VONIS KEGAGALAN PEMBINAAN, NASIONALISME DAN IMAGOLOGI PRESTASI Oleh: Audifax Peneliti dan Penulis buku Mite harry Potter Rencana Ketua umum PSSI Nurdin Halid untuk mendatangkan sejumlah pemain Brazil dan menaturalisasinya, mendapat kecaman dari sejumlah pihak yang menganggap hal tersebut sebagai kegagalan pembinaan. Tetapi, jika memang rencana itu terlaksana, benarkah kita bisa memvonisnya sebagai kegagalan pembinaan? Saya melihat vonis itu pun terlalu cepat dijatuhkan tanpa dasar logika yang kuat. Dalam sebuah kesebelasan yang dianggap mewakili bangsa Indonesia dalam kiprahnya di persepakbolaan internasional, potensi permasalahannya justru perbenturan antara prestasi dan nasionalisme. Apa yang anda bayangkan jika kesebelasan Indonesia lolos ke putaran final Piala Dunia, tetapi sebagian besar pemainnya hanya komat-kamit ketika lagu Indonesia Raya diputar menjelang pertandingan? Itulah permasalahannya, yaitu nasionalisme, bukan kegagalan pembinaan. Justru dari sudut pembinaan, keberhasilan PSSI menaturalisasi pemain Brazil berkelas, merupakan prestasi luar biasa bagi pembinaan. Apalagi jika implikasinya Indonesia bisa menjadi salah satu peserta putaran final Piala Dunia, hal itu akan memacu gairah persepakbolaan di negeri ini. Polemik antara prestasi dan nasionalismelah sebenarnya yang mesti diwaspadai. Bagaimana bisa sebuah tim yang dikatakan mewakili Indonesia, ternyata didominasi bukan oleh putra-putra terbaik negeri sendiri, melainkan pemain-pemain dari bangsa lain?. Tetapi, kita bisa membawa lebih jauh pertanyaan tersebut pada kontekstualisasi sepakbola sebagai sebuah ajang olah raga profesional. Dalam bulutangkis, tenis, dan sejumlah cabang lain, sebenarnya bahkan sudah terjadi situasi di mana pemain dari suatu negara tampil membela negara lain. Inilah sebenarnya yang mesti lebih kita perhatikan ketimbang imaji mengenai nasionalisme ataupun kegagalan pembinaan yang tidak jelas parameternya. Gagalkah Pembinaan? Kita bisa mencermati lebih jauh bahwa jaman sudah berubah. Sekarang, bahkan pemain lokal, saat membela tim nasionalpun, tetap memperhitungkan imbalan yang mereka peroleh. Ini karena profesi pemain sepakbola sudah bukan lagi profesi dengan penghasilan kecil. Prestasi akan berbanding dengan imbalan yang didapat. Dengan mencermati situasi ini, maka rencana ketua umum PSSI untuk mendatangkan dan menaturalisasi sejumlah pemain Brazil adalah hal yang justru akan mendorong pembinaan. Bahkan, pemain-pemain asing di Liga Indonesia yang sudah jelas kualitasnya dan ingin membela Indonesia, seperti Christian Gonzales dan Emmanuel de Porras, juga mesti dinaturalisasi dan diberi kesempatan bersaing masuk tim nasional. Pada titik inilah kita justru baru bisa berbicara kompetisi sesungguhnya, yaitu ketika pesaing tak hanya di antara pemain-pemain lokal sendiri, namun juga datang dari pemain-pemain manca negara. Selama ini, bagaimanapun kalah bersaingnya pemain lokal dengan pemain asing, mereka tak akan terancam kehilangan haknya untuk memperkuat tim nasional. Situasi ini bisa jadi berimplikasi pada kurangnya kebanggaan dan tidak ketatnya kompetisi di antara pemain untuk mengenakan kostum tim nasional. Maka dari itu, rencana untuk menaturalisasi pemain asing justru saya katakan sebuah keberhasilan pembinaan, karena akan memperketat kompetisi yang nantinya berbuah kompetensi. Nasionalisme Nasionalisme bukan berarti hilang, namun justru menemukan kontekstualisasi sesuai jaman. Saat ini sudah bukan waktunya lagi meletakkan nasionalisme pada fanatisme ras. Pada jaman di mana batas-batas negara makin terbuka, citra nasionalisme justru tak bisa lagi dipertukarkan dengan fanatisme primordial akan bangsa. Nasionalisme, justru terlihat eksistensinya ketika suatu bangsa bisa mengakomodasi pluralitas tanpa menghilangkan keberbedaannya masing-masing. Inilah yang kita mesti belajar lebih jauh dan rencana menaturalisasi pemain-pemain asing adalah sebuah ajang pembelajaran yang bagus. Itu adalah sebuah kerendah hatian untuk terbuka, mau menerima yang berbeda dan belajar darinya. Kita bisa melihat contoh tim-tim lain yang sepakbolanya lebih berprestasi dari Indonesia. Jepang dan Jerman, yang di pelajaran sejarah kita jadikan contoh dari chauvinisme, justru lebih memiliki keterbukaan dengan menaturalisasi sejumlah pemain asing. Lebih jauh bisa kita ingat bagaimana Singapura yang dengan pemain-pemain naturalisasinya melumat Indonesia di final Piala Tiger 2004 lalu. Apakah kita mau menghibur diri dengan mengatakan bahwa Indonesialah sebenarnya juaranya karena Singapura menggunakan pemain-pemain naturalisasi? Tentu tidak. Kita justru harus akui bahwa Singapura jauh lebih realistis dan memiliki kerendah hatian untuk belajar dari mereka yang berbeda, untuk menerima mereka yang bukan dari ras mereka. Lebih penting lagi, Singapura tetap memiliki kebanggaan atas prestasi sebagai juara Piala