Kembali ke Laptop?
  3 Apr 07 05:09 WIB
   
   
  Oleh Endah Widayati
   
  Impian mempunyai laptop begitu menggebu di hati saya beberapa 
  tahun terakhir ini. “Betapa enaknya jika dakwah didukung dengan 
  fasilitas ini”, batin saya dari waktu ke waktu. Masalahnya tentu saja 
  pada sisi financial. Sebab, segala sesuatunya akan mudah didapat jika 
  uang menjadi daya dukungnya. Logika saya, uang memang bukan segalanya, 
  namun segalanya tidak bisa terbeli tanpa uang. Maka kerja dari waktu 
  ke waktu, yang terpikir oleh saya adalah bagaimana menyisakan uang 
  untuk bisa membeli laptop. Ini bukan karena si Tukul selalu iming-iming 
  laptopnya, tapi karena dengan memiliki laptop, maka saya bisa melakukan 
  kerja lebih produktif, mengembangkan diri secara optimal, dan berkontribusi 
  lebih baik. Itu saja.
   
  Keinginan saya terjawab dengan laptop pinjaman. Dari kantor tempat 
  saya bekerja, seringkali meminjamkan laptop untuk dibawa pulang. 
  Tentu saja harapan mereka saya bisa menyelesaikan tugas-tugas tambahan 
  kantor yang menumpuk. Dua tempat saya bekerja terakhir memberikan 
  fasilitas ini untuk saya, meski tidak setiap hari. Bagaimanapun, saya masih 
  merasa tidak nyaman ketika tuntutan dari dalam diri memaksa untuk terus 
  berkembang lebih, dan pada saat yang sama saya harus bisa menunjukkan 
  hasil kerja yang lebih optimal dengan fasilitas yang diberikan. Meski kadang 
  saya juga menyenangkan hati dengan mengatakan, “orientasi menikmati, 
  bukan memiliki”.
   
  Impian untuk memiliki laptop sendiri masih belum terjawab. Semakin 
  menggebu, semakin bingung. Kadang ketika butuh sekali, laptop justru 
  dipakai untuk urusan lain dari kantor. Berbagai kemungkinan untuk 
  mendapatkan laptop dengan status milik sendiri kembali dicoba. Ketika 
  kebutuhan lain tidak kalah mendesak untuk dipenuhi, maka membeli 
  dengan cara cash pun semakin jauh dari pikiran. Saya mulai bertanya 
  kepada teman-teman untuk mendapatkannya dengan cara kredit. Termasuk 
  kemarin, sebuah penawaran dari teman datang melalui Yahoo Messenger 
  untuk mendapatkan laptop dengan cara mencicil. Hati sayapun segera 
  berbunga, terbayang laptop impian akan segera ada di tangan. Saya berjanji 
  pada diri sendiri untuk lebih rajin menulis agar si laptop bisa segera 
  terbayar lunas.
   
  Kesenangan hati dengan fokus laptop hanya berlaku sekejap. Esoknya 
  teman saya tersebut mengatakan kalau kesempatan hanya berlaku sebatas
  pegawai di mana dia bekerja. “Gagal lagi”, pikir saya-meski berita terakhir 
  masih memberi harapan kalau orang luarpun ada kemungkinan bisa 
  bergabung dalam program nyicil laptop, dengan seleksi tertentu yang 
  mereka lakukan.
   
  Menyerahkan segalanya pada Allah adalah pilihan terbaik. Mungkin saya 
  masih belum dianggap siap oleh Allah, hingga belum layak mendapatkannya 
  sekarang. Sedikit mengeluh kepada seorang teman menjadi jalan saya 
  melampiaskan kekesalan, mengingat proyek buku yang kita sepakati 
  sedikit tersendat dengan alasan fasilitas terbatas. Namun justru saya pun 
  dibuat malu sendiri ketika mengetahui bahwa teman saya ini justru 
  membuat tulisan-tulisannya hanya lewat warnet. Dan saya tahu, dia jauh lebih 
  produktif daripada saya, dan tulisannya selalu nangkring di situs Islam 
terkenal. 
  Akhirnya saya harus kembali mengakui, keterbatasanlah yang justru memacu 
  kita untuk berjuang lebih keras. Betapa banyak orang sukses yang lahir dari 
  lingkungan yang tidak kondusif, hingga jiwanya merintih dan memaksanya 
  untuk melakukan hal yang tidak dilakukan oleh kebanyakan orang. Dari situlah 
  awal kebesarannya bermula. Maka, tidak ada alasan lagi bagi saya untuk
  hanya menunggu laptop agar dapat maksimal berkarya.
   
  Akhirnya cerita lain menjadi pelajaran tambahan pada saya. Hari Ahad 
  kemarin saya kedatangan dua orang teman dari luar kabupaten yang 
  menawarkan sebuah kerjasama bisnis dan dakwah kepada saya. Karena 
  bentuk kerjasama ini membutuhkan interaksi yang intens, maka merekapun 
  bertanya dengan jadwal online saya. Dengan jujur saya mengatakan kalau 
  selama ini saya seringkali online di kantor. Tentu saja bisa dibayangkan 
  kalau waktu tersebut tidak cukup efektif untuk melakukan banyak hal di luar 
  pekerjaan. Akhirnya, tanpa saya minta, merekapun menawarkan fasilitas 
  komputer dan koneksi internetnya untuk saya. Alhamdulillah, minimal 
  kontrak untuk dipercaya orang lain masih terus diperpanjang. Bukankah 
  kepercayaan menjadi unsur penting untuk mencapai kesuksesan? Dan, 
  bisa jadi, inilah cara Allah untuk menjawab do’a saya. Anggap saja saya 
  masih bayi, sehingga akan kaget kalau harus langsung makan nasi.
   
  Teringat terus kata-kata teman saya hingga saya menuangkan tulisan ini, 
  “jangan khawatir, Allah lah yang akan membiayai dakwah kita”. 
  Kalimat bombastis dari teman saya ini menyentakkan saya, betapa Allah 
  sungguh cantik memberikan segalanya pada kita. Jika kita dianggap 
  sudah siap menerima suatu hal, maka Allah akan memberikannya untuk kita, 
  sesuai kebutuhan kita, dan bukan apa yang kita inginkan. Betapa sesungguhnya 
  sangat banyak rizki kita yang masih menggantung di langit, andai saja 
  kita mau menjemputnya dengan kesungguhan. Allah hanya akan 
  menurunkannya dengan tepat, kepada mereka yang benar-benar siap 
  menerimanya. Dan, jika kita merasa yakin berada di jalan dakwah, maka 
  percayalah bahwa Allah yang akan memenuhi segala sesuatunya.
   
  Wallahu a’lam bish showab
   
  http://www.eramuslim.com/atk/oim/460a609f.htm
  
 
---------------------------------
No need to miss a message. Get email on-the-go 
with Yahoo! Mail for Mobile. Get started.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke