Mengkritisi tayangan TV sebagai bentuk kekuatiran atas dampak
tayangan2nya, merupakan salah satu bentuk kepedulian masyarakat
terhadap edukasi di rumah mereka masing2.     

Edukasi terhadap suatu tayangan melibatkan 2 hal yang sama penting dan
berhubungan timbal balik:
1. edukasi terhadap pemirsa untuk memilah acara TV
2. suara kepada media TV sebagai kontrol atas tayangan2nya.

Edukasi orang tua sebaik apa pun, tidak efektif bila media TV
terus-menerus menayangkan "sampah". Sebaliknya, tidak juga ada
tayangan TV yang sempurna, karena itu edukasi pemirsa adalah hal yang
sama penting.

Namun, kecenderungan bablas dalam TV kita SAAT INI untuk menayangkan
program2 yang kurang mempertimbangkan aspek pendidikan, terutama pada
anak, harus disikapi dengan tegas.

Salam
Abdi Christ 





--- In [email protected], Peppita Poerwowidagdo <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Setuju!!! 
>   Maksud saya, saya setuju untuk tidak setuju sebentar-sebentar
menyalahkan TV untuk hal-hal & kontrol yang seharusnya dijalankan
orangtua / orang yang lebih dewasa dan mengerti. Bukankah orangtua
memilik otoritas dan kewajiban untuk mendampingi, memperingatkan dan
memarahi anaknya bila menonton hal yang tidak sesuai umurnya / belum
sepantasnya?
>    
>   Jangan-jangan nanti tv kabel juga bakal dilarang karena membuat
anak Indonesia tidak mendengarkan acara-acara dalam bahasa Indonesia?
>    
>   Bingung khan??!!!
>    
>   Salam damai.
> 
> Dewono Siswardiyanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Buruk rupa, cermin dibelah .... :) Itu tepatnya!
> 
>   On 11/30/06, stefen gelass <[EMAIL PROTECTED]> wrote:       Saya
tidak setuju dengan pelarangan acara Smackdown di TV. Maaf, bukannya
saya tidak bersimpati dengan para korban dan keluarganya dan saya pun
sama sekali bukan penggemar acara tersebut, sungguh. Namun saya hanya
cemas bahwa pelarangan acara Smackdown akan menjadi pintu bagi
pelarangan-pelarangan acara lainnya yang mungkin dinilai membawa
impact buruk bagi masyarakat. Kita tahu memang banyak sekali acara
"sampah" di TV, namun jangan dipungkiri bahwa "sampah" itu ada
penggemarnya juga. Saya hanya ingin mengatakan, berhentilah
menyalahkan TV! Katakanlah acara Smackdown mengandung unsur kekerasan,
memengaruhi anak-anak, lalu timbullah korban. Bagaimana nanti kalau
ada film yang menampilkan adegan kekerasan (jangan prejudice bahwa
semua adegan kekerasan dalam film itu pasti tidak baik karena banyak
film bertema kekerasan yang sangat berkualitas macam Scarface,
Godfather, bahkan film seri CSI yang cerdas itu
>  dan sebagainya), lalu ditiru anak-anak dan menimbulkan korban, lalu
orangtuanya protes dan dilaranglah semua film yang ada kekerasannya di
TV. Maka akan semakin terbataslah kesempatan kita menyaksikan
film-film bermutu yang ada adegan kekerasannya. Bagaimana pula dengan
siaran olahraga tinju misalnya? Cabang olahraga yang diakui namun tak
dapat dipungkiri jelas ada unsur kekerasannya. Saya ingat, sewaktu
kecil saya dan teman-teman sebaya begitu menggandrungi siaran olahraga
tinju ketika Elyas Pical sedang jaya-jayanya. Namanya anak-anak,
sehabis nonton Ely meng-KO Caesar Polanco saya dan teman-teman
menggelar "adu tinju" dengan sarung tinju seadanya dan tanpa
mengindahkan bobot tubuh untuk menentukan lawan. Saya mendapat lawan
yang lebih muda namun bobotnya lebih besar dari saya. Saya pun kena
hook telak dan KO. Untungnya saya tidak apa-apa. Dan tak ada seorang
teman pun yang mengalami nasib yang lebih buruk selain KO sejenak.
Tetapi seandainya waktu itu ada diantara kami
>  yang gegar otak atau lebih parah lagi, lalu orangtua kami menuntut
ke TVRI agar siaran tinju tidak disiarkan, atau bahkan lebih parah
lagi, olahraga tinju dilarang sama sekali seperti di Swedia, apakah
itu suatu tindakan yang adil? Bagaimana pula dengan siaran olahraga
cabang bela diri yang lain? Sekali lagi, kenapa menyalahkan TV? Kan
sudah ada batasan-batasannya seperti waktu tayang, rating umur dsb,
jadi kalau stasiun TV-nya melanggar ketentuan itu, inilah yang bisa
dikenakan sanksi atau semacamnya. Namun pelarangan atau penghentian
acara, ini saya rasa betul-betul tidak adil. Menyalahkan acara TV
untuk suatu tragedi sudah menjadi lagu lama yang berulang-ulang. Habis
nonton film merangsang lalu memerkosa, habis nonton film perampokan
lalu dapat ide merampok dan sebagainya. Habis nonton acara sirkus dan
akrobat lalu anak kita meniru dan celaka. Apakah solusinya melarang
semua itu agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan? Tidakkah
yang lebih tepat adalah kontrol
>  diri sendiri, pengawasan keluarga dan semacamnya? Sebaiknya
dampingi saja anak-anak kita kalau nonton acara Smackdown dan
sebagainya, selama menonton berikan penjelasan bahwa pertandingan ini
dilakukan oleh orang profesional, sebagaimana halnya pertunjukan
sirkus, yang tidak boleh dicoba-coba, ataupun kalau mau mencoba ya
perlu kursus bela diri khusus dulu dan sebagainya. Melarang hanya akan
menambah populer acara-acara semacam itu dan akan menjadi kegiatan
ilegal yang justru menambah "keasyikkan" bagi anak-anak. Dan untuk
acara-acara "sampah" yang lainnya, tinggal jangan ditonton kalau
memang kita rasakan tidak ada manfaatnya. Kalau tidak ditonton kan
lama-lama mati sendiri programnya. So stop blaming TV. Just take a
look in the mirror. 
>   
> 
> 
> 
>   
> 
>          
> 
>  
> ---------------------------------
> Cheap Talk? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates.
>


Kirim email ke