Ah Bung Irwan,
Ternyata ajaran mengampuni yg persis seperti yg ada dalam Kristianitas
ternyata juga bukan sesuatu yang asing dalam Islam tuh, jadi
seharusnya Anda tidak terlalu sulit memahami pengampunan dalam teologi
Kristen.
"Kisah terkenal ketika Nabi Muhammad di Thaif dan dilempari kotoran,
dia hanya mengatakan:"maafkanlah mereka, karena mereka tidak tahu".
Jadi ada faktor kekurangtahuan di sini di dalam masyarakat AS dan
Eropa tentang Islam, umat Islam."
Salam,
Ida Khouw
--- In [EMAIL PROTECTED], Muhamad Ali <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ulil,
Terima kasih postingnya. Persoalan "Islamofobia" kita tahu sangat
kompleks: definisinya, faktor-faktornya, sifatnya, sejarahnya,
perkembangannya, dan cara-cara mengurangi dan mengatasinya. Saya kira
akan sangat menarik kalo ada kajian atau buku khusus yang mengulas
masalah ini dari berbagai segi dan perspektif, berdasarkan
poling-poling, pendapat media, wawancara, kasus-kasus, dan sebagainya.
Sepenuhnya saya mengiyakan pembacaan Anda ini: bahwa "ketakutan"
terhadap Yang Lain (the Other) adalah persoalan universal komunitas
manusi, termasuk Al-Quran pun mengindikasikannya: la yaskhar qaumum
min qaimin asa ayyakuuna khairan minhum...ada juga sikap "suu
uzhzhan", dst. Kisah terkenal ketika Nabi Muhammad di Thaif dan
dilempari kotoran, dia hanya mengatakan:"maafkanlah mereka, karena
mereka tidak tahu". Jadi ada faktor kekurangtahuan di sini di dalam
masyarakat AS dan Eropa tentang Islam, umat Islam. Dalam konteks
sejarah Barat, sejak Voltaire yang terkenal itu, banyak
opini-opini anti-Muhammad. Di pihak lain, di kalangan umat Islam di
banyak negara di Timur Tengah, anti-AS, anti-Israel sering kali
identik dengan anti-Yahudi (yang di Barat sering disalahartikan dengan
anti-semitism). dan seterusnya. Bagi sekian persen masyarakat di Barat
(mulai dari 17-31 % seperti di AS) masih melihat Islam ancaman baru.
Konsep race, dikalahkan dengan konsep agama (Islam) sebagai the Other
itu. Di kalangan Timur Tengah dan Asia Tenggara, anti-barat kadang
berarti anti-AS, sesuai dengan arah politik global dan kebijakan luar
negeri AS. Ketidaktahuan tentang sejarah dan ajaran-ajaran agama-agama
dan ideologi yang lain, menjadi salah satu faktor penyebab ketakutan
itu.
Namun, saya tetap optimis, banyak usaha-usaha civil society dan
government (termasuk PBB, dan OKI meski masih mandul juga) untuk
mengurangi phobia di AS, di Inggris, di Eropa, di Australia, dan
sebagainya. Tinggal pilihan masing-masing: dimana kita mau ambil
bagian: memperkeruh suasana atau berbuat sesuatu sekecil apapun (small
things make difference).
Penyebutan terhadap fenomena fasisme agama di kalangan Muslim dan di
kalangan Barat barangkali perlu penelitian lebih lanjut. Tapi
setidaknya Fasisme State itu adalah phobia yang sudah dilembagakan.
Jika Islamophobia sudah terlembagakan, seperti dalam kebijakan
pemerintah, polisi, sistem hukum, maka barangkali fasiscme state dan
fasisme agama pun menjadi satu.
Ini dulu komentar saya.
Salam hangat,
Ali
Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Salam,
Berita yang saya kirim dalam posting terpisah memang
cukup mencemaskan. Ketakutan terhadap Islam dan orang
Islam masih cukup besar kecenderungannya di Amerika.
