Maaf kalo postingan saya ini terlambat sekali....
Tapi yang jelas saya tidak setuju dengan apa yang ditulis oleh Saudara
Panda...
Saya pernah melihat dua ekor anjing yang sejama jenis yaitu laki-laki berbuat
foreplay (istilah dalam hubungan sex yang berarti pemanasan) ketika itu saya
lagi jalan-jalan di pantai (Bali) bersama teman-teman diantara mereka ada yang
membawa anjing. Setelah kami kecapekan jalan-jalan lalu kami beristirahat
begitu pula dengan 2 ekor anjing teman-teman saya. Kami lagi asyik ngobrol
tiba-tiba kami terhentak oleh apa yang kami lihat yaitu salah satu anjing teman
saya mencoba untuk (maaf) meng-oral alat kelamin anjing yang lain. Dan kedua
anjing tersebut menikmati apa yang mereka lakukan.
Contoh diatas bukan bermaksud untuk menyamakan manusia dengan binatang...Dan
bukan pula bermaksud membandingkan antara manusia dengan binatang...Maaf sekali
lagi. Saya hanya ingin bercerita kepada saudara Panda apa yang saya dan
teman-teman saya lihat (Saya belum pernah dengar cerita, kalau ada (maaf)
anjing atau babi yang main 'homo-homoan'. Masak sih manusia yang diberi akal,
bisa-bisanya bertindak lebih nyleneh ketimbang hewan yang najis itu?) Sesuai
dengan tulisan beliau
Saya selama ini jadi manusia tidak pernah membeda-bedakan sesama mau mereka
gay, lesbian, normal, cacat, atau apalah tapi yang jelas kita semuanya sama.
Yaitu manusia ciptaan Tuhan. Saya menyadari menjadi gay / lesbian bukan kemauan
kita kok jadi sebagai manusia. Terlalu banyak faktor yang menyebabkan semua itu
bisa terjadi yang terlalu sulit untuk kita telaah, memang. Bukankan kita
mempunya sloga Bhineka Tunggal Ika. Selain itu kita semua harus ingat yang
bertanggung jawab oleh apa yang kita perbuat adalah diri kita masing-masing
bukan teman, tetangga, dll.
Hidup Kebersamaan, saling menghargai, saling menyayangi, saling menghormati,
saling membantu, saling bekerjasama.
Sekian
Terima Kasih
The D
.
Martin Widjaja <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mas Tumpal,
Saya setuju untuk tidak menghakimi yg sdh bernasib jadi Gay atau Lesbian
Saya bahkan kagum sama Dorce yg tetap bisa eksis dengan talenta yg bagus
menghibur banyak orang , atau pada Elton John yg Gay namun suaranya , lagu2
ciptaannya bagus2 , atau pada Leonardo da Vincie yg juga homo namun bakat dan
lukisan atau hasil pahatannya luar biasa...
Yg saya nggak setuju adalah , bagaimana yg homo atau lesbian ini di puja2 bukan
karena bakatnya tapi karena penyakitnya .Ini menyebabkan ada kesan bahwa jadi
gay atau lesbi itu biasa bahkan akan bisa menjadi hebat
Bagaimana cukup banyak gay kaya yg merusak yg normal, terutama anak2 dan anak2
muda hingga kemudian jadi berpenyakit sama.
Yang paling sadis adalah kehendak menjadi sama dengan yg normal, padahal sudah
dikatagorikan yg gay atau lesbi itu suatu nasib dan penyakit, dalam hal ini
tuntutan para gay dan lesbi ini dimana2 untuk kawin baik resmi catatan sipil
maupun gereja ...
Sah2 saja kalau mau eksis , mau dihargai dlsb , namun kalau sampai mau kawin
gereja, kawin penghulu dll , aah itu keterlaluan...
