godam kudu bertepok tangan, TERNYATA MANGSIH ADA MOSLIM WARAS,
YANG ENGGAK HIPOKRIT ATAS KELEMAHAN DIRINYAH SERTA PANUTANNYAH? saludo for papor senor!! kerana tunglisan ituh,tamtunyah membuat tunglisanku,bukan dianggep sakbagae pernyataan kebencihan kpd urang islam, melaenken memprihatinken kondisi bangsaku yang berkemungkinan disesatken oleh panutannyah sendiri.... >>>>>>>>>>>>>> Komentar rekan saya, Ahmad Munjid, seorang kandidat doktor dalam bidang Religious Studies dari Temple University, Philadelphia. Semoga bermanfaat, Indah > > > Ahmad Munjid <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Assalamu'alaykum, > Teman-teman, karena Aa Gym ini adalah salah seorang > da'i kita yang terkemuka dan baik ucapan mau > tindakannya banyak dijadikan panutan ummat Islam di > tanah air, saya merasa perlu memberikan tanggapan. > > Karena posisi yang telah dimainkannya selama ini, > betapapun Aa Gym adalah bagian dari trend setter > publik Muslim (audiensnya mungkin lebih banyak > kelas > menengah urban). Ia adalah tokoh idola yang > perilakunya diikuti applaus atau helaan nafas para > pengagumnya, sesuai dengan medan dan manuver hidup > yang dilalui. Ia adalah penghibur mata, penghibur > telinga dan lebih-lebih dengan "Manajemen > Qalbu"-nya, > ia terutama penghibur qalbu, pelipur jiwa banyak > orang. > > Tapi marilah kita ingat, betapapun, ia adalah > seorang > manusia. Bukan dewa, bukan malaikat. Kadang kita > lupa, > jika seseorang telah menjadi idola, s/he can do no > wrong. Ia harus sempurna, apapun tindakan dan > perilakunya. Terhadap tindakan dan perilaku sang > tokoh, karena ia terlanjur menjadi idola, kitalah > yang > berkewajiban menyesuaikan diri dalam hal pemahaman > atau tafsir atas kenyataan. Itu terjadi pada > Soekarno, > Soeharto, Gus Dur dan banyak figur idola lainnya. > Dan > kini saya melihat hal yang sama sedang berlangsung > di > sekitar Aa Gym. > > Buat saya, apa yang dilakukan Aa Gym, with all due > respect, secara moral amat menyakitkan. Dalam > istilah > linguistik, paling banter, perhaps he is > linguistically OK, but doesn't make sense. > > Dalam soal fikih, mari kita ingat kembali bahwa > konteks pembolehan poligami dalam Islam dahulunya > sebetulnya bertujuan justru untuk membatasi, > bukannya > menambah jumlah istri. Sebab, dalam masyarakat Arab > ketika itu, perempuan ibarat 'barang' yang boleh > diapasajakan oleh kaum laki-laki. Itulah sebabnya, > banyak orang yang tega mengubur anak bayinya yang > terlahir perempuan. Orang bisa beristri berapa > saja, > siapa saja. Asal mampu, asal bisa. Terserah > bagaimana > caranya. > > Lalu Islam datang dengan "Kalau memang terpaksa, > sudahlah, empat saja". Tapi--silakan baca kembali > terutama bagian-bagian awal surat an-Nisa--"adil" > menjadi kata kunci di sana. Sembari ditegaskan di > tempat lain bahwa karena adil is almost impossible > dicapai seorang suami beristri lebih dari satu, > pada > intinya monogami jelas adalah bentuk pernikahan > paling > ideal dalam Islam. > > Artinya, dengan pesan universal yang bisa diterima > pemahaman manusia dari berbagai latar budaya dan > sejarah yang berbeda, dengan ketentuan "empat saja" > itu, al-Qur'an sebenarnya sedang meletakkan fondasi > penting buat kesedarajatan laki-laki dan perempuan. > Dengan konsep "adil" sebagai hakikat pesannya, soal > pencapaian bentuk pernikahan dalam masyarakat > kemudian > diserahkan kepada kematangan ummat Islam sendiri > dalam > mewujudkannya. > > Jadi, apakah kalau al-Qur'an menyediakan prinsip > "roda", setelah sekian lama, kita ya