Layak tidak sih kita naik haji?
Assalamu'alaikum wr wb, Bismillahirrahmaanirrahiim.
Alhamdulillah, saya termasuk salah seorang yang dapat
kesempatan berhaji tahun 1425H ini. Terus terang saya masih
tergolong amatiran tapi saya ingin sekali dapat sesuatu dari
perjalanan ibadah ini dengan segala keterbatasan ilmu yang
saya miliki. Semoga apa yang saya alami, sekecil apapun itu,
tetep membekas di sisa hidup saya, amin.
Tulisan di bawah ini hanya sekedar apa yang sempat terfikir
oleh saya dari pengalaman pribadi selama lagi ada di tanah
suci. Maaf sekali kalau tulisan ini tidak sesuai dengan pendapat
orang lain yang juga kebetulan pernah kesana dengan tujuan
yang sama: umroh & haji.
Terus terang, setelah beberapa hari saya berada di Mekkah dan
Madinah, hadir di Masjid Haram dan Masjid Nabawi, saya
membagi pengunjung tempat-tempat suci itu jadi 3 kategori:
1. Ahli ibadah.
Di sini orang-orangnya bisa terlihat begitu larut dengan
ke-khusyuannya sendiri. Orang-orang ini sangat total, sepertinya
mereka asyik menikmati aktivitas yang sifatnya sangat pribadi
dan personal sekali. Ada yang sholat berkali-kali dan lama
sekali, ada yang lidahnya dzikir melulu, ada yang asyik mengaji
berjuz-juz, ada juga yang nangis sujud bertobat mengangkat
tangan tinggi-tinggi. Ciri-ciri fisik lainnya macam-macam, seperti
keningnya hitam, ada juga yang mata kakinya menebal kapalan,
atau ada yang kemana-mana selalu bawa tasbih.
2. Orang yang lupa kalau seharusnya dia ibadah.
Orang-orang ini bisa dibagi 3 :
A) Orang yang tidak perduli sama orang yang lagi ibadah
(sangat menyebalkan! mengganggu dan merusak konsentrasi
orang lain, misalnya: ada yang bergerombol tidak perduli
dorong-dorong dan nabrak orang lain yang sedang thawaf, ada
pimpinan gerombolan thawaf yang ber-doa keras-keras sekali,
ada yang tidak perduli tanpa perasaan bersalah mondar-mandir
didepan orang sholat, malah ada yang melangkahi orang
sujud).
B) Orang yang tidak perduli kalau dia ada di tempat ibadah
(sama-sama menyebalkan juga! Misalnya yang tidak perduli
bawa sendal-sepatu tidak diplastik ke dalam masjid trus
digeletakin begitu saja, atau yang buang gelas-gelas zamzam
sembarangan, jorok dan tidak menyiram "sampah" nya sendiri
di wc-wc masjid).
C) Gabungan 2 golongan tadi, alias tidak peduli orang ibadah
dan tidak peduli lagi di tempat ibadah (sudah tidak ada rasa
hormat sama orang lain juga sama rumah Allah, yang ini
rata-rata orangnya emosian, nafsu, dan brutal untuk
mendapatkan tempat-tempat mustajab di masjid tidak perduli
menyakiti orang lain. Misalnya orang-orang yang kasar maksa
mau cium Hajar Aswad, rebutan, tarik-tarikan baju untuk
menempel di dinding Multazam, Pintu ka'bah, Hijir Ismail, kalau
di Masjid Nabawi: lari-lari dan dorong-dorongan di Raudhah,
maksa menyelip sholat di depan Pintu Makam dan Mihrab
Rasulullah saw padahal sudah tidak mungkin lagi)
3. Orang yang ingin sekali bisa ibadah.
Orang golongan ini menyimpan rasa cemburu berat untuk bisa
jadi kategori ke-1. Sepertinya yang ini saya banget!
Memang susah kalau termasuk di kategori ke-3, padahal kalau
mau di kategori ke-2 gampang sekali! Syaratnya hanya 1 saja:
cuek bebek gak peduli sama ibadah. Tapi buat yang ke-3, minta
ampun ingin sekali ibadah tapi kok susah!
