DL - Meski pun terlambat, perlu digalakkan subsidi pertanian di Indonesia, 
dananya diambil dari penghapusan subsidi BBM. Di negara nggenah mana pun juga 
pertaniannya selalu disubsidi, BBM-nya yang dipajaki tinggi. Harga BBM di 
Belanda misalnya, adalah yang paling tinggi sedunia, uang pajak BBM yang 
diterima pemerintah Belanda kemudian disubsidikan ke sektor pertanian. 
Pemompaan subsidi ke sektor pertanian pada gilirannya akan menciptakan banyak 
lapangan kerja, di samping tanah Indonesia sendiri amat subur tonggak kayu pun 
menjadi tanaman. Kesebelasan Indonesia (akademika, kabinet, ekspat dll.) patut 
memperkuat sektor pertanian Indonesia secara TOTAL FOOTBALL. Perkuatlah subsidi 
pertanian, bangun sarana distribusi pelelangan, sarana transportasi, sarana 
ekspor, dll. Belanda sangat piawai dalam sektor pertanian, belajarlah dari 
Belanda dan ajaklah Belanda bersama-sama membangun pertanian Indonesia. Sukses 
ya.


SUARA PEMBARUAN DAILY 
--------------------------------------------------------------------------------

Liberalisasi Pertanian Tak Bisa Dihindari
[JAKARTA] Liberalisasi perdagangan produk pertanian, sebagaimana yang 
ditargetkan Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC), adalah sesuatu yang 
tak bisa dihindari negara mana pun. Oleh karenanya, Indonesia harus segera 
menyiapkan sektor pertaniannya, menyongsong era perdagangan bebas produk 
pertanian tersebut. 

Demikian diungkapkan Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno 
Tohir, di Jakarta, Sabtu (18/11), menanggapi langkah APEC yang akan mendorong 
liberalisasi produk pertanian. 

Dia mendesak pemerintah untuk segera merealisasikan program-program pertanian 
di Tanah Air, misalnya subsidi bunga kredit pertanian, subsidi benih, dan 
subsidi pupuk, agar produk-produk pertanian Indonesia bisa bersaing dengan 
produk dari luar. 

Di negara-negara lain, ungkapnya, sektor pertanian sangat dilindungi sehingga 
bisa bersaing di pasar dunia. Sedangkan di Indonesia masih tersendat-sendat, 
bahkan kalangan perbankan lebih suka menyimpan uangnya di Bank Indonesia yang 
jumlahnya mencapai ratusan triliun rupiah, daripada menyalurkannya untuk 
kepentingan sektor riil, terutama pertanian. 

Padahal, menurutnya, sektor pertanian banyak sekali menyerap tenaga kerja dan 
menjadi gantungan hidup puluhan juta rakyat Indonesia. Dia menyarankan, 
revitalisasi pertanian yang dicanangkan Presiden, Juni 2005, ditindaklanjuti 
oleh semua sektor, bukan hanya sektor pertanian. 

Winarno mengingatkan, pertanian tidak akan maju jika tidak didukung 
keterlibatan terpadu semua pihak, termasuk institusi perbankan, perindustrian, 
perdagangan, koperasi, BUMN, dan sektor lainnya. Komitmen itu juga terutama 
harus ada pada Departemen Pertanian sendiri untuk melakukan gebrakan yang lebih 
nyata. 


Makin Terpuruk 

Sementara itu, Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), 
Witoro, menyatakan bahwa rencana APEC yang akan mendorong liberaliasi produk 
pertanian dipastikan akan membuat petani Indonesia semakin terpuruk. Keputusan 
itu lebih menguntungkan negara-negara yang sudah maju sektor pertaniannya, 
seperti Amerika Serikat, Jepang, Australia, China, juga negara-negara tetangga 
seperti Thailand dan Malaysia. 

"Kita tentu patut curiga kepada negara-negara kuat yang akan memaksakan 
liberalisasi, dan mempercepatnya. Kami mengingatkan agar pemerintah 
berhati-hati, jangan gegabah mengambil keputusan yang menyangkut sektor 
strategis seperti pertanian. Jika salah langkah, maka puluhan juta rakyat akan 
menjadi korban. Sektor pertanian di negara kita masih tertinggal jauh," ujar 
Witoro. 

Dia mendesak pemerintah dan semua pihak untuk serius memajukan sektor pertanian 
di dalam negeri dulu. Petani dan masyarakat sipil harus diajak merumuskan 
bersama-sama untuk memastikan bahwa petani dilindungi dan tidak akan dirugikan. 

KTT APEC di Hanoi tampaknya menjadi momentum untuk menghidupkan kembali 
pembicaraan mengenai perdagangan dunia. Sebanyak 21 negara anggota APEC telah 
menyiapkan draf kesepakatan yang mencerminkan kampanye luas untuk melanjutkan 
pembahasan subsidi pertanian di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang 
terganjal, Juli lalu. 

Dalam draf kesepakatan itu, APEC berkomitmen untuk melakukan segala cara supaya 
negosiasi yang tertunda dapat kembali dilanjutkan. APEC akan menempuh 
langkah-langkah yang diperlukan untuk memperluas akses pasar produk pertanian, 
antara lain memangkas subsidi pertanian dan menurunkan tarif masuk produk 
pertanian. [S-26] 



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 18/11/06 

Kirim email ke