Layak tidak sih kita naik haji?

Assalamu'alaikum wr wb, Bismillahirrahmaanirrahiim.

Alhamdulillah, saya termasuk salah seorang yang dapat 
kesempatan berhaji  tahun 1425H ini. Terus terang saya masih 
tergolong amatiran tapi saya ingin sekali dapat sesuatu dari 
perjalanan ibadah ini dengan segala keterbatasan ilmu yang 
saya miliki. Semoga apa yang saya alami, sekecil apapun itu, 
tetep membekas di sisa hidup saya, amin.
 
Tulisan di bawah ini hanya sekedar apa yang sempat terfikir 
oleh saya dari pengalaman pribadi selama lagi ada di tanah 
suci. Maaf sekali kalau tulisan ini tidak sesuai dengan pendapat 
orang lain yang juga kebetulan pernah kesana dengan tujuan 
yang sama: umroh & haji.
 
Terus terang, setelah beberapa hari saya berada di Mekkah dan 
Madinah, hadir di Masjid Haram dan Masjid Nabawi, saya 
membagi pengunjung tempat-tempat suci itu jadi 3 kategori: 

1. Ahli ibadah. 
Di sini orang-orangnya bisa terlihat begitu larut dengan 
ke-khusyuannya sendiri. Orang-orang ini sangat total, sepertinya 
mereka asyik menikmati aktivitas yang sifatnya sangat pribadi 
dan personal sekali. Ada yang sholat berkali-kali dan lama 
sekali, ada yang lidahnya dzikir melulu, ada yang asyik mengaji 
berjuz-juz, ada juga yang nangis sujud bertobat mengangkat 
tangan tinggi-tinggi. Ciri-ciri fisik lainnya macam-macam, seperti 
keningnya hitam, ada juga yang mata kakinya menebal kapalan, 
atau ada yang kemana-mana selalu bawa tasbih.

2. Orang yang lupa kalau seharusnya dia ibadah. 
Orang-orang ini bisa dibagi 3 : 
A) Orang yang tidak perduli sama orang yang lagi ibadah 
(sangat menyebalkan! mengganggu dan merusak konsentrasi 
orang lain, misalnya: ada yang bergerombol tidak perduli 
dorong-dorong dan nabrak orang lain yang sedang  thawaf, ada 
pimpinan gerombolan thawaf yang ber-doa keras-keras sekali,  
ada yang tidak perduli tanpa perasaan bersalah mondar-mandir 
didepan orang sholat, malah ada yang melangkahi orang 
sujud). 
B) Orang yang tidak perduli kalau dia ada di tempat ibadah 
(sama-sama menyebalkan juga! Misalnya yang tidak perduli 
bawa sendal-sepatu tidak diplastik ke dalam masjid trus 
digeletakin begitu saja, atau yang buang gelas-gelas  zamzam 
sembarangan, jorok dan tidak menyiram "sampah" nya sendiri 
di wc-wc masjid).
C) Gabungan 2 golongan tadi, alias tidak peduli orang ibadah 
dan tidak peduli lagi di tempat ibadah (sudah tidak ada rasa 
hormat sama orang lain juga sama rumah Allah, yang ini 
rata-rata orangnya emosian, nafsu, dan brutal untuk 
mendapatkan tempat-tempat mustajab di masjid tidak perduli 
menyakiti orang lain. Misalnya orang-orang yang kasar maksa 
mau cium Hajar Aswad, rebutan, tarik-tarikan baju untuk 
menempel di dinding Multazam, Pintu ka'bah, Hijir Ismail, kalau 
di Masjid Nabawi: lari-lari dan dorong-dorongan di  Raudhah, 
maksa menyelip sholat di depan Pintu Makam dan Mihrab 
Rasulullah saw  padahal sudah tidak mungkin lagi)

3. Orang yang ingin sekali bisa ibadah. 
Orang golongan ini menyimpan rasa cemburu berat untuk bisa 
jadi kategori ke-1. Sepertinya yang ini saya banget!
 
 
 
Memang susah kalau termasuk di kategori ke-3, padahal kalau 
mau di kategori ke-2 gampang sekali! Syaratnya hanya 1 saja: 
cuek bebek gak peduli sama ibadah. Tapi buat yang ke-3, minta 
ampun ingin sekali ibadah tapi kok susah!

