Penjajahan model baru memang seperti yang dilakukan oleh AS dengan berdalih 
membasmi teroris. Tetapi menyerang negara lain tanpa bukti yang kuat bahwa 
negara yang akan diserang benar-benar mengancam negara lain adalah pelanggaran 
yang sangat besar. Masalahnya sampai detik ini tidak ada satupun negara yang 
berani managatakan AS salah. Dan apa yang dilakukan AS juga sudah melanggar hak 
asasi manusia yang sering AS sering dengungkan untuk mengkritik kebijakan 
negara lain yang tidak sepaham dengan nya. Tetapi kita tidak bisa mebuat 
apa-apa. Sing cilik ngalah karo sing gede sebagai kenyataan saat ini. Yang 
idialnya sing gede ngalah karo sing cilik. 

Melihat kenyataan ini kita harus menjadi negara besar agar tidak 
dikalah-kalahkan oleh negara lain. Tapi gimana caranya ????????.................

Saya pernah diskusi dengan sesepuh yang berumur 3 jaman. Beliau berkata "Tahun 
70 an ekonomi Indonesia jauh lebih baik di banding Cina dengan jumlah penduduk 
yang melonjak tetapi kwalitas yang rendah " akhirnya diputuskan oleh 
pemimpinnya saat itu untuk memprioritaskan pendidikan sdm bagi rakyatnya. 
Sehingga rakyatnya mendapatkan pendidikan gratis sampai Unversitas. Sulit 
memang awal-awal pelaksanaan program ini tetapi mereka bilang bahwa pengorbanan 
saat itu akan dapat hasilnya dimasa akan datang. 

SEBAGAI HASIL TIRAKAT PARA PEMIMPIN CINA TAHUN 70 AN MUNGKIN BISA KITA 
BANDINGKAN INDONESIA DAN CINA SAAT INI. 

Sekilas yang saya tahu Cina negara tidak mau dikendalikan oleh AS, Cina sudah 
bisa membuat pesawat sejenis F-15 buatan AS, Cina  tengah mempersiapkan  
tehnologi luar angkasa  dll.  Kapan  Indonesia   ??? ......

NEGARA YANG BESAR BUKAN NEGARA YANG KAYA SUMBER ALAMNYA TETAPI NEGARA YANG  
MEMPUNYAI SDM YANG  PINTAR  TIDAK  BERGANTUNG PADA ALAM  TETAPI  ALAM 
TERGANTUNG  PADA MANUSIA.

Negara  yang  punya  cukup banyak sumber alam  rata-rata lemah di  SDM  seperti 
 negara timur tengah dan  Indonesia sendiri  apa  sdh  kodratnya ya  ???

Tetapi tidak bisa begini seterusnya  masak  kita  yang  punya  alam  orang  
lain  yang  lebih  banyak  menikmatinya.  Khan salah  yaa ??.....

MAKA NYA KALAU INGIN MANJADI NEGARA BESAR PIKIRKAN SDM-SDM, APALAGI ? YA.. 
SDM-SDM, APALAGI ? YA.. SDM-SDM. APALAGI ? YA.. SDM-SDM. BARU YANG LAIN.

rahmad budi <[EMAIL PROTECTED]> menulis:                                  
 
 AS defisit perdagangan?
  
 Tidak menjadi masalah selama mata uang dolar AS masih dipakai sebagai mata 
uang internasional.
 Dengan demikian AS bisa mencetak uang sebanyak-banyaknya melebihi batasan 
untuk menutupi defisit itu. Karena efek inflasinya tak hanya mengimbas ke AS 
tapi juga seluruh dunia yang masih memakai dolar AS sebagai mata uang 
perdagangan antar negara. Tengok saja perjalanan nilai tukar dolar AS terhadap 
emas. 
  
