wah menarik sekali membaca tulisan pa Lutfi ini. Lucu dan kritiknya tajam.

truthseeker
------------------------------


Angel on Kaaba, demikianlah judul yang tertulis di atas layar blackberry
milik seorang mahasiswi saya. Sambil berucap “Subhanallah DR. Lutfi,
Subhanallah. Saya jadi merinding melihatnya” ia menyodorkan BBnya ke telapak
tangan saya,  berharap saya juga memperlihatkan respond keterkejutan yang
sama. Namun, alih-alih terkejut saya hanya lirih menjawab datar:

“Oh yang itu. Kebetulan saya pernah melihatnya di teve. Saya masih ada  banyak
file semacam itu kalau anda mau lihat.”

Lalu saya buka file-file di laptop saya, berbagai file dan gambar yang
memperlihatkan mu’jizat2 semacam itu. Tak terhitung berapa kali murid saya
berdecak kagum dan mengagungkan azma Allah.

Setelah selesai semua file di perlihatkan. Ia berucap “Subhanallah, maha
suci Allah dengan segala firmannya. Saya merinding sekujur2, Pa”.

Kemudian saya menutup laptop dan menerangkan, “ tapi Dik, masalahnya semua
file yang saya perlihatkan pada Adik, semuanya terbukti hoax alias rekayasa,
alias tipu-tipuan. “

“Hah, mana mungkin?”

“Apanya yang mana mungkin? Berkat teknologi, tidak ada yang tidak mungkin.
Dan tentang file Angel on Kaaba itu , bukan hanya saya tidak percaya
keasliannya, tapi juga saya percaya yaqin haqul yaqin bahwa file itu asli
rekayasa dan bertujuan untuk membodoh-bodohi.”


“Tapi Doktor Lutfi, saya langsung  merinding dan takjub melihat semua file
itu.”

“Ya … itu kan masalah psikologis manusia. Itu sama sekali tidak membuktikan
bahwa kejadian itu benar-benar asli. Kalau anda dicium dengan mesra dibagian
tengkuk oleh pacar anda, khan chemistry yang ditimbulkan juga sama, tokh?
Bedanya anda tidak akan berucap subhanalllah, tapi *oh yes, oh no *dan *oh
my god*. “ seringai saya polos. Sementara ia tersipu dan pipinya memerah.

“Religion is a matter of psychology…. Manusia senang dengan sensasi-sensasi
psikologis seperti ketenangan, merinding, melankholi, dll, dan agama
memanfaatkan kehausan manusia akan sensasi-sensasi itu. Namun tidak berarti
bahwa agama itu lantas benar hanya karena sensasi-sensasi yang ditimbulkan
dari moment2 semacam itu.”

“Orang islam merasa tenang dan mengalami moment of transcendent ketika
wiridan, orang Kristen kharismatik merasakan sensasi yang sama ketika
berbahasa roh, orang buddha dan hindu merasakan sensasi yang sama ketika
membaca mantra dan meditasi, nah kalau semua merasakan ketenangan yang sama,
berarti kita tidak perlu beranggapan kalau wiridan itu hanya satu-satunya
jalan untuk mencapai moment-moment ilahi atau merasa islam itu satu-satunya
jalan menuju tuhan, lha wong semua orang di semua agama juga merasakan hal
yang sama dengan metoda mereka. Yang jelas di sini yang berperan adalah
psikologi belaka. Bahkan buat para saintis yang kebanyakan atheis atau
agnotis, mereka merasakan moment of transcendence ketika bergaul dengan
alam, mengamati grand canyon, meneropong angkasa raya, menelaah kompleksitas
bakteri dan virus dsb. Chemistry yang sama di dapat dengan cara yang berbeda
dan bahkan lewat kacamata pandang ketuhanan yang berbeda pula. Jadi apa
spesialnya dengan kemerindingan anda melihat angel on Kaaba itu?