Saya, sama seperti pendatang lain, ingin sekali bisa ikut-ikutan 
mencium Hajar Aswad (Intermezzo: Syaidina Umar bin Khattab 
juga nyium Hajar Aswad bukan karena kehendak dia kok, beliau 
hanya ikut-ikut Rasulullah saw saja, padahal Hajar Aswad itu 
hanya kepingan batu-batu), ingin sekali bisa menempel di 
Multazam, pintu Ka'bah, Sholat di Hijir Ismail dan doa 
habis-habisan dalam keadaan khusyu total! Tapi gimana 
mungkin kalau untuk kesananya saja kita harus mati-matian 
secara fisik, sudah begitu ingin total secara hati??? Atau saya 
ingin sekali bisa sholat dan berdoa di Raudhah (sepetak tempat 
di Masjid Nabawi yg dulunya diantara mimbar dan kamar 
Rasulullah saw [sekarang makam beliau], kata hadits shahih 
Bukhori sepetak bagian masjid itu dibilang "Taman dari 
taman-taman surga"menurut Rasulullah saw) gimana saya bisa 
total khusyu di sana, untuk mendapat tempat duduk di karpet 
Raudhah sendiri mesti lari-lari tidak menghormati masjid. 
Walaupun sebenarnya semua tempat-tempat di atas 
alhamdulillah sempat saya rasakan, tapi hari-hari di sana saya 
sempat berfikir, merenung, bertanya ke diri sendiri "Sebenernya 
layak tidak sih saya merasa itu semua??? berjuang mati-matian 
ke tempat-tempat yang mustajab, tempat-tempat suci yang 
terhormat padahal hati saya tidak ada di sana, fisik sih komplit 
ada tapi hati saya tidak hadir... atau mungkin masih banyak 
orang lain yang jauh lebih layak dari saya untuk merasa itu 
semua .. so better saya mengalah???... Sedih sekali saat-saat 
itu. Hati tidak bisa dibohongi. Rasanya malu kalau kita sudah 
ziarah makam Rasulullah saw, pakai baju rapih-rapih, pakai 
parfum wangi-wangi, lalu memohon ke Allah supaya nanti di 
hari kemudian saya dimohonkan syafa'at oleh Rasulullah saw, 
tapi do'anya sendiri tidak ada hatinya... Rasanya membohongi 
Nabi saw, kekasihnya Allah... Kalau mau jujur rasanya saya 
mending berada di luar lingkaran yang mulia itu tapi Allah dan 
Rasulullah saw ridho sama saya. Bodoh kedengarannya, tapi 
masih make sense! Ini memang contoh kasus frustasinya 
orang yang masuk kategori ke-3 tadi.
 
Saat itu saya mulai cari-cari apa yang salah, sempat saya 
menyalahkan kalau hati saya tidak hadir gara-gara orang-orang 
dari kategori ke-2 yang merusak konsentrasi, tapi aneh kalau 
dilihat-lihat disana, di tempat yang sama, dengan tingkat 
gangguan yang sama, masih banyak orang-orang dari kategori 
ke-1. "Sialan sekali deh!".sampai mungkin akhirnya di titik yang 
cukup memalukan: Saya menyalahkan flu saya!!!.. gara-gara flu 
ini saya jadi tidak konsentrasi!! benarrr!!! Hahahahaa...benar! 
semua gara-gara cuaca dingin tidak cocok sama badan yang 
membuat saya flu jadi membuat saya tidak konsentrasi! 
Hmmm... Lagi asyik-asyiknya saya menyalahi flu lho kok saya 
teringat kata Pak Ustad hari-hari sebelumnya bahwa salah 
seorang sahabat Rasulullah yang dulu ikut perang, meminta 
dicabut anak panah yang menancap dalam-dalam di lengannya 
hanya pada saat DIA LAGI SHOLAT!!! Karena pada saat itu dia 
bisa melupakan keduniawian dan melupakan sakitnya otot 
lengan di-urek-urek untuk mencabut mata panah yang sudah 
tertanam. Naif sekali deh saya dan flu-nya!
 
