DL - Indonesia membutuhkan Water Management mengingat wilayahnya yang berupa kepulauan, sektor itu bisa membuka lowongan kerja, dan ilmunya tinggal belajar dari Belanda. Indonesia juga membutuhkan know-how pertanian/perkebunan mengingat tanah Indonesia subur tonggak kayu pun jadi tanaman, dan jumlah petani amat banyak di Indonesia. Selain itu Indonesia juga membutuhkan Kebebasan Pers dan Pelaksanaan Demokrasi. Semuanya tinggal belajar juga dari Belanda sebab negaraku tercinta ini juga piawai di tiga hal terakhir itu (that's why I love my new country more and more and more, ehm ehm ....... :-)). Mengingat mayoritas penduduk Indonesia beragama dan Lembaga-lembaga Agama adalah salah satu pemain Kesebelasan Indonesia (ciptaan coach Danny Lim, he he), maka logikanya perangsangan pembelajaran Water Management, Pertanian/Perkebunan, Kebebasan Pers dan Demokrasi bisa juga dilakukan lewat gereja/mesjid/kelenteng, bukan begitu?
SUARA PEMBARUAN DAILY -------------------------------------------------------------------------------- KWI Terbitkan Nota Pastoral Perangi Kemiskinan [JAKARTA] Konferensi Wali Gereja Indonesia menerbitkan dokumen yang akan dijadikan arah dan kebijakan dalam kehidupan bergereja dan berenegara atau biasa disebut nota pastoral dengan tema besar Keadilan Bagi Semua. Nota pastoral kali ini berisi komitmen gereja Katolik di Indonesia untuk memerangi kemiskinan, ketidakadilan dan memberdayakan masyarakat. Di samping itu, KWI berharap agar agama-agama mampu menghadapi tantangan masa depan berupa globalisasi, ia harus benar-benar bersifat humanistik serta terbuka. Artinya, ketika melakukan dialog perlu ditanamkan sebuah keyakinan bahwa kebenaran suatu agama adalah milik masing-masing pemeluknya. Demikian benang merah nota pastoral KWI yang disampaikan Ketua Presidium KWI Mgr MD Situmorang, OFMCap dan Sekjen KWI, Mgr AM Sutrisnaatmaka MSF kepada wartawan di Jakarta, Kamis (16/11). "Penghargaan dan penghormatan atas agama lain adalah prioritas mutlak dalam mewujudkan kebersamaan dan perbedaan. Tanpa adanya sikap saling menghormati, masyarakat akan semakin terperosok pada keyakinan yang membabi-buta atas agama tertentu di alam yang plural ini," tukas Mgr Situmorang. Dikatakan, KWI berharap bagaimana menggulirkan sebuah gerakan yang lebih besar yang terdiri dari umat Katolik di Indonesia bersama umat beragama/warga lain dalam membangun habitus baru bangsa yang berkeadaban publik. Atau dengan kata lain, bagaimana meningkatkan peran umat Katolik Indonesia bersama umat agama lain dalam membangun budaya baru dalam segala bidang kehidupan, yang sudah disinyalir oleh KW1 sejak 1997 mengalami kemerosotan moral, Karena umat Katolik merupakan bagian integral dari bangsa dan negara ini, bagaimana pun umat Katolik ikut andil dalam proses ketidakadaban publik yang terjadi selama ini. "Untuk itu telah dihimpun dari berbagai keuskupan banyak masukan tentang ketidakadaban publik yang dipandang mendesak untuk ditanggulangi bersama. Makin sulitnya kehidupan masyarakat akibat impitan kemiskinan dan kesulitan mengembangkan masa depan manusia, KWI mendorong pentingnya membangun harga diri dan keswadayaan. Selain itu, KWI juga mendorong untuk menjalin kebersamaan dan kemitraan dengan sesama warga bangsa," paparnya . [E-5] -------------------------------------------------------------------------------- Last modified: 18/11/06
