Salam,
 Meskipun belum matang untuk menjadi capres tahun  2014, tetapi otak Budiman 
Sudjatmiko  pasti lebih unggul ketimbang Bakrie ,Prabowo, Kalla apalagi 
Megawati.

Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Sen, 13/6/11, Mira Wijaya Kusuma <[email protected]> menulis:


Dari: Mira Wijaya Kusuma <[email protected]>
Judul: [Mayapada Prana] Brazil di Mata Budiman Sudjatmiko oleh Priyanto B. 
Nugroho
Kepada: "sastra pembebasan" <[email protected]>
Cc: "TE 2003" <[email protected]>
Tanggal: Senin, 13 Juni, 2011, 8:32 PM


  





Brazil di Mata Budiman Sudjatmiko

Oleh Priyanto B. Nugroho





Dalam tulisannya di Kompas edisi Sabtu, 11 Juni 2011 berjudul ‘Sosialisme ala 
Lula’, Budiman Sudjatmiko menyoroti keberhasilan kepemimpinan presiden Brazil 
berhaluan sosialis, Luiz Inácio Lula da Silva. Presiden Lula, demikian tokoh 
ini popular dipanggil, memang dinilai sebagai tokoh yang berhasil dalam 
meningkatkan perekonomian negaranya selama 2 periode kepemimpinannya. Majalah 
Newsweek bahkan menyebutnya sebagai politisi paling terkenal di Bumi, the most 
popular politician on Earth, (Newsweek, 22 September 2009). 



 
Brazil - Rio De Janeiro (Priyanto B. Nugroho)


Meski demikian, artikel Budiman Sudjatmiko tadi terasa kurang lengkap karena 
tidak menyorot pula besarnya ‘ongkos’ kebijakan yang harus ditanggung Brazil 
untuk mewujudkan pencapaiannya saat ini. Keutuhan ini penting agar acuan 
keberhasilan presiden Lula menjadi semakin utuh, termasuk tentunya 
‘keberaniannya’ sebagai pemimpin dalam memilih prioritas progam dan 
mengeksekusinya.

Dengan ‘jabatan’ Budiman Sudjatmiko saat ini sebagai anggota DPR dan terlebih 
saat ini Komisi XI DPR sedang mulai membahas APBN 2012, pandangan yang 
menyeluruh atas referensi pilihan kebijakan ekonomi jelas akan sangat membantu 
dalam mengkritisi politik anggaran yang diajukan pemerintah. Dengan melihat 
secara utuh, akan lebih realistis dalam menggambarkan pilihan-pilihan aliran 
pembangunan ekonomi dan biaya serta konsekuensinya.

Kita tahu, Brazil bersama dengan 4 sekawan lainnya yang tergabung dalam Brics 
(Brazil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan) memang menjadi simbol kekuatan 
ekonomi baru dunia, juga dalam konteks percaturan geopolitik. Juga ketika 
gerakan berbau sosialis semakin mengemuka, setelah sistem kapitalis liberal 
terbukti runtuh saat krisis 2008 lalu.

Betapa pentingnya Brazil Ini misalnya, terlihat dari kandidat managing director 
IMF terkuat saat ini, Christine Lagarde dari Perancis, yang menjadikan Brazil 
sebagai negara pertama yang dikunjunginya untuk memperoleh dukungan dari 
kelompok negara berkembang. Di sisi lain, Brazil tidak menunjukkan dukungan 
secara terbuka terhadap satu-satunya kandidat dari negara berkembang, yang juga 
adalah tetangganya, yaitu Agustin Carsten, gubernur bank sentral Mexico. 
Strategi Brazil dalam kancah geopolitik seperti ini memang sangat menarik dan 
menunjukkan bagaimana Brazil ingin menjaga ‘peran pentingnya’ dalam percaturan 
ekonomi dan politik dunia.

Maka tepat sekali bila Politisi muda Indonesia yang menjanjikan ini, yang 
namanya mencuat sejak kericuhan di markas PDIP 27 Juli 1996 yang melibatkan 
organisasinya waktu itu, Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan kini ‘berbalik’ 
bergabung dengan PDIP, menjadikan Brazil sebagai salah satu contoh 
keberhasilan. Apalagi, kini presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga sedang 
dalam masa pemerintahannya yang kedua.

