Assalaamu'alaikum Wr Wb.

Bu Rahima yang baik,
Saya memang sengaja tidak mencantumkan kutipan lengkap dari 7 Kitab yang 
menjadi referensi saya, bukan apa2 sih... cuman saya ingin diskusi kita ini 
fokus, bagian demi bagian kita bahas satu persatu, persoalan kutipan Dalilul 
Falihiin ini saja masih belum selesai kita bahas, anda sudah 'memaksa' saya 
untuk memberikan kutipan referensi kitab saya yang lainnya, jangan2 sebenarnya 
anda juga penasaran tentang hal ini tapi malu untuk mengatakannya, hehe,  
Tenang saja hal itu pasti akan saya beberkan setelah satu persoalan Dalilul 
Falihiin/27 ini tuntas, Sebenarnya kalau memang anda benar2 penasaran tentang 
hal ini, bukankah anda langsung bisa mengeceknya sendiri, halamannya kan sudah 
jelas, karena saya yakin dirak buku rumah anda pasti ada Kitab2 yang saya 
maksud tersebut.

Back to Topik :

    " AL-WATHONUL HAQIIQIYYU HUWAD DAARUL AAKHIROTIL LATII LAA NIHAAYATA 
LI-AAKHIRIHAA BI-IROODATILLAAHI WA-QUDLROTIHI KAMAA JAA-A FIL HADIITS " YAA 
AHLAL JANNATI KHULUUDUN BILAA MAUTIN WALAA AHLAN NAARI KHULUUDUN BILAA MAUTIN 
".QOOLA BA'DLUHUM HAADZAA HUWAL MUROODU MIN HADIITSIN : "HUBBUL WATHON MINAL 
IIMAAN" AY FAYANBAGHII LIKAAMILIL IIMAANI AN YA'MURO WATHONAHU BIL-'AAMALIS 
SHOOLIHI " 
(DALILUL FAALIHIIN / 27)

Artinya :
" Tanah Air yang Haqiqi ialah Negri Akhirat yang tidak ada hingganya untuk 
akhirnya dengan kehendak Allah dan dengan QodratNya, sebagaimana telah datang 
didalam hadist yang bunyinya : "Wahai Ahli Syurga kamu semuanya kekal (didalam 
syurga) tanpa mati, dan wahai ahli neraka kamu semuanya kekal (didalam neraka) 
tanpa mati". Berkata sebagian ulama':  hadist ini ( YAA AHLAL JANNAH ilaa 
akhir) ialah yang dimaksud dari hadist " Cinta Tanah Air adalah sebagian 
daripada Iman". Artinya maka seyogyanya bagi orang yang sempurna imannya 
hendaklah membuat kemakmuran tanah Airnya dengan amal Sholeh" 

Disini jelas sekali MUHAMMAD bin ALAN AS-SHIDDIQY menerangkan tentang Hakikat 
yang dimaksud Tanah Air dalam Hadist 'Hubbul Wathon Minal 'iimaan' yang tidak 
lain dan tidak bukan adalah : 'Daarul Akhirot', kalau misalnya beliau tidak 
mempercayai atau menganggap palsu hadist tersebut, tentunya tidak akan ada 
kalimat ini setelah kutipan hadist tersebut : " maka seyogyanya bagi orang yang 
sempurna imannya hendaklah membuat kemakmuran tanah Airnya dengan amal Sholeh" 
maksudnya : seseorang yang mengaku Cinta Tanah Air hendaklah memakmurkan tanah 
airnya yaitu dengan jalan amal Sholeh, kalau mengaku Cinta tapi tidak amal 
Sholeh maka bisa dikatakan cintanya adalah Cinta Palsu, jadi Cinta Tanah Air 
yang sejati adalah CINTA akan Negri Akhirat, apa yang disampaikan MUHAMMAD bin 
ALAN AS-SHIDDIQY ini selaras sekali dengan Al-Qur'an :

"WABTAGHII FIIMAA AATAAKALLOHUD DAAROL AKHIROH" (QS. Qoshos : 77)

"Hendaklah kamu berusaha didalam sesuatu yang Allah mendatangkan (kebahagiaan) 
kepadamu di Negri Akhirat"

Jadi sangat aneh sekali kalau anda mengatakan MUHAMMAD bin ALAN AS-SHIDDIQY 
tidak mempercayai Hadist 'Hubbul Wathon Minal 'iimaan', saya kira dalam hal 
ini, kesimpulan anda-lah yang kurang tepat.

Persoalan Dhomir HUM dalam kalimat QOOLA BA'DLUHUM HAADZAA HUWAL MUROODU MIN 
HADIITSIN : "HUBBUL WATHON MINAL IIMAAN" , saya kira bukanlah persoalan yang 
perlu dipersoalkan, karena siapapun yang dimaksud dengan HUM (mereka), yang 
jelas  MUHAMMAD bin ALAN AS-SHIDDIQY sepakat dengan mereka tersebut, dalam hal 
mengakui adanya Hadist 'Hubbul Wathon Minal 'iimaan' dengan bukti adanya 
penjelasan tentang Hadist tersebut seperti yang telah saya sebutkan diatas.

Cukuplah saya yang fakir ilmu ini berpegang pada pendapat Ulama', begitu pula 
dalam persoalan Hadist CTA ini, 

Bu Rahima yang 'alim, anda tidak bisa mengingkari kenyataan, bahwa disamping 
ulama' yang anda sebutkan itu (syeh Albani dll) ada Ulama' lain yang mengakui 
adanya Hadist tersebut, diantaranya  syekh MUHAMMAD bin ALAN AS-SHIDDIQY ini, 
sekarang kita kembalikan lagi saja kepada keinsyafan bahwa persoalan 
Khilafiyyah (perbedaan pendapat) adalah persoalan biasa dikalangan umat Islam, 
yang paling penting adalah kita bisa saling menghormati, tidak saling 
berprasangka, tidak saling menghujat, apalagi mengancam masuk neraka, bahkan 
menganggap orang lain aqidahnya abu2 dst dst, hanya karena mereka berbeda 
pendapat dengan kita, ingatlah kebenaran sejati itu hanyalah milik Allah Ta'ala:

AL-HAQQU MIN ROBBIKUM (QS.Kahfi:29)

"Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu"


Wassalam
ILham Musoddiq



" KUNCI KEMULYAAN ADALAH TAWADHU',
KUNCI KEHINAAAN ADALAH TAKABBUR "
 


[Non-text portions of this message have been removed]






Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke