WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.


---------------------------------------------------------------------


Edisi ini diterbitkan pada:


Senin 21 Februari 2005 15:50 UTC


* NIAS HARUS BANGUN DIRINYA SENDIRI


Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Mungkin ini gambaran paling cocok untuk 
desa-desa pantai barat pulau Nias. Setelah dirundung kemiskinan yang sangat 
parah bertahun-tahun, mereka harus juga menderita terkena bencana tsunami. 
Sialnya lagi perhatian pemerintah terasa sangat lamban bahkan nyaris tak ada. 
Radio Nederland bersama relawan mengunjungi lokasi terpencil di pulau Nias di 
mana terdapat pos bantuan kemanusiaan swadaya masyarakat. Berikut laporan rekan 
Junito Drias dari Desa Orahilibadalu di Nias:



Beginilah perjuangan untuk mencapai penampungan pengungsi korban bencana 
tsunami di Nias. Mengendarai motor selama empat jam melewati jalan terjal 
berbatu, dan sering pula motor tersebut harus didorong. Tapi itu belumlah 
cukup. Karena sampai di ujung jalan, kami masih harus lagi berjalan kaki 
sepanjang empat kilometer naik turun bukit menuju desa Orahilibadalu, tempat 
terpencil di mana didirikan pos bantuan kemanusiaan. Saat itu sudah larut malam 
dan kami harus berjalan di tengah kegelapan, karena tidak ada listrik sama 
sekali di sana.  


Nggak nampak jalan di ke depan gimana? Nggak ada senter? Bikin oborlah. Tak 
nampak jalan ke depan, nanti kalau kepleset. Mau buat obor dulu kita?


Pos bantuan kemanusian desa Orahilibadalu bukanlah bentukan pemerintah. 
Melainkan dibuat secara swadaya oleh pemuda dan mahasiswa yang tergabung dalam 
kelompok Koordinasi Relawan Kemanusian Nias yang kemudian didukung oleh rakyat 
setempat. Menurut Sinufagule, kepala desa Orahilibadalu, pemerintah tidak 
pernah mengirimkan bantuan.


Sinufagule: Di daerah kita ini, merupakan simpang atau pertengahan di antara 
desa-desa yang telah kena tsunami. Kalau bantuan dari pemerintah tidak masuk 
Pak. Cuma, dari bantuan yang dikumpuli oleh saudara-saudara mahasiswa ini dari 
PGRI itulah yang pernah mereka terima. 


Setelah kepayahan berjalan kaki selama kurang lebih satu jam, akhirnya dari 
kejauhan kami melihat cahaya. Itu adalah lampu petromaks pos bantuan 
kemanusiaan. Hati kami lega. Karena kami akhirnya tiba di desa Orahilibadalu, 
setelah harus berjuang melewati jalan setapak berlumpur. Lebih terenyuh lagi 
karena ketika tiba, kami disambut nyanyian riang anak-anak kecil para 
pengungsi. Rasanya tak percaya melihat wajah anak-anak ini sama sekali tidak 
diliputi perasaan sedih atau takut setelah mengalami bencana tsunami.


Mereka secara serempak berteriak YAHOWU. Itu adalah salam persahabatan dalam 
bahasa Nias. Walau disambut meriah, itu semua belum mampu menutupi kenyataan 
bahwa desa Orahilibadalu sendiri terlihat suram, gelap dan miskin. Beberapa 
dari mereka memiliki listrik berkat genset pembangkit kecil yang hanya boleh 
hidup selama tiga sampai empat jam saja. Itupun dibeli dengan susah payah 
kadangkala sampai berhutang. Kendati begitu masyarakat desa tetap ikut 
berpartisipasi membantu dengan menampung para pengungsi di rumah-rumah 
sederhana mereka. Elisakti Halawa merupakan koordinator pos bantuan kemanusiaan 
Desa Orahilibadalu. Anak rantau Nias tersebut bersama relawan lainnya sudah 
hidup berhari-hari menolong para pengungsi di tempat itu. Menurut Elisakti 
tanpa bencana tsunamipun, Nias sebenarnya sangat layak dibantu.


Elisakti: Sepanjang pinggir pantai pulau Nias, itu memang pada prinsipnya tarap 
ekonominya sangat rendah. Tapi kemudian datang tsunami, mereka lebih parah 
lagi. Kalau selama ini makan nasi sekali, dengan bencana ya.. tidak makan nasi 
lagi. Sekarang makan sagu. Nah itu pun sagunya, karena badai, juga tsunami 
datang, itu kan sagu itu biasanya di tepi-tepi sungai yang dekat dengan laut. 
Itu juga dihantam semua. Dan kita terus berteriak, melalui lembaga agama, 
pemerintah. Tapi sepertinya mereka juga tidak mau peduli. Persoalan kurangnya 
bantuan aku pikir tidak kurang bantuan. Tapi mengapa tidak disalurkan? 
Sepertinya harus dibatasi misalnya. Tidak boleh tidak, ketika kita sudah harus 
berteriak di mana-mana, dan tidak ada yang mau peduli. Hanya satu cara bagi 
kita berdayakan sendiri masyarakatnya. Makanya kemandirian masyarakat harus 
dibangun, tidak boleh tidak, ketika semua orang, atau terutama pemerintah, 
tidak mau peduli dengan ini. Salah satu menurut kita adalah bagaimana caranya 
kita harus gotong royong 
sam


Pemberdayaan masyarakat nampak menjadi satu-satunya pemecahan atas masalah di 
Nias. Terlebih ketika pemerintah sangat lamban menangani daerah-daerah bencana 
di pesisir barat pulau tersebut. Yang jelas ini bakalan berdampak pula pada 
tingkat rasa percaya kepada pemerintah entah itu di tingkat pusat ataupun 
daerah. Saya Junito Drias melaporkan dari Medan, Sumatera Utara.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
Copyright Radio Nederland Wereldomroep. 
---------------------------------------------------------------------




==================================================
- Kunjungi [ http://medan.linux.or.id/ ]
   webserver didukung oleh PT. Media Antar Nusa 
   http://www.nusa.net.id/

- Untuk keluar dari milis ini silahkan kirim ke:
   [EMAIL PROTECTED]
==================================================
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/medan-linux/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke