Saran Anda bagus sekali, tetapi masalahnya tidak sesederhana itu. Kalau semua 
berdasarkan referensi, pengalaman, bukti, fakta yang valid, it's OK. Tapi kalau 
tidak? 

Misalnya seperti contoh yang Anda sampaikan, yaitu masalah Muhammad yang dia 
sebut monogamist. Itu bukan karena dia tidak tahu bahwa di AlQuran (QS 4:3) 
disebutkan  polygamist. Tetapi dia membantahnya dengan mengemukakan fakta dari 
sumber/versi lain bahwa Muhammad itu monogamist. Sayangnya dia tidak 
menyebutkan sumber dari fakta itu.

Belum tentu semua orang di sini mengetahui segalanya. Maka dikhawatirkan akan 
terjadi misunderstanding dan kemudian mengambil sikap yang tidak semestinya 
kala membaca sajian-sajiannya yang "agitatif" dan tidak berdasar fakta yang 
valid. 

Coba simak contoh caption ini " pipa (lumpur Lapindo) meledak karena korupsi" 
"Borobudur Akan Dijadikan Masjid Akbar". Pengertian apa dan sikap bagaimana 
yang hendak Anda ambil kala membaca itu?

Salam
Supriyadi





  ----- Original Message ----- 
  From: Rudy Prabowo 
  To: [email protected] 
  Sent: Wednesday, November 22, 2006 5:27 PM
  Subject: Re: [mediacare] Nyonya Muskitawati, bertobatlah!atau neraka jahanam 
balasannya! Janangan terlalu sentitit !



  To all :)))
  Saya  sarankan, kalau ada tulisan Bu Mus secara ilmiah, ya dikontra secara 
ilmiah, jika tdk berkenan. Tapi kalau searah ya didukung; ngapain repot2 
sih...............

  Kenapa merasa terhina ? Semua itu berdasarkan referensi, pengalaman, bukti,  
fakta dan realita. Kita berdiskusi untuk cari senang :dlm arti sdh memperoleh 
pengetahuan, humor, artikel2 bijak, pengalaman2 yg  haru dan penuh sentuhan 
dll. Jangan terlalu "sentitit" lah!

  MIsal kalau Bu Mus memberitakan bhw  ajaran Islam itu monogami, berarti 
tulisan ini tidak benar/tdk sesuai dg ajaran Islam, karena Islam mengajarkan 
Polygami. Ya tunjukkan ayatnya dong, suruh dia baca  QS 4:3 ==>> Disitu 
ternyata umat Islam boleh beristeri 4 orang. Nah hal2 demikian itulah diskusi 
yg baik, sehingga pengetahuan yg membaca juga bertambah :))) Saling mengisi dan 
melengkapi !


  LION CB <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

      ----- Original Message ----- 
      From: Bramastyo Nugroho 
      To: [email protected] 
      Sent: Friday, November 17, 2006 3:52 PM
      Subject: Re: [mediacare] Nyonya Muskitawati, bertobatlah!atau neraka 
jahanam balasannya!



      "Tulisan-tulisan Ny. atau Bapak seperti si Mukitawati seperti ini saja 
membuat orang-orang Islam sejenis ini berangnya bukan alang kepalang."

      Maaf bapak, siapa yg berang? saya nggak kok, andaikan ada anak kecil 
nyeloteh nggak bener, knapa harus dimarahi? 

      Lion:
      Yang bilang Bapak termasuk pemberang itu siapa? Jelas tulisan saya tidak 
menggeneralisasi. Janganlah terlalu peka, Oom! Baca ulang kalimat yang Anda 
kutip. Saya menggunakan kalimat: "orang-orang Islam _jenis ini_ .."

      Tulisan saya tersebut menanggapi posting Fitri yang begitu keras reaktif 
terhadap posting-posting si Mus. 

      Kalau Anda tidak termasuk "Islam jenis ini," ya sudah.. kenapa 
ikut-ikutan tersinggung?

      Saya tahu bahwa mayoritas Islam di Indonesia tidak mempunyai paham 
seperti Fitri cs. Itulah yang menyebabkan negeri ini secara umum  masih 
tergolong aman-aman saja. Coba kalau Islam-nya mayoritas seperti Fitri cs?


      "Oleh karena itu nama tim pengacaranya adalah "Pembela Muslim."  Sebuah 
pemilihan nama yang secara tidak langsung dapat ditafsirkan bahwa mereka 
sendirilah yang mengidentikkan Islam dengan teroris." 

      Cari dulu perbedaan antara Muslim dengan Islam, baru komentar.....

      Lion:
      Islam adalah agama, Muslim adalah pemeluknya. Pengertian singkatnya 'kan 
begitu? Tim pengacara itu membela siapa? Teroris yang mengatasnamakan agama, 
atau Muslim? Atau apakah para pelaku bom Bali itu (Amrozi, Imam Samudera cs) 
itu bukan teroris menurut pengertian Anda? Kalau mereka (para pengacara itu) 
membela para pelaku teror Bom Bali, kenapa harus menggunakan nama "Tim Pembela 
Muslim"?  

      "Setiap ada telaah yang mencoba melakukan analisa, penelitian sejarah 
tentang Islam, yang kemudian mempunyai analisa/kesimpulan yang negatif, maka 
selalu diidentikkan dengan fitnah, atau penghinaan. Titik. Tanpa ada argumen. 
Yang ada cuma: Mati bagi si penganalisa. Minimal sedapat-dapatnya untuk 
membungkam mulutnya, dengan cara melarang berbicara,  melarang 
tulisan-tulisannya, melarang jurnal-jurnal ilmiah, melarang buku-bukunya, dan 
mengblok posting-postingnya seperti diusulkan si Fitri ini."

      Kalo tulisan Muskitawati  itu bagi saya hanya sekedar tulisan biasa yg 
masih kurang ilmunya, knapa? terlihat bahwa banyak perbedaan yang ada dalam 
Ajaran Quran dgn tulisan muskitawati, dan penerimaan ilmu yg setengah2 namun 
penganalisaan yg sudah "ndladrah" nggak karuan kemana-mana arahnya. Karena 
mempelajari Al Quran itu ada ilmunya, sehingga kalo ingin berdikusi carilah 
tempat yang tepat. Bukan di forum ini. Silahkan datang ke Ponpes terdekat, atau 
masjid2 terdekat atau kyai yg anda anggap bisa jadi pegangan atau milist2 
Islam. Ibarat kalo mo makan ya di meja makan, mandi ya dikamar mandi dlll.

      Lion:
      Pertama, saya bicara secara umum. Apakah Anda mau menyangkal bahwa selama 
ini sikap sebagian orang Islam adalah setiap kalau ada tulisan-tulisan yang 
dianggap menyudutkan Islam, selalu diidentikkan dengan penghinaan dengan segala 
konsekuensinya? Tidak ada tulisan kritis yang bisa tetap membuat penulisnya 
hidup tenang. Lihat saja, bagaimana reaksi mereka terhadap opini-opini dari 
Jaringan Islam Liberal, misalnya?

      Bagaimana dengan nasib Salman Rusdhie dengan "The Satanic Verses"-nya? 
Bandingkan dengan nasib Dan Brown dengan "The Da Vinci Code"-nya.

      Kedua, untuk menilai layak-tidaknya tulisan-tulisan si Mus itu dimuat di 
millist ini adalah moderator. Silakan saja, kalau dianggap tidak cocok. Si Mus 
bisa diberi peringatan, atau kalau membandel di-kick saja. Saya sendiri jarang 
membaca tulisan-tulisannya. 


      "Kenapa? Apakah takut orang menemukan kesalahan dalam (ajaran) Islam atau 
Al Qur'an? Kalau tidak, biarlah orang menganalisa dan mau mencari-cari 
kesalahan dalam Islam. Kalau memang tidak ada, kenapa takut? Karena ada, maka 
orang takut kesalahannya ditemukan."

      Bagi saya, nggak takut kok? tapi knapa mencari cari kesalahan? bukannya 
orang hidup tuh yg dicari kebenaran-kebenaran?

      Lion:
      Bukan mau mencari-cari kesalahan. Yang saya maksudkan ketika setiap ada 
orang yang menelaah Islam dan Al-Qur'an, kemudian menyampaikan pespektif dari 
hasil penelitian, atau analisanya, yang dirasakan merugikan Islam. Reaksi yang 
umum terjadi adalah kekerasan terhadapnya. Termasuk fatwa mati. Nyaris tidak 
pernah ada kontra-argumen dari pihak Islam untuk mematahkan analisanya itu. 
Yang ada hanya bantahan, bahwa itu tidak benar, kemudian muncul tudingan 
penghinaan terhadap Islam, dan ujung-ujungnya fatwa mati.

      Sehingga orang menjadi takut ketika hendak berbicara tentang Islam secara 
kritis. Reaksi serba keras itulah yang saya maksudkan: Seolah-olah takut kalau 
penganalisa itu menemukan "kesalahan." Kalau tidak, kenapa tidak biarkan saja 
dia menulis menurut perpektifnya. Dan, sebagai orang Islam yang meyakini 
kebenaran ajaran agamanya, tidak akan terusik. Toh, apapun yang dibicarakan 
orang itu, dia tidak akan bisa menemukan kesalahan dalam kebenaran Islam?

      Bukankah hanya orang benar yang tidak takut diperiksa. Sebaliknya, orang 
yang menyembunyikan sesuatu kesalahan, akan takut kalau diperiksa. Untuk tidak 
diperiksa, reaksinya adalah selalu reaktif terhadap setiap usaha yang 
berkehndak memerikanya. Demikian analoginya.


      "Contohlah bagaimana sikap orang-orang Kristen yang menmghadapi 
hujatan-hujatan terhadap agamanya. Contoh terbaru adalah tentang fenomena novel 
"The Da Vinci Code."  Fenomena "The Da Vinci Code" dengan pengarangnya Dan 
Brown mempunuyai nuansa yang sangat mirip dengan novel "Satanic Verses" -nya 
Salman Rusdhie. Yang berbeda adalah reaksi dan nasib pengarangnya. Dan Brown 
masih bisa hidup dan bebas bepergian ke mana saja. Sedangkan Salman Rusdhie 
terpaksa bersembunyi seumur hidup karena fatwa mati yang telah dijatuhkan 
kepadanya oleh "tuhan-tuhan duniawi." Berapa banyak orang telah mati dibunuh 
dalam kasus "The Satanic Verses"?"

      Kalo DVC nggak bikin berang, knapa sempat dilarang? knapa memunculkan 
versi2 tandingan? buat apa? knapa nggak dicuekin aja?

      Lion:
      Kapan dan di mana DVC dilarang? 
      Kenapa muncul versi-versi tandingan? Buat apa? Kenapa tidak dicuekin saja?
      Itulah yang saya maksudkan: Kalau ada hujatan-hujatan seperti "DVC" tidak 
seharusnya umat beragama itu mengresponnya dengan reaktif, dengan aksi-aksi 
kekerasan, anarkis, destruktif, sampai terjadi pertumpahan darah. Cukup dilawan 
dengan buku-buku tandingan yang isinya menulis secara intelektual dengan 
bukti-bukti sejarah dan arkeoligis sesungguhnya, dengan argumen-argumen yang 
dapat menujukkan ketidakbenaran dalam hujatan-hujatan tersebut. Bukan, tanpa 
argumen apapun, penulisnya langsung difatwa mati. Dan yang berhasil membunuhnya 
dijamin masuk sorga.
      Buku-buku tandingan "DVC" menjadi pembelajaran bagi umat Kristen untuk 
lebih memahami agamanya dari sisi lain di luar Injil / Alkitab. Bahwa ternyata 
di luar Injil / Alkitab terdapat banyak sekali bukti-bukti ilmiah, historis, 
dan arkeologis yang dapat semakin memperkukuhkan iman Kristianinya. Bahwa 
ternyata cerita-cerita di dalam "DVC" yang seolah-olah benar-benar 
terjadi/nyata itu penuh dengan omong kosong.

      Bandingkan, kalau seandainya tanpa ada buku-buku tandingan tersebut, Dan 
Brown langsung dibunuh. Apakah itu akan menjawab keragu-raguan terhadap ajaran 
agamanya setelah membaca novel itu?

      Setelah Brown mati dibunuh, dugaan orang akan semakin kuat bahwa apa yang 
dikatakan dalam novelnya itu benar adanya. Maka, seperti nasib "The Priory of 
Sion" dalam novel tersebut, maka siapa pun yang mengetahui dan memiliki bukti 
ketidak benaran Kristenitas harus dibunuh!

      Didiamkan saja? Kenapa harus didiamkan kalau kita bisa membuktikan bahwa 
semua itu tidak benar, demi semakin meyakinkan orang-orang Kristen terhadap 
kebenaran ajaran agamanya? Bukankah ada pepatah yang mengatakan: "Diam berarti 
setuju"?



      njukkan oleh Fitri cs seperti inilah yang membuat orang sering 
mengidentikkan Islam sebagai agama yang penuh kekerasan. Anehnya, selalu tidak 
mau bercermin diri sendiri, tetapi orang lain saja yang selalu disalahkan."

      Apa yang membuat anda harus dibenarkan?

      Lion:
      Yang mau saya katakan adalah orang-orang Islam sejenis Fitri selalu marah 
kalau dikatakan Islam identik dengan kekerasan. Tetapi reaksi yang umum 
ditunjukkan justru semakin membenarkan stigma demikian. Misalnya, setiap ada 
fenomena yang mengkritisi, atau diangap menyudutkan Islam selalu saja direaksi 
dengan demo-demo penuh kekerasan. Tidak jarang anarkis dan destruktif.

      Contoh kecilnya: Si Mus didoakan supaya cepat mati dan masuk neraka 
jahanam! Apakah Allah tidak kaget mendengar doa seram seperti ini?


      Terimakasih.
      Salam.

      Terima kasih juga.
      Salam
      Lion





----------------------------------------------------------------------------
    Sponsored Link

    Rates near 39yr lows. $420,000 Loan for $1399/mo - Calculate new house 
payment 




------------------------------------------------------------------------------
  Sponsored Link

  $200,000 mortgage for $660/mo - 30/15 yr fixed, reduce debt, home equity - 
Click now for info

   

Kirim email ke