Saya tanggapi sedikit analisis "pakar" ekonomi lokal
ini. 

> Tapi, betulkah gambaran tersebut? Ternyata tidak
> --malah jauh dari kondisi 
> yang sebenarnya. Sebuah buku kecil yang diterbitkan
> koran USA Today, misalnya, 
> menyebutkan bahwa dalam 10 tahun terakhir, lebih
> dari 8.000 perusahaan AS 
> telah dijual ke pihak lain di luar AS (negara
> asing), dengan total nilai lebih 
> dari 1,2 triliun dolar AS.

Dijual maksudnya perusahaan itu diboyong ke negara
yang membeli? Tidak, bukan? Lalu apa salahnya orang
asing membeli perusahaan Amerika sementara orang
Amerika juga membeli atau membuka cabang perusahaan di
negara mereka? Kalau perusahaan itu dibeli Arab
berduit atau Jepang bukankah CEO-nya sering tetap
orang Amerika juga? Dan pegawainya tetap itu juga,
tidak diganti dengan orang Arab atau orang Jepang.
Gaji mereka tidak berubah. Perusahaannya tetap di
Amrik.

Orang berduit negara-negara Arab atau taipan
Indonesia, Amerika Latin atau kapitalis Korea, Cina,
Taiwan atau Hongkong dan banyak negara lain membeli
perusahaan Amrik selain untuk investasi, juga sekalian
untuk meletakkan "sebelah kaki" di Amrik. 

Seandainya terjadi perang atau revolusi atau kerusuhan
rasial/agama atau pembantaian massal, atau 
nasionalisasi dan penyitaan sewenang-wenang harta
milik oleh negara, atau gerakan penangkapan dan
pembersihan oleh rezim baru yang merebut kekuasaan,
mereka tinggal mentransfer semua modal
lancar/likuiditas yang ada ke rekening bank mereka di
AS lalu angkat kofer lari ke bandar udara. Di Amrik
mereka akan diterima dengan tangan terbuka dan tawa
lebar dan sekalian diberi permanent
visa/kewarganegaraan. UU Imigrasi Amerika bisa memberi
anda dan keluarga anda izin tinggal selamanya dan
kewarganegaran kalau anda menginvestasikan 500 ribu
atau satu juta dollar di AS dengan mempekerjakan 7
atau 10 orang. Kalau anda sudah jadi orang Amerika
perusahaan milik andapun jadi perusahan Amerika kan?
Hehehe ...
 
> Jika kita pehobi film Hollywood atau kendaraan
> bermerk asal AS seperti Ford 
> dan Chevrolet --jangan salah-- semua perusahaan
> besar tersebut kini bukan milik AS lagi. 

Maksudnya Ford Motor Company dan General Motors
Corporation? Perusahaan asing mana yang menguasai
saham Ford dan GM? Apa tahu bahwa Ford adalah pemilik
saham pabrik mobil Inggris Jaguar, Aston Martin dan
Land Rover? Pemilik pabrik mobil Volvo Swedia dan
menguasai sepertiga saham pabrik mobil Jepang Mazda?
Hehehehe.

Dan GM? GM perusahaan pabrik mobil terbesar di dunia
adalah pemilik 100% saham pabrik mobil Swedia Saab,
pemilik pabrik mobil Holden (Australia), Opel
(Jerman), pemilik lebih dari 50% saham Daewoo (Korea
Selatan). 

> Di samping Hollywood, hampir semua
> perusahaan hiburan di AS 
> yang omzetnya ratusan milaar dolar AS per tahun,
> sekarang sudah menjadi milik 
> Sony Corporation, Jepang. 

Opo iyo mas? Yang saya tahu, yang dijual sahamnya ke
Sony Corporation adalah MGM/United Artists. Itupun
kepemilikan saham Sony hanya 20% (Providence 29%,
Texas Pacific Group 21%, Comcast 20%, Credit Suisse
7%). 

Masih ada Fox Entertainment Group-nya Rupert Murdoch
pemilik 20th Century Fox, Paramount Motion Picture
Group yang dimiliki Viacom, NBC Universal pemilik
Universal Studios, Time Warner pemilik Warner Bros,
dan The Walt Disney Company.

> Begitu pula perusahaan-perusaha an otomotif dan 
> komputer AS, kini sudah berpindah tangan ke pihak
> asing. 