Sayangnya, dalam tulisannya di Kompas, Budiman tidak secara eksplisit 
membandingkan hasil nyata kemajuan yang dicapai antara Lula dan SBY yang 
sama-sama memiliki dua periode kepemimpinan. Sebenarnya hal ini akan semakin 
relevan mengingat saat ini, tuntutan bukti konkrit atas keberhasilan 
program-program pemerintahan SBY semakin menguat.

Bukan itu saja, Indonesia juga akhir-akhir ini seringkali dibandingkan dengan 
Brazil dari sisi kekuatan ekonominya. Beberapa analis ekonomi dunia beberapa 
kali menyebutkan Indonesia akan segera layak mengisi huruf ‘I’ yang lain dalam 
Brics, menjadi Briics misalnya. Bahkan, seorang analis ekonomi Deutsche Bank 
yang bermarkas di Singapura, Taimur Baig, baru-baru ini mengeluarkan analisis 
berjudul ‘Is Indonesia the next Brazil?’ (CNBC, 24 Mei 2011).

Analis Deutsche Bank tersebut mencoba membandingkan perekonomian Indonesia 
dengan perekonomian Brazil sepuluh tahun yang lalu. Tentu dari kacamata 
kepentingan investor.

Brazil dan Indonesia, bersama dengan beberapa negara berkembang memang sedang 
menjadi sasaran pemburu rente sedunia untuk meraup keuntungan setelah 
perekonomian negara maju luluh lantak sejak krisis global 2008 yang lalu. 
Menurutnya, Indonesia berpotensi akan mencapai tingkat perekonomian seperti 
Brazil saat ini, dalam dekade mendatang. Tentu dengan sejumlah ‘PR’ yang kita 
semua sudah hafal, utamaya ‘institutional building’, atau reformasi birokrasi. 
dan tentunya kepastian hukum. Dikatakannya, Indonesia saat ini mirip dengan 
situasi Brazil 10 tahun yang lalu.

Saya ingin menyorot dua aspek yang dijadikan contoh keberhasilan program 
pembangunan presiden Lula oleh Budiman Sudjatmiko.

Pertama, terkait dengan perbankan Brazil dan upaya presiden Lula untuk 
mematahkan mitos ‘neoliberal’ bahwa pemerintah harus mengutamakan ekspor.

Untuk melawan mitos tadi, yaitu mengurangi ketergantungan pada kekuatan ekspor 
semata, presiden Lula memerintahkan perbankannya untuk mendorong kegiatan 
ekonomi domestik dengan memberikan kredit murah kepada sektor pertanian. Konon 
bunganya hanya 3% per tahun.

Selain itu, bank-bank milik negara juga diperintahkan untuk memberikan kredit 
kepada para petani dengan suku bunga ‘negatif’! (paragraph 6).

Sangat sulit saya membayangkan bahwa kebijakan ini bisa berjalan. Apalagi suku 
bunga Brazil termasuk yang tertinggi di dunia saat ini. Jauh lebih tinggi dari 
suku bunga di Indonesia, dengan tingkat inflasi yang saat ini hampir sama, 
sekitar 6% (inflasi di Brazil per Mei 2011 sekitar 6,5%, sementara Indonesia 
5,98%). Berapa suku bunganya?

Suku bunga yang ditetapkan bank sentral Brazil saat ini (disebut Selic Rate, 
semacam BI Rate di Indonesia) adalah 12,25%! Bayangkan, ada selisih lebih dari 
6 % terhadap tingkat inflasinya untuk sebuah negara yang sudah tergolong 
‘investment grade’ dan sedang berupaya menahan pula penguatan mata uangnya 
akibat aliran hot money. Bandingkan dengan BI Rate yang saat ini ‘hanya’ 6,75%. 
Padahal Indonesia belum secara ‘de jure’ masuk dalam kategori ‘investment 
grade’.

