Hehehe.....Red Toleransi ada benernya.......... tadi malem di acara Editorial Metro TV ada komen dari femirsa :
Fresiden sibuk mikirin fartainya untuk fersiafan Femilu 2009, Wafres sibuk mikirin Lafindo........... DPR sibuk mikirin anggotanya yang kena kasus foto bugil.... jadi, emang ngga ada yang mikirin Rakyat!!! kita 'hamfir' sebagai bangsa yang ngeglundung doang..... masing-masing sibuk dengan urusan yang ndak ter-koordinasi.......... baru ribut, kalo ada dana nyasar yang 'lufa' dibagi-bagi......... wallahu alambissowab!! salam, "RedTOLERANSI" <[EMAIL PROTECTED]> Sent by: [email protected] 12/05/2006 11:31 PM Please respond to [email protected] To [email protected] cc [email protected], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] Subject [mediacare] Re: [ppiindia] Re: Belanda memperoleh kembali benda seni yang dirampok RRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR Komentar: ======== Bung Batara yang budiman, menurut pendapat kami bukanlah bangsa Belanda yang mengalami amnesia-kolektif . . . Bagaimana Bangsa Indonesia bisa menuntut kembali apapun yang telah dirampok oleh Kerajaan Belanda di masa-masa penjajahan mereka di negeri kita ? Coba kita lihat ke belakang sebentar: 01. Beberapa tahun setelah negeri kita baru merdeka, terjadilah nasionalisasi atas seluruh perusahaan-perusahaan Belanda, diambil alih menjadi milik Republik Indonesia . . . 02. Lantas, - Sejarah Indonesia berlanjut dengan Era Konfrontasi ! "Inggris dilinggis, Amerika disetrika . . .", Belanda terpaksa harus hengkang dari Irian Barat . . . - "Ini dadaku, mana dadamu ! . . ." - - - Selamjutnya: "GO TO HELL WITH YOU AIDS !!!" . . . 03. Kemudian (1965), politik Indonesia berubah 180 derajat ! - Dari maki-maki Barat:: kolonialis, imperialis, nekolim ! . . . tiba-tiba "bangsa kita" jadi penjilat dan anjing penjaga, bahkan algojonya meneer-meneer yang barusan dimaki-maki itu !!! Demi membuktikan kesetiaan (?) terhadap Barat, bahkan sampai-hati mandi darah jutaan (!) saudara-saudara sendiri . . . 04. Namun, itu semua masih belum apa-apa ! - Di hari-hari ini, kita sedang akan menutup tahun 2006. Negeri dan Bangsa Indonesia sudah lebih dari 61 (enam puluh satu !!!) tahun merdeka, sudah lama bebas dari penjajahan fisik negeri-negeri asing, - - - namun, Bangsa yang sudah setua ini (sudah kakek-kakek-nenek-nenek, sudah jompo . . . !!!) masih saja tidak punya cucu-cucu yang bersemangat, bertekad dan mulai bergerak-berjuang demi membela Kehormatan Negeri dan Bangsanya ! Mereka melempem, cuek saja, hidup "pragmatis", banyak yang malahan siap-siap dan juga sudah mulai menggantikan generasi Maling di negeri yang malang dan terpuruk keterlaluan ini . . . LANTAS, SIAPA ATAU SIAPA-SIAPA YANG AKAN MENUNTUT BELANDA ATAS KEJAHATAN-KEJAHATAN MEREKA DI MASALALU ITU ?! - Sampai sekarang tak ada satupun Pemerintah RI yang berani melakukannya ! RedTOLERANSI*RRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR On 12/4/06, Batara Hutagalung <[EMAIL PROTECTED] > wrote: Belanda menuntut dari Jerman agar benda-benda seni yang kata mereka „dirampok" oleh tentara Jerman dari Belanda selama masa pendudukan Jerman 1941 - 1945 dalam Perang Dunia II , dikembalikan kepada mereka YANG BERHAK ATASNYA. Dan