Agama Islam melihat pemeluk Islam itu sebagai satu kesatuan ummat tanpa sekat-sekat suku dan bangsa. Jika terjadi perang, orang Islam melihat orang Islam lainnya sebagai sekutu, sebaliknya yang bukan Islam mereka anggap "orang lain" walau anggota suku dan saudara dekat sendiri.
Berbeda dengan Kristen. Agama Kristen tidak menganjurkan orang melepaskan diri dari ikatan keluarga, suku dan bangsanya. Jadi kalau terjadi perang, orang Kristen cenderung berpihak pada keluarga, suku dan bangsanya, tanpa melihat perbedaan agama. Inilah yang terjadi di Rwanda sewaktu terjadi perang antara suku Hutu yang berhidung lebar dan suku Tutsi yang bertubuh jangkung dan berhidung mancung itu. Walaupun sama-sama Kristen mereka berbunuh-bunuhan. Yang Tutsi membunuh Hutu, yang Hutu membantai Tutsi. Sementara itu minoritas Islam, baik dari suku Tutsi maupun Hutu tetap bersatu, malah menampung dan melindungi orang-orang Tutsi dan Hutu Kristen dari kejaran sesama Kristen dan memberi "bantuan kemanusiaan" yang ditopang kucuran dana dakwah dari negara-negara Arab kaya minyak. Tetapi berbeda dengan bantuan tanpa pamrih masyarakat internasional bagi korban tsunami Aceh, "bantuan kemanusiaan" dana Arab ini bukankah cuma-cuma melainkan disertai khitanan massal. Sebabnya karena dana sedekah/zakat/infaq dsb-nya HARAM HUKUM-nya kalau diberikan kepada orang kafir (Hutu dan Tutsi Kristen). Untuk mendapat hak menerima "bantuan kemanusiaan" mereka harus masuk Islam. Itu ada SYARIAT-nya yang TIDAK BOLEH DIBIKIN MAIN-MAIN. Jadi semua bantuan/perlindungan itu bukannya SUSUTANTE. (Susutante: Sumbangan Sukarela Tanpa Tekanan). --- siahaan2006 <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Bung Sato, Saya sepakat dengan Anda, bahwa berdakwah adalah dengan menunjukkan perhatian dan rasa kasih kepada sesama manusia. Kita coba lihat dari sisi lain. Paska terjadinya genocide di Rwanda tahun 1994 yang mayoritas kristen, jumlah muslim yang minoritas meningkat tinggi dalam presentase. Secara statistik bisa dimaklumi karena banyak kristen yang terbunuh (1 juta dalam 3 bulan dari total 8 juta penduduk). Tetapi perpindahan dari kristen ke islam sangatlah signifikan. Kenapa? Saat saudara2nya yang kristen bunuh2an, muslim minoritas berperan sebagai penolong korban2 dari kedua belah pihak. Saya yakin, tindakan mereka bukan karena ingin menarik simpati atau mengambil kesempatan dakwah, tapi karena - saat itu di Rwanda - yang muslim 'instink kemanusiaannya' yang jalan, sementara yang kristen, 'instink kebinatangannya' yang jalan. Dalam keadaan seperti ini, siapa yang salah kalau konversi besar2an terjadi? Salam, Siahaan --- In [email protected], Sato Sakaki <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Saya kira orang Kristen berdakwah dengan menunjukkan > perhatian dan rasa kasih kepada sesama manusia. Bukan > membeli keimanan. Kalau memberi bantuan tidak ada > keharusan orang yang dibantu harus beralih memeluk > agama Kristen. Paling diberi majalah dan Alkitab untuk > dibaca seandainya tertarik pada jalan keselamatan yang > dijanjikan Yesus. Kalau tak tertarik ya tak apa-apa. > > Kalau menurut saya, suguhan perempuan ehh disediain > isteri itulah yang sesungguhnya dakwah dengan > penyuapan. Maksud saya ganti agamanya bukan murni > karena kesadaran imani melainkan karena ada > iming-iming indomie ehh apem-nya hehehehe. Dari banyak > non-Islam yang masuk Islam saya lihat umumnya karena > termakan "suap" yang mengasyikkan ini. ____________________________________________________________________________________ Cheap talk? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates. http://voice.yahoo.com
