"Yusa" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalamu'alaikum wr wb

Berikut saya dapat kiriman artikel tentang bulan Rajab
dari milis sebelah, seputar hadits-hadits keutamaan yang
di email di bawah disebut sebagai hadits yang palsu dsb.
Mohon dibaca, syukron.

Ada pendapat tentang hal ini?

Wassalam,
Yusa.



~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
BULAN RAJAB
 
Berikut ini kutipan terjemahan dari kitab
 
Al Fawaaid Al Majmu`ah fi Al Ahadiits Al Maudhu`ah,
hal. 100-101, dan hal. 439-440. Karya Syaikul Islam
Muhammad Bin `Ali As Syaukaniy (Wafat 1250 H): 

"Rajab adalah bulan Allah, Sya`ban bulan Saya (Rasulullah
Shollallahu `alaihi wa Sallam), sedangkan Ramadhan bulan
ummat Saya. Barang siapa berpuasa di bulan Rajab dua
hari, baginya pahala dua kali lipat, timbangan setiap lipatan
itu sama dengan gunung gunung yang ada di dunia, kemudian
disebutkan pahala bagi orang yang berpuasa empat hari,
enam hari, tujuah hari, delapan hari, dan seterusnya, sampai
disebutkan ganjaran bagi orang berpuasa lima belas hari. 

Hadits ini "Maudhu`" (Palsu). Dalam sanad hadits ini ada yg
bernama Abu Bakar bin Al Hasan An Naqqaasy, dia perawi
yang dituduh pendusta, Al Kasaaiy- rawi yang tidak dikenal
(Majhul). Hadits ini juga diriwayatkan oleh pengarang Allaalaiy
dari jalan Abi Sa`id Al Khudriy dengan sanad yang sama,
juga Ibnu Al Jauziy nukilan dari kitab Allaalaiy. 

"Barang siapa berpuasa tiga hari di bulan Rajab, sama nilainya
dia berpuasa sebulan penuh, barang siapa berpuasa tujuh hari
Allah Subhana wa Ta`ala akan menutupkan baginya tujuh pintu
neraka, barang siapa berpuasa delapan hari di bulan Rajab Allah
Ta`ala akan membukakan baginya delapan pintu sorga, siapapun
yang berpuasa setengah dari bulan Rajab itu Allah akan
menghisabnya dengan hisab yang mudah sekali." 

Diterangkan di dalam kitab Allaalaiy setelah pengarangnya
meriwayatkannya dari Abaan kemudian dari Anas secara Marfu`:
Hadits ini tidak Shohih, sebab Abaan adalah perawi yg ditinggalkan,
sedangkan `Amru bin Al Azhar pemalsu hadits, kemudian dia
jelaskan : Dikeluarkan juga oleh Abu As Syaikh dari jalan Ibnu
`Ulwaan dari Abaan, adapaun Ibnu `Ulwaan pemalsu hadits. 

"Sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan yang mulia. Barang
siapa berpuasa satu hari di bulan tersebut berarti sama nilainya
dia berpuasa seribu tahun-dan seterusnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Syaahin dari `Ali secara Marfu`. Dan
dijelaskan dalam kitab Allaalaiy : Hadits ini tak Shohih, sedangkan
Haruun bin `Antarah selalu meriwayatkan hadits-hadits yg munkar. 

"Barang siapa yg berpuasa di bulan Rajab satu hari sama nilainya
dia berpuasa sebulan penuh dan seterusnya".

Diriwayatkan oleh Al Khathiib dari jalan Abi Dzarr Marfu`. Di
sanadnya ada perawi : Al Furaat bin As Saaib, dia ini perawi yang
ditinggalkan.

Berkata Al Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya "Al Amaaliy" :
sepakat diriwayatkan hadist ini dari jalan Al Furaat bin As Saaib-
dia ini lemah- Rusydiin bin Sa`ad, dan Al Hakim bin Marwaan,
kedua perawi ini lemah juga. 

Sesungguhnya Al Baihaqiy juga meriwayatkan hadits ini di kitabnya :
"Syu`abul Iman" dari hadits Anas, yang artinya : "Siapapun yang
berpuasa satu hari di bulan Rajab sama nilainya dia berpuasa satu
tahun." Di menyebutkan hadits yang sangat panjang, akan tetapi
di sanad hadits ini juga ada perawi ; `Abdul Ghafuur Abu As
Shobaah Al Anshoriy, dia ini perawi yang ditinggalkan. Berkata
Ibnu Hibbaan : "Dia ini termasuk orang orang yang memalsukan
hadits". 

