1 Semisalnya aku adalah langit dan awan-awan dan pelangi dan gerimis yang berjalan mengendap pada halaman sebuah kuil, maka akan kubiarkan setangkai bunga ceri yang gugur dan terapung pada riak kolam itu menjelma jadi bayangan di dalam pikiranku.
Tak! "Apa tujuan Bodhidharma datang dari India?" "Apa tujuan hidupku, Shi-fu?" Tak! Semisalnya langit atau awan-awan atau pelangi atau gerimis yang berjalan mengendap di halaman sebuah kuil adalah aku, maka aku adalah setangkai bunga ceri yang gugur dan terapung pada riak kolam itu dan menjelma jadi bayangan di dalam.... Tak! "Apa tujuan Bodhidharma datang dari India?" "Kenapa kau terus memukul kepalaku, Shi-fu?" Tak! "Cukup sudah! Jangan lagi memukul kepalaku. Aku memang murid yang dungu. Aku tak tahu tujuan lelaki berjenggot itu datang dari India. Aku tak tahu tujuan hidupku lahir ke dunia. Sekarang, cukup sudah! Jangan lagi memukul kepalaku." Tak! 2 "Apa kau telah tercerahkan, Teman?" "Tercerahkan apaan? Kepala gue malah digetok terus sama tongkat Shi-fu sontoloyo itu!" "Jangan cepat menyerah, Teman. Pencerahan itu terkadang memang membingungkan." "Bodo amat! Mau tercerahkan atau nggak tercerahkan, pokoknya gue sudah kapok. Gue nggak sudi kepala gue terus kena getok." 3 Syahdan, karena putus asa tak bisa jawab gong-an dari Huang-po, maka Lin-chi pun berniat pergi dari padepokan gurunya. Namun, sebelum pergi, ia sempat dapat saran dari abang seperguruannya agar mendatangi guru Chan lain yang berdomisili dekat-dekat situ juga. 4 "Kenapa kau datang ke padepokan ini, Lin-chi?" "Tolong cerahkan aku, Shi-fu." "Dari padepokan mana asalmu, Lin-chi?" "Dari padepokan Huang-po, Shi-fu." "Ooooo, Huang-po adalah Shi-fu Chan yang baik, lantas mengapa kau masih datang kemari, Lin-chi?" "Aku tak bisa menjawab gong-an dari Huang-po. Dan ia selalu saja menghantam kepalaku dengan tongkatnya." "Ha Ha Ha Ha Ha Ha Ha Ha Ha Ha Ha Ha...." "Hei! Kenapa kau tertawa seperti orang gila?" "Murid dungu! Seharusnya kau bersujud di kaki Huang-po, karena ia telah bermurah hati membuatmu mencicipi rasa tongkatnya." "Kau sama gilanya dengan Huang-po! Aku pergi!" "Buddha memberkatimu, Lin-chi. Sebelum pergi, cobalah kau amati pikiranmu sendiri. Pikiranmu masih dipenuhi oleh klesha: penuh dengan kerakusan, penuh dengan kebencian, penuh dengan ilusi. Huang-po cuma berniat membebaskanmu dari gong-an terbesar, yaitu: pikiranmu sendiri. Karena itulah ia terus menghantam kepalamu dengan tongkatnya. Buddha memberkatimu, Lin-chi." 5 Syahdan, sehabis mendengar saran guru Chan yang padepokannya dekat-dekat situ juga, Lin-chi pun mendadak tersadar dari kedunguannya. Lalu sambil berlari dan menari-nari di jalan kayak orang gila, ia pun berteriak sekencang-kencangnya: "Chan Huang-po amatlah sederhana, tak ada apa pun di dalamnya!" 