Sy setuju banget deh sama Bpk. Charles ini...

> kalau
> dikatakan untuk membantu ekonomi para janda bantu
> aja secara ekonomi tidak perlu dikawini.

Emang betul ini !

Dan coba kalau jandanya jelek (gak cantik) dan udah
tua, apa mau tuh laki2 nya mengawini-nya ? he3x

Jadi emang sebetulnya semau agama ! hanya merupakan
alasan dan alat bagi manusia saja untuk membuat
tindakan nya kelihatan benar....

Point nya : Manusia pintar akan mengelabui manusia
lain yang kurang pintar....

Jadi berusaha-lah menjadi manusia cerdas dan pintar
agar bisa menguasai dunia ini, bila perlu sistem tata
surya dan galaxy sekalian...






--- Charles Athenk <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Saya sangat tidak setuju dengan poligami kenapa??
> Karena ini hanya menguntungkan kaum wanita dan
> kebanyakan hanya untuk memenuhi nafsu kaum lelaki
> yang berlindung dibalik ajaran agama... kalau
> dikatakan untuk membantu ekonomi para janda bantu
> aja secara ekonomi tidak perlu dikawini. Seolah-olah
> saya akan bantu tapi dibayar dengan kamu harus kawin
> dgn saya.....!!! kalo mau jujur dan adil apa ada
> lelaki yang rela klo istrinya yang bersuami
> banyak...!!! kan banyak wanita yang kaya dan banyak
> laki-laki yang miskin. Jadi para istri juga punya
> alasan yang sama untuk berbagi kebahagiaan dengan
> lelaki lain tapi apa kaum suami bisa rela!!!! itulah
> egoisnya kita kaum lelaki....Apa AA Gim bisa ikhlas
> kalo istrinya juga ikut kawin lagi...!!!! Gak adil
> kan..Jman nabi udah beda dengan jaman sekarang... 
> gedehc <[EMAIL PROTECTED]> wrote:           Bakda
> Subuh, Jumat 1 Desember 2006, saya menyimak radio MQ
> FM Bandung.
> Ada seorang ibu yang menelepon dan mengutarakan
> ketidaksetujuannya
> atas poligami yang dilakukan Aa Gym. Saya sempat
> kaget mendengarnya.
> Aa Gym menikah lagi? Saya belum tahu berita ini.
> Tetapi dari nada
> suaranya, ibu itu pun masih ragu-ragu apakah Aa Gym
> betul-betul sudah
> menikah lagi ataukah sekadar gosip.
> 
> Terlepas dari betul tidaknya berita itu, sebab Aa
> Gym tidak
> tegas-tegas membantahnya, saya lantas membuka
> komputer dan menulis
> tentang poligami ini.
> 
> ***
> 
> Adakah perempuan yang mau dipoligami? Bertolak dari
> sisi psikologis
> manusia, khususnya perempuan, saya yakin tak seorang
> perempuan pun mau
> berbagi suami dengan perempuan lainnya. Mereka ingin
> memonopoli
> suaminya. Jangankan perempuan zaman sekarang, zaman
> ketika berembus
> angin kesetaraan jender di semua segi kehidupan,
> pada masa Nabi
> Muhammad pun itu terjadi. Malah pernah muncul di
> keluarga nabi akhir
> zaman itu. Kisahnya bergini. 
> 
> Aisyah pernah dibakar api cemburu sehingga ia
> berkata, "Khadijah
> lagi... Khadijah lagi... Seperti tak ada perempuan
> lain saja."
> Mendengar ujaran itu, Muhammad lantas pergi. Selang
> beberapa waktu,
> Beliau kembali lagi. Pada saat itu ibunda Aisyah,
> yaitu Ummu Rumman
> sedang ada di sana. "Wahai Rasulullah, ada apa
> engkau dengan Aisyah?
> Ia masih sangat muda dan selayaknya engkau maklumi."
> 
> Muhammad lantas mendekat dan memegang dagu Aisyah
> seraya berkata,"
> Bukankah engkau yang berkata seolah-olah di dunia
> ini tak ada lagi
> wanita selain Khadijah?"
> 
> "Tapi untuk apa engkau mengingat-ingat perempuan tua
> itu yang ujung
> mulutnya sudah merah padahal Allah sudah
> menggantinya dengan yang lebi
> baik bagimu?"
> 
> "Demi Allah, Dia tak pernah mengganti dengan yang
> lebih baik daripada
> Khadijah. Ia beriman ketika semua orang
> mendustakanku. Ia bagikan
> hartanya ketika yang lain menahannya. Ia memberiku
> anak tetapi yang
> lainnya tidak."
> 
> Andaikata Khadijah masih hidup dan bermadukan
> Aisyah, kira-kira apa
> yang bakal terjadi? Terhadap madu-madunya yang lain
> pun, seperti
> Shafiah dan Ummu Salamah, Aisyah cemburu. Artinya,
> perasaan cemburu
> itu pasti ada pada setiap perempuan. Hanya saja, ada