Coba adik pikir, seandainya kejadian di kabah itu benar, seharusnya ia
terlihat oleh ratusan atau jutaan orang yang sedang tawaf, dan tak lama
setelah itu otoritas perhajian di Arab Saudi akan mengumumkan mujizat itu,
kenyataannya khan tidak. Tidak ada keterangan resmi dari kerajaan Arab Saudi
untuk hal tersebut. Seharusnya jutaan orang yang tawaf itu mengabarkan hal
yang sama serempak kepada keluarga nya di seluruh dunia.  Faktanya kita pun
hanya tahu lewat file yang di download lewat youtube.”

“oh iya yah…. “ ucap sang mahasiswi itu lemas.

“Saya ingin membuat adik melihat point-point penting dari kejadian ini,
begini:

**

*Pertama*, adanya mujizat dalam suatu agama, tidak membuktikan keabsahan
agama tersebut. Kalau kita memakai klausula tersebut, maka agama Kristen dan
hindu  jelas2 terbukti benar, karena banyak laporan didapati tentang patung
yesus yang mengeluarkan darah, patung maria yang menangis, atau juga
pengalaman stigmata dari beberapa imam katolik dimana tangannya mengeluarkan
darah dsb. Yang unik lagi di agama hindu, patung ganesha bisa menyedot susu
yang dipersembahkan ke hadapannya, dan ini terjadi tidak satu dua patung,
tapi di banyak tempat di hari yang sama ketika umat hindu merayakan hari
dewa ganesha.

**

*Kedua*, kita harus jujur pada intelektualitas kita sendiri.  99 % niat baik
untuk membuat orang taubat, tidak boleh ditambahi dengan 1% kebohongan
dengan merekayasa file, film dan cerita.

Kalau terhadap mujizat2 dalam agama lain orang islam bisa berkilah, “ah itu
kan mungkin  jin kafir yang berbuat, atau setan yang lagi cari sensasi, ”
maka hal yang sama bisa dipakai oleh non-muslim terhadap mujizat2  islam,
“ah itu khan jin islam atau setan yang lagi ga ada kerjaan.”

*The bottom idea is* logika yang sama harus kita pakai untuk setiap
penilaian, bukan standar ganda.   Kalau kita pakai alasan Allah kan maha
besar, bisa melakukan mujizat apapun, kalo begitu dengan alasan yang sama
orang Kristen akan bilang “Allah itu maha besar sehingga ia bisa mawujud
menjadi seorang manusia yang adalah yesus atau isa almasih, jadi isa itu
tuhan yang mawujud,” nah alibinya  kan sama juga. Jadi jujurlah. Mengajak
orang lain taubat, atau menyi’arkan agama kita tidak boleh dengan pola-pola
kampungan yang hanya akan membuat malu diri kita sendiri.

Jujur, tegas dan adil seperti tulisan Pong Haryatmo di atap gedung DPR tempo
hari lalu, demikianlah seharusnya kita beragama. Kita tegas menentang
kristenisasi dengan cara membagi-bagikan indomie, kita juga harus tegas
mengutuk dan menentang kelakuan HTI, FPI, dan para eskstrimis lainnya yang
hanya mengedepankan kekerasan dan ingin menyeret  negara ini ke dalam
pusaran kebodohan, kekerasan dan kemunduran dengan mengganti demokrasi
dengan syariat islam. ”

Mahasiswi ini termenung sejenak, termanggut-manggut dan berkata, “Trima
kasih Doktor Lutfi. Semua penjelasan bapak begitu gamblang, jelas,sederhana,
tandas, logis dan benar. Saya ingin berbagi misi dengan bapak, untuk
menyebarkan agama tanpa mitos dan kekerasan.”
Begitulah cara saya menyadarkan setiap orang dalam lingkaran pengaruh saya,
yakni bersikap jujur, tegas dan adil, seru sekalian alam.


Kirim email ke