Saya, sama seperti pendatang lain, ingin sekali bisa ikut-ikutan
mencium Hajar Aswad (Intermezzo: Syaidina Umar bin Khattab
juga nyium Hajar Aswad bukan karena kehendak dia kok, beliau
hanya ikut-ikut Rasulullah saw saja, padahal Hajar Aswad itu
hanya kepingan batu-batu), ingin sekali bisa menempel di
Multazam, pintu Ka'bah, Sholat di Hijir Ismail dan doa
habis-habisan dalam keadaan khusyu total! Tapi gimana
mungkin kalau untuk kesananya saja kita harus mati-matian
secara fisik, sudah begitu ingin total secara hati??? Atau saya
ingin sekali bisa sholat dan berdoa di Raudhah (sepetak tempat
di Masjid Nabawi yg dulunya diantara mimbar dan kamar
Rasulullah saw [sekarang makam beliau], kata hadits shahih
Bukhori sepetak bagian masjid itu dibilang "Taman dari
taman-taman surga"menurut Rasulullah saw) gimana saya bisa
total khusyu di sana, untuk mendapat tempat duduk di karpet
Raudhah sendiri mesti lari-lari tidak menghormati masjid.
Walaupun sebenarnya semua tempat-tempat di atas
alhamdulillah sempat saya rasakan, tapi hari-hari di sana saya
sempat berfikir, merenung, bertanya ke diri sendiri "Sebenernya
layak tidak sih saya merasa itu semua??? berjuang mati-matian
ke tempat-tempat yang mustajab, tempat-tempat suci yang
terhormat padahal hati saya tidak ada di sana, fisik sih komplit
ada tapi hati saya tidak hadir... atau mungkin masih banyak
orang lain yang jauh lebih layak dari saya untuk merasa itu
semua .. so better saya mengalah???... Sedih sekali saat-saat
itu. Hati tidak bisa dibohongi. Rasanya malu kalau kita sudah
ziarah makam Rasulullah saw, pakai baju rapih-rapih, pakai
parfum wangi-wangi, lalu memohon ke Allah supaya nanti di
hari kemudian saya dimohonkan syafa'at oleh Rasulullah saw,
tapi do'anya sendiri tidak ada hatinya... Rasanya membohongi
Nabi saw, kekasihnya Allah... Kalau mau jujur rasanya saya
mending berada di luar lingkaran yang mulia itu tapi Allah dan
Rasulullah saw ridho sama saya. Bodoh kedengarannya, tapi
masih make sense! Ini memang contoh kasus frustasinya
orang yang masuk kategori ke-3 tadi.
Saat itu saya mulai cari-cari apa yang salah, sempat saya
menyalahkan kalau hati saya tidak hadir gara-gara orang-orang
dari kategori ke-2 yang merusak konsentrasi, tapi aneh kalau
dilihat-lihat disana, di tempat yang sama, dengan tingkat
gangguan yang sama, masih banyak orang-orang dari kategori
ke-1. "Sialan sekali deh!".sampai mungkin akhirnya di titik yang
cukup memalukan: Saya menyalahkan flu saya!!!.. gara-gara flu
ini saya jadi tidak konsentrasi!! benarrr!!! Hahahahaa...benar!
semua gara-gara cuaca dingin tidak cocok sama badan yang
membuat saya flu jadi membuat saya tidak konsentrasi!
Hmmm... Lagi asyik-asyiknya saya menyalahi flu lho kok saya
teringat kata Pak Ustad hari-hari sebelumnya bahwa salah
seorang sahabat Rasulullah yang dulu ikut perang, meminta
dicabut anak panah yang menancap dalam-dalam di lengannya
hanya pada saat DIA LAGI SHOLAT!!! Karena pada saat itu dia
bisa melupakan keduniawian dan melupakan sakitnya otot
lengan di-urek-urek untuk mencabut mata panah yang sudah
tertanam. Naif sekali deh saya dan flu-nya!
Mungkin berat sekali bagi kita-kita untuk bisa masuk ke kategori
ke-1. Minimal banyak unsur-unsur duniawi kita yang mesti
dikorbanin, atau kalau mau benar-benar total mungkin seperti
hidup di pesantren. Tidak semuanya mau begitu kan?.
