Dari www.syariahonline.com <http://www.syariahonline.com/> , mudah2an
bermanfaat.
Banyak Hadist Palsu Bagaimana Mengetahuinya ?
Assalamualaikum Wr.Wb
Pak Ustad yang insya Allah dimuliakan oleh Allah SWT apakah benar bahwa
banyak sekali Hadist-hadist palsu yang dapat menjerumuskan umat islam
kejalan yang tidak sesuai dengan hadist shahih,dan bagaimana saya
mendapatkan hadist-hadist yang shahih sehingga saya sebagai orang awam tidak
terjebak didalamnya. sebelumnya terima kasih atas jawabannya.
Wassalam
Dudi
Bojong Depok Baru Blok AG.24
2004-09-06 10:51:18
Jawaban:
Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba'd.
Di masa awal Islam, memang pernah terjadi beredarnya hadits-hadits palsu
secara massal. Ada banyak sebabnya, namun salah satu latar belakangnya
adalah perpecahan politis di kalangan beberapa kelompok di masa itu.
Masing-masing kelompok berusaha membuat argumen yang memenangkan
golongannya. Salah satunya dengan menggunakan hadits palsu atau maudhu`.
Hadits palsu ini sama sekali tidak berasal dari Rasulullah SAW, melainkan
hanya dibuat-buat sendiri sesuai kebutuhan politik saat itu.
Kenyataan ini memberi motivasi kepada para ulama untuk melakukan penelusuran
riwayat hadits-hadits itu. Maka sejak itu terjadilah sebuah revolusi besar
dalam dunia ilmu pengetahuan dengan ditemukannnya metode penelusuran hadits
yang fenomenal. Metode ini unik dan hanya ada satu-satunya di dunia. Hanya
ada di dalam agama Islam saja. Agama lain tidak pernah mengenal metode
demikian.
Secara sederhana, para ulama yang serius memperhatikan kebenaran hadits
melakukan pengecekan kebenaran hadits dari orang per-orang hingga kepada
Rasulullah SAW. Bila jalur (sanad) terputus, maka hadits itu tertolak.
Sedangkan bila sampai kepada Rasulullah SAW, masih dilihat kekuatan
periwayatannya. Salah satunya dengan melihat riwayat hidup orang-orang yang
meriwayatkan hadits itu. Ukuran standarnya adalah masalah `adil dan dhabith
.
`Adil
Yang dimaksud dengan `adil adalah bahwa orang itu baik perilakunya dan
sesuai dengan ajaran Islam. Bukan hanya dari sisi aqidah dan penerapan
syariat, tetapi sampai kepada masalah akhlaq, moral dan etika. Sehingga
seorang perawi hadits yang pernah kedapatan berbohong sekali saja dianggap
sudah melemahkan periwayatan haditsnya. Atau bila melakukan hal-hal yang
dianggap tidak sejalan dengan akhlaq dan nilai etika moral dalam Islam, maka
orang itu akan dicap sebagai kurang `adil.
Dhabith
Yang dimaksud dengan dhabith adalah kekuatan hafalan dan kekonsistenan
periwayatannya. Bila ada seorang perawi meriwayatkan sebuah hadits lalu di
saat yang lain meriwayatkan lagi tapi berbeda isi atau redaksinya, maka
orang itu dinilai kurang baik dari sisi dhabithnya. Dan akan dicap sesuai
dengan kondisi dan keadaannya. Atau bila dia terlupa dengan hadits yang
pernah diriwayatkannya, maka nilai kedhabitannya menjadi berkurang.
Anda bisa bayangkan bahwa periwayat hadits itu jumlah mencapai ribuan bahwa
ratusan ribu orang. Palig tidak ada rentang waktu 100 s/d 200 tahun antara
masa hidup Rasulullah SAW dengan masa periwayatan haditssebelum
dikodifikasi. Satu persatu mereka diteliti dan didatangi serta didata
kondisi keadilan dan kedhabitannya.
Diantara tokoh besar yang melakukan proyek maha raksasa ini adalah Imam
Al-Bukhari, Imam Muslim, Imam An-Nasa`i, Imam At-Tirmizi, Imam Abu Daud,
Imam Ibnu Majah dan masih banyak yang lainnya. Khusus Bukhari dan Muslim,
keduanya terkenal dengan ketatnya seleksi atas hadits-hadits yang mereka
riwayatkan. Syarat keshahihan hadits yang mereka pilih sangat berat,
sehingga dari sekian juta hadits yang berserakan, tinggal kira-kira 6 ribuan
saja yang mereka masukkan ke dalam kitab shahihnya. Kitab yang mereka
jadikan sebagai pedoman hadits shahih adalah Shahih Al-Bukhari dan Shahih
Muslim.
Sedangkan yang lainnya masih banyak yang shahih, meski masih perlu dilakukan
penelusuran lebih lanjut. Salah satunya adalah yang dimasa kini dilakukan
oleh salah seorang ulama Syeikh Nashiruddin Albani. Beliau melakukan
penelusuran ulang pada kitab-kitab yang telah diriwayatkan oleh para tokoh
hadits ashabus sunan lalu memilahnya berdasarkan yang shahih dan yang
dha`if. Misalnya tulisan beliau Silsilah Al-ahadits As-Shahihah .
Al-Jarhu Wat- Ta`dil
Ini adalah ilmu untuk menelusuri kondisi `adil dan dhabith seorang rawi. Di
dalamnya terdapat sekian banyak kriteria tentang keadilan dan kedhabithan
seseorang.
Termasuk di dalam kekayaan disiplin ilmu ini adalah kitab-kitab yang memuat
daftar nama para perawi seperti kitab Siar A`lam An-Nubala
, masterpiece ulama hadits terkenal, Az-Zahabi. Kitab ini terdiri dari 28
jilid tebal yang memuat daftar para perawi hadits.
Selain itu khusus untuk Masalah Jarh dan Ta dil, Abu Hatim Ar-Razi telah
menyusun kitab yang berjudul Al-Jarhu Wat-Ta`dil . Kitab ini terdiri dari 10
jilid tebal.
Dengan semua keberadaan ilmu hadits ini, tidak ada alasan lagi bagi kita
untuk bingung bila menemukan hadits, apakah palsu atau shahih dari
Rasulullah SAW. Tinggal sejauh mana kita mau belajar disiplin ilmu ini
dengan baik serta mengerti manfaat dan tujuannya.
Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.
[Non-text portions of this message have been removed]
Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/