Kebijakan suku bunga Brazil ini, yang merupakan cerminan komitmen Brazil yang 
menjadikan inflasi sebagai musuh utama bangsa, tentunya tak ringan ongkosnya.

Bayangkan apa yang terjadi di bank sentralnya, yang meskipun juga memiliki 
status independen dalam menjalankan kebijakan moneternya, namun struktur 
politiknya menjadikan bank sentral Brazil sebagai anggota dari ‘dewan moneter’. 
Setiap dollar yang dibeli untuk intervensi menahan penguayan nilai tukar 
Brazilian Real agar tidak terlalu menguat, akan mengalami kerugian (negatif 
spread) sebesar lebih dari 10%. Dollar yang dibeli sebagai hasil intevensi ini 
sering disebut sebagai cadangan devisa dan oleh bank sentralnya sebagian besar 
ditanamkan dalam surat utang pemerintah AS (US Treasury).

Cadangan devisa Brazil saat ini sekitar 328 milyar US Dollar, sementara 
Indonesia sedikit di bawah 120 milyar. Bisa dibayangkan besarnya ‘kerugian’ 
yang harus dialami bank sentral Brazil sebagai ongkos kebijakannya. Tak heran, 
setiap tahun bank sentral Brazil mencatat kerugian secara akuntansi yang cukup 
besar. Dan di sana, kerugian seperti ini langsung menjadi beban Negara.

Nah, kembali ke kebijakan terhadap perbankannya tadi. Dengan suku bunga 
domestiknya sebesar 12.25%, sementara bank diminta menyalurkan kredit ke sektor 
pertanian dengan bunga 3% dan bahkan ‘negatif’ kepada para petani, sulit 
membayangkan bagaimana perbankannya bisa bertahan. Apalagi ini juga tanpa 
risiko bagi pemerintah Brazil karena di neraca bank komersialnya, ada sekitar 
50% asetnya berupa surat utang negara (SUN kalau di sini).

Konon, memang referensi untuk melihat struktur dan karakter neraca perbankan 
yang ‘pas’ untuk Indonesia adalah perbankan Brazil. Di perbankan Indonesia, 
khususnya bank-bank yang dulu di rekap, jumlah SUN dan juga penempatan 
kelebihan dana di Bank Indonesia mencapai sekitar 30%.

Namun bisa jadi, perbankan Brazil ini hanya ‘menyalurkan’ dana pemerintah 
sehingga tetap mendapatkan ‘fee’, meski kecil, atas penyaluran kredit ke sektor 
pertanian dengan bunga 3% tersebut. Jelas, ongkos kebijakan ini besar bagi 
negara bila demikian. Meski memang keberpihakannya jelas. Paling tidak, manfaat 
dinikmati oleh industri pertanian dan para petani, bukan oleh para bankirnya. 
Tak banyak memang negara yang berani tegas dan keras, mengatur perbankannya 
seperti di Brazil.

Pertanyaannya tinggal apakah kebijakan ini bisa akan terus bertahan?

Brazil memang seringkali dinilai mengambil kebijakan yang ‘ekstrim’ dan 
pertanyaan serupa banyak ditujukan ke Brazil saat ini. Termasuk dalam bagaimana 
Brazil mengendalikan hot money yang mengalir deras masuk ke negaranya. Yang 
pasti, negara ‘sesosialis’ seperti Brazilpun tak menerapkan ‘capital control’ 
atau melarang modal asing!

Satu lagi, utang Pemerintah Brazil saat ini juga lebih tinggi dari Indonesia 
yang saat ini sekitar 30% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara itu 
defisit anggaran Pemerintah Brazil mencapai 1,9% dari PDB, sedangkan Indonesia 
masih lebih rendah.

Sementara itu, neraca perdagangan Brazil mengalami defisit beberapa tahun 
terakhir, sehingga sering dikatakan sebagai mengalami double deficit. Hal yang 
olehbanyak pihak dinilai sebagai penjelasan atas kenapa suku bunga domestik 
Brazil harus sedemikian tingginya, 2 kali lipat dari suku bunga di Indonesia. 
Tingginya suku bunga Brazil jelas mencerminkan ‘trade-off’ yang sangat mahal 
antara memerangi inflasi dengan mencegah derasnya aliran modal asing yang masuk.

Kedua, program bantuan langsung tunai ke rakyat miskin sebagai bagian dari 
Program Bolsa Familia. Program ini mengingatkan kita pada program Bantuan 
Langsung Tunai (BLT), yang oleh petinggi partai dimana Budiman Sudjatmiko saat 
ini bergabung, sebagai ‘mendidik jiwa pengemis’ meski belakangan pernyataan 
tadi dikoreksi.

Bedanya dengan BLT, penyaluran dana tunai ke masyarakat ini di Brazil dilakukan 
dengan memberikan kartu ATM kepada masyarakat miskin. Dengan demikian, mudah 
pengawasannya dan terhindar dari kemungkinan penyalahgunaan oleh aparat,, 
termasuk untuk kepentingan propaganda politik. Sementara di Indonesia, 
penyaluran dilakukan melalui perangkat pemerintahan di daerah-daerah.

Apapun, Brazil memang layak dijadikan acuan, meskipun tak mudah membaca seluruh 
rangkaian program atau kebijakan ekonomi makronya. Ibaratnya, merupakan sebuah 
‘puzzle’ yang rumit yang tidak akan akurat sebagai acuan bila tak melihatnya 
secara utuh. Yang pasti, keberanian pemimpinnya dalam mengambil pilihan 
kebijakan dan mengeksekusinya patut ditiru. Tentu ini juga tak lepas dari 
tingkat kematangan pemimpin bangsa dan para politisinya.

Bovespa, bursa saham Brazil, yang disebut pula oleh Budiman Sudjatmiko sebagai 
contoh kemajuan pasar keuangan dan menjadi bursa saham penting di Amerika Latin 
(dan dunia), kemajuannya tak lepas dari langkah privatisasi yang ditempuh 
pemerintahan sebelum masa presiden Lula. langkah yang sebenarnya tidak disukai 
oleh presiden Lula. Di sini, kedewasaan berpolitik presiden Lula terlihat dari 
pernyataannya, yang menyatakan: ‘I think privatization was a mistake, but I had 
to work to do. I couldn’t afford to spend my mandate fighting with the old 
government’.

Lula juga tidak kecanduan dengan kekuasaan, sehingga tidak tergoda untuk 
mengamandemend UU sekedar untuk menduduki tahta ketiga kalinya. Hal yang semula 
banyak diragukan. Lula terlihat benar menyadari bahwa dibalik setiap kekuasaan 
dan kewenangan adalah tanggung jawab.

Satu hal yang memang layak menjadi panutan dari kepemimpinan presiden Lula ada 
jiwa besarnya untuk melihat ke depan, tidak terbelenggu dengan masa lalu. Juga, 
bukti kepemimpinannya secara nyata.

Berangkat dari Brazil dan pola kepemimpinan negara-negara di Amerika Latin yang 
cenderung berjiwa sosialis, atau model ekonomi state capitalism yang terus 
menguat dewasa ini, bukan tak mungkin bahwa dalam pemilu 2014 nanti, kandidat 
yang memiliki karaker berani dan tegas serta faham ekonomi yang ‘berbau’ 
sosialis akan memiliki peluang yang besar untuk menang.

Namun yang lebih penting dari semua itu adalah bahwa kemajuan pembangungan 
suatu bangsa yang nyata, akan lebih ditentukan oleh kematangan para pemimpin 
dan para politisinya. Kemana mereka berpihak dalam arti yang sebenarnya.

Ars Longa Vita Brevis …

(sumber: Kompas, Newsweek, CNBC, Bloomberg)

Artikel terkait:

Sucre, pengganti US Dollar ala Amerika Latin
Silahkan click: 
http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2011/05/23/sucre-pengganti-us-dollar-ala-amerika-latin
 






http://sastrapembebasan.wordpress.com/
http://tamanmiryanti.blogspot.com/
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/   







Kirim email ke