berhasil! Rupanya bangsa Belanda mengalami amnesia kolektif. Atau pura-pura lupa, bahwa Belanda juga merampok sejumlah besar benda-benda seni dan berbagai pusaka keraton-keraton di Nusantara. Seharusnya, kalau Belanda mempunyai rasa malu, mereka seharusnya juga mengembalikan seluruh kekayaan yang telah mereka rampok dari bumi Nusantara selama ratusan tahun. Belanda juga menuntut permintaan maaf dan kompensasi dari Jepang, atas penderitaan sekitar 300 ribu orang Belanda yang diinternir tentara Jepang di Indonesia antara tahun 1942 – 1945. Dalam hal ini sekali lagi mereka mengalami amnesia kolektif, karena lupa, bahwa antara 1945 – 1950, dalam upaya menjajah kembali Indonesia, tentara Belanda telah melakukan berbagai kejahatan perang, pelanggaran HAM dan kejahatan atas kemanusiaan terhadap rakyat Indonesia. Tidak kalah kejamnya dari Jerman dan Jepang. Salah satu contohnya akan ditayangkan di Metro TV hari Minggu tanggal 10 Desember pukul 20.05, yaitu peristiwa pembantaian di Rawagede pada 9 Desember 1947, di mana tentara Belanda membantai 431 penduduk desa. Bahkan sampai sekaran g pun pemerintah Belanda tetap tidak mau mengakui kemerdekaan RI adalah 17.8.1945. Bagi pemerintah Belana, kemerdekaan RI adalah 27.12.1949, yaitu pengakuan terhadap Republik Indonesia Serikat (RIS). RIS dibubarkan pada 168.1950. Salam dari Sabang nan indah dan damai. Batara R. Hutagalung Weblog: http://batarahutagalung.blogspot.com ============================================ Radio Nederland Dirampok, Tapi dari Siapa? Mencari Pemilik Benda Seni yang Dirampok di masa Perang Dunia II Philip Smet 30-11-2006 60 Tahun setelah Perang Dunia II, Belanda masih mencari para pemilik benda-benda seni yang dibawa kaum Nazi ke Jerman. Seusai perang, benda-benda seni itu dikembalikan ke Belanda, tapi 4700 benda tidak pernah jatuh ke tangan pemilik yang sebenarnya. Melalui situs web dan pameran khusus, pemerintah Belanda berharap bisa mengembalikan benda-benda ini kepada mereka yang berhak atasnya. 4700 benda seni tanpa pemilik Di Hollandse Schouwburg di Amsterdam, monumen peringatan yang didirikan untuk mengenang warga Yahudi yang semasa Perang Dunia II dideportasi, untuk sementara dibangun pavilyun kaca. Di sini dipajang sekitar 40 lukisan dan sepuluh benda yang terbuat dari tembikar dan perak. Benda-benda ini merupakan satu persen dari jumlah total benda-benda seni yang oleh sebuah komisi penyelidik khusus masih dicari pemiliknya. Seusai perang, benda-benda ini dikembalikan oleh Jerman ke Belanda. Kaum Nazi membeli - seringkali dengan memaksa dan dengan harga sangat murah - menyita atau bahkan merampok barang-barang ini di Belanda. Karena itu barang-barang tersebut juga disebut benda-benda 'seni hasil rampokan'. Adolf Hitler ingin membangun museum besar di kota kelahiran Linz, untuk menampung barang-barang seni dari semua negara di kekaisarannya. Di Belanda, kaum Nazi Jerman merampok habis barang-barang seni, terutama dari kalangan Yahudi. Selain itu banyak barang seni milik swasta, yang dibawa ke Jerman. Berkat administrasi bagus Jerman, maka seusai perang, pasukan sekutu bisa mengembalikan barang-barang itu ke negara asalnya. Tapi banyak pemilik benda-benda seni itu telah meninggal dunia dan sanak saudara mereka tidak bisa membuktikan bahwa mereka berhak atas benda-benda tersebut. Antara 1945 sampai dengan 1952, pemerintah banyak menolak pengakuan atas benda-benda itu. Akhirnya masih tersisa 4700 benda seni, yang sampai saat ini masih disimpan sebagai koleksi negara. Klaim kepemilikan Tahun 1990an, pemerintah Belanda mulai menyadari bahwa prosedur-prosedur yang dijalani setelah perang, tidak benar. Banyak ahli waris dari pemilik benda-benda seni ingin memiliki kembali barang-barang tersebut, kadang-kadang karena nilai ekonominya, tapi sering juga karena nilai emosionalnya. Karena itu pemerintah membentuk sebuah komisi khusus di bawah pimpinan Rudi Ekkart, yang harus melacak pemiliknya. Pemilik itu dapat mengajukan klaim kepemilikan, tanpa memperdulikan keputusan yang pernah diambil di tahun-tahun seusai perang tentang nasib benda seni itu. April 2007, peraturan ini secara resmi tidak berlaku lagi. Tapi pengakuan-pengakuan yang masuk setelah 2007, untuk sementara masih akan ditangani. Sejauh ini hampir 500 barang seni telah dikembalikan ke orang-orang yang berhak atasnya. Ketua komisi Ekkart memperkirakan 200, dan kemungkinan bahkan 500 barang seni lainnya masih bisa dikembalikan ke orang-orang yang berhak atasnya. Komisi masih perlu menangani beberapa klaim yang diterimanya. Komisi mengambil keputusan akhir, berdasarkan nasehat-nasehat Ekkart. Komisi khusus ini berfungsi semacam pengadilan independen dan menjalankan tugasnya dengan sangat teliti. Satu upaya lagi Sebelum kebijakan ini berakhir April 2007, komisi khusus masih harus melakukan satu upaya untuk menemukan sebanyak mungkin orang yang berhak atas barang-barang seni. Di situs web www.herkomstgezocht.nl , atau www.originsunknown.org yang dalam bahasa Indonesia-nya berarti situs pencarian asal muasal barang, tercantum semua barang lengkap dengan informasi. Juga disebarkan cdrom khusus di kedutaan-kedutaan Belanda di seluruh dunia. Di pameran di Hollandsche Schouwburg yang berjudul "Dirampok, tapi dari siapa?" kini juga dipajang beberapa benda, yang telah ditetapkan siapa pemiliknya. Misalnya sebuah cangkir perak dengan tulisan Ibrani. Cangkir ini merupakan hadiah kepada seorang laki-laki Yahudi dari Oud-Beijerland yang akhir abad ke-19 merayakan usia ke 80. Tulisan pada cangkir itu telah diterjemahkan dan berdasarkan terjemahan itu, maka sanak saudaranya bisa memperoleh kembali cangkirnya. Ekkart berharap masih ada benda-benda lain lagi yang berhasil ditemukan pemiliknya. Pameran ini berakhir akhir Februari 2007. Reaksi: Batara Hutagalung, [EMAIL PROTECTED], 04-12-2006 - Indonesia Belanda menuntut dikembalikannya benda-benda seni yang dirampok oleh Jerman antara tahun 1941 - 1945. Bagaimana dengan benda-benda seni, pusaka keraton-keraton di Nusantara yang dirampok oleh Belanda selama masa penjajahan? Apakah ada rasa malu dan mengembalikannya ke keraton-keraton yang bersangkutan? **************************************************** "Ada dua hal yang tidak terbatas, yaitu: Alam Semesta ini dan Kebodohan Manusia; namun mengenai Alam Semesta tersebut masih saya ragukan . . ." (Albert Einstein) ****************************************************
gifp4LQc0YXE9.gif
Description: GIF image