Tiger, kebanggaan yang menjadi milik rakyat Singapura, sebuah kebanggaan nasional bagi Singapura. Saya pikir, wacana mendatangkan pemain-pemain Brazil untuk dinaturalisasi agar bisa memperkuat tim nasional PSSI, adalah sebuah momen pembelajaran yang bagus untuk kita. Mungkin jika kita mau rendah hati menengok semakin terpuruknya persepakbolaan Indonesia selama puluhan tahun belakangan, kita bisa mulai berpikir bahwa pembelajaran itu memang harus dilakukan dengan mendatangkan mereka yang bukan dari ras kita. Bahkan kita bisa mulai bercermin, jangan-jangan selama ini kita terlalu arogan dengan pemahaman kita akan nasionalisme sehingga tak mau menerima kedatangan orang yang bukan ras kita untuk menjadi bagian dari nasionalisme kita, sehingga kita justru lebih chauvinis dan rasialis dari negara-negara yang selama ini sering kita katakan sebagai chauvinis, rasialis dan fasis. Imagologi Prestasi Ketika kita mencermati banyak anak-anak di negeri ini lebih bangga mengenakan kostum-kostum dari tim nasional Portugal, Jerman, Inggris dan negara-negara lain di luar Indonesia, maka kita mesti merenungkan kembali apa itu kebanggaan akan prestasi dan nasionalisme. Mungkin sebuah pembelajaran menarik bisa kita tarik dari tim nasional Portugal yang memberi penghargaan pada Martunis, anak Aceh yang mengenakan kostum Portugal ketika ia selamat dari tsunami. Itulah bentuk nasionalisme dari Portugal, yang begitu menghargai dan bangga pada Martunis yang bukan dari ras mereka. Ada imaji kebanggaan mengenai Portugal pada Martunis yang lolos dari maut dengan berkostum Portugal. Seperti Portugal yang bangga pada Martunis, apa yang dibutuhkan bangsa ini adalah sebuah kebanggaan, terutama pada sesuatu yang bisa dirasakan sebagai milik rakyat banyak, seperti halnya sepakbola. Imaji prestasi yang bisa dirasakan oleh rakyat banyak itulah yang sejenak bisa menghibur rakyat yang terus-menerus dihantam permasalahan dan derita. Maka dari itu, segala upaya dari pengurus PSSI untuk meningkatkan prestasi, mulai dari mendatangkan pelatih asing, mengirim tim nasional berlatih ke luar negeri, hingga menaturalisasi pemain asing, adalah hal yang pantas untuk kita dukung. Apa yang mau kita harapkan dari pendapat-pendapat yang menolak naturalisasi pemain asing? Tidakkah pengalaman bagaimana kepengurusan PSSI berganti namun keterpurukan tak kunjung henti, membuat kita lebih arif dalam menyikapi upaya-upaya yang bertujuan meningkatkan prestasi? Maka dari itu, mari kita berpikir positif terlebih dulu terhadap segala upaya meningkatkan prestasi yang dilakukan kepengurusan PSSI saat ini. Termasuk berpikir positif untuk menerima dan belajar dari mereka yang berbeda dan bukan dari ras kita. Bravo PSSI! © Audifax 3 Desember 2006 NB: Saya mem-posting esei ini ke milis Psikologi Transformatif, Forum Pembaca Kompas, BeCeKa, Mediacare, Vincent Liong, R-Mania, Pasar Buku, Alumni St. Louis, Club Tarot, Ruang Baca dan Forum Studi Kebudayaan. Mungkin akan ada rekan-rekan dari milis-milis tersebut yang akan mem-forward esei ini ke sejumlah milis lain. Karena keterbatasan waktu, saya hanya akan menanggapi diskusi di milis Psikologi Transformatif. MELALUI ESEI INI PULA SAYA MENGUNDANG SIAPAPUN YANG TERTARIK UNTUK BERDISKUSI DENGAN SAYA UNTUK BERGABUNG DI MILIS PSIKOLOGI TRANSFORMATIF (www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif) Mailing List Psikologi Transformatif Mailing List ini merupakan ajang berdiskusi bagi siapa saja yang berminat mendalami psikologi. Mailing list ini dibuka sebagai upaya untuk mentransformasi pemahaman psikologi dari sifatnya selama ini yang tekstual menuju ke sifat yang kontekstual. Anda tidak harus berasal dari kalangan disiplin ilmu psikologi untuk bergabung sebagai member dalam mailing list ini. Mailing List ini merupakan tindak lanjut dari simposium psikologi transformatif, melalui mailing list ini, diharapkan diskusi dan gagasan mengenai transformasi psikologi dapat terus dilanjutkan. Anggota yang telah terdaftar dalam milis ini antara lain adalah para pembicara dari simposium Psikologi Transformatif : Edy Suhardono, Cahyo Suryanto, Herry Tjahjono, Abdul Malik, Oka Rusmini, Jangkung Karyantoro,. Beberapa rekan lain yang aktif dalam milis ini adalah: Audifax, Leonardo Rimba, Vincent Liong, Mang Ucup, Prof Soehartono Taat Putra, Bagus Takwin, Amalia Lia Ramananda, Himawijaya, Rudi Murtomo, Felix Lengkong, Kartono Muhammad, Ridwan Handoyo, Dewi Sartika, Jeni Sudarwati, FX Rudy Gunawan, Arie Saptaji, Radityo Djajoeri, Tengku Muhammad Dhani Iqbal, Anwar Holid, Elisa Koorag, Kidyoti, Priatna Ahmad, J. Sumardianta, Jusuf Sutanto, Stephanie Iriana, Yunis Kartika. Jika anda berminat untuk bergabung dengan milis Psikologi Transformatif, klik: www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif
--------------------------------- Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.
