Perhatian: pesan yang diteruskan sudah dilampirkan.
                
---------------------------------
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! mempunyai perlindungan terbaik terhadap spam. 
 http://id.mail.yahoo.com/
--- Begin Message ---
Pilkada Banten telah berlalu dan berlangsung pada Minggu 26 November
2006. Untuk pertama kalinya, di usiaku yang baru saja melewati usia 50
tahun, aku tak bisa melakukan hak pilihku. Bukan karena, I don't care,
melainkan karena panitya penyelenggara di tempatku tak memberiku kartu
untuk memilih. Pengurus RT di tempatku, salah satu cluster di Graha
Raya Bintaro, Tangerang hanya berujar padaku saat bertemu pada Minggu
26/11 sekitar pkl. 11 siang, ''Kalau Bapak mau memilih dan keluarga
silahkan. Masih banyak  nama pemilih yang namanya terdaftar tapi tak
memilih dan itu bisa Bapak pakai untuk melakukan pilihan.''

Merasa itu bukan hakku , akhirnya aku memutuskan tidak memilih.
Terlebih setelah pengurus RT di tempatku menjelaskan, bahwa banyak
pula warga lainnya yang tak mendapatkan kartu pemilih. ''Pokoknya yang
bisa memilih adalah mereka yang dulu ikut pencoblosan Pilpres.
,''tukasnya makin menjelaskan permasalahan.

Dan sebuah kenyataan terjadi, sebagian warga ditempatku akhirnya
melakukan pilihan. Masing-masing menggunakan kartu pemilih dengan nama
dan RT yang benar namun nama perumahannya menggunakan alamat nama
perumahan lain.

Dan, baru pertama kali inilah aku mendapatkan pengalaman tak bisa
melakukan pencoblosan bersama keluargaku kendati aku mempunyai KTP dan
Kartu Keluarga sesuai dengan tempat yang kutinggali. Sebelumnya, baik
dalam pencoblosan pemilihan Presiden, pemilihan Lurah sampai pemilihan
RT, aku selalu terlibat dan belum pernah mendapatkan masalah karena
aku memang terlahir dan besar di bumi ini yang bernama negara Indonesia. 

Kecewakah diriku ??? Aku tak perlu menjelaskan. Yang kuingat benar,
pada Sabtu 25 November lalu, kedua anakku yang berusia 19 tahun lebih
dan 17 tahun lebih sudah bertanya tentang rencana mereka untuk pertama
kalinya bisa ikut Pilkada Banten. Dan dengan antusias aku sebagai
ayahnya juga menjelaskan pada mereka, bila mereka pasti bisa ikut
melakukan pemilihan.

Dan, Minggu 26 November berlalu. Kedua anakku cuma termangu mangu saat
aku menjelaskan pada mereka, mengapa kami tak bisa melakukan
pencoblosan ikut Pilkada Banten 2006.

Untung ada beberapa tetangga yang kemudian ikut nimbrung di rumah.
Mereka mencoba menghibur dan menjelaskan, bahwa kami tak usah kecewa
karena tak ikut pemilihan. Sebab , sebagian dari mereka juga tak
melakukan pencoblosan. ''Malas. Masak dapat kartu pemilihan, nama
pemilih dan RT-nya benar tapi nama perumahannya tak sesuai dengan
alamat kami. Yang penting kami masih penduduk Indonesia siapapun nanti
yang terpilih,'' tukas sebagian dari mereka. Nah luuuuu


--- End Message ---

Kirim email ke