Termasuk saya mungkin yang belum siap. Di sana saya pernah
mengaji 1 halaman terbata-bata terus tiba-tiba di sebelah saya
datang seorang anak 7thn-an ke gurunya dan mengaji dengan
sangat lancar dan kecepatan berkali-kali lebih cepat dari saya,
komplit dengan langgam dan tajwid, semua dalam 1 paket! Dan
menyebalkannya si anak ini mengaji mungkin 2 halaman lebih
dengan tutup buku!!! Itu satu momen juga yang bikin saya ciut
(ciri lain kategori ke-3). Tidak hanya orang tua berjanggut lebat,
bergamis dan bertasbih saja, ternyata anak kecil pun sudah
berlomba-lomba ingin masuk surga!!!
Akhirnya semua frustasi saya, semua pertanyaan2 dalam diri
saya sampai ke ujung pertanyaan dari semua rangkaian ibadah
yang lagi saya kerjakan: "Layak tidak sih saya ini naik haji????"
Sedih sekali pertanyaan itu kok bisa keluar dari pikiran saya
selagi saya lagi ada di tanah suci ..!!!
Atau kalau mau lebih ekstrim lagi, terutama setelah melihat
beliau-beliau dari kategori ke-1, saya akan bertanya: "Layak tidak
sih saya masuk surga??????????????????" "Pantas tidak sih
saya mengharapkan surga???" "Mana yang lebih baik: saya
maksa masuk surga tapi Allah tidak ridho, atau justru lebih baik
kalau saya masuk neraka tapi Allah ridho??????"
Aneh sekali pertanyaan-pertanyaan bodoh itu kok menghantui
saya justru di saat saya "diundang" Allah ke rumah-rumahnya,
di saat saya "dijamu" oleh Nabiyallah saw di kotanya.
Mungkin waktu itu saya sudah putus asa, jadi selain saya minta
obat ke dokter buat masalah jasmani, saya juga minta obat buat
masalah rohani, untuk yang ini saya datang ke Bapak-bapak
Ustad. Alhamdulillah dari Pak Ustad saya dapat beberapa
pencerahan. Dia bilang jangan "ngambek" tidak ke
tempat-tempat itu lagi, karena beliau juga merasa tingkat
kesulitannya memang tinggi, dan jangan pernah putus asa
kalau belum bisa khusyu total dalam sholat misalnya, karena
Rasulullah saw dulu pernah menguji satu-satunya sahabat
dekatnya yang berani bilang kalau dia mampu khusyu total
bersholat, dan ternyata setelah diuji dengan iming-iming
hadiah, sahabat itu buyar juga konsentrasinya justru pada
salam terakhir karena sempat terfikir akan dapat hadiah apa
nanti. Cerita yang menarik! Lumayan buat meningkatkan rasa
optimis.
Akhirnya dengan bekal pencerahan itu setiap ada kesempatan
saya selalu mencoba dan mencoba lagi ke tempat-tempat itu.
Biar deh kalau nantinya ternyata tidak khusyu total, yang penting
semuanya harus di-USAHAKAN sesempurnanya dan dikerjain
dengan tau diri, kasi kesempatan orang lain jangan egois dan
jangan sampai menyakiti orang lain. Saya yakin masih banyak
orang yang nasibnya sama seperti saya, dan saya yakin semua
orang dari kategori ke-3 minimal punya keinginan mulia walau
sekecil apapun itu. Mungkin kita bisa berharap mudah-mudahan
Allah memberi nilai yang tinggi buat siapa saja yang beribadah
walau baru berupa niat agar ibadahnya sempurna.
Balik lagi ke pertanyaan "Layak tidak sih saya ini naik haji??"
Pak Ustad bilang kalau itu balik lagi ke Rukun Islam yang 5.
Kalau misalnya pondasi 2 kalimah syahadat sudah ditanam,
tiang-tiang sholat 5 waktu sudah dipasang, dinding-dinding
puasa sudah membentengi, jendela ventilasi zakat sudah
dibuat, siapapun yang memang punya kemampuan (harta yang
halal dan tidak jadi jatuh melarat sepulang haji baik dirinya
maupun keluarganya yang jatuhnya malah jadi menganiaya)
wajib hukumnya menuntaskan pembangunan dengan bikin atap
haji. Namanya bikin rumah, siapapun pasti ingin punya rumah
idaman, pastinya yang komplit sampai ke atap-atapnya. Mungkin
analoginya jadi begini: kalau kita sering dengar orang bilang
"Saya belum siap naik haji" ini sayang sekali lho! siapapun ingin
punya rumah idaman secepatnya kan? Kalau perlu saat kita
masih muda, jangan sampai kalau kita sudah tua sekali baru
bikin rumah idaman, selain capek mengangkat-ngangkat
genteng dan kayu kaso (maklum sudah rapuh tulang kita) lalu
menikmatinya juga hanya sejenak kalau dibanding dengan yang
selagi muda sudah punya rumah idaman.