Salam , martin - indiana
Tumpal S <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Yah..
meskipun saya juga tidak mengerti kenapa sudah ada makhluk seindah wanita kok
ya masih butuh sesama jenis, tapi kembali dalam setiap tulisan saya selalu
konsisten dengan sikap tidak perlu menghakimi atau mencerca dan selalu open
mind. Homoseksualitas , kata pakarnya sih, bukan disebabkan oleh keinginan
individu itu semata, banyak faktor yg mempengaruhi. Jadi sebenarnya kita tidak
bisa menghukum seorang yang cacat mental karena berbuat mencuri misalnya (meski
saya tidak samakan kaum homeseks dengan org cacat mental).
jadi bagi kita yang heteroseks, sebagai yang normal, yah sebaiknya cukup
menerima kenyataan bahwa homoseksualitas itu ada dan nyata sebagai bagian yg
real, sebagaimana halnya ada orang yang mungkin buta warna atau anomali
lainnya. Gitu deh...
Panda Bijaksana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dear Chorie,
Maaf sebelumnya kalau tulisan saya sangat menyinggung perasaan Anda. Jujur
saja, saya tidak tersinggung kalau Anda bilang mau muntah membaca postingan
saya.
Tapi terus terang, saya tidak mentolerir perbuatan homoseks, dan sebelumnya
saya mohon maaf sebesar-besarnya bagi anggota milis ini yang kebetulan
menjalani kehidupan sebagai seorang homoseks. Dan itu bukan hanya karena
pertimbangan agama saja, memang tidak ada agama yang toleran terhadap
homoseksualitas. Peristiwa pelantikan pendeta Homoseks di Amerika beberapa
waktu lalu saja tetap mendapat kontroversi yang massal. Tapi pertimbangan
yang saya maksud termasuk juga pertimbangan sosial.
Di negara-negara yang menjadi kebanggaan Tuan Danny Lim, homoseksual sudah
dilegalkan, bahkan bisa menjadi lembaga perkawinan yang syah, termasuk
anak-anaknya (dalam hal ini adopsi, karena kayaknya masih belum mungkin pria
hamil seperti di film Junior-nya Arnold Schwazenegger). Kalau yang pasangan
lesbi, masih agak mendingan, karena bisa pesan sperma.
Di Berlin, 1 dari 6 adalah homoseks, termasuk walikotanya. Juga pimpinan
partai FDP.
Konsekuensi logis dari kegiatan homoseksualitas, adalah turunnya jumlah dan
lebih parah dari itu, kualitas anak. Kalau sesama gay, mana mungkin punya
anak, kecuali adopsi, itu khan juga tidak menambah anak. Dan bagaimana
mungkin anak yang diasuh oleh pasangan gay bisa berkualitas, lha wong secara
alamiah, anak itu butuh kasih-sayang ibu. Bukan "ibu" yang secara kamus
homoseks berarti yang bagian tukang sodor (maaf) pantat.
Hanya perempuanlah yang bisa mengerti kebutuhan anak akan kasih sayang ibu.
Demikianlah pasangan lesbian, anak akan kehilangan figur ayah, yang tidak
bisa digantikan oleh 'ayah-ayahan', semaskulin apapun.
Sekitar bulan September 2005, Presiden Jerman, Johannes Rau, mengatakan
dalam pidato kenegaraan, ketika Jerman dalam suasana genting, akibat krisis
politik yang mengakibatkan Gerhard Schroeder mengundurkan diri dari
Kanselir, bahwa salah satu masalah terbesar di Jerman adalah 'zu wenig
Kinder' (terlalu sedikit anak).
Homoseksualitas bukanlah satu-satunya penyebab, karena masih ada faktor lain
seperti struktur sosial, dll. Tapi jelas tidak dipungkiri bahwa
homoseksualitas memegang peranan penting atas kemunduran negara sekelas
Jerman.
Kalau homo, anak mau dari mana? Kalaupun lesbi dari bank sperma, mau berapa
persen lesbi yang mau hamil dengan cara ini?
Orang Jerman sendiri yang meramal, bahwa 2050, Jerman sudah bukan negara
yang bisa diperhitungkan dunia, jumlah kaum pekerja sudah tidak mampu lagi
menyokong jumlah non-pekerja, industri pelan-pelan berpindah ke Eropa Timur,
dan Asia (China dan India). Struktur demografi Jerman pada tahun 2050 sudah
tidak seimbang lagi, karena terlalu sedikitnya anak muda, dan terlalu
banyaknya kaum manula. Dan ini juga tampaknya terjadi di negara tetangganya,
seperti Belanda yang lebih duluan melegalkan perkawinan homoseks.