"Barang siapa yang menghidupkan satu malam bulan Rajab dan
berpuasa di siang harinya, Allah Ta`ala akan memberinya makanan
dari buah buahan sorga- dan seterusnya."

Diriwayatkan dalam kitab Allaalaiy dari jalan Al Husain bin `Ali
Marfu`: Berkata pengarang kitab : Hadits ini Maudhu` (palsu).

"Perbanyaklah Istighfar di bulan Rajab. Sesungguhnya Allah
Ta`ala membebaskan hamba hambanya setiap sa`at di bulan itu,
dan Sesungguhnya Allah Ta`ala mempunyai kota kota di Jannah-Nya
yg tidak akan dimasuki kecuali oleh orang yg berpuasa di bulan itu." 

Dikatakan dalam "Adz dzail" : Dalam sanadnya ada rawi namanya
Al Ashbagh : Tidak bisa dipercaya.

"Di bulan Rajab ada satu hari dan satu malam, siapapun yang
berpuasa di hari itu, dan mendirikan malamnya. Maka sama nilainya
dengan orang yang berpuasa seratus tahun dan seterusnya. 

Dikatakatan dalam "Adz dzail" : Di dalam sanadnya ada nama
rawi Hayyaj, dia adalah rawi yang ditinggalkan.

Dan demikian disebutkan tentang : "Berpuasa satu hari atau dua
hari di bulan itu."

Disebutkan juga dalam "Adz dzail : Sanad hadits ini penuh dengan
kegelapan sebahagian atas sebahagian lainnya, di dalam sanadnya
ada perawi perawi yang pendusta : Dan demikian diriwayatkan :
"Bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam berkhutbah pada hari
jum`at sepekan sebelum bulan Rajab. Rasulullah Shollallahu `alaihi
wa Sallam berkata : "Hai sekalian manusia! Sesungguhnya akan
datang kepada kalian satu bulan yang mulia. Rajab bulan adalah
bulan Allah yang Mulian, dilipat gandakan kebaikan di dalamnya,
do`a-do`a dikabulkan, kesusahan kesusahan akan di hilangkan."
Ini adalah Hadist yang Munkar. 

Dan dalam hadits yang lain : "Barang siapa berpuasa satu hari di
bulan Rajab, dan mendirikan satu malam dari malam malamnya,
maka Allah Tabaraka wa Ta`ala akan membangkitkannya dalam
keadaan aman nanti di hari Kiamat- dan seterusnya." 

Di dalam sanad hadits ini : Kadzaabun (para perawi pendusta).

Demikian juga hadits : "Barang siapa yang menghidupkan satu
malam di bulan Rajab, dan berpuasa disiang harinya: Allah akan
memberikan makanan buatnya buah buahan dari Sorga- dan
seterusnya." 

Di dalam sanadnya : Para perawi pembohong/pemalsu hadits.

Demikian juga hadits : "Rajab bulan Allah yang Mulia, dimana
Allah mengkhususkan bulan itu buat diri-Nya. Maka barang
siapa yang berpuasa satu hari di bulan itu dengan penuh keimanan
dan mengharapkan Ridho Allah, dia akan dimasukan ke dalam
Jannah Allah Ta`ala- dan seterusnya."

Di dalam sanadnya : Para perawi yang ditinggalkan.

Demikian juga hadits : "Rajab bulan Allah, Sya`ban bulan Saya
(Rasulullahu Shollallahu `alaihi wa Sallam, Ramadhan bulan
ummat Saya." Demikian juga hadits : "Keutamaan bulan Rajab
di atas bulan bulan lainnya ialah : seperti keutamaan Al Quran
atas seluruh perkataan perkataan lainnya- dan seterusnya." 

Berkata Al Imam Ibnu Hajar : Hadits ini Palsu.

Berkata `Ali bin Ibraahim Al `Atthor dalam satu risalahnya :
"Sesungguhnya apa apa yang diriwayatkan tentang keutamaan
tentang puasa di bulan Rajab, seluruhnya Palsu dan Lemah yang
tidak ada ashol sama sekali. Berkata dia : "`Abdullah Al Anshoriy
tak pernah puasa di bulan Rajab, dan dia melarangnya, kemudian
berkata : "Tidak ada yg shohih dari Nabi Muhammad Shollallahu
`alaihi wa Sallam satupun hadist mengenai keutamaan bulan Rajab.
" Kemudian dia berkata : Dan demikian juga : "Tentang amalan
amalan yg dikerjakan pada bulan ini : Seperti mengeluarkan Zakat
di dalam bulan Rajab tidak di bulan lainnya." Ini tidak ada ashol
sama sekali. 