cuma berkutat > dengan cuma "roda" saja? Kita samasekali tidak > terpikir, atau malah haram hukumnya, buat bikin > sepeda, motor, mobil, pesawat dst yang berangkat > dari > prinsip "roda" itu? > > Sebab, untuk masyarakat yang demikian promiscuous > dan > di mana perempuan samasekali tidak berharga seperti > dalam dunia Arab waktu itu, kalau al-Qur'an > langsung > bicara "jangan poligami", ya jelas nggak tinemu > nalar. > Jangankan ada yang mau terima, mau dengar pun > mungkin > sekali tidak. > > Bukankah hal yang sama juga terjadi pada perkara > "perbudakan"? Islam tidak pernah terang-terangan > melarang budak (Bandingakan dengan Thomas Jefferson > si > penulis Konstitusi Amerika yang katanya menjunjung > tinggi hak asasi manusia, tapi dia sendiri juga > punya > banyak budak). Tapi, dengan konsep kesederajatan > manusia dalam Islam, dengan "membebaskan budak" > sebagai bentuk penebusan kesalahan tertentu, > misalnya, > dan treatment lainnya yang menyangkut soal > perbudakan > ini, jelas sekali arah yang ditempuh pada akhirnya > adalah: penghapusan perbudakan. Setelah lebih 14 > abad > ditinggal Rasulullah, masihkah kita akan > menghalalkan > perbudakan? Lari di treadmill bisa menyehatkan, > tapi > beragama seperti lari di atas treadmill saya kira > amat > mengenaskan. > > Karena itu, secara moral, bagi saya, poligami Aa > Gym > ini amat menyakitkan. Dengan mengetahui bahwa istri > keduanya itu adalah perempuan yang jauh lebih muda > dari istri pertama dan mantan model pula, rasanya > alasan menikahi dia karena buat membantu mengurus > anaknya, misalnya, tidaklah bisa diterima. > > Dengarlah apa yang tidak > terkatakan di balik 'pengakuan' istrinya. Dengarlah > baik-baik banyak komentar kecewa para jama'ah > pengagumnya (kalau komentar dari kalangan yang > bukan > pengagum sih sudah jelas). Betapapun, dari sisi > hukum, > minimal, poligami selalu diperdebatkan. Ingat, > betapa > tidak berkenannya Nabi saat Ali r.a., sang menantu, > menunjukkan isyarat hendak memadu Fatimah, putri > kesayangannya. Satu-satunya yang jelas di seputar > poligami hanyalah bahwa bagi laki-laki ia > menguntungkan, sedang bagi perempuan ia merugikan. > > Sebagai penutup, saya teringat kisah seorang ulama > yang kebetulan kaya tapi selalu bersikeras > mendisiplinkan keluarganya untuk berpenampilan amat > sederhana. Seorang anaknya, karena dilarang > berpakaian > bagus yang terlanjur dibelinya, suatu hari protes: > "Kenapa? Bukankah, dengan keadaan kita, apa yang > saya > pakai samasekali tidak berlebihan? Ini harta halal > kita dan kita tidak mengada-ada." > "Betul anakku; jika kita hanya mau melihat diri > sendiri semata," begitu jawab sang ayah. "Tapi > sebagai > pemimpin di tengah ummat yang dibelit demikian > banyak > persoalan, hendaklah kamu selalu ingat, kita adalah > hiburan mereka yang amat langka. Apakah kamu tega > merebut hiburan itu dari tangan mereka?" > Sang anak tertegun dan kemudian menangis tersedu. > > Ketika saya mendengar banyak jama'ah Aa Gym yang > menangis sedih atas berita poligami ini, saya > seperti > menyaksikan hati jutaan ummat yang terluka karena > penghibur ruhani yang menyejukkan hati mereka > tiba-tiba terenggut. Atas nama agama pula. > > Mereka menangis sedih sekaligus takut. Betapa > menyakitkan bukan? Bahkan untuk menangisi hal yang > buat mata batin banyak orang jelas-jelas > menyedihkan > pun masih diancam dengan amang-amang membantah > ketentuan Allah pula? > > Maaf jika terlalu panjang. Semoga > ada yang bermanfaat. > > Wassalam, > > Munjid > === message truncated ===