Mungkin berat sekali bagi kita-kita untuk bisa masuk ke kategori 
ke-1. Minimal banyak unsur-unsur duniawi kita yang mesti 
dikorbanin, atau kalau mau benar-benar total mungkin seperti 
hidup di pesantren. Tidak semuanya mau begitu kan?. 
Termasuk saya mungkin yang belum siap. Di sana saya pernah 
mengaji 1 halaman terbata-bata terus tiba-tiba di sebelah saya 
datang seorang anak 7thn-an ke gurunya dan mengaji dengan 
sangat lancar dan kecepatan berkali-kali lebih cepat dari saya, 
komplit dengan langgam dan tajwid, semua dalam 1 paket! Dan 
menyebalkannya si anak ini mengaji mungkin 2 halaman lebih 
dengan tutup buku!!! Itu satu momen juga yang bikin saya ciut 
(ciri lain kategori ke-3). Tidak hanya orang tua berjanggut lebat, 
bergamis dan bertasbih saja, ternyata anak kecil pun sudah 
berlomba-lomba ingin masuk surga!!!

Akhirnya semua frustasi saya, semua pertanyaan2 dalam diri 
saya sampai ke ujung pertanyaan dari semua rangkaian ibadah 
yang lagi saya kerjakan: "Layak tidak sih saya ini naik haji????" 
Sedih sekali pertanyaan itu kok bisa keluar dari pikiran saya 
selagi saya lagi ada di tanah suci ..!!!

Atau kalau mau lebih ekstrim lagi, terutama setelah melihat 
beliau-beliau dari kategori ke-1, saya akan bertanya: "Layak tidak 
sih saya masuk surga??????????????????" "Pantas tidak sih 
saya mengharapkan surga???" "Mana yang lebih baik: saya 
maksa masuk surga tapi Allah tidak ridho, atau justru lebih baik 
kalau saya masuk neraka tapi Allah ridho??????"

Aneh sekali pertanyaan-pertanyaan bodoh itu kok menghantui 
saya justru di saat saya "diundang" Allah ke  rumah-rumahnya, 
di saat saya "dijamu" oleh Nabiyallah saw di kotanya.

Mungkin waktu itu saya sudah putus asa, jadi selain saya minta 
obat ke dokter buat masalah jasmani, saya juga minta obat buat 
masalah rohani, untuk yang ini saya datang ke Bapak-bapak 
Ustad. Alhamdulillah dari Pak Ustad saya dapat beberapa 
pencerahan. Dia bilang jangan "ngambek" tidak ke 
tempat-tempat itu lagi, karena beliau juga merasa tingkat 
kesulitannya memang tinggi, dan jangan pernah putus asa 
kalau belum bisa khusyu total dalam sholat misalnya, karena 
Rasulullah saw dulu pernah menguji satu-satunya sahabat 
dekatnya yang berani bilang kalau dia mampu khusyu total 
bersholat, dan  ternyata setelah diuji dengan iming-iming 
hadiah, sahabat itu buyar juga konsentrasinya justru pada 
salam terakhir karena sempat terfikir akan dapat hadiah apa 
nanti. Cerita yang menarik! Lumayan buat meningkatkan rasa 
optimis.

Akhirnya dengan bekal pencerahan itu setiap ada kesempatan 
saya selalu mencoba dan mencoba lagi ke tempat-tempat itu. 
Biar deh kalau nantinya ternyata tidak khusyu total, yang penting 
semuanya harus di-USAHAKAN sesempurnanya dan dikerjain 
dengan tau diri, kasi kesempatan orang lain jangan egois dan 
jangan sampai menyakiti orang lain. Saya yakin masih banyak 
orang yang nasibnya sama seperti saya, dan saya yakin semua 
orang dari kategori ke-3 minimal punya keinginan mulia walau 
sekecil apapun itu. Mungkin kita bisa berharap mudah-mudahan 
Allah memberi nilai yang tinggi buat siapa saja yang beribadah 
walau baru berupa niat agar ibadahnya sempurna.

Balik lagi ke pertanyaan "Layak tidak sih saya ini naik haji??" 
Pak Ustad bilang kalau itu balik lagi ke Rukun Islam yang 5. 
Kalau misalnya pondasi 2 kalimah syahadat sudah ditanam, 
tiang-tiang sholat 5 waktu sudah dipasang, dinding-dinding 
puasa sudah membentengi, jendela ventilasi zakat sudah 
dibuat, siapapun yang memang punya kemampuan (harta yang 
halal dan tidak jadi jatuh melarat sepulang haji baik dirinya 
maupun keluarganya yang jatuhnya malah jadi menganiaya) 
wajib hukumnya menuntaskan pembangunan dengan bikin atap 
haji. Namanya bikin rumah, siapapun pasti ingin punya rumah 
idaman, pastinya yang komplit sampai ke atap-atapnya. Mungkin 
analoginya jadi begini: kalau kita sering dengar orang bilang 
"Saya belum siap naik haji" ini sayang sekali lho! siapapun ingin 
punya rumah idaman secepatnya kan? Kalau perlu saat kita 
masih muda, jangan sampai kalau kita sudah tua sekali baru 
bikin rumah idaman, selain capek mengangkat-ngangkat 
genteng dan kayu kaso (maklum sudah rapuh tulang kita) lalu 
menikmatinya juga hanya sejenak kalau dibanding dengan yang 
selagi muda sudah punya rumah idaman.