Dan demikian juga, "dimana penduduk Makkah memperbanyak
`Umrah di bulan ini tidak seperti bulan lainnya." 
 
Ini tidak ada asal sama sekali sepanjang pengetahuan saya. Dia
berkata : "Diantara yang diada adakan oleh orang yang `awwam
ialah :
"Berpuasa di awal kamis di bulan Rajab," yang keseluruhannya
ini adalah : Bid`ah.  Adapun yang diriwayatkan tentang : "Bahwa
Allah Ta`ala memerintahkan Nabi Nuh `Alaihi wa Sallam untuk
membuat kapalnya di bulan Rajab ini, serta diperintahkan kamu
Mu`minin yang bersama dia untuk berpuasa di bulan ini." 
 
Ini Hadits Maudhu` (Palsu).
 
Diantara bid`ah bid`ah yang menyebar di bulan ini adalah : 

Sholat Ar Raghaaib

Sholat Ar Raghaaib ini diamalkan disetiap awal jum`at di bulan
Rajab.

Ketahuilah semoga Allah Tabaraka wa Ta`ala merahmatimu
bahwa mengagungkan hari ini, malam ini sesungguhnya diadakan
ke dalam Din Islam ini setelah abad ke empat Hijriyah. (Lihat
literatur berikut ini tentang bid`ahnya sholat Raghaib : 

1. "Iqtida` As Shiratul Mustaqim" : hal.283. Dan "Tulisan
Ilmiyah diantara dua orang Imam ; Al `Izz bin `Abdus Salam
dan Ibnu As Sholah sekitar Sholat Raghaaib."

2. "Al Ba`itsu `Ala Inkari Al Bida` wa Al Hawaadist" : hal. 39
dan seterusnya. 
3. "Al Madkhal" oleh Ibnu Al Haaj : 1/293.
4. "As Sunan wal Mubtadi`aat" : hal. 140.
5. "Tabyiinul `Ujab bima warada fi Fadhli Rajab" : hal. 47.
6. "Fataawa An Nawawiy" : hal. 26.
7. "Majmu` Al Fataawa oleh Ibnu Taimiyah" : 2/2. 
8. "Al Maudhuu`aat" : 2/124.
9. "Allaalaaiy Al mashnu`ah" : 2/57.
10. "Tanzihus Syari`ah" : 2/92.
11. "Al Mughni `anil Hifdzi wal Kitab" : hall. 297- serta
bantahannya : Jannatul Murtaab.
12. "Safarus Sa`adah" : hal. ! 15! 0. 

Sepakat `Ulama tentang hadits-hadits yang diriwayatkan
mengenai keutamaan bulan Rajab adalah palsu, sesungguhnya
telah diterangkan oleh sekelompok Al Muhaditsin tentang
palsunya hadits sholat Ar Raghaaib diantara mereka ialah :
Al Haafidz Ibnu hajar, Adz Dzahabiy, Al `Iraaqiy, Ibnu Al Jauziy,
Ibnu Taimiyah, An Nawawiy dan As Sayuthiy dan selain dari
mereka. Kandungan dari hadits-hadits yang palsu itu ialah
mengenai keutamaan berpuasa pada hari itu, mendirikan
malamnya, dinamakan "sholat Ar Raghaaib," para ahli Tahqiiq
di kalangan ahli ilmu telah melarang mengkhususkan hari tsb
untuk berpuasa, atau mendirikan malamnya melaksanakan
sholat dengan cara yg bid`ah ini, demikian juga pengagungan
hari tsb dengan cara membuat makanan-makanan yang
enak-enak, mengishtiharkan bentuk-bentuk yang indah-indah
dan selain yang demikian, dengan tujuan bahwa hari ini lebih
utama dari hari-hari yang lainnya. 

Sholat Ummu Daawud dipertengahan bulan Rajab

Demikian juga hari terakhir dipertengahan bulan Rajab,
dilaksanakan sholat yang dinamakan sholat "Ummu Daawud" ini
juga tidak ada asholnya sama sekali. "Iqtidaus Shiraatul Mustaqim":
hal. 293. 