 Dengan menjadikan dolar sebagai mata uang internasional, posisinya sulit untuk 
melemah. Karena tiap negara akan selalu mencari dolar untuk membayar impor. 
Karena itu, keberadaan Euro bisa mengancam tak hanya nilai mata uang dolar AS, 
tapi juga perekonomian negara itu. Coba saja kalau negara2 Timur Tengah menjual 
minyak mereka dengan Euro. Bakal terjun bebas itu dolar AS terhadap Euro. Walau 
ini bakal merugikan Eropa juga. 
  
 Irak di masa Saddam pernah iseng mau menjual minyaknya dalam euro, salah satu 
cara dia menunjukkan perlawanan kepada AS. Hasilnya, kiriman peluru kendali 
TomaHawk oleh Clinton.
  
  Itulah 'kehebatan' sistem ekonomi yang mejadikan uang sebagai komoditas 
perdagangan, bisa diperjual belikan. Nilai mata uang ditentukan oleh kuatnya 
permintaan terhadap mata uang itu, yang dianalogikan dengan kekuatan ekonomi 
negara pemilik mata uang. Tapi teori ini tak berlaku di Cina. Mata uang Yuan 
tetap saja undervalued terhadap dolar AS padahal kekuatan ekonomi Cina begitu 
luar biasa.  
  
 ''Seharusnya Yuan lebih mahal dari dolar Hongkong,'' ujar seorang rekan 
wartawan Cina di Jakarta. Maka, kekuatan ekonomi Cina yang riil jauh sebenarnya 
lebih besar daripada ketika ditakar dengan dolar AS. Dan itulah strategi Cina 
untuk selamat dalam sistem ekonomi dunia. Murahnya Yuan terhadap dolar AS 
membuat harga2 produk Cina di pasaran ekspor tak akan bisa dilawan negara mana 
pun. 
  
 PS : 

 Dengan melihat pencantuman Fakta Angka di bawah, apakah artikel ini pernah 
dimuat di Republika?
  
 

 
 On 11/24/06, Wido Q Supraha <[EMAIL PROTECTED]> wrote:       
    writes oleh : Darmansyah Asmoerie
Konsultan Ekonomi Senior, Direktur PT Darmania Group

Jika anda berjalan-jalan di Manhattan, New York, mata anda niscaya akan  
terbelalak melihat sebuah baliho yang dipasang di sebuah gedung tinggi di 
perempatan jalan. Isi baliho itu: US Sale! Who Wants to Buy?

Sebagian besar orang niscaya akan terkejut: Kenapa Amerika diobral? Siapa mau  
beli? Memangnya AS butuh uang? Atau, Gedung Putih dan Capitol Hill (DPR AS) 
sudah frustrasi mencari uang untuk membiayai operasional pemerintah AS? 
Bermacam-macam pertanyaan mungkin akan muncul di benak orang yang selama ini  
menganggap bahwa AS adalah negara kaya raya dan tidak membutuhkan negara lain. 
Dengan konsumsi energi per kapita terbesar di dunia dan anggaran militer 
terbesar di dunia, AS mestinya adalah sebuah negara makmur yang kaya raya.  
Gambaran seperti itulah yang agaknya sering muncul dalam benak kita yang silau 
melihat nama besar AS.

Tapi, betulkah gambaran tersebut? Ternyata tidak --malah jauh dari kondisi 
yang sebenarnya. Sebuah buku kecil yang diterbitkan koran USA Today, misalnya,  
menyebutkan bahwa dalam 10 tahun terakhir, lebih dari 8.000 perusahaan AS 
telah dijual ke pihak lain di luar AS (negara asing), dengan total nilai lebih 
dari 1,2 triliun dolar AS.

Jika kita pehobi film Hollywood atau kendaraan bermerk asal AS seperti Ford  
dan Chevrolet --jangan salah-- semua perusahaan besar tersebut kini bukan 
milik AS lagi. Di samping Hollywood, hampir semua perusahaan hiburan di AS 
yang omzetnya ratusan milaar dolar AS per tahun, sekarang sudah menjadi milik  
Sony Corporation, Jepang. Begitu pula perusahaan-perusaha an otomotif dan 
komputer AS, kini sudah berpindah tangan ke pihak asing. Belum lama ini, 
misalnya, perusahaan komputer Cina telah membeli perusahaan komputer terbesar  
di AS. Lalu, dengan jaringan distribusinya yang luas, Cina pun memproduksi 
komputer murah Lenovo, yang kini beredar luas di Indonesia dan harganya sangat 
kompetitif.