Tambahan dari Pak Ustad juga, sempat disinggung kalau 
kerjakan yang 5 sebelum yang 5: sehat sebelum sakit, muda 
sebelum tua, kaya sebelum miskin, luang sebelum sibuk, hidup 
sebelum mati. Yang sayang sekali kalau misalnya kita sudah 
menuhin syarat-syarat itu tapi kita selalu takut kalau kita belum 
siap berhaji, masalahnya sampai kapan kita bisa hidup dengan 
"rasa takut" itu. Atau justru mengerikannya semakin sering kita 
pelihara rasa takut, jatuhnya kita malah jadi ngehindar apa yang 
diwajibkan atas diri kita, masya Allah mudah-mudahan kita tidak 
termasuk yang ini...karena saya pernah denger hadits (lupa 
siapa yg merriwayatkan) kalau Rasulullah pernah bersabda 
"Siapa yang mampu berhaji tapi tidak melaksanakannya silakan 
pilih mati sebagai nasrani atau sebagai yahudi" (..mungkin ada 
yang bertanya "kok bawa-bawa umat lain" sejujurnya saya tidak 
ambil pusing, tapi di Al-Quran sendiri banyak sekali ayat yang 
menggambarkan betapa bencinya Allah thd kaum itu, terutama 
yahudi salah satunya karena kaum tersebut punya segudang 
kasus munafik terhadap nabi-nabinya).

Dari pengalaman saya (yang baru pertama kali ini juga) rasanya 
kalau melihat jumlah jama'ah haji, yang paling banyak adalah 
dari Indonesia, dan kata teman jama'ah, mereka justru paling 
banyak datang dari pelosok-pelosok daerah. Boleh dibayangkan 
sendiri kira-kira apa sih usaha sehari-harinya mereka, kok 
mereka bisa berhaji yang minimal pengeluarannya di atas 20 
juta, bahkan tidak hanya sendiri, banyak juga yang pasangan 
suami-istri. Artinya lebih dari 40 juta berdua!! Tidak murah!! 
Mereka kaya-kaya? Saya tidak yakin sama itu. Tapi saya yakin 
satu hal, kalau mereka punya passion, mereka berusaha keras 
untuk bisa menutupi rumahnya dengan atap, mereka bercita-cita 
punya rumah idaman, mereka punya cita-cita jadi haji sebelum 
mereka mati. Terlepas dari tujuannya berhaji buat ibadah atau 
buat kebanggaan semata wallahualam, nafsi-nafsi, tidak saya 
pikirkan.

Mungkin balik lagi ke "kesiapan" berhaji seperti pertanyaan yang 
sempat terfikir sama saya sebelumnya tentang layak apa 
tidaknya berhaji, rasanya semua yang mengaku umat muslim  
layak berhaji. Baik itu orang yang susah khusyu yang paling 
penting pertama ada niat dan usaha 
sesempurna-sempurnanya, baik itu punya dosa segunung, 
se-dunia, atau se-alam semesta selama masih menganggap 
Allah swt jauh lebih luas, lebih besar, lebih agung dari alam 
semesta dan ada niat untuk tobat dan memperbaiki diri.

Setelah melalui semua proses rangkaian ibadah di tanah suci, 
antara lain: ibadah sehari-hari, ziarah, I'tikaf, dengar 
ceramah-ceramah, umroh, dan haji, dan berdasarkan 
masukan-masukkan Pak Ustad dan teman-teman jama'ah lain, 
sepertinya saya menarik kesimpulan:

1. haji itu terjadi kalau kita usaha ke arah sana yang diawali dari 
keikhlasan niat  dan cara yang halal.

2. haji itu menuntaskan pembangunan rumah idaman kita (kita 
memenuhi janji kita ke Allah sebelum kita dilahirkan ke dunia 
bahwa salah satu rukun yang akan kita kerjakan di dunia adalah 
berhaji, makna talbiyah  "Labbaik Allohumma labbaik..dst (salah 
satunya itu)

3. haji itu mengumpulnya umat islam dari penjuru dunia. Di 
sana kita bisa melihat dan mengukur diri kita sendiri dibanding 
yang lain (jadi sama sekali tidak salah kalau kita cemburu sama 
kategori ke-1, malah itu cemburu yang bagus dan harus terus 
dipupuk selama di sana dan dipertahankan sepulang dari sana, 
dari sana kita bisa ngeliat seberapa kerdil dan culunnya kita 
dibanding yang lain, moga-moga jadi ada motivasi untuk 
berbenah diri sepulang dari berhaji karena ada juga yang bilang 
kalau haji mabrur itu justru terlihat sepulangnya dari tanah suci, 
kualitasnya makin baik)
 
Jadi haji adalah (bismillahirrahmaanirrahiim): JIHAD + RUKUN 
+ PERUBAHAN

Berhaji sekarang memang lebih mahal dari 
sebelum-sebelumnya, dan semakin lama akan semakin mahal. 
Tapi insya Allah berhaji itu nikmat sekali, apalagi mulai haji 
tahun ini fasilitas-fasilitas diperbaiki, resiko kecelakaan 
diperkecil, misalnya di tempat lempar jumroh yang diperluas, 
pelataran thawaf dibuat lebih lega, atau jadwal berziarah ke 
Raudhah buat kaum wanita yang dibagi-bagi perbangsa biar 
bangsa asia yg mungil-mungil tidak bentrok dengan afrika yang 
besar-besar, dsb.

Begitu kira-kira yang bisa saya ceritakan di sini, moga-moga 
ada gunanya buat teman-teman atau siapa saja. Kalau 
misalnya memang ada gunanya, alhamdulillah sekali, tolong 
teruskan juga ke teman / kerabat lain, jadinya kita bisa saling 
membagi ilmu buat kebaikan bersama, dan semoga kita semua 
dimudahkan berhaji dan bisa menjawab panggilan ke tanah 
suci, amin.  (khusus untuk yang satu ini, saya pikir suka ada 
salah kaprah, karena sering saya dengar orang belum mau 
berhaji beralasan "belum dapat panggilan nih!!", kenyataannya 
kita semua sudah pernah berjanji untuk berhaji sewaktu di alam 
ruh, lalu setelah kita dilahirkan ke dunia panggilan itu sudah 
berlaku dan selalu ada sampai kontrak hidup kita abis, tinggal 
kita mampu dan mau apa tidaknya menjawab panggilan itu)

Selebihnya saya minta maaf kalau misalnya dalam tulisan di 
atas ada kesalahan-kesalahan atau penyampaiannya yang tidak 
enak, sama sekali tidak ada niat menggurui. Pasti yang 
benar-benar itu dari Allah, dan kalau ada yang salah-salah 
pastinya karena kebodohan saya sendiri. Dan buat saya, 
semoga dari sini saya pribadi bisa introspeksi diri, amin.


Assalamualaikum wr wb
:: avissena 1425H



Info tambahan:
Teman, kalau kita pernah menonton acara tv FEAR FACTOR 
yang beberapa kontestan adu nyali, adu tenaga, sampai ada 
yang nekat makan makanan yang menjijikkan buat 
memperebutkan US$ 50.000, nah perlu diketahui kalau itu 
semua hanya bisa dinikmati di dunia sementara 
saja..hehehehe, tapi kalau ke tanah suci dan beribadah di sana 
(ziarah, ibadah sehari-hari, umrah, haji dll) diantaranya ini yang 
bisa kita dapatin (Dan tenang dari jutaan kontestan, semuanya 
bisa saja kebagian, tidak hanya 1 orang saja!!! Karena Allah 
Maha Kaya): 

1. Haji Mabrur: Surga.

2. Wukuf di Arafah: Diampuni dosanya (kira-kira berbunyi: 
"Berdosa orang yang sudah menjalankan wukuf di Arafah 
apabila masih merasa punya dosa"-
berdasarkan hadits qudsi [hadits qudsi = firman Allah yang 
disampaikan oleh Rasulullah saw tapi bukan Al-Qur'an] 
kebayang tidak kalau mau tidak mau kita yang pulang wukuf di 
Arafah mesti merasa tak berdosa lagi.. nikmat sekali kan!!!, saya 
saja mendengarnya merinding dan bikin salah tingkah, riwayat 
lain kira-kira berbunyi: "Tidak ada hari yang paling banyak Allah 
membebaskan hambanya dari neraka kecuali hari Arafah".

