http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2006111800535216
Sabtu, 18 November 2006
BURAS
Ketika Feri Terbakar!
H.Bambang Eka Wijaya:
FOTOGRAFER ditugaskan meliput kapal feri terbakar. "Langsung ke bandara,
heli sudah menunggumu!" perintah redaktur.
Mobil ia pacu ke bandara, langsung ke heli yang baling-balingnya
berputar. Ia loncat ke heli dan memerintah pilot, "Ayo berangkat!"
"Siap!" sambut pilot segera menerbangkan helinya. "Kita ke arah mana?"
"Pelabuhan! Tempat feri terbakar!" tegas fotografer. "Dekat kapal yang
terbakar nanti terbang rendah dan statis di berbagai posisi!"
"Buat apa terbang statis?" tanya pilot.
"Untuk memfoto feri yang terbakar!" tegas fotografer. "Aku fotografer,
memangnya mau ngapain ke sana?"
"Fotografer?" pilot tersentak, pucat pasi. "Jadi Anda bukan instruktur,
pelatih calon pilot?"
"Apa?" fotografer gemetar. "Kau bukan pilot?"
"Baru belajar, tadi menunggu instruktur!" jelas pilot. "Kupikir Anda yang
memerintahku terbang instruktur pengganti!"
"Bisa mendarat di tempat kita take off?" tanya fotografer.
"Ini kali pertama aku mendaratkan heli tanpa instruktur!" jawab pilot.
"Semoga pelajaran dari buku dan dua kali melihat instruktur mendaratkan heli,
bisa kujadikan pedoman!"
"Cuma dari membaca teori dan melihat orang lain melakukannya?" timpal
fotografer. "Jadi, kita sedang dalam bahaya, kan?"
"Ini susahnya pekerjaan teknis, bukan hanya menguasai sistem secara
teori, tapi harus lebih matang dengan kiat pengendaliannya!" keluh pilot. "Beda
kerja administratif, tahu sedikit soal ini-itu, tanpa kemampuan teknis pun asal
ada koneksi bisa dapat kedudukan!"
"Asumsi kerja administrator seperti itu keliru!" tegas fotografer.
"Penguasaan teknis dan pengalaman kerjanya harus lebih matang dari para pekerja
teknis bawahannya!"
"Tapi kenyataan tak selalu begitu!" timpal pilot. "Apalagi untuk
pengisian jabatan politis! Akibatnya, orang yang cuma tahu sekilas tentang
sesuatu diberi wewenang mengatur mereka yang lebih ahli di bidangnya!"
"Tergantung model penguasanya!" tegas fotografer. "Jika zaken kabinet,
setiap bidang tugas ditangani yang benar-benar ahlinya! Lain hal kabinet
partisan, posisi di partai dan hubungan pribadi dengan penguasa lebih
menentukan perolehan jabatan! Apalagi dibumbui KKN, bego pun asal famili bos
bisa memimpin divisi!"
"Zaken kabinet mungkin seperti pada awal Orde Baru, waktu Prof. Widjojo,
Prof. Soemitro, Prof. Emil Salim, dan kawan-kawan jadi menteri!" sambut pilot.
"Masa itu, sampai medio 1980-an, kapal yang berusia lewat 30 tahun harus
dirajang sebagai besi tua! Artinya, dalam zaken kabinet soal kualifikasi teknis
tak bisa ditawar-tawar!"
"Itulah yang berubah pada kabinet partisan!" tukas fotografer. "Feri yang
terbakar usianya sudah lebih 30 tahun tetap ditoleransi jalan! Asal masih bisa
menghasilkan uang, tak mementingkan keselamatan pelayaran!"
"Faktor kekuasaan dan orientasi ekonomis yang menonjol!" timpal pilot.
"Akibatnya, kereta api berjalan solo di atas rel pun sering terguling, kapal
berlayar di atas air terbakar! Begitulah jika faktor teknis disepelekan!"
bening.gif
Description: GIF image
<<attachment: buras.jpg>>