> yang mampu
> mengendalikannya, ada yang tidak.
> 
> ***
> 
> Sebagai muslim, saya yakin Aa Gym pun ingin lebih
> banyak beribadah.
> Tak hanya ibadah ritual (mahdhah) tetapi juga ibadah
> sosial
> (ghair-mahdhah). Itu sebabnya, lewat berbagai
> perusahaan yang
> dimilikinya, Aa Gym sudah membuka ribuan lapangan
> kerja. Perusahaannya
> membentang mulai dari percetakan, penerbitan, toko
> buku, penginapan,
> radio, televisi, biro travel dan KBIH, training
> sampai air minum
> kemasan bermerek MQ Jernih. Ada lagi yang lainnya,
> tetapi saya tidak
> hafal semua.
> 
> Ketika Aa Gym sudah mampu melaksanakan ibadah ritual
> dan sosialnya dan
> bahkan nilainya jauh di atas rata-rata orang
> sekarang, barangkali Aa
> Gym pun ingin beribadah lainnya. Salah satu
> bentuknya ialah menikah
> lagi. Bukankah Allah Swt mengizinkan lelaki memiliki
> istri lebih dari
> satu dengan jumlah maksimum empat orang? Apalagi
> kalau istri
> pertamanya setuju. Bagaimana relung hati
> terdalamnya, apakah Teh Ninih
> setuju? Untuk hal ini, yang tahu hanyalah Allah dan
> yang bersangkutan.
> Yang bisa dinilai adalah tampak luarnya, yaitu lewat
> kata-kata dan
> sikapnya. Jika dua hal ini sudah menampakkan gejala
> setuju maka tak
> ada alasan lagi orang lain berburuk sangka. Bahwa
> ada sebersit rasa
> tak setuju atau cemburu, sebagai manusia biasa tentu
> bisa dimaklumi.
> Jika yang ada berupa rasa bahagia mendapatkan
> "teman" baru untuk suami
> tercintanya, ini tentu menjadi nilai plus yang
> balasannya, menurut
> Islam, adalah jannah atau surga. 
> 
> Bagaimana dengan protes dari masyarakat, terutama
> kaum perempuan? Ini
> pun bisa dimaklumi. Sebab, mereka protes karena di
> lubuk hati
> terdalamnya takut suaminya ikut-ikutan berpoligami.
> Aa Gym sudah
> diproklamasikan sebagai figur publik. Apapun yang
> dilakukannya akan
> mendapatkan banyak sorotan dan akan dicontoh.
> "Dicontoh" atau diikuti
> oleh lelaki lain inilah yang dikhawatirkan oleh
> ibu-ibu rumah tangga.
> Malah tak heran ada ibu rumah tangga yang rela
> suaminya "membeli sate"
> saja daripada harus "memelihara kambing" di
> rumahnya. Pernah tersiar
> kabar, ada istri yang mencarikan perempuan perawan
> untuk "digauli"
> oleh suaminya demi maksud-maksud yang berbau mistik.
> Ada juga istri
> yang mengizinkan suaminya membawa perempuan ke
> rumahnya asalkan tidak
> dinikahinya sehingga harta suaminya tak harus dibagi
> dengan perempuan
> itu. 
> 
> Ada juga ibu-ibu yang protes dan mengatakan bahwa
> poligami membuat
> perempuan menderita dan tidak adil. Mereka yakin
> poligami akan
> menghancurkan keluarga dan membuat anak-anak
> kucar-kacir. Rupanya
> mereka lupa bahwa betapa banyak orang yang monogami
> juga hancur rumah
> tangganya. Ada artis yang memang monogami tetapi dia
> sudah
> berkali-kali kawin-cerai. Ada artis yang rumah
> tangganya sarat dengan
> selingkuh dan bahkan sengaja saling
> selingkuh-menyelingkuhi agar
> pasangannya kesal dan marah. Begitu pun orang-orang
> biasa, dari
> kalangan bukan artis, banyak juga yang hancur
> pernikahannya padahal
> monogami. 
> 
> Jadi, hancur tidaknya rumah tangga itu tidak
> disebabkan oleh status
> pernikahan yang mono atau poligami. Tak sedikit yang
> berpoligami
> tetapi rumah tangganya justru aman-aman saja dan
> tampak akur rukun.
> Yang monogami malah sering berantakan dan
> ditayangkan di televisi. Ada
> monogami yang tampak awet, tetapi sebetulnya mirip
> bara dalam sekam.
> Mereka tak ingin kekalutan rumah tangganya diketahui
> oleh orang lain
> karena menjadi figur publik, pejabat, atau
> orang-orang yang memiliki
> massa. Mereka bermain sandiwara atau "sinetron". 
> 
> 
=== message truncated ===



 
____________________________________________________________________________________
Need a quick answer? Get one in minutes from people who know.
Ask your question on www.Answers.yahoo.com

Kirim email ke