Tambahan dari Pak Ustad juga, sempat disinggung kalau
kerjakan yang 5 sebelum yang 5: sehat sebelum sakit, muda
sebelum tua, kaya sebelum miskin, luang sebelum sibuk, hidup
sebelum mati. Yang sayang sekali kalau misalnya kita sudah
menuhin syarat-syarat itu tapi kita selalu takut kalau kita belum
siap berhaji, masalahnya sampai kapan kita bisa hidup dengan
"rasa takut" itu. Atau justru mengerikannya semakin sering kita
pelihara rasa takut, jatuhnya kita malah jadi ngehindar apa yang
diwajibkan atas diri kita, masya Allah mudah-mudahan kita tidak
termasuk yang ini...karena saya pernah denger hadits (lupa
siapa yg merriwayatkan) kalau Rasulullah pernah bersabda
"Siapa yang mampu berhaji tapi tidak melaksanakannya silakan
pilih mati sebagai nasrani atau sebagai yahudi" (..mungkin ada
yang bertanya "kok bawa-bawa umat lain" sejujurnya saya tidak
ambil pusing, tapi di Al-Quran sendiri banyak sekali ayat yang
menggambarkan betapa bencinya Allah thd kaum itu, terutama
yahudi salah satunya karena kaum tersebut punya segudang
kasus munafik terhadap nabi-nabinya).
Dari pengalaman saya (yang baru pertama kali ini juga) rasanya
kalau melihat jumlah jama'ah haji, yang paling banyak adalah
dari Indonesia, dan kata teman jama'ah, mereka justru paling
banyak datang dari pelosok-pelosok daerah. Boleh dibayangkan
sendiri kira-kira apa sih usaha sehari-harinya mereka, kok
mereka bisa berhaji yang minimal pengeluarannya di atas 20
juta, bahkan tidak hanya sendiri, banyak juga yang pasangan
suami-istri. Artinya lebih dari 40 juta berdua!! Tidak murah!!
Mereka kaya-kaya? Saya tidak yakin sama itu. Tapi saya yakin
satu hal, kalau mereka punya passion, mereka berusaha keras
untuk bisa menutupi rumahnya dengan atap, mereka bercita-cita
punya rumah idaman, mereka punya cita-cita jadi haji sebelum
mereka mati. Terlepas dari tujuannya berhaji buat ibadah atau
buat kebanggaan semata wallahualam, nafsi-nafsi, tidak saya
pikirkan.
Mungkin balik lagi ke "kesiapan" berhaji seperti pertanyaan yang
sempat terfikir sama saya sebelumnya tentang layak apa
tidaknya berhaji, rasanya semua yang mengaku umat muslim
layak berhaji. Baik itu orang yang susah khusyu yang paling
penting pertama ada niat dan usaha
sesempurna-sempurnanya, baik itu punya dosa segunung,
se-dunia, atau se-alam semesta selama masih menganggap
Allah swt jauh lebih luas, lebih besar, lebih agung dari alam
semesta dan ada niat untuk tobat dan memperbaiki diri.
Setelah melalui semua proses rangkaian ibadah di tanah suci,
antara lain: ibadah sehari-hari, ziarah, I'tikaf, dengar
ceramah-ceramah, umroh, dan haji, dan berdasarkan
masukan-masukkan Pak Ustad dan teman-teman jama'ah lain,
sepertinya saya menarik kesimpulan:
1. haji itu terjadi kalau kita usaha ke arah sana yang diawali dari
keikhlasan niat dan cara yang halal.
2. haji itu menuntaskan pembangunan rumah idaman kita (kita
memenuhi janji kita ke Allah sebelum kita dilahirkan ke dunia
bahwa salah satu rukun yang akan kita kerjakan di dunia adalah
berhaji, makna talbiyah "Labbaik Allohumma labbaik..dst (salah
satunya itu)
3. haji itu mengumpulnya umat islam dari penjuru dunia. Di
sana kita bisa melihat dan mengukur diri kita sendiri dibanding
yang lain (jadi sama sekali tidak salah kalau kita cemburu sama
kategori ke-1, malah itu cemburu yang bagus dan harus terus
dipupuk selama di sana dan dipertahankan sepulang dari sana,
dari sana kita bisa ngeliat seberapa kerdil dan culunnya kita
dibanding yang lain, moga-moga jadi ada motivasi untuk
berbenah diri sepulang dari berhaji karena ada juga yang bilang
kalau haji mabrur itu justru terlihat sepulangnya dari tanah suci,
kualitasnya makin baik)
Jadi haji adalah (bismillahirrahmaanirrahiim): JIHAD + RUKUN
+ PERUBAHAN
Berhaji sekarang memang lebih mahal dari
sebelum-sebelumnya, dan semakin lama akan semakin mahal.
Tapi insya Allah berhaji itu nikmat sekali, apalagi mulai haji
tahun ini fasilitas-fasilitas diperbaiki, resiko kecelakaan
diperkecil, misalnya di tempat lempar jumroh yang diperluas,
pelataran thawaf dibuat lebih lega, atau jadwal berziarah ke
Raudhah buat kaum wanita yang dibagi-bagi perbangsa biar
bangsa asia yg mungil-mungil tidak bentrok dengan afrika yang
besar-besar, dsb.
Begitu kira-kira yang bisa saya ceritakan di sini, moga-moga
ada gunanya buat teman-teman atau siapa saja. Kalau
misalnya memang ada gunanya, alhamdulillah sekali, tolong
teruskan juga ke teman / kerabat lain, jadinya kita bisa saling
membagi ilmu buat kebaikan bersama, dan semoga kita semua
dimudahkan berhaji dan bisa menjawab panggilan ke tanah
suci, amin. (khusus untuk yang satu ini, saya pikir suka ada
salah kaprah, karena sering saya dengar orang belum mau
berhaji beralasan "belum dapat panggilan nih!!", kenyataannya
kita semua sudah pernah berjanji untuk berhaji sewaktu di alam
ruh, lalu setelah kita dilahirkan ke dunia panggilan itu sudah
berlaku dan selalu ada sampai kontrak hidup kita abis, tinggal
kita mampu dan mau apa tidaknya menjawab panggilan itu)
Selebihnya saya minta maaf kalau misalnya dalam tulisan di
atas ada kesalahan-kesalahan atau penyampaiannya yang tidak
enak, sama sekali tidak ada niat menggurui. Pasti yang
benar-benar itu dari Allah, dan kalau ada yang salah-salah
pastinya karena kebodohan saya sendiri. Dan buat saya,
semoga dari sini saya pribadi bisa introspeksi diri, amin.
Assalamualaikum wr wb
:: avissena 1425H
Info tambahan:
Teman, kalau kita pernah menonton acara tv FEAR FACTOR
yang beberapa kontestan adu nyali, adu tenaga, sampai ada
yang nekat makan makanan yang menjijikkan buat
memperebutkan US$ 50.000, nah perlu diketahui kalau itu
semua hanya bisa dinikmati di dunia sementara
saja..hehehehe, tapi kalau ke tanah suci dan beribadah di sana
(ziarah, ibadah sehari-hari, umrah, haji dll) diantaranya ini yang
bisa kita dapatin (Dan tenang dari jutaan kontestan, semuanya
bisa saja kebagian, tidak hanya 1 orang saja!!! Karena Allah
Maha Kaya):
1. Haji Mabrur: Surga.
2. Wukuf di Arafah: Diampuni dosanya (kira-kira berbunyi:
"Berdosa orang yang sudah menjalankan wukuf di Arafah
apabila masih merasa punya dosa"-
berdasarkan hadits qudsi [hadits qudsi = firman Allah yang
disampaikan oleh Rasulullah saw tapi bukan Al-Qur'an]
kebayang tidak kalau mau tidak mau kita yang pulang wukuf di
Arafah mesti merasa tak berdosa lagi.. nikmat sekali kan!!!, saya
saja mendengarnya merinding dan bikin salah tingkah, riwayat
lain kira-kira berbunyi: "Tidak ada hari yang paling banyak Allah
membebaskan hambanya dari neraka kecuali hari Arafah".