3. Sholat di Masjidil Haram Mekkah: nilainya sama dengan 
100.000 x sholat di masjid lain (bayangkan kalau sholat 
berjama'ah! Bayangkan kalau kita saja jarang ke masjid!)

4. Sholat di Masjid Nabawi Madinah: nilainya sama dengan 
1000 x sholat di masjid lain (bayangkan juga kalau sholat 
berjama'ah) bahkan ada yang bilang juga 200.000 x sholat di 
masjid lain karena Rasulullah pernah berdoa agar sholat di 
masjid nabawi 2 x lipat dari Masjidil Haram, dan kita semua tau 
beliau adalah kekasih Allah di alam semesta, kalau sang 
kekasih yang minta bukannya tidak mungkin akan dikabulkan 
kan? Wallahualam.

5. Thawaf di sekeliling ka'bah dapat 60 rahmat.

6. Sholat di Masjidil haram juga dapat 40 rahmat.

7. Memandang ka'bah saja dapat 20 rahmat.

8. Bisa berdoa di tempat-tempat mustajab: tempat Thawaf, 
Multazam, di bawah Pancuran Emas, Bukit Safa, Bukit Marwah, 
tempat Sa'i, belakang Maqam Ibrahim, Hijir Ismail, Padang 
Arafah, Raudhah, Muzdalifah, Mina, Jumratul Aqabah, Jumratul 
Wusta, Jumratul Ula.

9. Arba'in (Sholat 5 waktu berjama'ah tanpa ketinggalan takbir 
pertama dalam 8 hari berturut-turut di Masjid Nabawi Madinah): 
terlepas dari siksa neraka, lepas dari azab, dan bersih dari 
kemunafikan (HR. Ahmad).

10. Ziarah ke Masjid Quba (masjid pertama dalam sejarah 
Islam): Kalau dalam keadaan berwudhu dari tempat tinggal 
(hotel/asrama) ke Masjid Quba untuk sholat, sama nilainya 
dengan 1 x berumroh.

11. Antara umroh satu dan yg berikutnya tidak ada dosa 
diantaranya.

12. Setelah memenuhi umroh buat diri sendiri, berumroh buat 
orang lain nilainya 7 x umroh biasa

13. Minum zam-zam sepuasnya, dipercaya penuh berkah karena 
dulu Rasulullah saw senang mencelupkan tangannya yang 
penuh berkah ke sumur zam-zam, air yang dipakai Malaikat Jibril 
untuk mencuci kalbu Rasulullah saw, obat penyakit jiwa atau 
jasmani.

Pastinya masih banyak point rewards yang insya Allah bisa kita 
dapatkan selagi di tanah suci. Tapi  pada akhirnya kita tidak 
perlu sampai hitung-hitungan kalau ibadah di sana, bagaimana 
pun kita tidak layak berhtung-hitung, Allah saja kan tidak pelit 
bagi-bagi rizki, pokoknya yang penting sih jalankan saja 
sebaik-baiknya...nikmati lezatnya beribadah di tanah suci.



Bacaan menarik:
Kalau akhirnya ada kesempatan ibadah ke tanah suci, selain 
buku-buku dari Departemen Agama, mungkin buku-buku ini 
bisa sangat membantu:

- "CARA MABRUR NAIK HAJI & UMROH" A. Luqman & Cahyo 
Baskoro (buku ini menarik sekali buat kita-kita yang masih 
amatir.., bentuknya komik, plus ceritanya lucu-lucu)

- "BUKU PINTAR HAJI & UMRAH" H.M. Iwan Gayo (warna item, 
isinya banyak sekali pengetahuan-pengetahuan dan bagus 
banget seperti ensiklopedi begitulah)

- "DO'A" Dr. Miftah Faridl (buku saku berisi do'a, ada juga do'a 
umrah + haji, praktis sekali, masuk saku, dan buat yg sulit 
membaca huruf arab di sini ada latinnya)

                        








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Click here to rescue a little child from a life of poverty.
http://us.click.yahoo.com/rAWabB/gYnLAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke