Amir MMI dan Jihad 

Maruli Tobing 

Ceramah Abu Bakar Ba'asyir, amir Majelis Mujahidin Indonesia, pada 
acara Tablig Akbar di Masjid Al Ikhlas, Ngadiluwih, Kediri, Jawa 
Timur, pada 5 November, nyaris tidak mendapat tempat dalam 
pemberitaan media nasional. Ia tenggelam oleh seputar berita konflik 
Poso. 

Dalam ceramahnya, Abu Bakar Ba'asyir mengatakan kepada 
pengikutnya, "Kalau mau berjihad, jangan di sini (Indonesia)'' 
(Antara, 6/11). 

Ba'asyir menyatakan hal itu menanggapi langkah jihad yang ditempuh 
terpidana mati Amrozi Cs. Pendiri Pondok Pesantren Al Mukmin, 
Ngruki, itu berpendapat, jihad yang dilakukan Amrozi Cs tidak tepat 
tempat dan waktunya. "Oleh sebab itu, kami minta pengikut MMI 
(Majelis Mujahidin Indonesia) tidak mengikutinya karena justru 
merugikan. Mereka salah perhitungan," ujar Ba'asyir. 

Terlepas dari peran Al Mukmin yang oleh media dan intelijen Barat 
sempat disebut-sebut sebagai "kampus jihad" di Asia Tenggara, 
Ba'asyir adalah ulama yang sangat berpengaruh di kalangan mujahidin 
Indonesia. Ucapannya akan didengar dan menjadi panduan para 
pengikutnya. 

Majalah Foreign Policy (17/7/2006), misalnya, mencatat delapan nama 
dalam daftar ulama yang ucapannya dapat membawa konsekuensi. Mereka, 
antara lain, amir Ikhwanul Muslimin, Sheikh Yusuf al-Qaradawi, 
Moktada al-Sadr, Abu Bakar Ba'asyir, Grand Mufti Sheikh Abdul Azis 
bin al-Sheikh, dan Grand Sheikh Muhammad Sayed Tantawi. 

Maka, penolakan Ba'asyir pada jihad ala Amrozi Cs di Indonesia 
membawa "konsekuensi". Dalam arti, jika selama ini sejumlah alumnus 
Al Mukmin terlibat dalam "jaringan sel" aksi peledakan bom, kini 
mereka yang telanjur merencanakannya akan berpikir dua kali untuk 
melanjutkan. Atau, kalaupun harus meneruskan, dukungan dan ruang 
geraknya akan semakin sempit. 

Secara kebetulan, Ustadz Adnan Arsal, ulama yang memiliki pengaruh 
di Poso, berada di Jakarta. Ia mengaku mencari dukungan tokoh-tokoh 
Islam dan memobilisasi jihad ke Poso (Kompas, 6/11). 

Adnan dikabarkan menolak memenuhi permintaan polisi untuk 
menyerahkan 29 tersangka pelaku kerusuhan di Poso. Ia khawatir para 
tersangka akan mengalami penyiksaan seperti dialami tahanan 
sebelumnya. 

Lantas, apakah terjadi pergeseran interpretasi jihad di kalangan 
ulama dan aktivis Islam? 

Musuh dekat dan jauh 

Perbedaan pendapat dalam hal jihad bukanlah hal luar biasa dalam 
perjuangan mujahidin. Sejak Abdullah Azzam membentuk Maktab al-
Khadamat, yang kelak berubah menjadi Al Qaeda, hal tersebut sudah 
muncul. 

Azzam berpendapat, jihad membebaskan Afganistan akan menciptakan 
suatu sistem lingkaran konsentrik di kawasan Islam. Terbentuknya 
emirat Islam di Afganistan akan merembes membebaskan daerah Islam di 
sekitarnya. Dalam hal ini jihad diarahkan menghadapi musuh yang 
posisinya lebih dekat. 

Sebaliknya bagi Ayman al-Zawahiri, amir kelompok Al Jihad Mesir, 
jihad diarahkan untuk menghadapi musuh yang lokasinya jauh, yakni 
Amerika Serikat, Yahudi, dan sekutunya. Sebab, tanpa dukungan 
Amerika Serikat dan sekutunya, "rezim munafik" di Timur Tengah akan 
goyah dan mudah ditumbangkan. 

Menurut Al-Zawahiri, melalui perang global, Amerika Serikat akan 
terkuras tenaganya. Kekuatan militernya terpaksa dipencar di belahan 
dunia. Menjadi defensif karena terfokus membentengi instalasi-
instalasi penting dari kemungkinan serangan mujahidin. Pada titik 
kritis, Amerika Serikat akan menarik dukungannya dari "rezim 
munafik" di Timur Tengah. 

Perbedaan pendapat tersebut masih muncul di Irak sebelum tewasnya 
Abu Musab al-Zarqawi. Dalam perspektif Al-Zarqawi, jihad harus 
difokuskan menghadapi musuh lebih dekat, yakni kelompok Syiah dan 
rezim penguasa Jordania. Maka serangan bom bunuh diri bertubi-tubi 
diarahkan kepada kelompok Syiah, bukan terhadap tentara pendudukan 
Amerika Serikat dan sekutunya. Alhasil, Irak berubah menjadi lautan 
darah perang saudara. 

Perangkap provokasi 

Terlepas dari perbedaan interpretasi tersebut, pernyataan Abu Bakar 
Ba'asyir yang menolak jihad ala Amrozi Cs di Indonesia menjadi 
perhatian analis dan pengamat intelijen di luar negeri. Sebab, 
selama ini Ba'asyir dianggap sebagai simpul gerakan jihad di Asia 
Tenggara. 

Zachary Abuza, misalnya, dalam tulisannya di Counterterrorism Blog 
(6/11) bertanya, apakah Ba'asyir mengubah strategi dengan memilih 
jalan nonkekerasan dalam memperjuangkan cita-citanya? 

Penulis buku Militant Islam in Southeast Asia: Crucible of Terror 
(2004) dan Political Islam and Violence in Indonesia (2006) ini 
meragukan hal itu. Ia berpendapat, Ba'asyir hanya mengubah taktik, 
bukan strategi. 

Akan tetapi, Abuza juga tidak lepas dari bias Barat dalam memahami 
gerakan Islam di Indonesia. Contohnya, ketika Ba'asyir bebas setelah 
selesai menjalani masa hukumannya, Abuza malah menulis sebagai 
langkah mundur dalam perang melawan teror di Asia Tenggara 
(Counterterrorism Blog, 13/6). 

Dengan kata lain, sama seperti Perdana Menteri Australia John 
Howard, Abuza menghendaki Ba'asyir tetap meringkuk di penjara. 
Dengan demikian, Indonesia akan terperangkap dalam provokasi yang 
mempertentangkan pemerintah dengan kelompok Islam. 

Strategi devide and rule lazim digunakan Barat mendestabilisasi 
negara-negara Dunia Ketiga. Lebih efektif lagi di Indonesia karena 
pemerintahnya berdiri di atas koalisi yang rapuh. Pertikaian yang 
berlanjut akan melemahkan Indonesia dan bergantung pada Barat, lebih 
khusus lagi menghilangkan ancaman bagi Australia. 

Pertemuan Ba'asyir dengan tokoh Katolik dan Buddha di Yogyakarta 
(Kompas, 7/11) menunjukkan terjadi perubahan strategis dalam 
perspektif mujahidin Indonesia. 

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0611/27/nasional/3121682.htm

Kirim email ke