Berkata Al Imam Al hafidz Abu Al Khatthaab : "Adapun sholat
Ar Raghaaib, yang dituduh sebagai pemalsu hadits ini ialah : `Ali
bin `Abdullah bin jahdham, dia memalsukan hadits ini dengan
menampilkan rawi rawi yg tidak dikenal, tidak terdapat di seluruh
kitab." Pembahasan Abu Al Khatthaab ini terdapat dalam :
"Al Baa`its `Ala Inkaril Bida` wal Ahadist" : hal. 40. 

Abul Hasan : `Ali bin `Abdullah bin Al Hasan bin Jahdham,
As Shufiy, pengarang kitab : "Bahjatul Asraar fit Tashauf". Berkata
Abul Fadhal bin Khairuun : Dia pendusta. Berkata selainnya : Dia
dituduh sebagai pemalsu hadits sholat Ar Raghaaib.
Lihat terjemahannya dalam : "Al `Ibir fi Khabar min Ghubar." :
(3/116), "Al Mizan" : (3/142), "Al Lisaan" : (4/238), "Maraatul 
Jinaan"
(3/28), "Al Muntadzim" : (8/14), "Al `Aqduts Tsamiin" : (6/179). 

Asal sholat ini sebagaimana diceritakan oleh : At Thurthuusyiy
dalam "kitabnya" : "Telah mengkhabarkan kepada saya Abu
Muhammad Al Maqdisiy, berkata Abu Syaamah dalam "Al Baa`its":
hal. 33 : "Saya berkata : Abu Muhammad ini perkiraan saya adalah
`Abdul `Aziz bin Ahmad bin `Abdu `Umar bin Ibraahim Al Maqdisiy,
telah meriwayatkan darinya Makkiy bin `Abdus Salam Ar Rumailiy
As Syahiid, disifatkan dia sebagai As Syaikh yang dipercaya,
Allahu A`lam." Berkata dia: tidak pernah sama sekali dikalangan kami
di Baitul Maqdis ini diamalkan sholat Ar Raghaaib, yaitu sholat yang
dilaksanakan di bulan Rajab dan Sya`ban. Inilah bid`ah yang pertama
kali muncul di sisi kami pada tahun 448 H, dimana ketika itu datang ke
tempat kami di Baitil Maqdis seorang laki laki dari Naabilis dikenal 
dgn
nama Ibnu Abil Hamraa`, suaranya sangat bagus sekali dalam membaca
Al Quran, pada malam pertengahan (malam keenam belas) di bulan
Sya`ban dia mendirikan sholat di Al Masjidil Aq! sh! a dan sholat
di belakangnya satu orang, lalu bergabung dengan orang ketiga dan
keempat, tidaklah dia menamatkan bacaan Al Quran kecuali telah sholat
bersamanya jama`ah yg banyak sekali, kemudian pada tahun selanjutnya,
banyak sekali manusia sholat bersamanya, setelah itu menyebarlah di
sekitar Al Masjidil Aqsha sholat tersebut, terus menyebar dan masuk ke
rumah rumah manusia lainnya, kemudian tetaplah pada zaman itu dimalkan
sholat tersebut yang seolah olah sudah menjadi satu sunnah di kalangan
masyarakat sampai pada hari kita ini. Dikatakan kepada laki laki yang
pertama kali mengada adakan sholat itu setelah dia meninggalkannya,
sesungguhnya kami melihat kamu mendirikan sholat ini dgn jama`ah. Dia
menjawab dgn mudah : "Saya akan minta ampun kepada Allah Ta`ala." 

Kemudian berkata Abu Syaamah : "Adapun sholat Rajab, tidak muncul
di sisi kami di Baitul Maqdis kecuali setelah tahun 480 H, kami tidak
pernah melihat dan mendengarnya sebelum ini." (Al Baa`itsu : hal.
32-33). 

Fatwa Ibnu As Sholaah tentang sholat Ar Raghaaib, Malam Nishfu
Sya`ban dan Sholat Al Alfiah.

Sesungguhnya As Syaikh Taqiyuddin Ibnu As Sholaah rahimahullah
Ta`ala pernah dimintai fatwa tentang hal ini, lalu beliau menjawab : 

"Adapun tentang sholat yang dikenal dengan sholat Ar Raghaaib adalah
bid`ah, hadits yang diriwayatkan tentangnya adalah palsu, dan tidaklah
sholat ini dikenal kecuali setelah tahun 400 H, tidak ada keutamaan
malamnya dari malam malam yang lainnya." 

wallahu a'lam

_________________________________
"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya,
dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan 
ia
leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami 
masukkan
ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali"
(QS. An-Nisa: 115)


[Non-text portions of this message have been removed]
--- End forwarded message ---





Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke