HR Tubuh dan Darah Kristus:
Kel 24:3-8; Ibr 9:11-15; Mrk 14:12:16.22-26
"Ambillah, inilah tubuh-Ku."
“Yang akan menerima Ekaristi mahakudus, hendaknya berpantang dari segala
macam makanan dan minuman selama waktu
sekurang-kurangnya satu jam sebelum komuni, terkecuali air semata-mata dan
obat-obatan” (KHK kan 919.1).
Maksud dari hukum atau aturan ini kiranya adalah bahwa setiap kali akan
berpartisipasi di dalam Perayaan Ekaristi serta menyambut Tubuh Kristus atau
menerima komuni kudus hendaknya diadakan persiapan yang memadai. Jika
dicermarti kebanyakan umat di kota-kota besar nampak kurang ada persiapan dalam
rangka berpartisipasi dalam Perayaaan Ekaristi, bahkan cukup banyak yang datang
terlambat; sebaliknya di pedesaan cukup banyak umat datang lebih awal dan
kemudian berdoa didalam gereja, antara lain berdosa rosario.
Maka dalam rangka merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus hari ini saya
mengajak anda sekalian untuk berrefleksi atau mawas diri perihal keterlibatan
kita dalam Perayaan Ekaristi serta menyambut komuni kudus.
"Ambillah,
inilah tubuh-Ku…Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak
orang.”
“Perayaan Ekaristi adalah tindakan Kristus sendiri dan Gereja; di
dalamnya Kristus Tuhan, melalui pelayanan imam, mempersembahkan diriNya kepada
Allah Bapa dengan kehadiranNya secara substansial dalam rupa roti dan anggur,
serta memberikan diriNya sebagai santapan rohani kepada uamt beriman yang
menggabungkan diri dalam persembahanNya” (KHK kan 899.1). Tata
Perayaan Ekaristi terdiri dari atau meliputi: (1) Ritus Pembuka, (2) Liturgi
Sabda, (3) Liturgi Ekaristi dan (4) Ritus Penutup, maka baiklah saya sampaikan
secara sederhana arti, makna atau maksud dari setiap bagian tersebut:
(1)
Ritus Pembuka. Di dalam pembukaan
kita diajak untuk menyadari dan menghayati kelemahan, kerapuhan dan dosa-dosa
kita yaitu dengan doa Tobat. Maka baiklah dalam bagian pembukaan ini kita
mengenangkan aneka macam janji yang telah kita ikrarkan: sejauh mana kita setia
dan taat pada janji-janji tersebut. Sebagai contoh adalah janji baptis, dimana
kita pernah berjanji ‘hanya mau mengabdi
Tuhan Allah saja dan menolak semua godaan setan’. Marilah kita memeriksa batin
atau hati kita
masing-masing: apakah semakin cenderung mengabdi Tuhan Allah atau mengikuti
godaan setan. Jika ada kesalahan dan dosa-dosa dalam diri kita marilah bertobat
atau memperbaharui diri dengan bantuan kasih pengampunan Tuhan. Salah satu
usaha untuk bertobat atau memperbaharui diri antara lain kita dapat
mendengarkan dan merenungkan Sabda Tuhan yang akan dibacakan maupun dikotbahkan
dalam Liturgi Sabda.
(2)
Liturgi Sabda. Dalam bagian ini
kepada kita dibacakan sabda Tuhan sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci,
yang ditulis dalam dan oleh ilham Roh. “Segala
tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk
menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam
kebenaran” (2Tim 3:16). Di dalam bagian ini kiranya apa yang diharapkan
dari kita semua adalah ‘mendengarkan’ (bukan mendengar). Agar kita dapat
mendengarkan
sabda Tuhan dengan baik, hendaknya bersikap rendah hati, membuka hati, jiwa,
pikiran dan tubuh terhadap apa yang disabdakan oleh Tuhan. Jika kita sungguh
dapat dengan rendah hati mendengarkan sabda Tuhan, maka kita akan tergerak
untuk mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, yang dalam Perayaan Ekaristi
ini diberi kesempatan untuk mewujudkannya dalam bentuk persembahan harta
benda/uang maupun doa-doa; kita siap untuk memasuki Liturgi Ekaristi.
(3)
Liturgi Ekaristi. Liturgi Ekaristi
terdiri dari tiga bagian: Persiapan Persembahan, Doa Syukur Agung dan Komuni.
Di dalam persembahan kita persembahkan bersama uang/kolekte, hasil jerih payah
kita atau hasil bumi (bunga atau buah), doa-doa permohonan serta roti dan
anggur. Dalam memberi persembahan uang atau kolekte hendaknya kita meneladan
janda miskin yang memberi persembahan dari kekurangannya bukan kelebihannya. Di
dalam doa permohonan selain yang telah disiapkan oleh Panitia Luturgi
sebagaimana tertulis dalam buku Liturgi juga dapat ditambahkan ujud atau
intensi umat. Persembahan roti dan anggur akan menjadi bahan untuk mengenangkan
perjamuan malam dimana Yesus memberikan diriNya/tubuh dan darahNya dalam rupa
roti dan anggur. Roti dan anggur dikonsekrasikan dalam Doa Syukur Agung oleh
imam menjadi tubuh dan darah Kristus. Dalam upacara Komuni “setiap orang yang
telah dibaptis dan tidak
dilarang oleh hukum, dapat dan harus diizinkan untuk menerima komuni suci” (KHK
kan 912). Dengan menerima komuni
suci berarti kita disatukan dengan Yesus Kristus, dan dengan demikian kita juga
diutus untuk mewartakan Kabar Baik di dalam hidup sehari-hari kita. Tugas
pengutusan ini kita ikuti didalam Ritus Penutup. .
(4)
Ritus Penutup Didalam Ritus Penutup ini antara lain kita
menerima berkat Tuhan serta tugas pengutusan. “Marilah pergi! Kita diutus”,
demikian
ajakan imam, pemimpin ibadat dan kita jawab “Amin”, yang berarti kita dengan
positif menyutui ajakan tersebut serta akan melaksanakan tugas pengutusan
dalam hidup sehari-hari.
Tema atau bahan tugas pengutusan kiranya dapat diambil dari bacaan Sabda
Tuhan/Kitab Suci atau bahan renungan/kotbah pengkotbah, yang telah disampaikan
dalam Perayaan Ekaristi yang kita ikuti.
“Jika
darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda
menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah,
betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan
diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan
menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita
dapat beribadah kepada Allah yang hidup”(Ibr 9:13-14)
Dengan menerima komuni suci kita
dipanggil untuk “menyucikan hati nurani
kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia” dalam dan melalui aneka kesibukan,
pelayanan,
pekerjaan kita sehari-hari dimanapun dan kapanpun, “beribadah kepada Allah yang
hidup”. Mayoritas waktu dan tenaga kita
setiap hati untuk mendunia, berpartisipasi dalam aneka macam seluk-beluk
duniawi. Hendaknya kita tidak melakukan apa-apa atau segala sesuatu yang
sia-sia, yang semakin menjauhkan diri kita dari Tuhan, Marilah kita senantiasa
melakukan apa yang baik dalam hidup mendunia, karena dengan dan melalui
perbuatan baik hati naruni kita juga semakin disucikan, dijernihkan serta
dicerdaskan, sehingga kita semakin cerdas secara spiritual.
“Beribadah kepada Allah yang
hidup” dalam hidup sehari-hari itulah panggilan kita, yang berarti entah
belajar atau bekerja kita hayati bagaikan beribadah, belajar dan bekerja
adalah ibadah kepada
Allah. Jika belajar atau bekerja sebagai ibadah kepada Allah berarti rekan
kerja atau belajar adalah rekan beribadah, sarana-prasarana belajar atau
bekerja adalah sarana-prasarana ibadah, suasana adalah suasana ibadah. Sikap
hormat, sopan, hening, serius dan bersama-sama itulah yang terjadi selama
beribadah, maka sikap yang sama hendaknya juga terjadi baik dalam belajar
maupun bekerja. Karena kita telah makan ‘roti yang satu dan sama’ yaitu tubuh
Kristus, maka kita semua disatukan dalam Kristus, sehingga kita hidup dalam
persaudaraan atau persahabatan sejati, saling menghormati, memuji, memuliakan
dan melayani.
“Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?Aku
akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN, Berharga di
mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya. Aku hamba-Mu, anak dari
hamba-Mu perempuan! Engkau telah membuka ikatan-ikatanku!Aku akan
mempersembahkan korban syukur kepada-Mu, dan akan menyerukan nama TUHAN, akan
membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umat-Nya”
(Mzm 116:12-13.15.16bc-18) .
Jakarta,
14 Juni 2009
Lebih bersih, Lebih baik, Lebih cepat - Yahoo! Mail: Kini tanpa iklan.
Rasakan bedanya! http://id.mail.yahoo.com