Perusahaan otomotif yang mana lagi? Chrysler? Merger
dengan kedudukan yang setara dengan Daimler-Benz
Jerman, dan Chrysler bukanlah perusahaan besar di
Amerika. 

Perusahaan komputer yang mana? IBM? Perusahaan IT
terbesar di dunia ini masih perusahaan Amerika.
Hewlett-Packard? Microsoft? Masih milik Bill Gates.
Intel Corporation? Dell? 

> Belum lama ini, 
> misalnya, perusahaan komputer Cina telah membeli
> perusahaan komputer terbesar di AS. 

IBM? Ah yang benar saja, yang dijual IBM hanya divisi
PC saja. Itupun memberi IBM 19% saham di perusahaan
Cina bersangkutan sekalian kesempatan menguasai pasar
servis komputer di negara itu. 

> Lalu, dengan jaringan distribusinya yang
> luas, Cina pun memproduksi 
> komputer murah Lenovo, yang kini beredar luas di
> Indonesia dan harganya sangat kompetitif.

Lenovo membeli divisi PC IBM karena orang Amerika
kalau beli barang melihat brand yang sudah lama
terbukti bisa diandalkan. Bukannya yang berisiko rusak
sesudah tiga hari dipakai. Kecuali barang-barang
kelontong yang diobral di "dollar stores". Semua
barang dijual dengan harga tidak lebih dari satu
dollar. Murah meriah.
 
> Di pihak lain, banyak perusahaan AS gulung tikar
> karena inefisiensi dan buruh mahal. 

Menurut laporan US Department of Labor bulan lalu
tingkat pengangguran di Amerika bulan Oktober turun ke
tingkat terendah dalam sejarah (4,4%). Kok bisa kalau
banyak perusahaan gulung tikar?

> Tiap tahun, akibat inefisiensi struktural
> (harga tidak kompetitif, 
> buruh mahal, buruh kurang produktif, dan lain-lain)
> perusahaan-perusaha an di 
> AS menerima beban kerugian 30 persen di banding
> perusahaan sejenis di Asia. 

Bagaimana mengatakan buruh/pegawai/karyawan/tenaga
profesional Amerika kurang produktif kalau hampir
semua sudah menggunakan komputer di kantor dan
lingkungan kerja mereka? Justru dengan komputer
produktivitas mereka meningkat mungkin sepuluh atau
duapuluh kali lipat. Lihat saja bagaimana kasir pasar
swalayan melayani antrian yang masing-masing pengantri
mendorong segerobak belanjaan. Bayangkan kalau tak ada
komputer yang hanya dalam sekejap mampu "membaca"
harga masing-masing barang yang dibeli. Bandingkan
produktivitas wartawan yang punya lap-top dengan yang
memakai mesin ketik. 

> Kondisi tersebut makin tahun makin parah karena
> rakyat AS lebih suka mengonsumsi produk impor yang  
> harganya lebih murah dan lebih berkualitas 
> dibanding produk buatan AS sendiri. Saat ini,
> misalnya, seperempat dari income 
> penduduk AS dipakai untuk membeli barang-barang
> impor, mulai makanan dan 
> minuman kaleng, mainan anak-anak, boneka, baju,
> sepatu, komputer, dan lain-
> lain yang jumlanya lebih dari 200 macam item.

Hehehe Apa bukannya rejeki nomplok membeli barang yang
lumayan mutunya yang ditawarkan dengan harga yang
dibanting jauh di bawah harga produksi yang wajar?
Barang hasil keringat buruh pabrik yang diperas dan
hanya dibayar per-bulan dengan upah minimum satu hari
(8 jam kerja) di Amerika? 

Dengan membeli "barang-barang sangat murah" ini,
karyawan Amerika yang bergaji 20-30 dollar per-jam
(upah minimum 5 dollar/jam) bisa menghemat gajinya
untuk beli mobil baru mengkilap sekali lima tahun (dan
menjual yang lama), ganti komputer baru sekali enam
bulan, cuti jalan-jalan melancong saban tahun, beli
pakaian baru saban tiga bulan. Bahkan imigran Latinos
kuli bangunan dan pembantu rumahtangga-pun pada beli
sedan mengkilap (bekas) hehehehe ... (berkat
keringat-darah buruh murah yang diperas kapitalis
lokal di Cina dan negara berkembang lain).  