Intinya, homoseksualitas itu bertentangan dengan hukum alam, karena binatang
pun tidak mau melakukan perbuatan keji itu. Saya belum pernah dengar cerita,
kalau ada (maaf) anjing atau babi yang main 'homo-homoan'. Masak sih manusia
yang diberi akal, bisa-bisanya bertindak lebih nyleneh ketimbang hewan yang
najis itu?
Bagi saya, kaum homoseks itu hanyalah kaum penurut hawa nafsu semata, yang
tidak memikirkan penciptaan alam semesta. Saya tidak memungkiri bahwa ada
sebagian manusia yang memiliki sedikit abnormalitas dalam susunan gen-nya,
sehingga dia lebih tertarik kepada sesama jenis, ketimbang lawan jenis.
Namun hal itu tidak bisa menjadi pembenaran atas perbuatan homoseks. Justru,
ujian yang dia hadapi, niscaya akan mendapat pertolongan-Nya di hari
akhirat, kalau memang dia beriman.
Yang terjadi di dunia sekarang ini, orang yang gen-nya normal, tetapi karena
faktor lingkungan (gembar-gembor homoseks di media, vcd porno, Internet),
banyak yang terseret menjadi seorang homoseks. Homoseks memang merusak
tatanan hidup manusia yang beradab.
--- In [email protected], "chorie_arland" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saudara Panda,
>
> Walaupun nama Anda Panda Bijaksana, namun rasanya tidaklah bijaksana
> jika Anda menulis,"... gue mau muntah soalnya denger orang berbuat
> homoseks." Coba, anda tersinggung nggak kalau saya bilang "Saya mau
> muntah membaca posting-an Saudara."
>
> Biarkanlah orang dengan masing-masing pilihan hidupnya termasuk
> dalam hal preferensi sekusal dan preferensi agama. Jika anda
> berbicara atas nama agama, memangnya yang diomongin percaya tentang
> agama sebagaimana anda percaya kan?
>
> Nggak semua orang harus percaya apa yang Anda percaya dan nggak
> semua orang harus nggak suka apa yang Anda nggak suka. Kalau Anda
> nggak suka perilaku homoseksual (untuk diterapkan dalam hidup Anda
> sendiri), bukan berarti Anda harus benci dengan kaum homoseksual,
> bukan?
>
> Let us all be adults, please...
>
> Chorie Arland
>
> --- In [email protected], "pandabijaksana" <archive@>
> wrote:
> >
> > Niat Indonebia menulis email itu, hanya sebuah olok-olok semata.
> Namun
> > tidak berarti terus kita mentolerir homoseksualitas di Indonesia.
> > Semua agama pasti menentang homoseksualisme. Pendeta Kristen pun
> > dengan gigih menentang perilaku ini, terbukti dengan kalahnya
> Partai
> > Demokrat di Amerika, karena mereka termasuk pendukung bolehnya
> > perilaku homo ini. (Meskipun ada ribuan pendeta Katolik yang
> melakukan
> > kekejian homoseks ini terhadap anak altarnya).
> >
> > Orang Islam umumnya hanya mengetahui bahwa manusia pada jaman Nabi
> > Luth mendapat azab karena tindakan sodomy. Namun di Quran sendiri
> > tidak disebutkan namanya kaum Sodom dan Gomorrah, kedua nama
> tersebut
> > hanya ada di Perjanjian Lama. Jarang orang Islam yang tahu kedua
> nama
> > tersebut. Tampaknya Indonebia ini lekat bacaannya dengan kitab
> tersebut.
> >
> > NB: apa sih nikmatnya berbuat homoseks? Gue masih heran banget, gue
> > mau muntah soalnya denger orang berbuat homoseks.
> >
> > Panda Bijaksana
---------------------------------
Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+
countries) for 2ยข/min or less.
---------------------------------
Groups are talking. We´re listening. Check out the handy changes to
Yahoo! Groups.
---------------------------------
Check out the all-new Yahoo! Mail beta - Fire up a more powerful email and get
things done faster.