masih Laku Keras Sampai
Sekarang.
Oleh
Bangsa-Bangsa Politeistik Pada Zaman Sebelum Musa, 'El' Aau Variannya
Disembah Sebagai Yang Tertinggi, Kepala Atau Bapa Dari Semua Yang Ilahi.
Kata Ini Juga Banyak Dipakai Sebagai Bagian Dari Nama Diri, Misalnya Isma'El'
('El' mendengarkan), Dan Isra'El' ('El' berhasil).
Namun, Pada Umumnya Kata Itu Lebih Dipakai Sebagai Nama Generik, Seperti Cara
Kita Sekarang Pada Umumnya Memakai Kata
'Tuhan', 'Ilah', Atau 'Dewa'.
'El'
Juga Dipakai Dalam Bentuk Gabungan, Misalnya, 'El' Shadai' (allah
mahakuasa), 'El' Elyon' (allah Mahatinggi), Atau 'El' Olam' (allah
mahakekal).
Oleh Penerjemah-penerjemah Alkitab Kristen
Indonesia, Kata 'Allah' Dipakai Untuk Menerjemahkan 'El', 'Eloh', Atau
'Elohim' (bahasa ibrani) Dan Theos, Padanan Bahasa Yunaninya.
Umumnya Orang Indonesia Kenal Kata 'Theos' Sebagai Bagian Dari 'Ateis'.
'Theos' Sendiri Masih Berkaitan Dengan Kata 'Deus' Dan 'Zeus' (latin) Serta
'Deva' Atau 'Dewa' (sanskerta).
Dalam Bahasa Inggeris Kata 'God' Atau 'god' Dipakai.
Dalam Alkitab Kristen Bahasa Arab, Yang Dipakai Orang-Orang Arab Kristen, Kata
'Allah' Juga yang Dipakai.
Dalam
Hal Ini Kata Itu Tidak Bisa Dianggap Terjemahan Karena Justru Itulah
Aslinya, Akarnya Sama, Hanya Beda Cara Pegungkapannya Atau
Pengembanggannya Dalam Bahasa Ibrani Dan Bahasa Arab.
Nama
Pribadi Untuk 'Sembahan' Orang Ibrani, Dan Kemudian Orang Kristen, Adalah
'Yahweh Atau Yehovah'.
Kadang-kadang
Ditransliterasi Sebagai 'YHWH' Karena, Seperti Bahasa-Bahasa Semit
Lain, Bahasa Ibrani Sebenarnya Tidak Mengenal Huruf Hidup.
Dalam Bentuk Pendek Atau Gabungan Kata Itu Menjadi 'Yah' Atau 'Yahu' Atau 'Yo',
Seperti Dalam 'Hallelu'Yah', Yang Berarti 'Mari Puji 'Yah'', Atau Nama Dari
'Yosua' Atau 'Yusak'.
Arti 'Yahweh' Sendiri Mungkin Merupakan Cerminan Dari Keunikan 'Allah' Sebagai
Satu-satunya yang Patut Disembah.
Menurut
Alkitab Ibrani, Ketika Musa Disuruh Oleh 'Allah Nenek-Moyangnya'
Membawa Bangsanya Keluar Dari Perbudakan Di Mesir, Dia Memberanikan
Diri Menanyakan NamaNya.
Jawabannya, "Aku Adalah Aku".
Menariknya, Orang Israel Tidak Pernah Menyuarakan Nama Pribadi 'Yahweh'.
Kalau Bertemu Tulisan Itu, Mereka Membaca 'Adonai', Yang Barangkali Bisa Kita
Katakan Adalah Nama
Kehormatan, Bermakna 'Tuan' Atau 'Tuhan'.
Oleh Lembaga Alkitab Indonesia, Nama 'Yahweh' Ini Diterjemahkan "TUHAN" (semua
huruf besar).
Adapun Kata 'Tuhan' (hanya hruf pertama yang besar) Dipakai Untuk Menerjemahkan
'Adonai' (ibrani) Dan Kyrios (yunani).
DalamBahasa Inggeris Padanannya Adalah 'LORD' Atau 'Lord'.
Dalam
Perkembangan Sejarah, Mula0Mula Orang Kristen Eropa lah, Yang Tidak
Mengenal Bahasa-Bahasa Timur Tengah, Yang Menganggap Bahwa 'Allah'
Islam Itu Berbeda Dari 'God' Mereka.
Kini Sebagian Muslim Di Indonesia Menarik Kebanggaan Dari Rasa Ekslusivistas
Ini.
Namun,
Sejarah Perkembangan Bahasa-Bahasa Tampaknya Menunjukkan Bahwa Dalam
Urusan Ilahi, Penganut-Penganut Agama-Agama Samawi Ternyata Masih
Bersaudara Dekat.
Terambil Dari Kompas 18 Agustus 2006.
Jatuh cinta itu seperti apa ya rasanya? Temukan jawabannya di Yahoo
Answers!