Sampai disini dulu, nanti saya sambung supaya lebih
pinter hehehehe ....
 

--- Wido Q Supraha <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> writes oleh : Darmansyah Asmoerie
> Konsultan Ekonomi Senior, Direktur PT Darmania Group
> 
> Jika anda berjalan-jalan di Manhattan, New York,
> mata anda niscaya akan 
> terbelalak melihat sebuah baliho yang dipasang di
> sebuah gedung tinggi di 
> perempatan jalan. Isi baliho itu: US Sale! Who Wants
> to Buy?
> 
> Sebagian besar orang niscaya akan terkejut: Kenapa
> Amerika diobral? Siapa mau 
> beli? Memangnya AS butuh uang? Atau, Gedung Putih
> dan Capitol Hill (DPR AS) 
> sudah frustrasi mencari uang untuk membiayai
> operasional pemerintah AS? 
> Bermacam-macam pertanyaan mungkin akan muncul di
> benak orang yang selama ini
> 
> menganggap bahwa AS adalah negara kaya raya dan
> tidak membutuhkan negara
> lain. 
> Dengan konsumsi energi per kapita terbesar di dunia
> dan anggaran militer 
> terbesar di dunia, AS mestinya adalah sebuah negara
> makmur yang kaya raya. 
> Gambaran seperti itulah yang agaknya sering muncul
> dalam benak kita yang silau melihat nama besar AS.
> 
> Tapi, betulkah gambaran tersebut? Ternyata tidak
> --malah jauh dari kondisi 
> yang sebenarnya. Sebuah buku kecil yang diterbitkan
> koran USA Today, misalnya, 
> menyebutkan bahwa dalam 10 tahun terakhir, lebih
> dari 8.000 perusahaan AS 
> telah dijual ke pihak lain di luar AS (negara
> asing), dengan total nilai lebih 
> dari 1,2 triliun dolar AS.
> 
> Jika kita pehobi film Hollywood atau kendaraan
> bermerk asal AS seperti Ford 
> dan Chevrolet --jangan salah-- semua perusahaan
> besar tersebut kini bukan 
> milik AS lagi. Di samping Hollywood, hampir semua
> perusahaan hiburan di AS 
> yang omzetnya ratusan milaar dolar AS per tahun,
> sekarang sudah menjadi milik 
> Sony Corporation, Jepang. Begitu pula
> perusahaan-perusaha an otomotif dan 
> komputer AS, kini sudah berpindah tangan ke pihak
> asing. Belum lama ini, 
> misalnya, perusahaan komputer Cina telah membeli
> perusahaan komputer terbesar 
> di AS. Lalu, dengan jaringan distribusinya yang
> luas, Cina pun memproduksi 
> komputer murah Lenovo, yang kini beredar luas di
> Indonesia dan harganya sangat kompetitif.
> 
> Di pihak lain, banyak perusahaan AS gulung tikar
> karena inefisiensi dan buruh 
> mahal. Tiap tahun, akibat inefisiensi struktural
> (harga tidak kompetitif, 
> buruh mahal, buruh kurang produktif, dan lain-lain)
> perusahaan-perusaha an di 
> AS menerima beban kerugian 30 persen di banding
> perusahaan sejenis di Asia. 
> Kondisi tersebut makin tahun makin parah karena
> rakyat AS lebih suka 
> mengonsumsi produk impor yang harganya lebih murah
> dan lebih berkualitas 
> dibanding produk buatan AS sendiri. Saat ini,
> misalnya, seperempat dari income 
> penduduk AS dipakai untuk membeli barang-barang
> impor, mulai makanan dan 
> minuman kaleng, mainan anak-anak, boneka, baju,
> sepatu, komputer, dan lain-
> lain yang jumlanya lebih dari 200 macam item.
> 
> Dalam perdagangan luar negeri, AS juga menanggung
> defisit yang amat besar. 
> Tahun 2005, misalnya, defisit perdagangan AS dengan
> negara-negara lain di 
> dunia mencapai 723 miliar dolar AS. Ini berarti, AS
> harus 'mensubsidi' negara-
> negara counterpart dagangnya sebesar 1,4 juta dolar
> AS per menit. Sementara 
> tiap tahun, tiap penduduk AS menghabiskan sedikitnya