3. Sholat di Masjidil Haram Mekkah: nilainya sama dengan
100.000 x sholat di masjid lain (bayangkan kalau sholat
berjama'ah! Bayangkan kalau kita saja jarang ke masjid!)
4. Sholat di Masjid Nabawi Madinah: nilainya sama dengan
1000 x sholat di masjid lain (bayangkan juga kalau sholat
berjama'ah) bahkan ada yang bilang juga 200.000 x sholat di
masjid lain karena Rasulullah pernah berdoa agar sholat di
masjid nabawi 2 x lipat dari Masjidil Haram, dan kita semua tau
beliau adalah kekasih Allah di alam semesta, kalau sang
kekasih yang minta bukannya tidak mungkin akan dikabulkan
kan? Wallahualam.
5. Thawaf di sekeliling ka'bah dapat 60 rahmat.
6. Sholat di Masjidil haram juga dapat 40 rahmat.
7. Memandang ka'bah saja dapat 20 rahmat.
8. Bisa berdoa di tempat-tempat mustajab: tempat Thawaf,
Multazam, di bawah Pancuran Emas, Bukit Safa, Bukit Marwah,
tempat Sa'i, belakang Maqam Ibrahim, Hijir Ismail, Padang
Arafah, Raudhah, Muzdalifah, Mina, Jumratul Aqabah, Jumratul
Wusta, Jumratul Ula.
9. Arba'in (Sholat 5 waktu berjama'ah tanpa ketinggalan takbir
pertama dalam 8 hari berturut-turut di Masjid Nabawi Madinah):
terlepas dari siksa neraka, lepas dari azab, dan bersih dari
kemunafikan (HR. Ahmad).
10. Ziarah ke Masjid Quba (masjid pertama dalam sejarah
Islam): Kalau dalam keadaan berwudhu dari tempat tinggal
(hotel/asrama) ke Masjid Quba untuk sholat, sama nilainya
dengan 1 x berumroh.
11. Antara umroh satu dan yg berikutnya tidak ada dosa
diantaranya.
12. Setelah memenuhi umroh buat diri sendiri, berumroh buat
orang lain nilainya 7 x umroh biasa
13. Minum zam-zam sepuasnya, dipercaya penuh berkah karena
dulu Rasulullah saw senang mencelupkan tangannya yang
penuh berkah ke sumur zam-zam, air yang dipakai Malaikat Jibril
untuk mencuci kalbu Rasulullah saw, obat penyakit jiwa atau
jasmani.
Pastinya masih banyak point rewards yang insya Allah bisa kita
dapatkan selagi di tanah suci. Tapi pada akhirnya kita tidak
perlu sampai hitung-hitungan kalau ibadah di sana, bagaimana
pun kita tidak layak berhtung-hitung, Allah saja kan tidak pelit
bagi-bagi rizki, pokoknya yang penting sih jalankan saja
sebaik-baiknya...nikmati lezatnya beribadah di tanah suci.
Bacaan menarik:
Kalau akhirnya ada kesempatan ibadah ke tanah suci, selain
buku-buku dari Departemen Agama, mungkin buku-buku ini
bisa sangat membantu:
- "CARA MABRUR NAIK HAJI & UMROH" A. Luqman & Cahyo
Baskoro (buku ini menarik sekali buat kita-kita yang masih
amatir.., bentuknya komik, plus ceritanya lucu-lucu)
- "BUKU PINTAR HAJI & UMRAH" H.M. Iwan Gayo (warna item,
isinya banyak sekali pengetahuan-pengetahuan dan bagus
banget seperti ensiklopedi begitulah)
- "DO'A" Dr. Miftah Faridl (buku saku berisi do'a, ada juga do'a
umrah + haji, praktis sekali, masuk saku, dan buat yg sulit
membaca huruf arab di sini ada latinnya)
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Click here to rescue a little child from a life of poverty.
http://us.click.yahoo.com/rAWabB/gYnLAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/