Bahwa 39% penduduk Amerika menghendaki agar orang
Islam yang tinggal di Amerika membawa "penanda khusus"
(seperti ditunjukkan oleh survei Gallup), jelas
menyedihkan sekali. Ini persis seperti perlakuan
pemerintah Orba terhadap orang-orang komunis dulu.
Tentu, data ini bisa dibaca secara positif. Misalnya,
jika 39% setuju dengan stigmatisasi, berarti 61%
selebihnya tidak setuju, atau sekurang-kurangnya tidak
mendukung tindakan seperti itu. Artinya, jumlah yang
tak mendukung jauh lebih besar.
En toch demikian, kita tetap patut merasa sedih dengan
data seperti ini. Jika ada sesuatu yang pantas
dipelajari dari data seperti ini, maka hal itu adalah
satu hal: ini adalah tantangan bagi umat Islam di
Amerika untuk terus-menerus mengoreksi
prasangka-prasangka buruk tentang Islam. Umat Islam
mesti lebih agresif lagi menciptakan citra yang baik
tentang Islam.Dan hal ini sangat dimungkinkah karena
semangat multikulturalisme yang sangat kuat tertanam
dalam masyarakat Amerika saat ini.
Berita dari Reuter yang saya kirim ini sebetulnya
mengingatkan saya pada satu fase dalam sejarah Islam.
Praktek stigmatisasi terhadap orang Kristen dan Yahudi
pernah terjadi dalam sejarah Islam, dan dibenarkan
dalam kitab-kitab fikih klasik.
Kalau kita buka sejumlah kitab fikih klasik, kita akan
menjumpai suatu keterangan bahwa orang-orang "zimmi",
yakni orang Kristen dan Yahudi, yang tinggal di negeri
Islam harus memakai tanda khusus yang disebut dengan
"zunnar" atau sabuk berwarna khusus: ungu untuk orang
Kristen dan kuning untuk orang Yahudi. Praktek ini
berlangsung dalam beberapa dinasti Islam terdahulu,
termasuk di Spanyol saat semenanjung Iberia ini
dikuasai oleh orang Islam.
Praktek ini juga pernah dilaksanakan waktu
pemerintahan Nazi di Jerman terhadap orang-orang
Yahudi. Orang-orang Yahudi diharuskan memakai stigma
khusus, yaitu kain yang diikatkan di tangan dengan
warna khusus (armband).
Di mana-mana, orang-orang yang bermental "fasis"
selalu ingin memberikan "stigma" pada orang lain yang
berbeda.Stigmatisasi adalah kecenderungan yang selalu
menyertai mentalitas fasisme. Mentalitas ini ada di
mana-mana, bahkan juga di Amerika.
Yang mengkhawatirkan adalah jika mental fasisme ini
hendak berlindung di balik baju agama, sehingga
fasisme menjadi sesuatu yang seolah-oleh dibenarkan
oleh Tuhan. Waktu Taliban berkuasa di Afghanistan
dulu, praktek labelisasi atas orang non-Muslim dengan
"zunnar" seperti tertuang dalam kitan fikih itu juga
hendak diterapkan lagi. Karena ajaran ini masih ada di
buku fikih yang diajarkan di lembaga-lembaga Islam,
dan tidak pernah dikritik secara terus-terang oleh
ulama Islam sendiri, kita patut juga cemas: apakah
jika syariat Islam dijalankan, labelisasi non-Muslim
seperti ini akan dijalankan juga?
Kita tidak usah malu-malu mengakui bahwa apa yang
disebut dengan tuntutan pelaksanaan syariat Islam,
pada analisa terakhir, adalah pelaksanaan
diktum-diktum fikih. Jika diktum tentang "zunnar" ini
masih ada di fikih dan tidak dikritik, kita tentu
patut cemas. Sebab, inilah contoh terbaik dari apa
yang disebut sebagai "fasisme agama".
Ulil
Ulil Abshar-Abdalla
Department of Religion
Boston University