> 2.400 dolar AS untuk 
> membeli barang-barang impor seperti baju, sepatu,
> mobil, komputer, dan lain-
> lain (US Census 2005). Tidak heran jika US Bureau of
> Labor Statistics 
> menyatakan, dalam lima tahun terakhir, tiga juta
> pekerjaan yang berupah tinggi 
> lenyap di AS. Hal ini sejalan dengan makin hilangnya
> pekerjaan bergaji besar di industri-industri AS. 
> 
> Ironisnya, perusahaan asing di industri canggih AS
> makin banyak. Saat ini, 
> lebih dari 20 persen perusahaan-perusaha an
> manufaktur AS yang berorientasi 
> ekspor sudah dimiliki pengusaha-pengusaha asing
> seperti Jepang, Jerman, dan Cina.
> 
> Pemerintah federal AS pun menanggung utang yang amat
> besar --lebih dari 8 
> triliun dolar AS. Senat AS bahkan telah menambah
> batas utang pemerintah 
> federal menjadi 9 triliun dolar AS, atau sama dengan
> 70 persen gros GDP-nya 
> (baca: bandingkan dengan Indonesia yang saat ini
> utang luar negerinya sebesar 
> 30 persen dari GPD atau sekitar 120 miliar dolar
> AS). Negara-negara lain, 
> khususnya Jepang dan negara kaya Timur Tengah, saat
> ini mengontrol 47 persen
> 
> defisit keuangan pemerintah federal AS. Sementara
> utang-utang barunya 
> sepenuhnya atau 100 persen tergantung dari luar
> negeri.
> 
> Minyak dan perang
> Dengan melihat latar belakang seperti itu, kita bisa
> mengerti mengapa AS saat 
> ini sangat ekspansif? Salah satu penopang ekonomi
> terbesar AS saat ini adalah 
> minyak dari Timur Tengah. Negara-negara Teluk yang
> saat ini memproduksi hampir 
> 70 persen kebutuhan minyak dunia adalah 'sumber
> keuangan' AS. Saat ini, 
> misalnya, lebih dari 70 persen perusahaan minyak AS
> beroperasi di Teluk. 
> 
> ExxonMobil, salah satu perusahan minyak dan gas
> terbesar di AS, kini menjadi
> 
> perusahaan migas terbesar di dunia. Dan Exxon adalah
> salah satu kontributor 
> keuangan (melalui pajak) untuk pemerintah federal di
> Washington. Itulah 
> sebabnya, kenapa Menlu AS, Condoleezza Rice, sampai
> datang ke Jakarta, 
> beberapa bulan lalu, untuk menekan pemerintah
> Indonesia agar menunjuk 
> ExxonMobil sebagai operator blok minyak Cepu.
> 
> Kita tidak tahu, apa agenda Bush dalam peretemuannya
> dengan SBY di Bogor 
> nanti. Tapi bisa diduga, menyangkut kepentingan
> ekonomi migas. Salah satunya, 
> yang kini tengah dalam negosiasi, adalah eksplorasi
> cadangan gas di Natuna. 
> Cadangan gas di Natuna disebut-sebut amat besar dan
> ExxonMobil maunya mendapat 
> kompensasi yang jauh lebih besar ketimbang tawaran
> pemerintah Indonesia. 
> Alasannya, gas produksi Natuna biaya eksplorasinya
> amat mahal dan kualitasnya 
> buruk. Betulkah alasan tersebut? Pemerintah
> sebaiknya tidak percaya begitu saja.
> 
> Kembali ke Timur Tengah. Kenapa Israel tetap
> dipelihara AS? Karena Israel bisa 
> menjadi 'faktor' instabilitas kawasan Teluk.
> Keberadaan Israel ini akan 
> menguntungkan AS, khususnya dari kondisi
> instabilitas Timur Tengah yang kaya
> 
> minyak. Dengan alasan melindungi Israel dari
> serangan teroris, AS akan gampang 
> saja menyerang negara-negara Timur Tengah yang
> dituduh Bush menjadi basis 
> teroris. Setelah menyerang sebuah negara Timur
> Tengah, 





 
____________________________________________________________________________________
Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.
http://new.mail.yahoo.com

Kirim email ke