Sebetulnya seorang wartawan Warta Kota kawan saya yg pernah studi
khusus berkaitan dg advokasi heritage di Belanda, sudah 2 bulan-an
lalu meneriakkan persoalan ini. 

Saya sangat menyayangkan sikap pejabat Pemda DKI yang tidak segera
merespon laporan wartawan dengan tindakan nyata (di Dinas Kebudayaan
dan Permuseuman kan ada ahli arkeologi).
Saya pribadi tidak ahli dalam hal advokasi, barangkali harus dibentuk
pressure group supaya Pemda DKI tidak adem ayem saja?

Di bawah ini berita yg terbit Oktober lalu

Salam,
Ida Khouw 

Pemprov Ceroboh, Artefak Melayang
Revitalisasi Kota Tua Merusak
----------
Kota, Warta Kota
Konsep revitalisasi Kota Tua melenceng. Setidaknya
dari sudut pandang arkeologi. Yang ada sekarang adalah
membangun (kembali) Kota Tua. Pemprov DKI
memperlakukan lokasi yang merupakan situs ini dengan
ceroboh yang terus terjadi hingga Rabu (4/10).
Tak ada "mandor" arkeologi yang mengawasi kawasan Kota
Tua yang kini sedang digali. Alhasil, temuan artefak
di penggalian itu banyak yang melayang dan tak
terdokumentasi. 
Demikian kesimpulan yang dapat diambil dari pantauan
Warta Kota sepanjang Senin (2/10) hingga Selasa (3/10)
serta penegasan Ingrid HE Pojoh, dosen Arkeologi
Universitas Indonesia (UI) sekaligus anggota Ikatan
Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), yang dihubungi
kemarin malam.
Dari mulai rel bekas trem, lapisan (layer) di bawah
tanah, hingga pecahan keramik, serta keramik yang
terbilang utuh—yang muncul akibat penggalian—kini cuma
jadi bahan perbincangan. Kalaupun masih ada (sedikit),
tak terdokumentasi dengan baik. Bahkan, untuk keramik
yang ditemukan di situs Pancoran, Glodok, sudah
diperjualbelikan secara bebas.
"Ibu mau beli? Ada yang punya empat, masih utuh,
bagus-bagus," begitu Warta Kota disambut seorang pria
kala tiba di depan Hotel Pancoran Jaya, Glodok, persis
di depan situs ditemukannya banyak pecahan keramik dan
keramik yang masih cukup utuh. "Kalau mau yang pecahan
bisa lihat di situ (sambil menunjuk ke kantong plastik
hitam di sekotak kardus)," ujar pria itu lagi.  
Saat Warta Kota mengaduk-aduk pecahan keramik, pria
tadi bahkan menawarkan keramik utuh yang ditemukan
rekannya. "Dia punya empat," ucapnya. Si empunya,
sebut saja Nenrak, yang kemudian muncul, bahkan segera
mengatur strategi bisnis. Bahkan terlihat tak senang
kala Warta Kota menyatakan hanya ingin mengambil
gambar temuan itu.
"Jauh, Bu," katanya. "Lagian kan perlu ongkos untuk
bawa ke sini," lanjut pria ini lagi. Ia juga berulang
kali mengatakan, temuannya sudah ada yang menawar,
seseorang yang selalu disebutnya dengan Oom dan
bekerja di sebuah pasar swalayan terkemuka di Jakarta.
Dari pembicaraan itu terungkap pula, pecahan keramik
bisa saja dilepas dengan lembaran Rp 10.000!
Sementara itu, lapisan (layer) tujuh batu bata
terbentang di sepanjang jalan di ujung Jalan Pintu
Besar Utara hingga (setidaknya) di depan halaman
Museum Sejarah Jakarta (MSJ). Di situ masih terlihat
sisa-sisa bantalan rel trem yang terpaksa dipotong
untuk keperluan jalur pedestrian. Ini semua belum
termasuk pengerukan untuk terowongan di depan Stasiun
Jakarta Kota.
Kepala Subdis Pengawasan Dinas Kebudayaan dan
Permuseuman (DKP) DKI Candrian Attahiyat mengakui,
keramik-keramik itu berasal dari abad ke-18 dan ke-19.
"Keramik dari Dinasti Ming dan Ching. Ada juga dari
Maastricht, Belanda. Itu semua hasil laporan warga dan
teman-teman MSJ dan Museum Keramik. Ada juga yang
akhirnya lebih baik terpendam," ujarnya. Dia
menyatakan, penggalian ini bukan ekskavasi tapi
penyelamatan artefak.
Ia juga mengakui, selama ini DKP hanya mengandalkan
karyawan MSJ dan Museum Keramik karena terbatasnya
arkeolog di instansi ini. 
Sementara itu, Ingrid menegaskan, Pemprov DKI cuma
bisa membangun situs, bukan merevitalisasi. "Mereka
kan tau, Jakarta itu situs, apalagi Kota Tua. Ada UU
Cagar Budaya tapi kok dihajar begitu saja. Harusnya
tiap ada penggalian selalu melibatkan arkeolog sebagai
narasumber atau konsultan," katanya.
Ingrid membantah bahwa penggalian yang kini dilakukan
bukan merupakan ekskavasi. Menurut mantan Kepala
Jurusan Arkeologi UI ini, "Apa pun penggalian itu ya
ekskavasi. Ada yang namanya ekskavasi penyelamatan dan
ini kerjanya enggak lelet seperti scientific
excavation. Jadi bagaimanapun, temuan harus tetap
tercatat dan terekam dengan baik. Dan ini hanya bisa
dilakukan kalau ada arkeolog yang terlibat di dalam
setiap penggalian." (pra)
  


Kirim email ke