Di pihak lain, banyak perusahaan AS gulung tikar karena inefisiensi dan buruh  
mahal. Tiap tahun, akibat inefisiensi struktural (harga tidak kompetitif, 
buruh mahal, buruh kurang produktif, dan lain-lain) perusahaan-perusaha an di 
AS menerima beban kerugian 30 persen di banding perusahaan sejenis di Asia.  
Kondisi tersebut makin tahun makin parah karena rakyat AS lebih suka 
mengonsumsi produk impor yang harganya lebih murah dan lebih berkualitas 
dibanding produk buatan AS sendiri. Saat ini, misalnya, seperempat dari income  
penduduk AS dipakai untuk membeli barang-barang impor, mulai makanan dan 
minuman kaleng, mainan anak-anak, boneka, baju, sepatu, komputer, dan lain-
lain yang jumlanya lebih dari 200 macam item.

Dalam perdagangan luar negeri, AS juga menanggung defisit yang amat besar.  
Tahun 2005, misalnya, defisit perdagangan AS dengan negara-negara lain di 
dunia mencapai 723 miliar dolar AS. Ini berarti, AS harus 'mensubsidi' negara-
negara counterpart dagangnya sebesar 1,4 juta dolar AS per menit. Sementara  
tiap tahun, tiap penduduk AS menghabiskan sedikitnya 2.400 dolar AS untuk 
membeli barang-barang impor seperti baju, sepatu, mobil, komputer, dan lain-
lain (US Census 2005). Tidak heran jika US Bureau of Labor Statistics  
menyatakan, dalam lima tahun terakhir, tiga juta pekerjaan yang berupah tinggi 
lenyap di AS. Hal ini sejalan dengan makin hilangnya pekerjaan bergaji besar 
di industri-industri AS. 

Ironisnya, perusahaan asing di industri canggih AS makin banyak. Saat ini,  
lebih dari 20 persen perusahaan-perusaha an manufaktur AS yang berorientasi 
ekspor sudah dimiliki pengusaha-pengusaha asing seperti Jepang, Jerman, dan 
Cina.

Pemerintah federal AS pun menanggung utang yang amat besar --lebih dari 8  
triliun dolar AS. Senat AS bahkan telah menambah batas utang pemerintah 
federal menjadi 9 triliun dolar AS, atau sama dengan 70 persen gros GDP-nya 
(baca: bandingkan dengan Indonesia yang saat ini utang luar negerinya sebesar  
30 persen dari GPD atau sekitar 120 miliar dolar AS). Negara-negara lain, 
khususnya Jepang dan negara kaya Timur Tengah, saat ini mengontrol 47 persen 
defisit keuangan pemerintah federal AS. Sementara utang-utang barunya  
sepenuhnya atau 100 persen tergantung dari luar negeri.

Minyak dan perang
Dengan melihat latar belakang seperti itu, kita bisa mengerti mengapa AS saat 
ini sangat ekspansif? Salah satu penopang ekonomi terbesar AS saat ini adalah  
minyak dari Timur Tengah. Negara-negara Teluk yang saat ini memproduksi hampir 
70 persen kebutuhan minyak dunia adalah 'sumber keuangan' AS. Saat ini, 
misalnya, lebih dari 70 persen perusahaan minyak AS beroperasi di Teluk.  

ExxonMobil, salah satu perusahan minyak dan gas terbesar di AS, kini menjadi 
perusahaan migas terbesar di dunia. Dan Exxon adalah salah satu kontributor 
keuangan (melalui pajak) untuk pemerintah federal di Washington. Itulah  
sebabnya, kenapa Menlu AS, Condoleezza Rice, sampai datang ke Jakarta, 
beberapa bulan lalu, untuk menekan pemerintah Indonesia agar menunjuk 
ExxonMobil sebagai operator blok minyak Cepu.