6 Tak ada semisalnya. Aku adalah langit dan awan-awan dan pelangi dan gerimis yang berjalan mengendap pada halaman sebuah kuil. Aku adalah setangkai bunga ceri yang gugur dan terapung pada riak kolam itu. Kini, tak ada lagi bayangan di dalam pikiranku, tak ada apa-apa di dalam pikiranku, tak ada aku. "Shi-fu, ijinkan aku mencium kaki-Mu." "Kenapa kau begitu cepat kembali, Lin-chi?" "Shi-fu, ijinkan murid yang dungu ini berterima kasih karena telah mencicipi rasa pukulan tongkat-Mu." "Ha Ha Ha Ha Ha Ha Ha Ha. Pergilah Lin-chi, kini Kau bukan lagi muridku. Kini Kau adalah Buddha, Kesadaran Yang Telah Terjaga." "Tidak, Shi-fu. Aku bukanlah Buddha, aku hanyalah Lin-chi, murid paling dungu dari seorang Buddha bernama Huang-po." "Kemarilah Lin-chi. Kini, tempat-Mu ada di sini, tepat di hati ini." Saat Lin-chi mencium kaki Huang-po: hati-Nya damai di dalam cinta; batinnya-Nya cerlang dan waskita; tubuh-Nya dharma seurat semesta. Kini: Ia adalah Langit adalah Awan-awan adalah Pelangi adalah Gerimis adalah Halaman sebuah Kuil adalah setangkai Bunga Ceri adalah Riak di Kolam adalah Kolam itu sendiri. "Ah! Tak ada sebutir debu pun di dalam pikiranku. Tak ada pikiran. Tak ada aku. Segalanya adalah Mu adalah Mu adalah Mu... Shi-fu." Tak! Keterangan: Lin-Chi atau Rinzai (dalam Bahasa Jepang) adalah seorang Guru Zen (Shi-fu Chan, dalam bahasa Cina) yang hidup di Cina pada tahun 816 - 866 Masehi. Sebagai seorang Guru Zen, metode mengajarnya sangat unik, sehingga Osho seorang Guru Spiritual dari India pada abad ke-20 menjuluki Rinzai sebagai "The Master of Irasional". Gaya mengajarnya tidak lazim seperti Guru Zen lain pada masanya, yaitu dengan menggunakan teriakan: "Hah!", dengan cekikan, tamparan, bantingan, dan cerita-cerita paradoks yang sekarang dikenal dengan istilah "koan" (gong-an, dalam bahasa Cina). Di tangan Rinzai, ajaran Zen berkembang tidak sekedar menjadi satu sekte dalam Buddhisme, melainkan berkembang menjadi ajaran "Spiritual Universal". Bagi Rinzai istilah Buddha, Dharma, Kebenaran, Zen, Akalbudi, Perasaan, Kesadaran, Aktivitas Sehari-hari, dan Benda-benda adalah "Esa". Semua itu hanyalah sekedar istilah untuk mengungkapkan "Keadaan-Murni" yang sama, yang dalam tradisi sufi disebut sebagai "Tauhid", atau Keesaan-Segala-Sesuatu, atau Keberadaan itu sendiri. Zen dari Rinzai kemudian berkembang sangat pesat di Jepang menjadi salah satu sekte tersendiri yang sekarang disebut sebagai "Sekte Rinzai". <http://www.facebook.com/photo.php?pid=328900&op=1&view=all&subj=8779494\ 0883&aid=-1&oid=87794940883&id=1365876242> Lin-chi atau Rinzai Ahmad Yulden Erwin's NotesMuhammad Amin <http://www.facebook.com/profile.php?id=557092165> at 7:56pm March 31Terima kasih atas pukulan tongkatnya di kepalaku Brother Erwin....;-) Denny Turner at 8:00pm March 31terima kasih banyak . . . Simon Charlie <http://www.facebook.com/profile.php?id=1577809037> at 8:08pm March 31tak....hehe...beautiful;> Nyi Raden Sovi Savitri <http://www.facebook.com/profile.php?id=1365965144> at 8:26pm March 31Terima KASIH CINTA.. Narendra Ugik <http://www.facebook.com/profile.php?id=1348444610> at 11:53pm March 31ijinkan saya mengucap mantra sakti : "ngerti ga ngerti terimalah.."...TAK!!! Ma'ruf Izzaman <http://www.facebook.com/s.php?k=100000080&id=1666584540> at 12:30am April 1TAK! bangun! Gautama Adi Kusuma <http://www.facebook.com/s.php?k=100000080&id=648660064> at 1:11am April 1Sayangnya, banyak orang yang, jangankan digetok, dikritik sedikitpun langsung mendidih darahnya, dan akhirnya menghalalkan darah orang lain. Pelajaran berharga, Shi-fu Erwin.