Kita tidak tahu, apa agenda Bush dalam peretemuannya dengan SBY di Bogor  
nanti. Tapi bisa diduga, menyangkut kepentingan ekonomi migas. Salah satunya, 
yang kini tengah dalam negosiasi, adalah eksplorasi cadangan gas di Natuna. 
Cadangan gas di Natuna disebut-sebut amat besar dan ExxonMobil maunya mendapat  
kompensasi yang jauh lebih besar ketimbang tawaran pemerintah Indonesia. 
Alasannya, gas produksi Natuna biaya eksplorasinya amat mahal dan kualitasnya 
buruk. Betulkah alasan tersebut? Pemerintah sebaiknya tidak percaya begitu  
saja.

Kembali ke Timur Tengah. Kenapa Israel tetap dipelihara AS? Karena Israel bisa 
menjadi 'faktor' instabilitas kawasan Teluk. Keberadaan Israel ini akan 
menguntungkan AS, khususnya dari kondisi instabilitas Timur Tengah yang kaya  
minyak. Dengan alasan melindungi Israel dari serangan teroris, AS akan gampang 
saja menyerang negara-negara Timur Tengah yang dituduh Bush menjadi basis 
teroris. Setelah menyerang sebuah negara Timur Tengah, tentunya tentara AS  
akan menghancur-leburkan sarana dan prasarana negeri itu. Kenapa demikian? 
Sekali lagi, itu adalah motif ekonomi.

Di Irak, misalnya. Hanya sepekan setelah perang selesai, perusahaan-perusaha an 
konstruksi AS langsung mendapat order dari Washington untuk membangun kembali  
Irak. Perusahaan-perusaha n konstruksi AS, khususnya Halliburton yang sebagian 
sahamnya dimiliki keluarga Bush, langsung mendapat proyek miliaran dolar AS 
untuk rekonstruksi Irak. Uangnya dari mana? Dari pampasan perang Irak. Uang  
minyak Irak pun dihabiskan untuk membangun infrastruktur yang telah 
dihancurkan AS sendiri dengan biaya yang amat mahal, tiga sampai empat kali 
lipat, jika dikerjakan perusahaan lokal. Uang minyak Irak juga dipakai untuk  
membiayai tentara AS yang kini bercokol di sana. 

Dari gambaran itu, istilah pampasan perang Irak adalah suatu logika yang aneh 
karena Irak tak pernah mengajak perang kepada AS. Akhirnya, kita tahu, migas 
 dan perang adalah sumber ekonomi' AS. Ekspansionisme AS - khususnya dalam 
mengawal perusahaan minyaknya di luar negeri dan menggertak negara-negara 
kecil dengan militernya - sebetulnya tak lebih merupakan strategi AS untuk men- 
survive-kan perekonomiannya.

Fakta Angka
8.000 unit
Perusahaan AS yang dijual ke negara lain dalam 10 tahun terakhir.
8 triliun dolar AS
Utang AS kepada negara lain.
20 persen 
Perusahaan manufaktur AS yang berorientasi ekspor sudah dimiliki asing. 

-- 
Ade Arfan Saefulloh
Sekretaris Direktur Operasional
PT Asuransi Takaful Umum
Graha Takaful Indonesia Tower A
Jl. Mampang Prapatan Raya No.100
Jakarta 12790
T + 62 21-799-1234
+ 62 21-799-2345 Ext 1199  
F + 62 21-7901944
Tool Free 0800-100-1234
Website www.takaful. com

__________________________________________________________






 


 






-- 
Si vis pacem Parabellum --- 

Rahmad Budi H
Republika
Jl Warung Buncit Raya 37 Jaksel
0856 711 2387  
     
                       

                
---------------------------------
Sekarang dengan penyimpanan 1GB
 http://id.mail.yahoo.com/

Kirim email ke